Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Dilamar Seihan


__ADS_3

Senin, 19.00 waktu setempat.


Seihan menggandeng tangan Syedza saat menginjak karpet merah gedung galeri pertunjukan itu. Sederet tamu undangan telah memenuhi ruang acara, mereka terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Syedza memakai gaun yang diberikan Seihan tadi pagi, gaun yang sangat mewah bewarna biru muda dengan lengan minimalis dan belahan samping hingga lutut. Sebenarnya Syedza tidak nyaman dengan pakaian yang ia pakai ini, setelah sekian lama berpenampilan tertutup akhirnya sekarang ia kembali seperti ini lagi, Syedza is back!


Tatanan rambutnya diikat sebagian, sebagiannya lagi dibiarkan tergerai dengan riasan wajah bewarna gelap menambah penampilannya menjadi lebih elegan, hingga tak sedikit dari isi ruangan terkesima melihat wanita yang digandeng tuan Seihan ini.


"Aku tidak nyaman begini," ujar Syedza meneliti orang-orang di sekitarnya.


"Tidak apa-apa, santai saja," ujar Seihan memenangkan Syedza.


"Apa pakaianku terlalu terbuka? Sungguh aku tidak nyaman," protes Syedza lagi.


"Mereka hanya terhipnotis dengan kecantikanmu saja," bisik Seihan menggoda Syedza.


Rasanya aku ingin pulang saja! Batin Syedza yang mulai keringat dingin.


"Kamu tak usah takut ya, ada aku disini," ujar Seihan kembali menenangkan Syedza.


Sebenarnya aku tidak takut, toh tidak ada juga yang mengenaliku disini. Aku hanya tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti ini, batin Syedza menunduk.


"Angkat dagu nya! Jangan menunduk begitu, sebentar lagi kita akan menjawab pertanyaan dari pers, rileks saja, tarik nafas pelan-pelan biar tidak kehabisan oksigen di sampingku," goda Seihan lagi.


Pers? Apa yang harus aku katakan? Sepertinya keputusanku untuk kesini bersama Seihan adalah kesalahan besar, batin Syedza lagi.


"Selamat datang tuan Seihan! Selamat datang nona?" ujar para wartawan menyapa Seihan.


Sederet orang-orang dengan memegang kamera menyorot ke arah Seihan dan Syedza.


"Tuan Seihan, bagaimana tanggapan anda tentang acara ini?" tanya salah seorang wartawan kepada Seihan.


"Saya kira acara ini cukup menarik, dengan diselenggarakannya acara seperti ini kita bisa mengapreasi karya seni, sehingga acara seperti ini bagus untuk dilaksanakan secara berkala," jelas Seihan kepada awak media.

__ADS_1


"Baiklah tuan Seihan kami akan bertanya tentang hal lain, siapa wanita cantik yang ada di samping anda saat ini? Sepertinya nona ini sangat spesial," tanya awak media penasaran.


"Ohh.. tentu saja, ia sangat spesial," ucap Seihan melirik Syedza.


Syedza hanya tersipu malu, ia hanya bisa menunduk pasrah.


"Bagaimana rencana ke depannya,tuan?" tanya salah seorang wartawan.


"Tentu saja kami sudah merencanakan banyak hal, mohon dido'akan saja ya," ucap Seihan sumringah.


"Baiklah tuan Seihan dan nona, kami akan menunggu kabar bahagianya secepatnya," ucap wartawan itu menggoda Seihan.


"Heemm," Seihan tersipu malu.


"Satu lagi nona, apa boleh kami tahu siapa nama wanita spesial yang ada di samping tuan Seihan saat ini?" tanya salah seorang wartawan.


"Itu masih menjadi rahasia," sanggah Seihan.


"Kalau begitu kami hanya ingin mendengar suara nona sedikit saja," tukas wartawan itu lagi.


***


Acara pertunjukan di galeri seni baru saja dimulai, belum terlihat wajah tuan Moehe menghadiri acara itu. Seihan melirik kiri-kanan untuk mencari keberadaan sahabatnya itu, ia bermaksud untuk mengenali Syedza pada Moehe, tetapi sepertinya Moehe memang tidak hadir di acara ini.


✔"Kau dimana? Apa kau lupa bahwa akan ada acara spesial malam ini?" Seihan mengirimkan pesan singkat kepada Moehe.


