
"Anak itu memang lucu. Aku jadi bingung sendiri, sejak kapan aku tertarik dengan anak kecil? Sejak kapan pula ada anak kecil yang berani bermain dengan ku?" gumam Moehe mengingat momen saat ia bertemu anak kecil yang bernama Nafin itu.
Moehe menyadari bahwa ada perubahan pada dirinya, ia yang dulunya tidak peduli sedikitpun dengan anak-anak dikarenakan dalam hidupnya tidak ada anak-anak ataupun bayi, selama ini ia hanya berkutat dengan pekerjaan. Entah kenapa saat ini ia merasa tertarik dengan anak-anak, mungkin karena anak laki-laki yang baru ia kenal itu sangat lucu atau sudah usianya Moehe menjadi bapak-bapak sehingga jiwa kebapakannya muncul dengan sendirinya, seperti saat ini.
Sementara itu dikamar, Wanita itu sedang berbincang dengan Noza, asisten pribadinya.
"Kita ada meeting dengan tuan Seihan pukul 09.00 nanti terkait dengan evaluasi formula kita itu, setelah itu kau boleh pulang menemani Nafin di apartemen, sepertinya kita harus lebih ketat lagi mengawasi Nafin agar tidak terlalu mudah untuk mengenal orang asing," ujar wanita itu kepada Noza.
"Baiklah Nona, setelah meeting nanti aku akan menjemputnya di sekolahnya," jawab Noza sopan.
"Baiklah, kalian berangkat dulu, jangan lupa antar Nafin sampai ia benar-benar masuk ke kelasnya dan beri tahu gurunya untuk tidak mengizinkan siapapun yang akan menemuinya kecuali kita berdua," pesan wanita itu sebelum meninggalkan kamarnya.
"Siap nona," Noza mengangkat kedua jempolnya.
Noza dan Nafin berangkat terlebih dahulu, kemudian wanita itu akan menyusulnya selang beberapa menit. Wanita itu hampir tidak pernah menuruni lift atau ke tempat umum lainnya berbarengan dengan Nafin, anaknya. Ia selalu menyuruh Noza untuk mengawasi Nafin, alasannya bukan karena ia sibuk, ia hanya tak ingin Nafin terlibat dalam masalah penyembunyian identitasnya itu. Terlebih lagi jika ada yang tahu siapa Nafin itu, itu akan menyebabkan masalah besar baginya.
"Wanita yang bersama anak itu? Anak itu memanggilnya Aunty, berarti ia bukan ibu dari anak itu, Sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya, mungkin itu hanya kebetulan atau hanya seseorang yang mirip dengan nya saja," gumam Moehe menggerutu saat melihat Nafin bersama Noza menuruni lift.
Moehe sengaja menikmati pagi ini di balkon apartemen lantai tiga, dari sini kita bisa menikmati matahari terbit dengan jelas. Namun di sini agak berisik karena berdekatan dengan lift apartemen sehingga suara orang yang berlalu lalang menunggu di depan pintu lift ini terdengar bising.
Satu-satunya Lift yang ada di apartemen ini sengaja di design berdinding kaca yang transparan, terletak di sudut apartemen sehingga dari dalam lift kita bisa menikmati pemandangan indah ke arah luar. Sehingga kesesakan saat menaiki Lift bisa di atasi dengan cara ini, tak seperti lift-lift lainnya yang identik dengan alumunium, stainless atau besi.
__ADS_1
Dari kejauhan tampak seorang wanita dengan pakaian khas nya itu menuruni tangga lift. Ia tak sadar ternyata ada seseorang yang mengamatinya dari balkon apartemen.
"Oohh.. Ternyata wanita misterius itu tinggal di apartemen ini juga? Sepertinya ia sangat berpengaruh dalam perusahaan Seihan, tapi siapa dia? Kenapa ia memakai pakaian seperti itu? Sepertinya ada yang ia tutupi, aku jadi semakin tertarik untuk menyeledikinya," gumam Moehe.
Moehe berlari ke arah lift, menelusuri orang-orang yang sedang berdesakan mengantri di depan tangga lift itu.
