
Tak lama setelah aku di rawat, Galang dan ketiga sahabatku datang menemuiku.
" Astaga Yun. Wajah mu kenapa?" tanya Putri.
" Di sayat psikopat gila. Udah gapapa kok." sahutku.
" Walau sudah sembuh, bekasnya ga akan hilang." ucap Puja.
" Iya sih. Tapi gapapa lah. Yang penting semua sudah selamat." sahutku.
" Oh ya Yun, kamu belum jelasin ke kita tentang kejadian di lahan pertanian kemaren." tanya Tara.
" Gini loh, kemaren aku lihat siluet kejadian. Aku ngeliat pertengkaran antara Galang dengan Jonggi, sampai akhirnya Galang pergi. Nah, setelah Galang pergi, di sana tinggal Jonggi, Agnes dan Albert. Tanpa Jonggi sadari, Agnes dan Albert seperti membicarakan sesuatu melalui gerak. Tak lama, Albert langsung memukul kepala Jonggi dari belakang, sampai membuat ia tak sadarkan diri. Tidak sampai di situ, Agnes juga mencekik leher Jonggi yang sudar terbaring di tanah.
Setelah memastikan bahwa Jonggi benar-benar sudah tewas, mereka menguburkan jasad Jonggi di lahan pertanian." jelasku.
" Kok mereka bisa sampai hati ya?" tanya Puja.
" Bisa jadi mereka sudah lama merencanakan ini. Soalnya, aku sering melihat Agnes dan Albert bermesraan saat Jonggi tak ada. Bisa jadi karena takut ketahuan, maka mereka membunuh Jonggi." ucap Galang.
" Oh iya? Jasad Jonggi udah ketemu?" tanyaku.
" Udah, tenang aja. Letaknya tepat di lokasi yang kau suruh untuk di gali." sahut Galang.
" Agnes dan Albert?" tanyaku.
" Agnes sudah di tangkap, sementara Albert tewas di tembak polisi." sahut Putri.
Aku merasa lega mendengar jawaban Galang dan Putri.
Janjiku pada Jonggi akhirnya bisa ku tepati.
Jonggi, entah mengapa aku merindukannya.
Aku ingin memberitahukannya bahwa aku sudah berhasil.
Mungkin aku harus pulang.
Toh luka ku juga ga parah kok.
" Kita balik yok." ucapku.
" Kau sudah gila? Bagaimana dengan wajah mu?" tanya Putri.
" Udah, ini gapapa kok. Lagian kan sudah diobati." sahutku.
__ADS_1
" Kau yakin?" tanya Galang.
" Yakin. Kalian tidak perlu khawatir." ucapku dengan memperlihatkan senyumanku.
" Baiklah. Aku akan mengatarmu pulang. Putri juga ikut kan?" ucap Puja.
Putri langsung mengangguk mengiyakan.
" Lah aku sama siapa?" tanya Tara.
" Galang!" sahut Puja dan Putri serentak.
Sepertinya mereka sengaja membuat Galang dan Tara pulang bersama.
" Kenapa? Ga mau pulang bareng aku?" tanya Galang.
" Mau sih." ucapnya seraya berbisik.
Akhirnya kami pun beranjak dari rumah sakit dan bergegas menuju rumah masing-masing.
Sampai di kost, aku langsung masuk ke kamar.
Aku tidak berhenti memanggil Jonggi di dalam hatiku.
Sekian lama aku memanggilnya, namun ia tak kunjung datang.
Ia tidak datang juga, aku mulai frustasi.
"Apa ia tidak mendengar ku? Atau ia sudah tidak mau lagi menemuiku?" pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalaku.
Tanpa kusadari air mata ku menetes.
Kini aku mulai berteriak memanggil namanya, berharap ia akan datang.
Akhirnya usahaku tidak sia-sia. Dia datang, namun wajahnya terlihat murung.
" Kamu kemana aja? Kamu ga dengar dari tadi aku memanggilmu?" tanyaku.
" Maaf Yun. Tapi,,," ucapnya ragu.
" Tapi apa?" ucapku dengan nada sedikit tinggi.
" Eh kamu nangis ya? Idihhh, kangen ya? Hahaha" sahutnya.
" Apaan sih. Siapa yang nangis. Aku cuman kelilipan aja." sahutku sembari mengahapus air mataku.
__ADS_1
" Wajah mu kenapa?" tanyanya.
" Ini ulah teman mu yang psikopat itu." ucapku.
" Albert?" tanyanya.
" Iya Albert. Agnes juga ikut. Tapi sekarang Albert sudah tewas, dan Agnes ditahan di kantor polisi." ucapku.
" Maaf ya, gara-gara aku, kau jadi ikut korban." ucapnya.
" Udah gapapa kok." sahutku.
" Makasih banyak." ucapnya sambil tersenyum.
" Iya sama-sama. Oh ya, tadi kamu kok kelihatan murung?" tanyaku.
" Begini, setelah jasadku ditemukan, aku sudah harus pergi. Kau tau kan alam kita sudah beda. Sebenarnya tadi aku sudah tidak di dunia lagi. Tapi karena kau terus memanggil, aku memohon kepada Tuhan untuk mengizinkanku memnemui mu. Sekalian untuk pamit." jelasnya dengan nada sedih.
" Maksudmu, kita ga bisa ketemu lagi?" tanyaku.
Jonggi mengangguk sambil tersenyum, namun air matanya menetes perlahan.
" Aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya. Ku harap, nanti kita bisa bersama. Sekarang, aku harus benar-benar pergi. Selamat tinggal Yunita." ucapnya sambil perlahan menghilang.
Bibirku tidak sanggup untuk bergerak, air mataku terus mengalir. Senyumnya terus terpapar jelas di ingatanku.
Namun aku harus merelakannya. Aku tidak boleh cengeng. Jonggi bukan lagi manusia sepertiku.
Tempatnya sudah tidak di dunia lagi.
Saat ini, mungkin dia sudah senang menikmati indahnya surga.
Kringgg....Kringgg...
Bunyi telepon membangunkan ku, kesedihan mungkin membuatku tertidur semalam.
Ku gapai handphone yang terletak di dekat ku.
" Halo, kenapa Put?" tanyaku.
" Yun, Galang ngajak buat refreshing ke pantai. Katanya, sebagai ucapan terimakasih." sahut Putri.
" Aku lagi malas." ucapku.
" Bukan sekarang loh. Lusa kita berangkat. Tara dan Puja juga setuju. Sekalian, kita mau buat Galang dan Tara balik seperti dulu lagi. Kamu harus ikut." ucapnya memelas.
__ADS_1
" Yaudah deh. Aku ikut." ucapku.
Bersambung.