
Syedza? Ahh.. Tidak! Sepertinya bukan dia, ia Syedza tidak bersolek metal dengan bibir, pipi dan mata berwarna gelap seperti itu. Moehe berseteru dengan batinnya.
Wanita itu menutupi wajahnya kembali.
Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin! aku harus pergi secepatnya. Batin Syedza gugup
Moehe sepertinya kelamaan melamun sehingga ia tak sadar bahwa ia telah kehilangan jejak wanita itu.
"Syedza? Sekilas aku memikirkan tentangnya, rasanya sudah lama sekali tidak pernah terlintas lagi wajahnya ia di kepalaku. Apa benar wanita yang barusan aku temui itu dia?" Gumam Moehe lagi
Moehe seperti percaya tak percaya kalau wanita itu adalah Syedza.
"Syeda? Apakah hanya mirip Syedza? Ataukah aku berhalusinasi kalau itu Syedza? Setelah kejadian ini, kenapa hatiku rasanya sesak sekali? Kira-kira apa kabar ya Syedza saat ini?". Gumam Moehe saat teringat wajah Syedza kembali
Moehe melangkah menuju ke dalam kantornya Seihan.
Sepertinya aku harus mencari tahu tentang wanita itu. Terlepas dari ia adalah Syedza atau bukan, setidaknya aku sudah tidak penasaran lagi. Batin Moehe.
Moehe memijit pelipisnya, sepertinya ia berpikir dengan keras dan mengatur strategi untuk bisa mengenali wanita yang membuat ia penasaran setengah mati itu.
Sepertinya aku perlu bantuan Seihan, tapi bagaimana bisa? Seihan tak semudah itu mengatakan siapa wanita misterius itu, jika saja aku bertanya langsung padanya sekarang tentang wanita itu, bisa-bisa ia curiga dan akan mewanti-wanti setiap gerak-gerikku. Kita harus bermain elegan Moehe, Jangan terburu-buru. Batin Moehe memperingati dirinya
Moehe memasuki ruangan Seihan, tak ada Seihan di sana, Moehe masuk begitu saja seperti biasanya ia bisa berlalu-lalang keluar-masuk ruangan sahabatnya itu.
Moehe meneliti seluruh ruangan Seihan,
"Koleksi Seihan ini banyak juga ya". Ujar Moehe saat melihat berbagai macam benda-benda yang tersusun rapi dan terawat di rak-rak ruangan Seihan.
Seihan suka mengkoleksi oleh-oleh khas daerah mana pun yang pernah ia kunjungi, setidak benda itu bisa menjadi bukti kalau ia memiliki sejarah dengan tempat tersebut, baik kunjungan lokal ataupun mancanegara. Selain itu berjejer juga penghargaan yang jumlahnya tidak sedikit, tak heran lagi kalau ia bisa mendirikan perusahaan sebesar ini, karena prestasi dan jam terbangnya cukup tinggi. Namun ada satu benda yang membuat Moehe heran dan meneliti cukup lama pada benda itu.
"Ini foto bayi siapa?". Gumam Moehe
__ADS_1
Moehe melihat foto yang ada di meja Seihan itu lekat-lekat. "Apa Seihan sudah memiliki bayi?"
Plaaak**k. "Hi! Moehe! Kau ada disini?". Sapa Seihan membuka pintu
"Wah! wah! wah. Kau ada di kantorku sepagi ini? Katakan ada apa?". Tanya Seihan heran saat melihat Moehe ada di ruangnya.
Moehe berdalih ke arah Seihan kemudian mengangkat kerah bajunya Seihan, "Kau memberiku mobil buntut Haah?!". Teriak Moehe
"Wah! Ada apa ini? Apa yang terjadi? Lepaskan kerah bajuku ini" Tanya Seihan pelan
"Bagaimana bisa mobil pinjamanmu itu berhenti di tengah jalan, itu memalukan sekali". Ujar Moehe kesal
"Oke baiklah, aku jelaskan ya? Yang pertama mobil itu tidak pernah aku pakai lagi, sudah setahun terparkir di garasi. Yang kedua otomatis mobil itu tak pernah di service lagi. Yang ketiga, kau sendiri yang memilih mobil itu kan? Salah siapa?". Ujar Seihan dengan setengah tertawa
"Itu salahmu, aku tak mau terima! Sebagai gantinya, aku mau karyawan di perusahaan Sailendra ini ada yang harus ikut menjadi karyawan di perusahaanku juga". Ujar Moehe
"Apa?". Sahut Seihan terkejut, "Aturan macam apa itu?". Lanjut Seihan lagi.
