Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Nafin dan Moehe


__ADS_3

Noza berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya, tanpa ia sadari Moehe sedari tadi membuntutinya. Moehe penasaran Noza tinggal di kamar nomor berapa di gedung ini. Noza membuka kunci kamar dengan terburu-buru.


Cakk!


"Tunggu! Aku mau ikut masuk," ujar Moehe meraih tangan Noza yang hendak menutup pintu.


"Kenapa masih di sini? Aku sudah sampai dengan selamat sampai ke kamar, tuan Moehe boleh pergi sekarang," ujar Noza mengusir Moehe dengan sopan.


"Nomor 13? Ini kamarnya Syedza, jadi Noza dan Syedza tinggal di sini," batin Moehe melirik nomor kamar tepat di depan mereka berdiri saat ini.


"Aku ingin masuk, sebentar saja, hanya sebentar," pinta Moehe memohon.


"Baiklah," ujar Noza pasrah.


Noza mempersilakan Moehe masuk, tanpa pikir panjang, ia mengalah berdalih tidak ingin berdebat.


"AUNTY!" tiba-tiba suara Nafin mengagetkan dari balik pintu.


"Nafin!" seru Noza kaget.


"Mati aku! mengapa aku tidak ingat kalau ada Nafin disini, tuan Moehe akan sadar siapa Nafin sebenarnya, setelah identitas Nona, identitasku, dan sekarang identitas Nafin juga akan terungkap oleh tuan Moehe, tamatlah riwayat kami semua," batin Noza hampir tidak bisa bernafas setelah membayangkan itu semua.


"Nafin, anak itu juga tinggal disini, siapa dia? apakah ia adalah__," batin Moehe.


Lamunan Moehe terpotong saat Nafin menyapanya dengan nyaring.


"Uncle hero!"


"Hai sayang! Kamu disini juga ya?" tanya Moehe.


"Oh iya, aku baru ingat, Noza ini adalah orang yang bersama Nafin waktu itu, pantas saja wajahnya tidak asing, tapi aku masih penasaran mengapa ia bisa tinggal satu kamar bersama Syedza juga," batin Moehe.


"Uncle apa kabar? aku merindukan mu," ujar Nafin polos.


"Baik, sayang. Kamu bagaimana kabarnya? Bagaimana sekolahnya?" tanya Moehe balik.


"Hari-hariku sangat menyenangkan, ayo kita main robot-robotan, uncle!" Nafin mengajak Moehe bermain.


Nafin menarik tangan Moehe untuk duduk di depan TV, ia mengeluarkan mainan robot-robotannya dari lemari, kemudian ia meletakkan mainan itu di depan Moehe.


"Ayo uncle kita mulai!"


"Baik sayang, aku yang ini ya?" Moehe memilih salah satu robot yang bewarna biru.


"Kenapa harus biru?" tanya Nafin.


"Karena wanita itu suka biru," jawab Moehe spontan.

__ADS_1


"Mommy-ku juga suka biru, tapi mommy dan aunty tidak bisa diajak kerja sama bermain robot," ujar Nafin merengut.


"Mommy?" Moehe berfikir keras.


"Iya uncle, uncle belum pernah bertemu sama mommy kan? Mommy sedang ada meeting di luar, nanti juga pulang," jelas Nafin.


"Entah kenapa naluriku berkata kalau ibu dari anak ini adalah Syedza," batin Moehe.


"Apa mommy-mu sangat cantik?" tanya Moehe.


"Iya, ia cantik sekali," ucap Nafin polos.


"Berarti kamu harus berjanji mengenalkan uncle padanya," ujar Moehe.


"Baiklah, tapi harus ada syaratnya, kita harus menyelesaikan permainan ini dulu," Nafin menunjukkan mainannya.


"Okey, siapa takut, ayo kita mulai!"


"Peraturannya kalau yang kalah akan dicoret pakai mukanya pakai tepung," jelas Nafin.


Nafin dan Moehe bermain dengan senang-senang nya, cekikan demi cekikan terdengar keluar dari mulut Nafin.


Triingtingg, suara bell berdering.


Secara spontan Moehe membukakan pintu.


"Hahaha, apa Nafin menyewa badut untuk menemaninya di rumah malam ini?" ujar Syedza melihat wajah Moehe penuh dengan tepung.


"Kau disini?" tanya Syedza bingung.


"Iya, aku sedang bermain dengan anak hebat ini," jawab Moehe seadanya.


