Ruang misteri

Ruang misteri
AKU TEMAN MU


__ADS_3

Pak anton yang masih berada di ambang pintu tiba-tiba teriak tak karuan. Tubuhnya bergetar seperti seseorang yang sedang tersengat arus listrik.


" ****... Kalian sudah tau terlalu banyak." ucap pak Anton dengan nada yg menakutkan.


" Tugasku sudah selesai. Ini menguras energi ku. Aku butuh istirahat." ucap pak Juntak sambil mengambil posisi duduk di lantai.


" Ternyata kau lah biadab nya." ujar ayahku dengan menatap pak Anton dengan raut kebencian.


" Cepat tahan dia!" Suruh ayah sambil menunjuk ke arah Anton.


Pak Tarno dan om Ana langsung bergerak cepat.


Namun belum sempat mereka mendekati pak Anton, mereka berdua langsung terlempar jauh.


Layaknya seseorang yang baru saja terkena pukulan keras.


" Hahahaha.... Percuma saja. Kalian tidak akan bisa melawan ku." ucap pak Anton sembari tertawa.


Raut wajah nya tampak berbeda, seakan berubah ubah setiap detiknya.


" Kau,,, saksikanlah... Perhatikan bagaimana caraku membunuh anak mu." ucapnya kepada ayah ku.


Seketika itu dia sudah berada tepat di depan ku. Ia mencekik leher ku. Sakitt. Aku tidak bisa bernafas.


" Hahahaha. . . Nikmatilah penderitaan yg ku berikan. Rasa sakit yg membunuh mu perlahan. Merasa tidak berdaya bukan?" ucap nya.


Ekspresi wajah nya terlihat sangat menikmati ini.


Saat dia masih mencekik ku, aku melihat kalung yg ia pakai.


Mainan kalung itu sangat aneh. Bentuknya seperti tengkorak kepala manusia, namun ukurannya sangat kecil. Paling hanya sebesar kelereng.


Media, aku teringat sesuatu. Aku mengerti, mungkin itulah media nya.


Aku berusaha mengumpulkan sisa tenaga ku.


Dengan gerakan cepat namun pasti, aku menarik kalung itu dari lehernya dan melemparkan nya ke arah ayah.


Seakan mengerti maksudku, ayah langsung mengambil kalung itu.


" Itu dia. Kau harus membakar nya. Cepat." teriak pak Juntak yg masih terduduk di lantai.

__ADS_1


Aku mulai lemas. Tubuhku terasa tak berdaya.


Perlahan semua tampak memudar. Hingga akhirnya semua benar benar gelap gulita.


PROV


Ayah YUNI


Mendengar ucapan Juntak, aku langsung mengambil perlengkapan.


Akhirnya, aku mendapatkan korek dan minyak suci yang memang sudah ku persiapkan sebelumnya.


Segera ku siram kalung itu dengan minyak. Aku harus cepat, sebelum anton mengejar ku.


Kulihat dia sudah melepaskan yuni, dan mulai berjalan ke arahku.


" Selanjutnya kau. Hahahahaha." Suara Anton sangat menyeramkan.


Belum sempat dia mendekati ku, aku langsung membakar kalung itu.


Sambil mengucapkan doa dalam bahasa latin.


" Arghhhhhhhh.... Tidakk... Panaasssssss..... Apaaa.. yanggg kaauuuu lakkkuukkkaannn?" Anton berteriak kesakitan.


" Tidakkk... Ampunnn.. sakkiitt sekalliii" Anton terus mengerang kesakitan.


Sejalan dengan kalung yg terbakar membara, Iya terus mengarang kesakitan. Hingga akhirnya tubuh pak anton tersungkur di lantai, dan kalung itu tiba tiba lenyap.


Sepertinya ini sudah berakhir, gumamku.


" Kita berhasil. Ini sudah berakhir." ucapku sambil berlari ke arah Yuni dan langsung mengangkat nya ke pangkuan ku.


" Yun.. bangun nak. Kita berhasil. Kau harus bertahan nak." aku terus menangisi nya.


Kucoba untuk mencek denyut nadi nya. Syukurlah masih hidup, pikirku.


" Aku akan membawa dia ke kantor polisi. Apakah kau bisa mengurus sisanya?" ucap pak Juntak sambil berdiri dan berjalan mendekati pak Anton.


" Baiklah. Aku akan tangani sisa nya." ucapku.


PROV

__ADS_1


YUNITA


" Ah, syukurlah kau sudah siuman." samar² ku dengar suara ayah.


Perlahan aku membuka kedua mataku.


Kulihat ayah, ibu dan kedua adikku duduk disampingku.


Mata mereka berkaca kaca. Ibupun tak kuasa menahan air matanya.


" Syukurlah kau sudah sadar nak. Sekarang kau aman. Semua sudah selesai." ucap ibu sambil memelukku.


" Kita ada dimana?" tanyaku.


" Rumah sakit. Setelah kejadian kemarin, kalian harus dirawat untuk mempercepat pemulihan." jawab ayah.


" Kalian?" tanyaku heran.


" Iya. Kau pak Tarno, om Ana dan Ana juga." jawab ayah.


Sejenak aku teringat dengan mereka. Untunglah semua selamat.


Sekarang aku sangat lega.


Senang rasanya semua ini sudah berakhir.


Tiba-tiba aku melihat andini disudut ruangan ku.


Dia tersenyum, air mata bahagia tampak keluar dari mata nya.


"Terimakasih banyak." itulah ucapan yg bisa ku dengar dari nya sebelum ia menghilang.


" Oh ya pah, pak Anton gmna?" tanyaku.


" Tenang saja, semua sudah di urus. Kau tidak akan bertemu lagi dengannya." jawab ayah sambil tersenyum simpul.


Baguslah kalau semua sudah selesai.


Seperti yang ayah katakan, aku sudah tidak perlu taku lagi.


Lagian aku masih ingin istirahat. Menjauhkan pikiran yg sudah banyak menyita tenaga ku.

__ADS_1


Aku ingin segera pulih, agar bisa beraktivitas seperti biasa lagi.


__ADS_2