Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Papi Seihan


__ADS_3

Mata Syedza berbinar mendengar permintaan Nafin tersebut, Nafin meminta Moehe menemaninya tidur di kamar, Syedza sempat terkejut mendengar permintaan Nafin ini, tapi Syedza juga kasihan pada Nafin sejak kecil ia tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, sehingga Syedza tidak melarang permintaan Nafin itu.


Nafin menarik tangan Moehe untuk masuk ke kamarnya, ia menyuruh Moehe untuk berbaring di sampingnya.


"Uncle hero!"


"Iya sayang."


"Apa uncle hero bisa berdongeng?" tanya Nafin.


"Yahh, uncle tidak bisa berdongeng, gimana dong?" ujar Moehe sedikit panik.


"Kalau begitu mommy saja yang bercerita, tapi uncle yang elus-elus rambutku ya?" pinta Nafin.


Moehe melirik ke arah Syedza yang sedari tadi duduk di samping ranjang tepat di sebelah Nafin. Syedza mengangguk, memberikan isyarat setuju dengan permintaan Nafin.


"Elus rambut?" tanya Moehe.


"Iya uncle, Mommy sering bercerita sambil mengelus rambutku sebelum aku tertidur," jawab Nafin.


"Oke, baiklah, apa begini?" Moehe mempraktekan di kepala Nafin.


"Bukan begitu uncle, cobalah sekali lagi sedikit lebih lembut ya," protes Nafin.


"Apa begini?" Moehe mencoba mempraktekan sekali lagi.


"Bukan begitu, uncle. Mommy!"


"Iya sayang!"


"Sekarang coba Mommy mempraktekkannya pada uncle," pinta Nafin.


"Ahh... hmmm..." Syedza menggarut kepalanya yang tidak gatal seperti ingin mencari alasan.


"Tidak apa, lakukan saja," ujar Moehe.


"Maaf ya," ucap Syedza lirih.


Syedza mengusap rambut Moehe dengan pelan, seperti yang sering ia lakukan pada Nafin setiap malamnya. Moehe memejamkan matanya, menikmati pijatan kecil dari tangan Syedza di kepalanya.


"Mudahkan?" tanya Nafin mengagetkan mereka berdua.


"Eh-ehh iya sayang," ucap mereka berdua kompak.


"Uncle dan mommy sangat kompak," ucap Nafin bertepuk tangan.


"Ya sudah, ayo mulai ceritanya," ujar Syedza mengalihkan pembicaraan.


Syedza mulai bercerita di samping Nafin, sementara itu Moehe sibuk mengelus rambut Nafin dengan tangannya dan Nafin memeluk tangan Moehe yang satunya lagi. Selang beberapa saat Nafin telah terlelap. Syedza dan Moehe terdengar beberapa kali berbisik agar tidak mengganggu tidurnya Nafin.


"Bagaimana caranya aku harus bangun?" tanya Moehe berbisik.


"Angkat tangannya pelan-pelan," bisik Syedza.

__ADS_1


"Tidak bisa," ujar Moehe.


"Pelan-pelan, rambutnya masih tetap dielus pelan-pelan," bisik Syedza lagi.


"Bantu aku," ujar Moehe menarik tangan Syedza.


Baru sedikit Moehe bergerak, Nafin spontan memeluk tangan Moehe dengan erat.


"Yaah, kalau begini aku tidak bisa pergi," ujar Moehe masih berbisik.


"Uncle hero jangan pergi, disini saja," ucap Nafin setengah sadar.


"Iya sayang, uncle disini," ujar Moehe menenangkan Nafin.


Berkali-kali Moehe mencoba untuk pergi, tapi selalu gagal, Nafin selalu terbangun saat Moehe bergerak sedikit saja.


Moehe melirik ke arah Syedza, "Bagaimana?" tanya Moehe meminta pendapat Syedza.


"Ya sudah, kamu disini malam, aku tidur di kamar Noza saja," bisik Syedza.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Moehe.


Syedza hanya menggeleng, "aku permisi ya, selamat malam," ucap Syedza pamit.


"Kasihan anak ini," batin Moehe memandang wajah Nafin yang sudah terlelap itu.


"Nafin sepertinya nyaman dipelukan Moehe seperti itu," batin Syedza.


Malam itu Syedza tidur di kamar Noza, ia meluruskan kakinya di ranjang Noza tanpa memikirkan apa yang telah ia lewati hari ini, sepertinya ia sangat lelah sekali, sehingga ia tertidur pulas.


Trinngggtinggg... tringggting...


belum ada yang membukakan pintu.


Tringgtingg... tringggtingg.. suara bell berbunyi lagi, masih belum ada yang keluar.


Tringggtingg.. tringgtingg.. Suara bell berbunyi untuk ketiga kalinya.