"Nafin langsung bisa akrab begitu sama Moehe? padahal mereka pertama kali bertemu," batin Syedza bingung.


"Mommy, aku dan uncle hero sedang bermain, biarkan saja uncle hero disini dulu ya?" rengek Nafin pada Syedza.


"Uncle hero?" tanya Syedza menyerngitkan dahinya.


"Iya mommy, ini adalah uncle hero yang aku pernah cerita ke mommy waktu itu," jelas Nafin memperkenalkan Moehe.


"Jadi yang dimaksud Nafin uncle hero itu adalah Moehe?" batin Syedza sedikit terkejut mendengar panggilan Moehe pada Nafin.


"Uncle hero, ini adalah mommy-ku," ujar Nafin menarik tangan Syedza untuk berjabat tangan dengan Moehe.


"Ohhh ini uncle heronya?" tanya Syedza melirik Moehe lekat-lekat.


"Apa sebenarnya ini? Dugaanku tadi benar, anak ini adalah anaknya Syedza, takdir memang merestui kami untuk dipertemukan," batin Moehe.

__ADS_1


"Ohh ini Mommynya? Rupanya Mommy sangat cantik, bukan begitu sayang?" ujar Moehe mengacak-acak rambut Nafin.


"Iya, dia Mommy-ku, aku bangga memiliki mommy sepertinya," ujar Nafin memuji Syedza.


Syedza terlihat salah tingkah mendengar percakapan antara dua laki-laki di depannya ini.


"Aku masuk dulu ya, kalian lanjut saja permainannya," ucap Syedza.


"Mommy ikut kita bermain saja, akan seru jika kita bermainnya beramai-ramai," Nafin mengajak Syedza untuk bergabung bersama mereka.


"Tidak, kalian saja ya," tolak Syedza lembut pada anaknya.


"Ayolah, uncle hero pasti senang kok kalau Mommy juga ikut," bujuk Nafin lagi.


"Sayang!" Syedza mengelus lembut pipi Nafin.


"Mommy, pleaseee! kali ini saja, aku mohon," Nafin mengatup kedua tangannya di depan Syedza.


"Oke baiklah," ujar Syedza pasrah.


Nafin, Moehe dan Syedza bermain bersama sesuai dengan peraturan yang telah dibuat Nafin di awal permainan, Syedza berkali-kali kalah, sehingga butiran tepung berhamburan di wajahnya. Mereka bertiga sangat senang menikmati permainan ini, cekikan-cekikan terdengar dari mulut mereka bertiga saat salah satu dari mereka kalah dan mereka harus mencoret wajah yang kalah disertai dengan sorak-sorai.


"Yahh.. Mommy kalah lagi," ujar Syedza.


"Yeyy yeee yeyy yeee, selamat kena hukuman mommy," sorak Nafin mengoleskan tepung di wajah Syedza.


"Mommy maaf ya, ini hukuman untukmu," ujar Moehe ikut-ikutan mengoleskan tepung di wajah Syedza.


Syedza ikut menikmati permainan ini, ia ikut larut dalam canda tawa antara Moehe dan Nafin.


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa lepas seperti ini," batin Syedza.


Moehe juga sangat menikmati permainan yang disuguhkan Nafin ini.


"Aku senang bisa melihat Syedza tertawa begini," batin Moehe.


"Terlepas dari semua yang terjadi, Moehe adalah orang baik yang pernah ku kenal, aku tahu ia merasa bersalah atas semua yang sudah-sudah, tapi sesungguhnya ia sama sekali tidak bersalah, kasihan ia harus dihantui rasa itu karena aku," batin Syedza.


"Yaahhh.. Sekarang uncle yang kalah," ujar Moehe menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangannya.


"Oh iya, uncle tidak boleh curang, ayo tunjukan wajahnya, uncle," ujar Nafin berusaha menjauhkan tangan Moehe dari wajahnya.


"Ampun dong, sayang," pinta Moehe.


"Hahaha, harus sportif dong," ujar Syedza mencolek tepung ke wajah Moehe.


Nafin juga sangat menikmati permainan ini, ia bahagia dengan datangnya Moehe malam ini untuk bermain dengannya, ia bisa merasakan kehadiran Moehe sebagai pengganti figur ayah padanya.

__ADS_1


"Yaahh, aku lelah sekali, uncle mau kan temani aku tidur disini? Malam ini saja," pinta Nafin.


Degg!!


__ADS_2