Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Halaman belakang


__ADS_3

Sementara itu, di halaman belakang dipenuhi taburan aneka bunga di atas rumput-rumput halus sepanjang jalan menuju panggung pesta. Aroma menenangkan dari aroma khas bunga menghipnotis setiap manusia yang berada disekitar sana untuk tetap bernafas lega. Tatanan kursi pesta tertata rapi dengan warna senada tatanan panggung. Pantulan sinar mentari pagi yang mulai menampakkan sinarnya memberi nuansa hangat seolah mengisyaratkan semangat baru akan dimulai. Beberapa tamu undangan bercerita ria menyapa sesama tamu lainnya, rata-rata mereka dari kolega bisnis Fajuri Group, dan beberapa kenalan lainnya. Terlihat Moehe dan tuan Fajuri telah duduk di panggung kecil tempat yang akan digelarkan pesta.


Sesekali tuan Fajuri melirik jam tangan yang dipasangnya di tangan sebelah kiri.


Sudah terlalu lama menunggu, Kenapa Syedza belum juga turun? Apa menghabiskan waktu selama itu untuk bersolek?. Batin Tuan Fajuri.


"Moehe, Apa dia belum selesai? Kenapa dia lama sekali?". Tanya tuan Fajuri pada Moehe.


"Sepertinya sebentar lagi tuan". Jawab Moehe sambil melirik Fram yang berada di belakangnya sejak tadi.


"Fram, panggil nona sekarang". Titah Moehe pada Fram.


"Baik tuan". Fram melangkah cepat meninggalkan halaman belakang menuju kamar Syedza.


***30 menit kemudian***


Syedza melangkahkan kakinya ke halaman belakang, dibuntuti dengan beberapa pengawal yang menunggunya dari tadi. Padupadan terusan dress biru muda hingga mata kaki dengan belahan hingga lutut di kaki sebelah kiri mempercantik penampilan Syedza saat itu, rambut ikalnya ditata keatas memperlihatkan lehernya jenjang dan beberapa accesorries kecil yang nilainya tidak sedikit menambah aura positif yang bisa menarik perhatian setiap orang yang melihatnya.


Aahhh, Dia benar-benar cantik. Aku bisa gila melihatnya seperti itu. Batin Moehe.


Iringan irama musik romantis mengiringi langkah Syedza menuju panggung pesta. Seikat bunga putih yang digengamnya sejak tadi hampir saja terlepas dari jari lentiknya, keringat dingin ditangannya bercucuran entah kemana.


Aku masih tak percaya dengan yang terjadi hari ini. Batin Syedza.


Di sudut kursi tamu telah terlihat Rizwan berdiri tegap dengan sorot mata tajam mengarah pada Syedza, Syedza pun menyadari itu.


Ahhh tidak!. Tidak!. Kau harus tersenyum Syedza, kau harus terlihat baik-baik saja. Tersenyumlah... Tersenyumlah... Batin Syedza lagi.

__ADS_1


Rizwan menatap tajam ke arah Syedza, tatapan seperti menyimpan dendam dan amarah yang tak bisa disembunyikan. Bagaimana tidak? Hubungan yang mereka jalani dua tahun belakangan harus berakhir seperti ini, bahkan bisa dikatakan diharuskan berakhir yang semestinya belum berakhir.


Dia menatapku seperti ingin menelanku hidup-hidup. Batin Syedza menyadari tatapan tajam dari Rizwan.


Syedza melamparkan senyumannya pada setiap tamu undangan yang di laluinya sambil berjalan gontai ke arah panggung. Menambah manis dan serasinya penampilannya saat itu.


Cihhh.. Lihatlah dia bahkan bisa tersenyum seperti itu, Seperti tak terjadi apa-apa padanya. Batin Rizwan.


Ijab kabul telah diucapkan. Tamu undangan telah berhamburan meraih makanan apa saja yang bisa diraih. Berkali-kali terlihat Rizwan menepalkan tangannya dan mengatup rahangnya kesal hingga terdengar bunyi Cetek.. Cetekk. Kekesalannya atas janji suci yang diucapkan depan mata kepalanya sendiri masih tidak dapat diterimanya.


