Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Permintaan maaf


__ADS_3

Pagi yang beranjak siang, dua insan saling terdiam dalam satu ruangan. Moehe telah membersihkan dirinya, sepertinya ia sudah sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol. Namun tidak dengan kebencian, tatapan kebencian masih tercermin jelas di mata Moehe.


Syedza berdebat sendiri dengan batinnya, ia mencari cara bagaimana agar bisa berdamai dengan Moehe. Tapi lidahnya kelu untuk memulai pembicaraan.


"Apa boleh kita bicara?". Tanya Syedza pelan setelah berhasil memenangkan egonya sendiri


"Rasanya tak ada yang perlu untuk dibicarakan lagi". Tolak Moehe


"Kita perlu bicara". Bantah Syedza pelan


"Untuk apa?". Tanya Moehe lagi


"Kita perlu bicara untuk meluruskan masalah ini". Jelas Syedza


"Heemmm". Ucap Moehe mengangguk


Syedza menghela nafas panjang, mengatur emosi untuk mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan.


"Aku tak tahu harus memulai dari mana? Tapi aku harus mengatakan ini semua". Ucap Syedza berhenti sejenak. "Kenyataan yang terjadi padaku saat ini bukan lah keinginan ku, Aku bahkan tak pernah menduga sebelumnya ini akan terjadi". Lanjut Syedza


"Perihal kejujuran, bukannya aku tak mau jujur padamu, tapi___". Kalimat Syedza terpotong


"Berhenti membahas kejujuran, jika kau sama sekali tak bisa berlaku jujur!". Moehe memotong kalimat Syedza


"Aku sama sekali tidak tahu kalau aku hamil". Jawab Syedza membela diri


"Hmmmm.. Omong kosong apa ini?". Ucap Moehe menyengir. "Kalau kau tak tahu, kenapa kau menolak tes urin itu? Kenapa? Haaah.. Jika aku tak memaksa, sampai saat ini aku pasti tak tahu tentang itu. Sangat beruntung aku belum sempat menyentuhmu". Ucap Moehe masih dengan tatapan kebencian


Kata-kata yang keluar dari bibir Moehe barusan sangat menyayat batin Syedza.


"Kau dengar aku dulu, aku tak ingin berdebat. Aku mohon dengarkan aku kali ini saja". Pinta Syedza dengan mengatupkan kedua tangannya


Moehe memilih diam, kemudian Syedza melanjutkan kalimatnya


"Saat menikah denganmu, saat itu juga aku menyerah pada takdirku. Aku menghapus semua khayalan ku bersama laki-laki itu, tak hanya khayalan tapi juga kenangan. Itu semua aku lakukan demi ayahku. Aku pernah jujur padamu bagaimana keadaan sesungguhnya, tapi kau dengan lapang hati bisa menerima itu semua". Ujar Syedza berkaca


"Iya, aku bisa menerima piring kotormu dengan baik, ini pernah kita bahas sebelumnya. Tapi tidak dengan benih itu". Ucap Moehe menunjuk ke arah perut Syedza

__ADS_1


"Aku mengerti ini, seandainya aku tahu tentang hal ini lebih awal, akan ku katakan sejujurnya padamu". Lanjut Syedza


"Aku tahu kau merasa terkhianati saat ini, Kau tak perlu berkata apa-apa pada orang tuaku, itu bukan tanggung jawabmu". Lanjut Syedza


"Bukan tanggung jawabku? Statusmu ini istriku". Ucap Moehe datar


"Rasanya tak pantas aku berada pada status itu, aku sendiri yang telah menunjukkan betapa hinanya diriku". Ucap Syedza lirih


"Kau tak perlu mengakui ini anakmu, kau tak perlu berbohong pada siapapun, ini anakku, ini tanggung jawabku. Aku tak akan meminta apapun darimu". Jelas Syedza berkaca-kaca


Kali ini tak setetes pun air mata yang jatuh ke pipi Syedza, tak seperti kemarin, hari ini ia lebih tegar untuk menghadapi kenyataan hidupnya.


