
Seminggu sudah kepergian orang tua Moehe, genap seminggu juga Syedza dan Moehe menghabiskan hari-harinya di kota D. Beberapa ritual untuk mendo'akan mendiang telah dilakukan selama 7 hari ini, sedikit-sedikit membuat Syedza paham akan tradisi kampung halaman Moehe yang baru ia temui ini.
Syedza semenjak kecil tak pernah peduli dengan ritual sakral apapun di keluarganya, tapi tidak kali ini, ia justru terlihat khusuk dan ikhlas dalam menjalani setiap kegiatan.
Diam-diam Moehe memperhatikan gerak-gerik Syedza selama ini, aura Syedza memang sedikit bebeda, hampir tak ada kekesalan lagi yang tergambar di wajah Syedza seperti awal mereka menikah.
Sepertinya ia benar-benar berubah lebih baik, kalau dilihat dari gerak-geriknya, sepertinya ia tak hanya bersimpati padaku saat ini. Batin Moehe
Entah apa yang dipikirkan Syedza, ia hanya melakukan apa saja yang bisa ia bantu di rumah ini semenjak hari duka itu. Mungkin ia tak memikirkan hal-hal yang lain, baginya ini tanggung jawabnya, apalagi setelah ia berjanji pada Moehe untuk selalu di samping Moehe saat itu.
"Kau di sini?". Sapa Syedza saat menemui Moehe di balkon rumah sambil memandang bentangan kebun bunga tulip yang beraneka warna sedang mekar bak permaidani nan indah dari sudut rumahnya
"Kau mencari ku?". Moehe kembali bertanya seakan tak percaya istrinya itu sedang mencarinya.
"Aaa.. Aku Hanya___".
Tiba-tiba kalimat Syedza dipotong oleh Moehe, "Kesinilah. Ayo kesinilah". Moehe mengajak Syedza mendekat padanya
Syedza hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya
"Ayolah aku hanya ingin menunjukkan sesuatu pada mu". Moehe mendekat kemudian menarik tangan Syedza untuk mendekat hingga ke sudut balkon
"Tarik nafasmu dalam-dalam, buang pelan-pelan. Kemudian tarik lagi, buang lagi, lakukan begitu terus". Moehe memberi aba-aba pada Syedza
Syedza mengikuti setiap aba-aba yang diberikan Moehe lagi.
"Sekarang, lihatlah ke sebelah sana". Moehe menunjukkan arah kebun bunga tulip itu.
"Waaaawwww.. Bagus sekali". Ucap Syedza takjub
"Kau merasa lebih lega sekarang?". Tanya Moehe
"Aku ingin kesana, bawa aku kesana sekarang. Ayolah". Ucap Syedza merengek
"Jawab aku". Tegas Moehe
Syedza mengangguk
"Kata orang bunga adalah lambang kebahagiaan, aku percaya itu, yang ku tahu bahagia itu pasti indah. Kita akan kesana menemui bunga-bunga itu, tapi tidak sekarang". Ucap Moehe menatap ke depan dengan serius
"Kenapa begitu?". Tanya Syedza lirih
"Ada sesuatu yang belum kita capai". Moehe menunjukkan dadanya. "Kita harus menunggu itu, Kebahagiaan dalam hati kita". Lanjut Moehe lagi
Syedza seperti mengerti apa yang dimaksud Moehe, ia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk lebih rendah lagi.
"Sekarang ayolah, lakukan hal yang sama seperti yang ku perintahkan tadi, ambil napas dalam-dalam, buang pelan-pelan". Titah Moehe
"Lakukan lagi, sekarang lakukan sambil memejamkan mata". Lanjut Moehe
"Lakukan lagi sampai kau merasa lebih tenang dan lega. Dan.... Cupppp" . Moehe meraih bibir Syedza dengan lembut
Anehnya, kali ini Syedza hanya diam, tak menyanggah atau menolak kecupan dari Moehe, bahkan ia tak marah setelah kejadian itu.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang, aku sudah menyiapkan semua perlengkapannya". Ucap Syedza tanpa menatap mata Moehe
Kita! Dia menyebut KITA?. Batin Moehe dalam hati
"Ayolah, sebentar lagi jet akan menjemput kita". Lanjut Syedza
Lagi-lagi ia menyebut KITA, apa ia benar-benar sudah menerima aku dalam hidupnya? K-i-t-a berarti itu kata ganti jamak, kau dan aku. Batin Moehe lagi sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membayangkan makna dari kita.
Tunggu.. tunggu.. Sepertinya bukan begitu, ada banyak orang di sini. Sepertinya KITA yang dimaksud Syedza itu adalah untuk semua orang di rumah ini, ada Fram, Anne dan pengawal-pengawal itu, bukan aku dan dia saja. Apa yang aku pikirkan ini? sepertinya aku sudah sangat percaya diri. Batin Moehe lagi
"Heeii! Kau melamun? Apa yang kau pikirkan? Apa kau masih ingin menghabiskan waktu di kota ini?". Ucap Syedza menyadarkan Moehe
"Aaa Tidak! Kita pergi sekarang". Ucap Moehe terbata
----
Senin, 09.00 Waktu kota D jet pribadi terbang meninggalkan tanah kelahiran Moehe ini, Segelintir pikiran melintas di benak Moehe, kehidupan masa lalu, kenangan masa kecil bersama teman-teman sebayanya yang kini entah kemana menjalani hidup masing-masing, kenangan bersama ibu, bersama ayah dan begitu banyak hal yang tak bisa diulang lagi.