"Aahh Sial!" cetus Moehe, ia kalah cepat, pintu liftnya telah tertutup.
"Sebenarnya untuk apa aku tahu dia siapa? Ini jelas sekali bukan urusan ku. Kenapa ia berpakaian seperti itu kan itu haknya. Tapi kenapa pikiranku, terus menerus memikirkannya. Bahkan batinku selalu ingin mengarahkan kepada nya," batin Moehe.
Moehe berbalik badan menuju ke arah tangga darurat di sebelah kanan lift, ia berlari dengan sekuat tenaga, berharap kali ini ia tak kalah cepat dengan wanita itu. Setidaknya ia bisa berjalan di belakang wanita itu sudah cukup baginya untuk menghalau sedikit penasaran dari akalnya.
"Ah sial! Sepertinya keberuntungan belum berpihak kepada ku, aku kalah cepat wanita itu sudah menaiki mobilnya dan melaju secepat itu,0" Erang Moehe.
Keringat Moehe bercucuran seperti selesai olahraga kardio tiga puluh menit, tenaganya cukup terkuras saat mengejar wanita itu, ia pun berinisiatif untuk menyalakan Air Cool(AC) mobilnya hingga tombol full dengan cukup lama.
Bruukkk. Tiba-tiba mobil yang dikendarai Moehe terhenti, kebetulan saat itu posisinya berada di sebelah kiri jalan.
"Dasar mobil tak berguna, bisa-bisanya Seihan memberiku mobil sial seperti ini!". Cela Moehe
Moehe mencari alternatif lain untuk bisa sampai di kantor Seihan dengan cepat, ia melirik jam di tangan kirinya, berharap keberuntungan masih ada dipihaknya.
__ADS_1
Posisi Moehe saat ini sudah dekat dengan kantor Seihan, suasana di jalanan juga tidak terlalu ramai, karena ini merupakan satu-satunya jalur menuju kantor Seihan, sehingga banyak kendaraan karyawannya Seihan yang lewat, jadi Moehe tidak begitu risau untuk mencari tumpangan.
Moehe telah sampai di kantor Seihan, Kali ini keberuntungan ada di pihak Moehe, Ia menemukan jejak wanita misterius itu di parkiran perusahaan,ia sudah berjalan tepat di belakang wanita itu. Berjalan dengan santai, tapi pasti seolah-olah berlagak seperti tak ingin diketahui bahwa sedang mengikuti seseorang.
Cuaca di sekitar kantor Seilendra grup pagi ini mendung dengan tiupan angin yang cukup kuat. Sesekali tiuapan angin terasa menolak tubuh kita belakang dengan kuat. Wanita itu berjalan dengan cepat, sementara itu Moehe dengan celana jeans, atasan kaos oblong, topi pet dan kaca mata hitam berjalan dengan cepat pula di belakangnya tanpa ia sadarim
Sssdtttt.. Angin meniup dengan kuat kearah mereka mendorong mereka yang berusaha untuk bertahan melawan terpaaan angin pagi ini, sehingga topi hitam khas wanita itu terlepas dari pemiliknya.
"Aauu!" teriak wanita itu.
Dengan cepat Moehe menangkap topi itu, kemudian dengan cepat pula wanita itu menyambar topinya dari tangan Moehe.
"Thankyou!" ucap wanita itu dengan cepat mengenakan topi ke atas kepalanya.
"Manis juga wanita ini, kenapa aku melihatnya seperti mirip sekali dengan Syedza ya? batin Moehe.
Wanita itu gemetaran dan salah tingkah.
"Mati aku! Mati aku! Siapa laki-laki itu? Apa ia dapat melihat dengan jelas wajahku?" batin wanita itu.
Tatanan rambut yang di ikat dan digulung rapi ke belakang sepertinya tidak bisa menutupi wajah wanita itu saat topinya terlepas. Walaupun poninya menutupi wajahnya bagian depan, tetapi tidak menutup kemungkinan Moehe bisa melihat sebagian wajahnya walau hanya sekilas.
__ADS_1
"Syedza?" batin Moehe.