
Yun... Yuni... Ah syukurlah kau sudah sadar nak" kudengar suara ibu dan kulihat ia langsung memelukku.
"Bu kok bisa aku sampai rumah?" Tanyaku.
"Bu dinda dan dua orang temanmu membawamu pulang ke rumah. Mereka bilang kau dan seorang temanmu pingsan di sekolah." Jawab ibu.
Aku langsung teringat kepada Ana. Tuhan, apakah dia baik-baik saja? Apa yang terjadi pada kami?
"Kau tidak apa-apa kan?"suara ibu menghentikan lamunan ku.
"Tidak apa-apa kok bu. Aku hanya merasa sedikit pusing." Jawab ku.
Kulihat di rumah hanya ada aku dan ibu. Setelah ku lirik jam masih pukul 11.00 wib.
"Pantes aja. Adik masih sekolah, sementara ayah pasti masih bekerja."pikirku.
"Bu,sejak kapan ibu mengenal ayah?" Tanyaku.
"Sejak SMA,kenapa tumben bertanya seperti itu?" Jawab ibu sembari bertanya kepadaku.
"Apakah ayah spesial bu?" Tanyaku.
"Ya tentu saja apa. Terlebih di mata ibu, ayahmu itu sangat spesial" jawab ibu.
"Bukan, bukan itu maksud ku. Apakah ayahmu memiliki kelebihan yang hanya dimiliki sebagian orang?" Ucap ku dengan nada kesal.
"tentu saja, selain tampan, ayahmu pintar dan dia juga pandai menggombal. Jika ayahmu menggombal ibu, ibu bisa mabuk kepayang atau istilah sekarang bisa Baper."jawab ibu sambil tertawa.
"Ibu, aku serius." Ucap ku memohon.
"Baiklah, ibu akan bercerita dengarkan baik-baik. Sewaktu SMA dulu ayahmu tidak memiliki teman. Banyak orang yang menganggapnya aneh,karena kemampuannya melihat dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Ibu juga sempat menganggap ayahmu aneh, sampai suatu waktu ayahmu menyelamatkan ibu dari teror yang sangat mengerikan." Jawab ibu.
"Teror apa ibu?"tanyaku serius.
"Teror yang tak pernah ibu bayangkan.makhluk tak kasat mata selalu mengganggu ibu dan mengikuti ibu kemanapun ibu pergi. Hal itulah yang membuat ibu jatuh cinta kepada ayahmu, karena ayahmu rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan ibu." Jawab ibu.
"Apakah kemampuan itu bisa menurun?"tanyaku.
"Mungkin, apalagi kepada darah dagingnya sendiri" jawab ibu.
setelah itu aku jadi banyak melamun memikirkan hal-hal yang sulit diterima nalar aku.
"Kau tidak ikut?"tanya ibu.
"Kemana bu?"ucapku.
"Menjemput adik-adik mu, nanti mereka kelamaan menunggu di sekolah"jawab ibu sembari bergegas menuju mobil.
"Tidak bu, aku di sini saja. Aku pengen istirahat."jawab ku.
__ADS_1
Ibu pun beranjak, tinggallah aku sendirian di rumah. Aku sangat letih, seperti baru berolahraga seharian saja. Tanpa sadar aku langsung terlelap di atas sofa tempat ku bercerita dengan ibu.
"Kak bangun, tumben kakak cepat pulang?" Suara adikku keysa membangunkan ku.
"Kalian sudah sampai. Kakak kurang sehat."jawab ku.
"Kak ayo makan siang, mama sudah menunggu di dapur." Ucap adikku rini, sambil menarik tanganku menuntunku kerah dapur.
Di dapur kulihat mama sudah duduk, di depannya sudah tertata rapi makanan dan beberapa jus. Sambil sesekali bercanda kami menikmati makanan yang ada. Adikku keysa bercerita tentang temen-temennya di sekolah, sementara adikku rini bercerita tentang tugasnya yang menumpuk di sekolah.
Aku merindukan suasana ini. Suasana tenang, lega tanpa ada rasa takut di hatiku.
Tak terasa hari sudah malam. Kulihat ayahku baru pulang. Kami langsung menghampirinya dan menyambut kedatangannya.
"Ayah aku mau bertanya serius?"ucap ku.
"Apa itu?"jawab ayah, sambil kami berjalan ke sofa.
"Bagaimana ayah mengatasi rasa takut saat pertama kali melihat mereka?" Ucapku.
"Mereka siapa?"ayah balik bertanya.
"aku tahu ayah memiliki kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata. Itulah yang kumaksud mereka"jawab ku.