"Aku sangat menghargai dirimu, aku juga sadar diri siapa diriku". Ucap Moehe berkaca-kaca


"Lalu?". Sela Moehe


"Aku minta maaf telah membuat mu kecewa, jujur saja saat ini aku sudah membuka hati untukmu". Syedza berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Malam itu, saat kau meninggalkan rumah, aku sangat mengkhawatirkan dirimu, aku menunggu mu pulang berharap kau baik-baik saja di luar sana. Aku sangat takut malam itu, aku takut petir saat badai menerpa, tapi ketakutan ku tenggelam, yang aku khawatirkan saat itu hanya dirimu". Kali ini air mata Syedza tak terbendung lagi


"Aku menghubungi mu, tapi kau mungkin tak mau mendengar kata-kata ku lagi. Aku terus berharap agar kau secepatnya pulang, tapi harapanku tak kunjung tercapai hingga aku lelah dan terlelap". Lanjut Syedza


"Asalkan kau tahu tentang laki-laki itu, itu di luar kendaliku". Syedza mengingat sesuatu


#Flashback on


"Apa yang ingin kau bicarakan? Sepertinya sangat penting". Ucap Rizwan memulai pembicaraan


"Iya. Ini sangat penting". Ucap Syedza sedih


"Lalu apa? Katakan saja". Ujar Rizwan penasaran


"Sebelumnya berjanjilah untuk tidak marah saat mendengarkan ini". Ucap Syedza memandang mata Rizwan


"Tunggu tunggu.. Sepertinya ini sangat menarik, aku marah? Ada apa dengan ku?". Tukas Rizwan dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu


Syedza terdiam sesaat, untuk memikirkan bagaimana menjelaskan dengan baik agar Rizwan tak tersakiti.


"Apa kau selingkuh?". Ujar Rizwan menerka

__ADS_1


"Tidak!". Syedza menggelengkan kepalanya


"Apa ini ada hubungannya dengan kembaranmu, Syedzi?". Terka Rizwan lagi


"Tidak ada hubungannya". Ucap Syedza menyapu air mata yang tiba-tiba jatuh dari pipinya


"Lalu apa?". Rizwan menyerah


"Aku sangat menghargai hubungan ini, aku tidak pernah main-main dengan siapapun. Aku juga sangat menghormati orang tuaku, terutama ayah". Syedza menghela nafas panjang. "Aku selalu mengikuti kata-kata ayah, sekalipun itu tidak sesuai dengan kemauan ku".


"Maksud mu?". Rizwan Menyerngitkan dahinya


"Dengan terpaksa aku harus mengatakan ini semua padamu. Aaa.. Aku menyerah pada takdirku dengan menyetujui rencana ayahku untuk mempersatukan aku dengan sekretarisnya". Jelas Syedza


"Apa!". Teriak Rizwan terkejut. "Apa maksud ini semua?" Tanya Rizwan kembali


"Aku sudah berusaha menolaknya, tapi keinginan ayahku sangat keras. Aku tak berdaya, maafkan aku". Lanjut Syedza lagi


"Katakan semua ini omong kosong! Ayo katakan Syedza!". Suara bentakan Rizwan mengudara.


"Aku mohon maaf aku". Syedza memohon


Plakkkk.. plak.. plakkk..


"Kesabaran ku telah habis menghadapi orang seperti mu. Sekarang kau terimalah pembalasanku ini. Hahaha". Rizwan menarik paksa tubuh Syedza


Syedza bergidik ngeri dengan perlakuan Rizwan pada nya.


#Flashback Off


Syedza berhenti sejenak kemudian melanjutkan


"Aku sudah mencari cara agar ia tidak marah dengan apa yang aku katakan itu, tapi gagal. Ia membentak ku berkali-kali, menamparku tiga kali dan memaksa apa yang seharusnya tidak kami lakukan waktu itu. Aku bukannya tak menolak, tapi aku tak berdaya". Jelas Syedza terisak. "Di satu sisi aku mencintai dia, di sisi lain ada kau yang dikirimkan ayahku".


Moehe masih terdiam memandang lurus ke depan


"Aku mengatakan ini padamu, bukan untuk mengharapkan belas kasih darimu. Sedikit pun tak ada niat dihatiku untuk begitu. Aku hanya ingin meluruskan tentang apa yang sebenarnya terjadi". Ungkap Syedza

__ADS_1


"Soal aku, biarlah ini menjadi takdirku. Maaf, aku telah menanam pilu di hidupmu dan terima kasih sudah berkenan berbagi hidup dengan ku selama satu purnama ini". Ujar Syedza menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


"Maksudnya?" Tanya Moehe


__ADS_2