Semenjak kejadian duka itu, Moehe banyak menghabiskan waktunya dengan melamun, tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, sekalipun itu Syedza.
"Raga mu disini, tapi jiwa mu tidak". Ucap Syedza memecah keheningan
"Hmmm". Moehe mengusap wajahnya dengan telapak tangan
Moehe tersadar kalimat yang dilontarkan Syedza barusan tertuju padanya.
"Kau masih memikirkan tentang mereka?". Syedza bertanya pelan
"Aku merasa orang yang kurang beruntung saat ini". Ucap Syedza menatap Moehe
"Kau?". Tanya Moehe kaget
"Karena aku tak bisa mengurangi sedikitpun duka mu". Jawab Syedza sedih
"Maafkan aku". Ucap Moehe menatap Syedza
"Untuk apa?". Syedza bertanya
"Aku membuatmu merasa bersalah". Ucap Moehe
"Tidak!". Syedza memotong ucapan Moehe. "Aku yang seharusnya lebih banyak belajar lagi tentang dirimu". Lanjut Syedza
"Tapi ___". Ucap Moehe terpotong
"Beri aku kesempatan". Ucap Syedza memotong kalimat Moehe
Moehe spontan menggenggam tangan Syedza kemudian memeluknya
"Terima kasih, sudah bersedia berada di samping ku sampai saat ini". Ucap Moehe berkaca-kaca
"Aku akan berusaha untuk lebih baik". Balas Syedza berkaca-kaca juga kemudian memeluk Moehe erat.
Tangis keduanya pecah di dalam jet yang mengantarkan mereka untuk pulang ke rumahnya ini. Ketulusan dan kelembutan tergambar jelas di wajah Syedza saat ini. Amarah dan kebenciannya pada Moehe telah redam, kekuatan cinta dan kesabaranlah yang bisa mengalihkan hati Syedza seperti ini.
__ADS_1
"Kau pernah bilangkan? Sebelum aku mendapatkan dirimu, aku harus mendapatkan hatimu dahulu. Apa aku bisa mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hakku sekarang?". Tanya Moehe menyakinkan Syedza.
Apa?! Dia meminta haknya? Apa aku sudah siap? Bagaimana ini?. Batin Syedza
Syedza terdiam lama memikirkan apa yang akan terjadi
"Hei!". Sapa Moehe menyadarkan Syedza
"Eehh.. Ehhh.. Iya". Syedza mengangguk ragu.
"Kau sepertinya masih ragu, apa kau belum yakin pada ku? Aku ingin mendengarnya sekali lagi". Ucap Moehe
"I.. Iyaa...". Ucap Syedza mengangguk pelan, kemudian menyembunyikan pipinya yang merah padam karena malu
Apa ini terlalu cepat?, lihatlah wajahnya kebingungan begitu. Ia terlihat lucu begini. Batin Moehe tergelak
"Kau tak usah takut, aku tak memintanya sekarang, nanti saja setelah sampai di rumah kita". Ucap Moehe menenangkan Syedza
Gila saja kalau sekarang!. Batin Syedza memberontak
"Kau yang mengatakan begitu pada ku dulu, sekarang akan ku tagih kata-katamu itu". Ucap Moehe mengingat sesuatu
Syedza membelakangi Moehe dengan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela
"Hei!! Sekarang lihat aku, kau jangan ketakutan begitu, aku janji aku akan memperlakukan mu dengan lembut". Ucap Moehe meraih dagu Syedza
Huuuweeek.
"Kau Kenapa?" Tanya Moehe panik
"Sepertinya perutku tak enak". Ucap Syedza menutup mulutnya seperti mau muntah
#Epilog
Flashback on
"Ini malam yang paling dinantikan setiap pasangan yang baru memulai kehidupan setelah pernikahan". Ucap Moehe pada Syedza
"Itu bagi mereka yang menginginkan pernikahannya, tidak bagiku". Bantah Syedza tegas
"Tapi aku menginginkan pernikahan ini". Ucap Moehe
"Hanya kau! Bukan aku". Tegas Syedza lagi
"Kelihatannya kau lelah sekali, Sepertinya kau butuh istirahat, tenang saja kita bisa melakukannya di malam yang lain". Ucap Moehe mencubit hidung Syedza.
"Kau begitu lancang, dengarkan aku baik-baik, malam itu tak akan terjadi!" Tegas Syedza menampar Moehe
"Kenapa? Aku ini suamimu? Apa aku salah?". Ucap Moehe tersenyum licik
"Kau... Kau tidak akan mendapatkan diriku, sebelum kau mendapatkan hatiku dahulu". Ucap Syedza terisak
Flashback off
__ADS_1