Romansa Janda Muda

Romansa Janda Muda
Makan malam


__ADS_3

Syedza dan Noza sudah sampai di tempat makan malam yang Seihan sebutkan, mereka hanya berdua saja, Seihan dan Moehe mengabari kalau mereka sedang terjebak macet di jalanan.


✔"Apa kalian sudah sampai? kami terjebak macet di jalanan, sepertinya ada pohon tumbang di depan sana, kami harus putar arah lagi, kalian pesan saja makanannya dulu," Seihan mengirimkan pesan singkat pada Syedza.


✔"Baiklah, kalian hati-hati saja," balas Syedza.


Seihan mengajak Syedza untuk makan malam itu dengan alasan ada hal yang harus dibahas tentang produk yang dikerjakannya dengan pebisnis dari perusahaan lain yang ingin bekerja sama. Awalnya Syedza ragu untuk keluar malam itu, tapi berhubung Seihan juga mengajak Noza dan ia menyebutkan ini adalah pertemuan penting, akhirnya Syedza menyetujui untuk keluar malam ini.


"Ia juga mengajak Noza, ia juga tidak mengatakan akan menjemputku ke apartemen, berarti ini resmi pertemuan kantor, bukan kencan bersamanya," batin Syedza.


Syedza dan Noza sudah menunggu sekitar setengah jam, mereka juga sudah mengabiskan makanan ringan yang ia pesan. Selang beberapa saat Seihan muncul di balik pintu restoran bersama pebisnis lain yang Seihan katakan pada Syedza sebelum kesini.


Noza yang sedari tadi sibuk mengacak-acak ponselnya, tersontak, tiba-tiba perhatiannya berdalih pada orang yang datang bersama Seihan ini.


"Tuan Moehe!" seru Noza terkejut, kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Syedza melihat dan mendengar jelas apa yang dilakukan Noza saat itu, ia merasa heran mengapa Noza bisa sehisteris ini.


"Kau kenal dia?" tanya Syedza mengagetkan Noza.


"Ah-ah iya, eh-eh tidak, eh-hehehe," ujar Noza salah tingkah.


"Tadi kau mengatakan iya, terus tidak, maksudnya gimana? iya atau tidak?" tanya Syedza heran.


"Iya, eh-eh tidak," jawab Noza masih gaguk.


Syedza mendengus kasar melihat tingkah Noza saat itu.


"Bagus jika kalian saling kenal, jadi tugasku tidak berat," ujar Seihan.


"Maksudnya?" teliti Syedza.


"Wah wahh.. Aku keceplosan, bagaimana aku bisa mengatakan itu," batin Seihan.


"Aku memang terkenal, aku sering muncul di TV apalagi di webinar ataupun seminar online terkait bisnis, mungkin saja nona ini mengenalku dari sana. Ah, kami bahkan belum sempat berkenalan Face to face begini," ujar Moehe.


"Iya, itu betul," sela Noza.


"Rasanya ada yang aneh," batin Syedza.


"Selain mengenal Syedza, rupanya Moehe juga sudah mengenal Noza, sepertinya dugaanku tidak salah lagi, Moehe mengenal Syedza sangat dekat. Aku kira Noza bisa membantuku untuk mengklarifikasi ini semua," batin Seihan.


"Oh, wanita ini yang akan Seihan kenalkan dengan ku? Oh iya, ini kan wanita yang bersama Nafin waktu di apartemen," batin Moehe.


Perbincangan diantara mereka cukup seru, mereka menceritakan bisnis, dan sedikit-sedikit di selingi dengan bercandaan. Seihan sudah mengatur strategi, ia sudah meloby Noza sebelumnya kalau Seihan nanti akan pulang bersama Syedza, dan Seihan juga menyakinkan Noza kalau ia akan pulang bersama kenalannya itu dengan selamat. Awalnya Noza ragu dengan tak-tik Seihan ini, tapi berhubung mereka pulang juga sudah malam bahaya jika wanita lewat di daerah itu malam hari, maka Noza menyetujui permintaan Seihan.

__ADS_1


"Aku ke toilet sebentar," ujar Moehe pamit.


"Siap," jawab Seihan mengedipkan mata pada Noza.


Mereka bertiga masih berbincang-bincang tentang berbagai hal dengan santai.


"Aduuh, perutku seperti tidak enak," ucap Noza memegang perutnya.


