Ruang misteri

Ruang misteri
Aku Teman Mu


__ADS_3

**W A R N I N G** !


Sebelum masuk ke cerita, Ts mau ngingetin kalo mulai dari season ini, banyak hal yang berkaitan dengan Agama, Suku dan kepercayaan.


Mohon jangan ada pihak yang merasa di rugikan.


Ts tidak bermaksud untuk meninggikan atau merendahkan pihak tertentu.


Ingat! Ini hanya cerita Fiktif saja.


Oke, mari kita lanjut ke cerita.


~ ~ ~ ~P R O L O G ~ ~ ~ ~


Waktu terus berjalan, banyak hal yang sudah di lalui Yunita dan teman-temannya.


Yunita yang berpikir bahwa masalah yang di hadapinya hanya sebatas masalah di dunia pendidikan, ternyata ia salah.


Kejadian-kejadian yang datang kepadanya membuat ia sedikit kesulitan untuk pendidikannya.


Belum lagi harus mencari tahu tentang Jonggi, juga harus diteror dengan rasa takut akan "bahaya" yang hanya menunggu waktu untuk menghampirinya.


Yunita dan ketiga sahabatnya sepakat untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi kepada Jonggi.


Apa keterlibatan Agnes, Albert dan Galang dalam kematian Jonggi?


Tidak mudah untuk menguak kebenaran.


Mulai dari rasa curiga hingga petunjuk mereka kumpulkan sampai akhirnya kebenaran atas Jonggi terungkap.


Untuk merayakan keberhasilan, mereka memutuskan untuk pergi berlibur.


Ditengah rasa bahagia saat berlibur, Yunita dikejutkan dengan kabar Duka dari orang yang ia cintai.


Yunita harus rela kehilangan orang yang sangat ia cintai.


Sosok yang selama ini merangkulnya, sosok yang selalu ingin ia buat bangga.


Tidak hanya sampai di situ, ternyata kehilangan orang yang dia cintai hanyalah permulaan saja.


Yunita sadar, bahwa bahaya yang menunggu sudah datang.


Dan bahaya itu ternyata datang dari orang yang tidak di duga.


Kenyataan pahit harus Yuni telan bulat-bulat.


Kenyataan yang ia terima secara spontanitas.


Kenyataan yang membuat ia mengerti awal mula ini semua.


Kenyataan yang tidak ia mengerti bagaimana untuk mengakhirinya.


Setelah Yunita selesai menolong Putri, Tara dan Jonggi.


Tiba lah giliran yunita yang harus meminta pertolongan.


iya dihujani masalah pribadi yang sangat membebaninya.


siapakah bahaya itu?


apa kebenaran nya akan terungkap?akankah yuni mampu untuk menghadapi bahaya yang akan datang secara tiba tiba? siapa sebenarnya dapang dari semua peristiwa ini?



Sabar menunggu:\)



Seminggu telah berlalu sejak kami sepakat untuk menyelidiki kematian Jonggi, namun aku tidak tahu harus memulai dari mana. Sebenarnya aku terbebani dengan hal ini, karena tujuanku kesini adalah untuk fokus menuntut ilmu. Hari demi hari kami lewati seperti biasa,tidak ada masalah aneh yang menyapa. Jonggi juga sering datang ke kost jika aku sedang sendirian.


Itu membuat kami perlahan lahan semakin dekat.


Malam ini seperti biasa aku menunggu kehadiran Jonggi di kamarku.


Jika, dipikir\-pikir memang sedikit aneh, sengaja menunggu hantu untuk menghampiriku.


Tak lama, yang ditunggu\-tunggu akhirnya datang juga.


" Lagi nungguin ya?" tanyanya. " Apaansih, jadi orang jangan ke GRan deh." sahutku. " Aku kan bukan orang." ujarnya sembari tertawa.


Mendengar perkataannya, spontan aku tersenyum.


