
Namaku Dewi. Aku bekerja di photos studio. Aku ditempatkan dibagian pengepresan. Sedangkan suami (Aji), kerjaannya tidak menentu. Untuk sekarang, kerjaan yang lagi digelutinya adalah jual-beli motor Vespa.
Aku Nomaden, atau orang yang sering berpindah tempat tinggal.
Aku seperti magnet bagi mereka (Makhluk Astral). Karna kemana pun aku pergi, mereka kerap mengganggu dan tak segan untuk menampakkan diri.
Kisah ini dimulai pada tahun 1997.
Waktu itu, aku masih tinggal di Jatiwaringin.
Malam itu aku ditemani suami pergi kerumah kakak ipar untuk menonton TV yang menayangkan kisah misteri.
Walau perutku tengah membesar (hamil 7 bulan), tapi tak menghentikan langkah kaki ini untuk pergi kerumah kakak ipar.
Aku dan suami berjalan menelusuri jalan setapak. Kanan dan kiri, terlihat rimbunnya pepohon, pepohonan yang tinggi dan besar.
Ditengah rimbunannya pepohonan, ada satu bangunan yang berdiri. Bangunan tersebut adalah mushollah, yang tak jauh dari rumah saya.
Kita masih berjalan. Nyaliku sedikit menciut, karna jalan yang kita lalui ini, berasa tak berujung.
Padahal jarak rumah kita cuma 300 meter.
Mungkin karena minimnya pencahayaan. Ditambah pepohonan yang tinggi menjulang. Menambahkan kesan mistis, ketika keluar rumah jika sudah malam.
Aku merasakan bulu kudukku meremang. Seakan ada mata yang mengawasi dibalik pepohonan.
Aku menggandeng tangan suamiku dan berharap bisa secepatnya sampai ditujuan.
"Tok... Tok... Tok... ." terdengar suara ketukan dari pintu yang kita ketuk.
"Assalamu'alaikum," ucap kita bersamaan. Tak berselang lama, terdengar langkah kaki dari dalam rumah. Pintu pun dibuka dan aku melihat mbak Sri (Samaran), membukakan pintu sambil membalas salam kita, "Walaikumsalam," ucapnya yang disertai dengan senyuman.
Kita dipersilahkan masuk dan kita duduk didepan TV.
__ADS_1
Disana sudah ada seseorang yang menyambut kita, Mas Roip (samaran), suaminya Mbak Sri.
Kita ngobrol, sambil menunggu tayangnya acara yang kami nantikan.
Waktu itu, aku lupa jam berapa acara tersebut tayang. Mungkin.., sekitar jam 11 malam.
Karena tengah asik mengobrol. Kita pun sampai lupa untuk pulang.
Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat.
Karena sudah lewat tengah malam, akhirnya kita pun pamit untuk pulang.
Hawa dingin mulai terasa menusuk tulang.
Aku berjalan sambil menggandeng tangan suami.
Karna merasa takut, mataku tak henti-hentinya melihat kearah kanan dan kekiri. Seakan ada seseorang yang tengah mengawasi.
Jalanan yang agak gelap dan disertai nyanyian binatang malam, mengiringi kita yang tengah berjalan dalam kesunyian.
Aku pun menatap kearah suami. Pandangannya lurus kedepan, seolah tak merasakan apa yang aku rasakan.
Tak lama tercium bau anyir darah dan bercampur dengan bau busuk, bau busuknya seperti bau bangkai tikus.
Terasa perutku langsung mual, tapi aku mencoba untuk menahannya agar tidak muntah.
Terasa dari belakang seakan ada seseorang yang mengikuti.
Seperti ada beban yang **** pundak, pundakku menjadi kian berat.
Rasa takut semakin melekat. tapi rasa penasaran seakan mengalahkan ketakutanku.
Aku memberanikan diri untuk menoleh kebelakang.
__ADS_1
Terlihat siluet putih yang kakinya mengambang.
Aku ketakutan dan menarik tangan Mas Aji. Tapi dia hanya terdiam dan memandang lurus kedepan.
Aku membaca doa, sebisanya.
Tapi aku masih penasaran dan ingin memastikan, sebenarnya apa yang aku lihat ketika menoleh kebelakang.
Sembari terus berjalan, aku pun menoleh lagi kebelakang.
Terlihat perempuan berambut panjang, rambutnya acak-acakan tak beraturan. Dia mengenakan pakain putih yang lusuh. Sebagaian wajahnya tertutup oleh rambut.
Wanitanya cantik. Dia tersenyum kepadaku, tapi senyumannya tidak seperti senyuman yang biasa.
Dia tersenyum dengan menunjukan gigin hitamnya. senyumnya kian melebar, hingga memenuhi seluruh wajahnya. Pinggiran bibirnya mendekati daun telinga.
Karena takut, aku langsung berbalik dan memejamkan mata. Aku berdoa dan terus berdoa, agar sosok tersebut tidak lagi mengikuti kita.
Tak lama aku membuka mata dan terlihat mushollah didepan sana.
Aku takut kala teringat senyuman menyeringainya.
Kita masih berjalan dan sudah melewati mushollah.
Aku pikir kalau kita sudah melewati mushollah, mungkin makhluk tersebut sudah tidak ada.
Masih dalam keadaan berdoa, aku menengok kebelakang.
"Wush..." bagaikan kain yang tertiup angin. Sosok tersebut terbang sambil tertawa "hihihihihihi..," dan menghilang diantara pohon asam.
Sesampainya dirumah kita langsung masuk dan mengunci pintu.
Aku langsung bergegas masuk kekamar sambil memegangi erat perut buncitku.
__ADS_1
Karena merasa takut, aku sampai tidak bisa tidur. Hingga terdengar suara adzan shubuh yang berkumandang.
#Bersambung..