Aku harus melakukan sesuatu! Tapi apa yang harus aku lakukan?. Batin Rizwan


Berkali-kali ia mengatur rencana jahat untuk membatalkan pesta ini tapi tak pernah terealisasi, ia kalah waktu. Ia tak punya waktu lagi untuk mengatur rencana bejad itu, bahkan untuk memikirnya, apa lagi untuk merealisasikannya. Otaknya seketika terhenti untur berpikir saat menghadapi kenyataan pahit ini. Kalah telak kata itulah yang dapat mewakili perasaan Rizwan kali ini.


Aku yang bodoh! Aku yang bodoh. Batin Rizwan lagi dengan mengepal kuat tangannya di atas meja para tamu di tempat pesta itu.


Jangankan untuk mencari makanan, untuk bernafas pun bagi Rizwan rasanya sangat sulit saat ini.


"Ah kau?". Jawab Rizwan kaget.


Iya, itu adalah suara Syedzi atau biasa dipanggil Ezi, saudara kembar mantan pacarnya Rizwan.


"Ayo cari makanan enak". Ajak Ezi sambil menarik tangan Rizwan hingga beranjak dari tempat itu.


Kenapa ia seberani ini? Padahal dulu bahkan aku tidak pernah mendengar ia berbicara lebih dari 3 kata. Batin Rizwan merasa ada hal yang berbeda dari Ezi


Rizwan mengikuti ajakan Ezi sambil menggenggam pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Aku mau makan ini, eh ini juga. tolong pegang ini dulu". Pinta Ezi sambil menyodorkan makanan ke tangan Rizwan. "Eh sepertinya ini juga enak, aku yakin perutku masih sanggup menampung ini semua". Ujar Ezi gembira.


"Sudahlah, kau ini seperti tak makan seminggu saja. kau lihat tangan ku ini penuh dengan makananmu saja". Protes Rizwan dengan suara dingin.


"Baiklah.. Baiklah.. Aku yang salah, baru segitu dia sudah kesal begini". Gumam Ezi tapi masih terdengar di telinga Rizwan.


"Ayo, kita duduk di meja itu saja". Ezi menunjuk salah satu meja kosong di tempat pesta itu. Rizwan menurut saja apa kata Ezi, tanpa membantah sedikitpun. Entah karena malas berdebat atau malas mempermasalahkan hal kecil seperti ini, yang jelas saat ini adalah hatinya memang sedang hancur berkeping-keping.


Rizwan masih hening tak sedikitpun berniat untuk mengajak orang yang ada di depannya ini berbicara, kadang tertunduk sambil mengepalkan tangan. Kadang juga mengadah dengan tatapan kosong. Kali ini Rizwan memang berada di titik terendahnya.


Syedzi/Ezi bukanlah seseorang yang pandai berbicara, bukan juga orang yang bisa memperbaiki suasana. Sebenarnya tersirat dihatinya ingin sekali menghibur Rizwan. Tapi berkali-kali ia gagal mengangkat mulutnya untuk membuka pembicaraan.


Dia terlihat seperti orang gila saat ini. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan padanya? Kenapa aku yang harus mulai duluan sih? . Batin Ezi sambil menggigit jari telunjuknya. "Aauuww". Ezi menjerit tanpa disadari tergigit jarinya sendiri.


Jeritan Ezi membuyarkan lamunan Rizwan.


"Kau kenapa?". Rizwan bertanya panik.


"Wajahmu terlihat pias, seperti mayat hidup". Ezi menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia katakan barusan. Sepertinya keberaniannya meningkat dua kali lipat.


Apa yang aku katakan? Aku tak sadar bisa selancang itu. Batin Ezi menyadari apa yang ia katakan barusan sudah sangat keterlaluan.


Rizwan hanya bergeming tak bernafsu untuk menjawab apapun.


Mayat? Apa aku sudah mati?. Batin Rizwan


Dia benar-benar kehilangan akalnya saat ini. Bahkan ia tidak marah saat aku menyebutnya mayat hidup. Apa sesakit itu ditinggal nikah?. Batin Ezi

__ADS_1


__ADS_2