" Oh iya, menurutmu dari mana semua ini harus dimulai?" tanyaku. " Mulai apa?" sahutnya sembari duduk di sampingku. " Ini loh, mencari kebenaran tentang mu." ucapku. " Coba saja tanyakan kepada Agnes, Galang dan Albert. Mereka kan orang terakhir yang ada di ingatanku. Manatau mereka bisa membantumu." ujarnya. " Haduh,, kok aku bisa ga kepikiran ke situ ya. Mereka fakultas pertanian kan?" tanyaku. " Yup. Sekarang sudah semester 5." sahutnya.


" Ok baiklah, besok aku akan menemui mereka." ucapku. Aku dan Jonggi melanjutkan cerita, sesekali ia membuat sedikit lelucon. Tidak tahu kenapa, sepertinya aku sangat merasa nyaman berada di dekatnya.


Sampai aku tertidur, ia tetap menemaniku.



~ ~ ~ SKIP ~ ~ ~


__ADS_1


Pagi telah menyapa, matahari tampak menyembunyikan sinarnya di balik barisan awan yang tertata rapi di langit.


Kulirik jam tanganku, ternyata sudah menunjukkan pukul 07.15wib.


Aku segera bergegas, dimulai dari sarapan pagi hingga membersihkan tubuh di kamar mandi. Akhirnya aku siap pergi ke kampus, di perjalanan aku menghubungi sahabat\-sahabatku.


Sekedar menanyakan bahawa mereka sudah di kampus.


Setelah bertarung melewati kemacetan, akhirnya aku sampai di kampus. Segera ku temui para sahabatku untuk menceritakan rencana untuk memulai penyelidikan.


" Girls, sepertinya aku tahu bagaimana untuk memulai semua ini." ucapku. " Apaansih? Datang\-datang udah bawa bahan gosip." sahut Tara. " Bukan gosip. Ingat tentang Jonggi? Yang pernah aku ceritain dulu." sahutku. " Oh iya, kenapa?" tanya Puja.


" Sepertinya kita harus bertanya kepada mahasiswa pertanian. Di sana ada dua sahabat dan juga mantan pacar Jonggi. Mungkin mereka tahu sesuatu." jelasku.


" Lalu, apa yang bisa kami bantu? Jika kita pergi berempat, akan ada mereka akan curiga." sahut Putri .


" Siapa nama sahabat dan juga mantan pacarnya itu?" tanya Puja.


" Agnes, Gilang dan Albert." sahutku.


" Galang? Fakultas pertanian yang sekarang semester 5?" tanya Tara dengan nada terkejut.


" Benar. Apa kau mengenalnya?" ujarku.


" Ya, aku kenal ******** itu. Dia yang memberiku seribu janji. Namun pergi tanpa satupun alasan." sahutnya dengan nada kesal.


" Apakah kau mau membantuku? Tolong tanyakan dia tentang Jonggi." seruku.


" Sebenarnya aku jijik untuk menemuinya, tapi berhubung karena kau yang meminta maka akan kulakukan." sahut Tara.


" Tara, apakah kau yakin dengan ini?" tanya Putri.


" Yakin, lagian kebenaran harus terungkap." sahutnya dengan percaya diri. Kamipun sepakat, Tara yang akan pergi menemui Galang.


Tara berkata ia akan menemuinya saat jam kuliah sudah berakhir.



~ ~ ~ POV ~ ~ ~


~ ~ ~ TARA ~ ~ ~



Seperti yang kami sepakati, aku harus menemui Galang.


Oranga yang dulu pernah memberiku arti kehidupan, yang memberiku keindahan.


Walau harus berakhir dengan ketidakpastian, walau harus hancur terkikis angin.


"Aku benci padanya." itulah ucapan yang keluar dari mulutku sendiri.


Tapi hatiku berkata lain, jauh di dalam lubuk hati ini aku masih sangat mencintainya.


Setelah kelas bubar, aku langsung pergi ke fakultas pertanian.


Setelah agak lama mencari, akhirnya aku menemukannya.


" Galang... hmmm.. Kamu lagi sibuk?" tanyaku.


" Eh Tara, tumben tumbenan. Aku agak sibuk sih. Tapi nanti juga kelar kok." sahutnya.