"Duhhh! Siapa sih yang bertamu sepagi ini?" gerutu Syedza berusaha keluar dan membukakan pintu.


Syedza mengusap-usap kelopak matanya, berusaha untuk menyadarkan diri dari kantuknya.


Degg!


"Kamu kesini sepagi ini?" ucap Syedza terkejut melihat Seihan sudah ada di depan pintu.


"Iya, aku mengembalikan ini," ucap Seihan menyodorkan sebuah ponsel.


"Uppps!" Syedza terkejut melihat ponselnya ada ditangan Seihan.


"Ponselmu ketinggalan di dalam mobilku tadi malam, aku kesini pagi-pagi begini untuk mengembalikannya, sekalian juga aku bawakan sarapan untuk kita sarapan bersama disini," jelas Seihan.


"Tapi aku baru bangun dan belum mandi," protes Syedza.

__ADS_1


"Sengaja! Supaya aku bisa melihat muka bantalmu," goda Seihan mengedipkan mata sebelahnya.


"Aaarrrghhhhh!" teriak Syedza.


"Mommy! Ada apa sih pagi-pagi berisik begini? Siapa yang datang?" tanya Nafin berusaha menyadarkan kantuknya.


"Hei anak tampan! Selamat pagi! Kau sudah bangun? Maaf aku mengganggu tidurmu," sapa Seihan pada Nafin ramah.


"Papi Seihan!" Sapa Nafin.


Nafin langsung berlari memeluk Seihan. Nafin memanggil Seihan dengan sebutan papi, ia menganggap Seihan adalah ayahnya, karena Seihan sering bersama Syedza semenjak Nafin masih kecil.


Seihan tidak keberatan dengan panggilan Nafin kepadanya itu, malah Seihan senang karena dengan demikian akan membuat hubungannya bersama Nafin akan semakin erat. Syedza juga tidak melarang Nafin untuk memanggil Seihan dengan sebutan seperti itu.


"Papi apa kabar?" tanya Nafin menggemaskan.


"Baik-baik saja sayang, kamu apa kabar?" tanya Seihan balik.


"Papi sudah lama tidak kesini, apa papi tidak merindukan aku?" tanya Nafin memajukan bibirnya.


"Itu pasti sayang, aku sedang banyak kerjaan di kantor, maaf ya papi baru kali ini bisa menemui mu," ujar Seihan menggendong Nafin.


"Oh iya, aku punya cerita, aku harus mengenalkan papi pada uncle Hero," ujar Nafin polos.


"Uncle hero?" tanya Seihan bingung.


"Iya pi, dia adalah orang yang baik sekali, tadi malam ia tidur bersamaku," ujar Nafin.


Seihan terlihat masih bingung mendengar apa yang dikatakan Nafin ini.


"Maksudnya?" tanya Seihan bingung.


"Iya, aku bermain coret-coretan bersama uncle hero dan mommy juga. Kami bercanda-canda sampai aku tertidur pulas, tapi saat aku bangun uncle heronya sudah tidak ada lagi," jelas Nafin lagi.


"Uncle hero? Siapa yang dimaksud Nafin ini? Apa ada keluarga Eifril yang mengunjungi Eifril tadi malam? tapi Eifril tidak mengatakan apapun padaku. Ohhhh.. Positif thingking saja mungkin saja karena ponselnya ketinggalan di mobil malam tadi, jadi ia belum sempat mengatakan hal itu," batin Seihan.


"Mommy! Apa mommy melihat uncle hero? Kenapa ia tidak pamit padaku terlebih dahulu sebelum ia pergi?" tanya Nafin sedikit kesal.


Syedza hanya menggeleng.


Seihan yang berdiri diantara Syedza dan Nafin melirik Syedza lekat, seolah ingin meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.


Syedza menggelengkan kepalanya sekali lagi.


"Sayang! Kamu masuk ke kamar dulu ya, mommy dan uncle Seihan ingin berbicara dulu," pinta Syedza lembut pada Nafin.


"Papi! Aku memanggilnya papi! Mengapa mommy selalu mengajarkan aku memanggilnya dengan sebutan Uncle Seihan? Aku anggap ia adalah papiku, bukan begitu pi?" protes Nafin.


"Iya iya sayang, kamu bebas mau memanggil apapun, sekarang kamu ke kamar dulu ya," pinta Seihan.


Sebenarnya Syedza canggung mendengar Nafin memanggil Seihan dengan sebutan seperti itu, terlebih lagi Seihan adalah atasannya di kantor, tapi Nafin sepertinya sudah nyaman dengan panggilan seperti itu pada Seihan.


"Kita bicara baik-baik ya," ujar Seihan dingin.

__ADS_1


Deggg!!!


__ADS_2