Setelah menunggu beberapa menit belum juga ada jawaban dari Moehe. Seihan memerintahkan asistennya untuk menghubungi Moehe, tetapi tetap tidak ada jawaban.


Kemana manusia itu? Batin Seihan gundah.


"Kita sudah sampai di acara puncak, tibalah kita pada acara yang dinanti-nantikan, please welcome tuan Seihan Sailendra!" ujar pembawa acara memanggil Seihan diiringi dengan tepuk tangan yang meriah.


"Kita ke panggung sekarang!" ujar Seihan mengajak Syedza.

__ADS_1


"Aku disini saja," Syedza menolak.


"Aku tidak ingin kau tinggal sendirian disini, mari ikut denganku ke panggung," Seihan berusaha membujuk Syedza.


Syedza melirik orang-orang di sekitarnya, sepertinya semua mata tertuju padanya saat ini, hingga ia merasa takut jika duduk sendirian tanpa ada Seihan di sebelahnya.


"Baiklah, aku akan ikut," ujar Syedza menggandeng tangan Seihan ke atas panggung.


Suara sahutan para tamu undangan terdengar menggema-gema memenuhi isi ruangan, saat Seihan dengan gagah menggandeng Syedza dan memperkenalkan Syedza kepada seluruh khalayak pengisi gedung itu.


"Terima kasih atas kesempatannya, mohon maaf jika di penghujung acara ini saya mencuri sedikit waktu untuk kepentingan pribadi, disini saya akan mengumumkan sebuah kebahagiaan, dimana saya sudah menetapkan hati saya kepada wanita spesial yang ada di samping saya ini," ujar Seihan menjelaskan maksudnya.


Syedza yang berdiri di sampingnya sejak tadi merasa canggung melihat perlakuan Seihan, Syedza tidak pernah mengira akan terjadi adegan seperti ini dalam susunan acara pertunjukan seni malam ini.


"Hai Nona manis! Aku percaya setiap orang memiliki takdirnya masing-masing, tapi saat ini dan sampai selamanya, aku ingin kau lah yang akan menjadi takdirku, terimalah bunga ini dan terimalah lamaranku ini, bunga ini spesial ku rangkai untuk orang yang spesial sepertimu," ujar Seihan berlutut di depan Syedza di ikuti sorak-sorai tamu undangan.


Syedza tidak tahu harus berbuat apa, perasaan malu, takut, marah, kesal dan lain-lain bercampur jadi satu. Seihan yang selama ini dikenal cuek, sangat berwibawa, tiba-tiba berubah menjadi manis seperti ini, sehingga membuat penonton terheran-heran akan perlakuan Seihan kali ini.


"Siapa wanita itu? Ia sangat pintar, bisa membuat tuan Seihan berubah manis begini," ucap salah seorang tamu undanagan yang duduk di kursi tamu paling kanan.


"Siapa wanita ini? Ia bisa meluluhkan bongkahan es di diri tuan Seihan," ucap tamu undangan yang duduk di pojok kiri.


"Wanita ini sangat cantik, ibaratkan tuan putri konglomerat, selain itu ia juga cerdas, perwatakannya juga lembut dan keibuan, tak heran jika tuan Seihan jatuh cinta," bisik ibu-ibu yang duduk di bagian tengah.


Semua orang yang ada di ruang itu memuji kecantikan Syedza, tanpa seorangpun yang mengenali siapa Syedza sesungguhnya.


Kuatkan aku tuhan! Kuatkan aku! batin Syedza yang merasa dirinya sedang berada dibawah tekanan yang bertubi-tubi.


Apa-apaan Seihan ini? Apa ia ingin mempermalukan aku? Atau ia sedang mempermalukan dirinya sendiri? Orang spesial apa yang dimakaud Seihan ini? Ohh... tuhan, aku sungguh tidak mengerti harus berbuat apa, batin Syedza.


Moehe dimana kau? Apa kau tak ingin melihat momen bahagiaku ini? batin Seihan melirik keseluruh ruangan untuk menyakinkan Moehe ada di ruang itu.


Aku ingin menghilang saja! batin Syedza pasrah.

__ADS_1


Aku sangat yakin Syedza akan menerima bungaku ini, pasti Syedza tidak akan tega mempermalukan aku di depan umum seperti ini, batin Seihan berharap.


__ADS_2