"Kau percaya Tuhan?"ayah bertanya.
"Ya jelas,mana mungkin aku tidak percaya" jawab ku.
Aku terus memikirkan perkataan ayah tadi. Bahkan untuk mengerjakan pr ku pun, aku sudah tidak fokus. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. tiba-tiba sesuatu seperti menyuruhku untuk melihat keluar jendela.
Astaga, mahluk yang kemarin kulihat. Dia masih di sana, berdiri mematung melihat ke arah ku. Aku tahu dia ingin ucapkan sesuatu, aku mencoba membaca gerakan bibirnya. Sebentar, sepertinya aku tahu apa yang diucapkan nya. "Aku tidak bisa masuk ke rumahmu. Bahkan suaraku pun tidak bisa kau dengar. Itu karena ayahmu yang mengusir ku kemarin."
Ya,, dia mengucapkan ituu. Berarti dia itu Andini?? Apakah mungkin? Mengapa dia mengikuti ku terus.
"BaaaarrrrrrRrrrrrr...."
Sesuatu seperti menabrak jendela ku. Suaranya membuat ku terkejut. Saat aku mencoba melihat apa yang menabrak nya,
Astagahhh.. seraya aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku. Aku tidak bisa bergerak. Aku merasa darahku berhenti mengalir. Aku terlalu takut. Makhluk apa itu???
Dia senyum memperjelas di gigi² yang tajam, tinggi besar, hitam namun matanya merah. dia menarik andini.ya aku melihatnya, dia membawa andini terbang jauh.
Aku bisa melihat raut wajah andini yang memperlihatkan kesedihan, putus asa tepatnya.
Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.sampai di sekolah aku disambut oleh temenku sarah dan reni. Namun aku tidak melihat ana di sana.
"Yun, udah baikan?" Tanya sarah.
"Sudah. Makasih ya udah antar aku kerumah." Ucapku.
__ADS_1
"Taudarimana kami ikut ngantar? Tanya Reni.
" Siapa lagi orang yg rela nganterin aku kerumah, kalo bukan teman yg dua ini." Jawab ku.
Mereka tersenyum dan berkata "iya sama²".
"Yaudah, aku ke kelas dulu ya." Ucap ku dan pergi meninggalkan mereka.
Kulihat ana sudah ada di dalam kelas. Namun wajahnya tampak pucat, iya seperti orang lain. Bukan ana yang selama ini kukenal.
"Woyy, jangan melamun. Ntar kesambet." Ucap ku untuk mengagetkan ana.
Namun dia hanya diam dan melempar senyum tipis ke arah ku.
Aku heran ana tampak berbeda, dia menjadi pendiam. Bahkan menjawab pertanyaanku pun dia tak mau.
"Kalian harus menolong ku" Ana kulihat dia berbicara, namun dia meneteskan air mata.
"Apa maksud mu? Ana kau kenapa??" Tanya ku.
"Aku bukan ana. Aku meminjam raganya sebentar." Jawab nya.
"Kau... Kau.. an.. andini?"tanyaku ragu.
Dia tersenyum pertanda dugaan ku benar.
"Tolong bagaimana. Bagaimana cara kami menolongmu?" Lanjut ku.
"Dia jahat, yg kau lihat semalam sangat jahat. Dia tidak mengikat ku di gedung ini. Kadang aku bisa keluar, namun hanya beberapa menit saja. Dia pasti akan mengurungku lagi.." jawab nya.
"Dia siapa? Apa maksud? aku bingung." Ucap ku.
Namun sayang tidak ada jawaban. Tiba² ana terkulai lemah, untung aku dengan cepat menangkapnya sehingga dia tidak jatuh ke lantai..
"Ana, kau tidak apa²?" Tanyaku.
Dia hanya senyum, senyum menggambarkan kebencian. Terlihat di balik senyumnya ada dendam yang tersimpan.
Tiba² ana mencekik ku
"Tii..tii.tidaak.. innii akuu. Anaaa sadar lahh" ucapku.
Melihat kejadian itu, semua teman sekelas ku membantu ikut membantu. Perlahan² cekikan ana mulai melemah dan akhirnya lepas..
Teman² ku menahan ana,, dia terlihat sangat kuat..
"Kau.... Kau akan mati.. Hahahahahaha" ucap nya sembari menunjukku.
Tuhan,, apa ini.. aku sangat takutt.. Seseorang bantu aku.... Aku tak tahu apa yg sedang menimpa ku...
__ADS_1
"Mati lah... Hahahahahaha." Dia terus tertawa. Tertawa, tawa pertanda ancaman bagi ku...
BERSAMBUNG.