Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Puncak amarah


__ADS_3

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang tak aku inginkan benar-benar terjadi. Bagaimana aku menjelaskan semua ini pada Moehe? Apa ia bisa menerima ku dengan keadaan begini? Kehidupan yang seperti apa harus aku jalani kedepannya?. Batin Syedza frustrasi


Dia belum keluar juga? Apa yang terjadi? Firasatku berkata ini tidak baik-baik saja. Batin Moehe mengelus dadanya.


"Syedza! Apa kau masih lama di dalam sana?". Teriak Moehe dibalik pintu kamar mandi


Moehe mengutak-atik ganggang pintu kamar mandi dengan kasar.


"Jika kau tak keluar dari kamar mandi ini dalam hitungan ketiga, aku akan mendobraknya dengan paksa". Ancam Moehe dengan nada meninggi


"Kita mulai.. Sa.. tu!". Ujar Moehe mulai menghitung


"Du.. aa!". Serunya lagi


"Ti... ". Kata Moehe terpotong


"Tunggu sebentar! Aku akan keluar". Teriak Syedza dari dalam


Syedza dengan cepat membuka pintu, melangkah pelan meninggalkan kamar mandi. Moehe sudah menunggu nya tepat di depan pintu kamar mandi itu. Mereka berdua terdiam sesaat, saling bertatapan tanpa berbicara apapun.


"Apa yang terjadi?". Ujar Moehe bertanya


"Aku sudah katakan padamu kan? Kau harus menjadi dirimu sendiri". Ucap Syedza mengusap air mata yang mengalir deras di atas pipinya


Moehe tak mengucapkan apapun, matanya berkaca-kaca, nafasnya mulai tak beraturan seperti kesusahan mengontrol emosinya.


"Kau tak perlu khawatir tentang ku". Lanjut Syedza lagi


"Berikan hasilnya pada ku!". Titah Moehe tegas tapi dengan nada yang sedang


Syedza menyembunyikan hasil tes itu di belakang tangannya.


"Ayo berikan!". Seru Moehe lagi masih dengan nada yang sama


Bencana hebat akan terjadi. Batin Syedza


Moehe mengulurkan tangannya seperti ingin meminta sesuatu. Tangan Syedza bergetar hebat, keringatnya menyucur deras di dahinya. Syedza memberi hasil tes urin itu sangat lamban hingga sampai ke tangan Moehe.


Dengan sigap Moehe menangkap hasil tes dari tangan Syedza. Ia sempat menggenggam kuat benda itu di tangannya, sebelum ia memutuskan untuk melihatnya.


Apapun hasilnya, sungguh ini adalah pertarungan yang aku buat sendiri untuk memerangi hatiku sendiri. Batin Moehe menggebu-gebu


Selang beberapa waktu Moehe memutuskan untuk melihat benda itu, sekalian menjawab apa yang menjadi tanda tanya besar baginya beberapa hari ini.

__ADS_1


Seandainya Syedza hamil, apa yang harus aku lakukan? Seandainya hal itu tidak terjadi, apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh tak mengerti dengan diriku sendiri. Batin Moehe berseteru


Syedza tertunduk dan menangis sejadi-jadinya. Sementara itu, Moehe mengangkat tangan kanan yang berisi hasil tes itu, kemudian membuka kepalan jarinya pelan-pelan. Moehe mengamati hasil tes itu beberapa saat, kemudian melemparnya.


Caaakkk.... Moehe melemparkan hasil itu ke sembarang arah, hingga serpihan kacanya berhamburan entah kemana.


Mata Moehe berubah menjadi merah, Tangannya dikepal sekuat-kuatnya, rahangnya dikatup sehingga berbunyi Cetaakk. Sepertinya amarah berada di ubun-ubunnya saat ini. Syedza merinding melihat ekspresi Moehe, belum pernah ia melihat Moehe semarah ini.


"Moehe! Aku__". Kalimat Syedza terpotong


Moehe mengangkat tangannya, "Kau! Jangan bicara apapun!". Bentak Moehe memotong kalimat Syedza


Syedza menangis sejadi-jadinya, ia sadar ia yang bersalah. Tapi Syedza sama sekali tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Aku tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi, bahkan kita belum sempat melakukan apapun". Ujar Moehe


Moehe menatap Syedza dengan penuh kebencian


"Jika saja kau yang jujur padaku terlebih dahulu, pasti rasanya tak akan sesakit ini. Aku sangat menghargai setiap kejujuran sekalipun itu menyakitkan". Ujar Moehe lagi dengan begitu amarah


"Aaa... Akuu.. ". Kalimat Syedza terpotong lagi


"Kau pernah jujur tentang dirimu yang kau anggap seperti piring yang kotor kan? , aku bisa menerima itu dengan lapang, aku ikhlas. Tapi tidak dengan ini, aku tidak bisa!". Seru Moehe


"Maaf untuk apa? Aku tak bisa hidup dengan orang yang mengandung benih orang lain". Seru Moehe lagi.