"Kenapa?" tanya Syedza heran.


"Aku ke toilet dulu ya," ucap Noza pamit.


Noza menuju ke arah toilet, tuan Moehe sudah menunggu di pertigaan arah sana.


"Apa Seihan sudah mengatakan kepada mu?" tanya Moehe.


Noza mengangguk.


"Waah waah waah, kalau begini aku harus pulang bersama tuan Moehe dong," batin Noza gugup.


"Kau pulang bersamaku malam ini, aku akan pastikan kau akan selamat sampai tujuan tanpa ada cacat sedikitpun," ujar Moehe menyakinkan.


Lagi-lagi Syedza mengangguk.


"Aku pamit pada Nona dulu," ujar Noza.


"Kenapa?" tanya Syedza heran


"Perutku tidak enak, aku melupakan sesuatu, aku mens," bisik Noza di telinga Syedza.


"Kalau begitu kita pulang sekarang saja," ajak Syedza.


"Ah, tidak! Kau disini saja, ada beberapa hal yang belum selesai kita bahas," cegah Seihan.


"Tapi, Noza__," kalimat Syedza terputus.


"Moehe akan mengantarkan Noza pulang, kau pulang dengan ku nanti, bahaya kalau wanita pulang sendirian dari arah sini," ujar Seihan menyakinkan Syedza.


"Lagian lokasi meetingnya jauh begini," gerutu Syedza.


"Ini hanya strategiku," batin Seihan tertawa.


***


Di dalam mobil,

__ADS_1


"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Moehe memulai pembicaraan.


"Iya," Noza mengangguk.


"Kau mengenali ku?" tanya Moehe menyelidik.


"Iya, eh-eh iya," jawab Noza gugup.


"Tidak usah gugup begitu, kau yang waktu itu bersama Nafin kan?" tanya Moehe.


"Iya," lagi-lagi Noza mengangguk.


"Dunia memang sempit, hahaha," Moehe tergelak.


"Apa maksudnya? Apa Fram sudah mengungkapkan pada tuan Moehe ini siapa aku sesungguhnya?" batin Noza menerka.


"Kita bertemu beberapa kali, tapi kau masih sulit berbicara," ungkap Moehe.


Noza hanya mengalihkan pandangannya keluar kaca mobil, pemandangan di luar sepertinya lebih menarik dibandingkan pembahasan Moehe ini.


"Kau mengenali Syedza sudah lama?" tanya Moehe.


"Iya," jawab Noza masih singkat.


"Bisakan kau ceritakan tentang Seihan dan Syedza selama ini, agar pembicaraan kita malam ini tidak dingin-dingin sekali," bujuk Moehe ingin mencari celah tentang sahabat dan mantan istrinya itu.


"Maaf tuan Moehe, saya rasa itu bukan urusan saya untuk mengutik pribadi orang lain," jawab Noza lancang.


"Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin tahu tentang mereka, sepertinya mereka pasangan yang serasi, sebagai orang terdekat dengan mereka kau pasti tahu sedikit banyaknya yang terjadi antara mereka selama ini. Seihan itu sahabatku, aku senang melihat ia menemukan kebahagiaannya seperti sekarang," jelas Moehe menyakinkan Noza.


"Kau tidak bisa berpura-pura tuan Moehe, sesungguhnya kau sakit melihat kenyataan ini semua, aku yakin kau hanya pura-pura agar terlihat tegar di depan Seihan. Keberuntungan tidak berpihak kepada mu tuan Moehe, aku yakin Nona pasti akan memilih tuan Seihan," batin Noza.


"Apa kau mengenali bagaimana Nona?" tukas Noza.


"Hanya sebatas tahu," jawab Moehe cepat.


"Tidak lebih?" tukas Noza lagi.


Moehe menggeleng, "Apa yang kau ketahui tentang ku?" Moehe menukas balik.


"Hm.. tidak ada," jawab Noza gemetar.


"Apa Syedza pernah menceritakan tentang masa lalunya?" tanya Moehe penasaran.


"Sepertinya kita telah sampai, aku turun dulu ya, terimakasih dan selamat malam,"ucap Noza menyela pembicaraan Moehe.

__ADS_1


"Tunggu! tugasku belum selesai, aku akan memastikan kau sampai di kamar baik-baik saja," cegah Moehe menggenggam tangan Noza.


__ADS_2