" Aku mau ngomong sesuatu yang sangat penting, tapi jangan di sini ya. Bagaimana kalau aku tunggu di tempat biasa kita nongkrong?" ujarku.


" Baiklah. Tapi kamu harus janji untuk tidak membahas tentang hubungan kita dulu." sahutnya.


Aku mengangguk dan segera pergi meninggalkan nya. Taman kampus, itulah tempatku menunggu. Tempat yang dulunya sering kami kunjungi hanya untuk memadu kasih. Setengah jam berlalu, akhirnya Galang datang menemuiku.


" Ngomong apa, kalo bisa to the point aja ya." ucapnya.


" Kamu kenal Jonggi?" tanyaku.


" Ya, Jonggi. Aku mengenalnya. Kami bersahabat, namun sampai saat ini aku tidak pernah melihatnya lagi." sahutnya.


" Kapan terakhir kau bertemu dengannya?" tanyaku. " Hmmm, sudah agak lama sih. Terakhir kami bertengkar di lahan kebun kampus." sahutnya.


" Jika aku bilang Jonggi sudah tewas, apakah kau percaya?" tanyaku.


" Pertama, darimana kau kenal dengan Jonggi? Kedua, darimana kau tahu bahwa dia tewas? Dan ketiga, kenapa kau menanyakan ini padaku? Apakah kau mencurigai ku?" tanyanya. " Aku tak bisa menjawab pertanyaan mu saat ini." ujarku.


" Kalau begitu kau hanya membuang\-buang waktuku saja. Tanya saja pada Agnes dan Albert, mungkin mereka bisa membantu mu. Satu lagi, jangan ucapkan hal yang belum tentu kau tahu pasti." sahutnya sambil memberi sebuah foto dan berjalan menjauhi ku.


Ku lihat foto yang ia berikan, ada dua orang yang sedang bergandengan dan tampak tersenyum.


Mungkin ini adalah Agnes dan Albert.


Yuni pasti akan merasa kecewa, jika aku pulang dengan tangan kosong.


Aku harus bisa membantunya. Agnes dan Albert, mungkin tanggapan mereka akan berbeda.



Segera kucari mereka di sekitar kampus. Hanya bermodalkan sebuah foto, aku menanyai setiap orang yang ada di kampus. Hingga akhirnya aku melihat Agnes, sedang termenung di kantin kampus.

__ADS_1


" Hi, kak Agnes kan?" tanyaku .


" Benar. Anda siapa?" sahutnya.


" Saya Tara, temannya Jonggi." ucapku.


Aku bisa melihat raut wajahnya berubah saat aku mengatakan nama Jonggi.


" Eh duduk dulu. Ada apa menemuiku?" tanyanya.


" Begini kak, saya mau bertanya. Apakah kakak yakin jika saya katakan Jonggi sudah tewas?" tanyaku. Ia menghentikan aktivitasnya, dan langsung menatap tajam ke arah ku.


" Jangan sembarangan bicara. Jonggi memang hilang, tapi belum tentu ia meninggal. Selama jasadnya belum ditemukan, maka jangan pernah berkata seperti itu." sahutnya dengan setengah membentak.


" Begini, aku mengerti perasaan kakak. Tapi aku memiliki teman, ia seorang indigo. Ia bercerita, bahwa Jonggi sering menemuinya. Hanya dia yang bisa melihat dan berbicara dengan Jonggi." ujarku.


" Aku tidak percaya. Ini hanya karanganmu saja. Siapa nama teman mu itu?" tanyanya.


" Yunita, ia juga mahasiswi kampus ini kok. Kakak mau ketemu dengan dia?" sahutku.


" Boleh saja. Suruh dia datang hari Minggu ke rumahku. Soalnya, jadwalku padat sampai Sabtu. Ini alamatnya." sahutnya sambil memberiku secarik kertas.


" Baik kak. aku kan segera memberitahunya. Aku pamit ya kak." ucapku sambil berlalu pergi.



Besoknya, segera kuceritakan apa yang sudah ku lewati kemarin.