"Aa.. Aku___". Ucap Syedza gelagapan


"Kau! Sudah ku katakan diamlah! Aku tak ingin mendengar apapun dari mulutmu saat ini!". Seru Moehe lagi


Moehe mengayunkan tanganya di udara, seperti ingin menampar Syedza. Tangan Moehe menggantung di udara sebelum akhirnya ia sadar apa yang ia lakukan.


Apa yang aku lakukan? Semarah apapun aku pada wanita aku tidak boleh memperlakukannya dengan kekerasan. Kekeraaan fisik sama sekali tidak menunjukkan cerminan seorang laki-laki yang jantan**. Batin Moehe


Moehe tersadar, sehingga ia mengusap-usap wajahnya berkali-kali. Syedza yang merasa bahwa dirinya sedang berbahaya, sehingga ia memejamkan matanya seolah tak ingin melihat ayunan tangan yang akan mendarat di pipinya itu.


"Aku tak pernah sama sekali menganggap kau itu kotor, bahkan sekarang kau sendiri yang menunjukkan siapa dirimu". Ujar Moehe lagi dengan nada yang sedikit mereda


Moehe mendorong Syedza hingga tubuh Syedza merapat ke tembok ruangan


"Apa yang harus aku katakan pada orang tua mu? Apa aku harus mengakui itu anakku? Apa aku harus berbohong pada semua orang seumur hidupku tentang anak yang di rahim mu itu?". Amarah Moehe memuncak


Moehe mengepalkan tangannya, mengayunkan tangan itu tinggi, hingga melampiaskan kemarahannya pada tembok ruangan persis di samping kanan dan samping kiri kepala Syedza.

__ADS_1


Tcaa.. Tcaa.. Moehe meninju tembok beton itu


Mungkin saat emosi begini, Moehe tidak merasakan apapun di kedua tangannya, bahkan darah segar terlihat menyucur dari punggung tangannya.


Fram, Anne dan para pengawal sadar telah terjadi kekacauan yang begitu hebat dari kamar majikannya itu, tapi tak seorang pun yang berani untuk memastikan keadaannya langsung ke dalam sumber suara.


Apa yang terjadi sesungguhnya? Aku tak pernah mendengar tuan muda seseram ini. Batin Fram


Aku merasa sangat bersalah pada nona, karena usulan ku semuanya berantakan seperti ini? Seandainya aku tidak mengatakan apapun, pasti semua akan baik-baik saja. Maafkan aku nona, Semoga kau bisa melalui ujian ini nona. Batin Anne


Syedza tak berani bergerak sedikit pun, nyalinya menciut seketika, tangis yang terisak-isak sehingga menyebabkan ia susah mengambil nafas, dadanya sesak, bahkan suara segukan yang keras berkali-kali terdengar hingga keluar kamar.


"Dimana nyali mu? Kau tak membantah apapun dari ku? Sekarang kau jelaskan! Apa yang harus aku perbuat? Haah? Apa?". Bentak Moehe lagi


Syedza ambruk di atas lantai, kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya lagi, ia berlutut di depan kakinya Moehe, tapi Moehe sama sekali tidak menggubrisnya. Amarah Moehe saat ini lebih besar daripada hati nuraninya.


Amarah tuan muda semakin memanas. Batin Fram


Cepatlah berakhir, cepatlah aku mohon, aku sungguh kasian pada nona. Batin Anne


Fram mengangkatkan pundaknya pada Anne, seolah bertanya apa yang sebenarnya terjadi?


Anne hanya menggelengkan kepalanya


"Apa yang harus kita lakukan?". Fram berbisik pelan.


"Berdo'a". Jawab Anne singkat


"Berdo'a?". Tanya Fram heran


"Iya. Aku tak tau kita harus bagaimana, yang penting kita bantu do'a supaya keadaan di rumah ini segera baik-baik saja". Jelas Anne berbisik


Anne, Fram dan beberapa pengawal masih berdiri berjejer di depan pintu kamar majikannya itu. Masih menguping dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba tak ada suara lagi dari dalam kamar, sehingga mereka merapat lebih dekat lagi dengan pintu kamar itu.


"Hening!". Bisik Fram


"Iya, hening!". Bisik Anne


Cetaak... Tiba-tiba suara handel pintu terbuka mengagetkan mereka.


"Sudah puas menguping pembicaraan orang lain?". Ujar Moehe mengagetkan


Belum sempat mendengar jawaban apapun, Moehe sudah hilang entah kemana

__ADS_1


__ADS_2