
Tak berselang lama akhirnya kita pindah
Kita pindah ke Jakarta. Tepatnya di jalan Bonasi 1.
Kita menempati rumah kontrakan milik orang tuaku.
Sekitar tahun 2000 aku melahirkan anak kedua, aku menamainya Riko.
Tak lama setelah Riko lahir, rumah ini mau dijual dan kita pindah kerumah belakang.
Gang yang berada dibelakang adalah jalan buntu dan hanya ada dua rumah.
Rumah belakang yang akan kita tempati dulunya dikontrakkan, tapi yang mengontrak tidak betah dan mau dipindah ke kontrakan lain.
Kontrakan yang berbeda tapi masih milik orang yang sama. Karena orang tuaku memiliki beberapa rumah yang dia kontrakkan.
Dengar-dengar si.., rumah yang akan kita tempati ada setannya.
Aku sudah terbiasa sama yang begituan, jadi tak begitu peduli apa kata orang.
Setelah rumah dibersihkan, Tanto (Adikku) menempati rumah tersebut.
Rumah tersebut ada dua lantai. Tanto memilih untuk tidur dilantai dua.
Malam itu Tanto tak bisa memejamkan mata. Dia mencoba membuang rasa jenuhnya dengan menyalahkan radio.
Sedang asiknya dia memutar bulatan yang ada diradio untuk mencari glombang siaran.
__ADS_1
Tanto melihat kerah depan. Didepan dia adalah jendela model dulu yang masih memakai kaca nako.
Kaca nako bergetar, seakan ada yang memaksa untuk membuka dari luar.
(kaca nako adalah kaca jendela yang berukuran kecil, tersusun secara horisontal. Dari bawah keatas biasanya berisikan 10 kaca nako atau lebih).
Anehnya Tanto tak takut melihat kejadian itu.
"Mau apa dikamar atas?" teriak Tanto dan menuju pintu yang mengarah ke balkon.
Pintu dibuka dan Tanto pun kaget karena dia melihat sosok perempuan berambut panjang.
Tanto bertanya sama perempuan tersebut "Dimana kamu tinggal?" dan perempuan itu menunjuk kearah bawah. Dia menunjuk ke rumah orang Batak. Dirumahnya ada sumur tua yang sudah ditutup.
"Jangan pernah datang kemari." Tanto teriak lagi dan sosok tersebut hanya mengangguk.
Hari pertama kita Pindah tidak ada gangguan sama sekali.
Tak berselang lama badan Lala langsung panas. Tatapan matanya kosong. Lala menatap keatas lemari, "Disitu ada Pocong dan Kuntilanak sedang duduk," terang Lala.
Karna kejadian ini, Lala aku titipkan kerumah neneknya.
Jadi sekarang hanya kita bertiga. Aku, Mas Aji dan Riko.
Kita semua tinggal dilantai bawah, sedangkam lantai atas dibiarkan kosong.
"Beg... Beg... Beg...." terdengar suara bola kecil (bola bekel), seperti ada seseorang yang memainkannya dan disulul suara lonceng "kleneng... Kleneng... Kleneng...".
__ADS_1
Hampir setiap malam aku mendengar suara-suara tersebut.
Malam Jumat Kliwon. Aku beranikan diri untuk menginjakkan kaki dilantai atas. Pikirku.., lantai atas sudah tidak ada sosok perempuan (kuntilanak), karna Tanto sudah mengusirnya waktu itu.
Aku naik kelantai atas. Tak lupa aku membawa perlengkapan sholat.
Aku sholat sholat disitu dan saat aku rukuk.., tiba-tiba seperti ada seseorang menarik mukenah yang aku kenakan.
Selesai sholat aku melihat kain sprei melayang dengan sendirinya.
Aku takut dan langsung turun kelantai bawah dan pergi kekamar untuk tidur.
Tepat jam 2 malam aku terbangun. Aku melihat sosok perempuan berambut panjang. Dia telanjang dan kulitnya membercak hitam, bercak hitam tersebut hampir menyelimuti seluruh tubuhnya.
Bibirnya tersenyum keatas membentuk huruf 'V'. Matanya sipit memanjang kesamping. Telinganya panjang dan meruncing keatas. Semantara kakinya.., seperti kaki kuda.
Sosok itu mencoba masuk lewat jendela yang tak ber-Kaca. Entah apa yang aku pikirkan kala itu, karna aku langsung mengambil lampu minyak dan mengusir sosok tersebut. Sosok itu langsung kabur dan aku terbangun.
Padahal aku pikir waktu itu aku sudah terbangun dari tidur. Sedangkan mimpi yang aku lihat seperti bukan mimpi.
Aku tak tahu, sebenarnya ini mimpi atau kenyataaan.
"Malam itu seperti malam pembuka untuk sosok astral yang akan menggaguku, karena bukan makhluk itu saja, tapi makhluk yang lain mencoba menampakkan wujudnya.
.
#Bersambung..
__ADS_1