Aku juga memberikan Yunita kertas yang berisikan alamat itu.


Saat sedang berbincang\-bincang dengan Yuni, tiba\-tiba Galang datang dan menghampiri kami. " Tara, ucapan mu semala. Apa kau yakin?" tanya Galang.


" Sebaiknya teman ku ini saja yang menjelaskannya kepadamu." ucapku sambil menunjuk Yuni.


" Perkenalkan aku Yunita. Tuhan menciptakan ku dengan sedikit kelebihan. Berkomunikasi dan melihat mahluk tak kasat mata, itulah kelebihan ku. Aku sering bertemu dengan sahabat mu Jonggi. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa mengingat kejadian apa yang menimpanya." jelas Yuni.


" Bagaimana caramu untuk membuatku percaya ini?" tanya Galang.


"Kau, Jonggi, Albert dan Agnes adalah sahabat. Jonggi juga berpacaran dengan Agnes. Sebelum Jonggi meninggal, dia juga sempat bertengkar dengan mu. Sampai Agnes dan Albert harus memisahkan kalian, hingga akhirnya kau pergi meninggalkan mereka di lahan pertanian. Semua yang kukatakan benar bukan?" ucap Yuni dengan nada percaya diri.


" Bagaimana bisa... Aku bahkan tidak sempat meminta maaf kepadanya. Sahabat macam apa aku ini." ucap Galang sambil meneteskan air mata.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Kau bisa membantu kami mencari tahu kebenarannya, itu bisa saja menjadi permohonan maaf terbaik untuk Jonggi." ucapku.


" Agnes juga bersedia membantu, ia mengundangku kerumahnya hari Minggu ini."sambung Yuni.


" Apa yang bisa ku bantu?" tanya Galang.


" Begini saja, tolong bawa kami ke lahan pertanian. Bisa saja kita menemukan bukti di sana." ucap Yuni.


Galang mengangguk, lalu kami sepakat untuk pergi ke lahan pertanian untuk mencari petunjuk. Aku mengirimkan pesan singkat kepada Puja dan Putri, agar mereka tahu bahwa kami pergi ke lahan pertanian bersama Galang.


Jaga\-jaga jika saja terjadi hal\-hal yang tidak diinginkan.



Sampai di lahan tersebut, kami keliling kesana kemari. Berharap menemukan petunjuk. Kulihat, Yuni sedang memperhatikan suatu benda.


" Galang, cangkul ini kok ada tulisan JONGGI di pegangan nya?" tanya Yuni.


" Itu cangkul milik Jonggi, ia akan marah jika ada orang lain yang memakai cangkul itu." jelas Galang.


Lalu Yuni memegang ujung cangkul itu, setelah cangkul itu ia pegang.


Tiba\-tiba tubuhnya bergetar layaknya sesorang yang sedang tersengat arus listrik.


Aku dan Galang bingung harus berbuat apa. Sementara Yuni masih terus bergetar, hingga akhirnya cairan merah keluar dari hidungnya.


" Galang, lakukan sesuatu!" seruku.


Mendengar ucapan ku, Galang langsung menarik cangkul itu dari tangan Yuni.


Ia melemparkan cangkul itu .


Akhirnya Yuni berhenti bergetar, hidungnya juga berhenti mengeluarkan darah.


Tapi ia tidak sadarkan diri.


" Kenapa dengan Yuni?" teriak Putri yang baru saja tiba bersama Puja.


" Aku nggg.. ga tau. Tiba\-tiba saja ia seperti orang yang kesurupan." jelasku.


" Kita harus membawanya ke rumah sakit." ucap Galang sambil menggendong tubuh Yuni..



Tiba di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Yuni hanya kelelahan saja. Besok juga sudah bisa pulang. Saat Yuni membuka mata, aku, Galang, Putri dan Puja serentak bertanya apa yang terjadi.


" Kejam. . . Dunia ini di penuhi orang\-orang yang sangat kejam. Kasihan Jonggi harus menanggung semua ini." ucap Yuni sambil terus menangis.



BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2