" Aku tidak mau tahu!". Moehe bersikeras
"Aku harus memilihnya dengan random". Bantah Moehe lagi
"Kau ini ada-ada saja, apa lebihnya karyawanku ini dengan karyawanmu yang membludak itu". Sahut Seihan mencari alasan, "Permainan apa yang sedang kau mainkan ini tuan Moehe?". Lanjut Seihan masih tertawa meladani tuan Moehe yang sedang pura-pura merajuk itu.
"Beri aku data-datanya lengkap dengan CV atau prestasi kerjanya. Aku tidak mau orang yang masuk ke perusahaanku nantinya orang yang tak berguna. Hahaha". Ujar Moehe melirik Seihan dari sudut matanya.
"Baiklah tuan Moehe kau bisa mencarinya disini". Ujar Seihan memberikan I-pad kerjanya kepada Moehe. "Untuk sahabatku yang satu ini apapun akan aku berikan, pakai saja ini, aku percaya padamu". Lanjut Seihan, "Baiklah, aku ada meeting penting, aku tinggal dulu. Ingat pergunakan baik-baik kesempatan ini. Hahaha". Lanjut Seihan sebelum meninggalkan Moehe sendirian di ruang kerjanya.
---
Wanita itu telah masuk ke ruang kerjanya dengan nafas terengah-engah, rasanya separuh nafasnya lenyap setelah kejadian itu. Cuaca luar dingin sekali, tetapi ia merasa panas, gerah dan sesak.
__ADS_1
Ada apa dengan aku ini? Aku merasa tidak enak setelah kejadian itu. Aku yakin laki-laki yang membantuku di depan gedung apartemen tadi pagi itu tidak mengenali siapa aku. Tapi kenapa hati aku rasanya tidak enak sekali. Batin wanita itu
Berkali-kali wanita itu menarik nafasnya panjang, kemudian mengeluarkannya pelan pelan, tetapi masih belum berhasil untuk menghalau kegundahan di hatinya.
Siapa laki-laki itu? Apa ia tinggal di gedung apartemen itu juga? Aku memang tak memperdulikan siapa pun yang tinggal satu apartemen dengan ku itu, tapi aku begitu khawatir jika laki-laki itu mengenali siapa aku. Batin Wanita itu yang terus berseteru dengan dirinya sendiri.
"Hi! Ada apa?". Ujar Seihan melambaikan tangannya kedepan wajah wanita itu untuk menyadari wanita itu dari lamunannya.
"Ehh.. Ehh. Tidak apa-apa. Maaf". Ujar wanita itu gelagapan
"Sepertinya kau terlalu lama melamun, sehingga tak sadar kalau aku sudah lama di sini". Ujar Seihan sedikit tersenyum. "Ada apa? Apa yang kau pikirkan?". Lanjut Seihan
"Ada sedikit kejadian yang membuat aku sangat khawatir dengan identitasku". Jawab Syedza spontan
"Kejadian?". Tanya Seihan heran
"Tadi pagi topi ku terlepas di area parkiran, ada seorang laki-laki yang berjalan di belakangku sepertinya ia melihat wajahku sekilas, aku khawatir ia mengenaliku". Jelas wanita itu terbata-bata
"Hanya sekilas kan? Itu tidak mungkin". Sahut Seihan
"Jika ia, bagaimana?". Bantah wanita itu
"Sudah aku katakan padamu, aku tak akan melanggar perjanjian kita dari awal, privasi mu akan aku rahasiakan dari siapa pun kecuali Noza. Apa selama ini ada orang-orang di kantor ini atau di apartemen mengusikmu?". Tanya Seihan menenangkan wanita itu
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Itu karena aku sudah mewanti-wanti mereka, jadi kau tak perlu khawatir tentang itu". Ucap Seihan menenangkan Wanita itu
"Tapi kali ini berbeda, aku sangat takut". Ucap wanita itu masih gemetar
"Beri tahu aku orangnya seperti apa?". Ujar Seihan sambil memeluk wanita itu agar bisa sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Aku tak melihat wajahnya dengan jelas, hanya saja ia berpakaian sangat santai". Jelas wanita itu
Santai? Apa itu Moehe?. Terka Seihan