
Seketika itu aku teringat dengan ayah. Mungkin ayah bisa membantu ku, aku harus menghubungi nya .
Ku ambil handphone ku, dan langsung menghubungi ayah.
Tak lama, ayah langsung mengangkat telepon.
" Halo pa, bagaimana keadaan di sana," ucapku basa-basi.
" Baik. Kamu gimana? Sekolah lancar kan," sahut ayah.
" Lancar pa. Tapi Yuni ada sedikit masalah. Mungkin ayah bisa membantu," ujar ku.
" Masalah apa," tanya ayah.
" Teman ku sakit pa. Tapi penyakit nya sangat aneh, padahal semalam dia baik-baik saja. Penyakit nya hampir sama dengan kejadian sewaktu aku SMA dulu," jelas ku.
" Hmm, papa kurang yakin. Coba taburkan garam kearah nya. Itu bisa sedikit memastikan," suruh ayah.
" Baik pa, tapi jangan putuskan telepon nya dulu," ucap ku.
Aku langsung mencari sebungkus garam.
Setelah dapat, ku taburkan segenggam ke arah Tara.
" Argggghhh, aku menyuruh mu melepaskan ku bukan mengusir ku. Dasa gadis sialan," ucap Tara.
" Sepertinya teman mu di guna-guna. Tapi papa tidak tahu guna-guna jenis apa yang ada padanya. Apakah dia pernah bermasalah dengan seseorang," tanya ayah.
" Seingat ku tidak pernah. Tara anak yang baik. Banyak orang yang suka padanya," sahut ku.
" Yun, Raka. Kau ingat," ujar Puja.
" Oh iya pa, semalam teman ku bertengkar dengan seorang pria yang juga menyukai nya," ucapku kepada ayah.
" Sudah ku duga. Coba temui pria itu. Jelaskan baik-baik padanya. Ingat, kau harus berhati-hati," sahut ayah sembari menutup telepon.
" Puja, tolong jaga Tara. Aku harus pergi mencari Raka. Kamu tunggu di sini," ucap ku.
" Baiklah, hati-hati Yun," sahut Puja.
Ku tinggalkan Puja dan Tara, sementara aku langsung bergegas menuju kampus. Aku yakin, Raka ada di sana.
Tiba di kampus, aku langsung mencari Raka. Kucari di setiap ruangan yang ada di kampus. Bahkan aku sampai nekat mencari Raka ke dalam toilet pria.
Namun tetap saja tidak ketemu.
"Lebih baik aku ke rumah nya, mungkin dia di sana," gumamku dalam hati.
Belum sempat aku meninggalkan kampus, ku lihat Raka di parkiran kampus. Wajah nya terlihat takut saat melihat ku.
" Baik, jangan ganggu aku lagi. Aku aja melakukan apa yang kau minta. Tinggal kan aku sekarang juga," bentak nya sambil berlali kearah ku.
" Yun, tolong aku. Aku di teror. Suara ini mengganggu ku. Dia terus berteriak di telinga ku. Ia menyuruh ku untuk menemui mu, dan mengakui apa yang sudah ku perbuat," ujar Raka sambil menutup telinganya.
" Tolong apa? Perbuatan apa yang harus kau akui," tanya ku.
" Berjanji untuk tidak marah," ucap nya.
Aku mengangguk.
" Begini, semalam aku pergi ke tempat orang pintar. Aku ingin meminta jimat agar Tara bisa menyukai ku. Tapi bukan jimat yang ia berikan, melainkan boneka. Katanya, Tara tidak cocok untuk ku. Dia juga bilang kalau aku bisa membalas perbuatan Tara melalui boneka itu. Aku mengiyakannya, sampai di rumah, aku langsung mengucapkan mantra yang ia ajarkan. Dan Semenjak itu lah suara itu datang meneror ku," jelas Raka.
" Kau sangat kejam. Tidak ku sangka kau tega melakukan itu. Tara tersiksa akibat ulah mu. Apa kau membawa boneka itu," tanya ku.
" Ya, aku membawa nya. Aku menyesal Yun. Tolong bantu aku," ucap nya memohon.
" Baiklah, ayo kita ke tempat Tara sekarang juga," sahut ku.
Kamipun pergi ke tempat Tara. Sepanjangan perjalanan aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, siapa pemilik suara itu? Mengapa ia mengenal ku? Kenapa dia peduli dengan Tara? Apakah dia pernah dekat dengan kami? Atau jangan-jangan dulu dia adalah pacar Tara?
__ADS_1
Ah, nanti saja di pikirkan. Yang penting Tara harus selamat.
Akhirnya kami sampai di tempat Tara, ku lihat di sana Puja ditemani seseorang.
Dia Itu adalah ibu kost Tara.
Segera kembali ku hubungi ayah, dan menceritakan semuanya.
Aku juga bertanya bagaimana cara menghentikan guna-guna ini.
" Kau harus membakar media itu dengan minyak, berdoa lah seperti yang sudah ayah ajarkan saat membakar boneka itu. Tapi sebelum itu, kau harus mengeluarkan mahluk itu dari tubuh teman mu. Paksa ia meminum air garam, jangan lupa untuk terus berdoa sampai semua selesai," ujar ayah.
" Baik ayah," ucapku sambil memutus telepon.
" Raka, cepat ambilkan minyak dan korek. Puja dan ibu, tolong bantu saya, bukakan mulut Tara. Paksa sampai ia membuka nya," ujar ku.
Mereka langsung mengerjakan apa yang ku suruh. Sementara aku mengaduk garam kedalam segelas air.
Setelah mulut Tara terbuka, aku langsung memaksa larutan garam itu masuk ke mulut nya, sampai melewati kerongkongannya.
Sedikit demi sedikit larutan itu ia minum sampai habis.
" Arrgghh... Gadis sialan, kau terlalu mencampuri urusan orang," ucap Tara dengan suara lantang.
" Berdoalah menurut kepercayaan masing-masing, itu bisa membantu ku," ucapku kepada ibu kost dan Puja.
Mereka langsung melakukan nya. Aku juga terus berdoa. Doa yang sudah ayah ajarkan kepada ku.
Doa yang diucapkan dengan bahasa Latin.
" Arggghhh.... Hentikann... Hentikan sekarang juga," ucap Tara.
" Yun, ini minyak dan korek nya," ujar Raka yang baru saja tiba.
" Arrggggg... Sakitt..." ucap Tara.
Aku pikir mahluk itu sudah pergi dari tubuh Tara, ternyata aku salah.
Tiba-tiba saja Tara meronta, tenaganya sangat kuat.
Tali yang mengikat nya pun lepas, tubuhnya kini terbaring di udara. Tubuh nya berputar, dan terus berputar.
" Raka, bantu Puja menurunkan tubuh Tara," ujar ku.
Mereka bertigapun menggapai tubuh Tara, dan menahannya di atas kasur.
Aku memegang kening Tara, dan terus berdoa.
" Arrrggghh.. Panass, ampunn,, hentikann...," ucap Tara.
" Pergilah ke nereka Iblis terkutuk," bentak ku dengan suara lantang.
Akhirnya Tara berhenti meronta, ia memuntahkan cairan kental seperti darah berwarna gelap.
Setelah selesai muntah, ia pingsan.
" Raka, berikan boneka dan juga minyak nya padaku," ujar ku.
Raka pun memberikan nya.
Aku langsung melumuri boneka itu dengan minyak sembari berdoa.
Setelah minyak sudah membasahi boneka itu, aku langsung membakar nya.
Api mulai berkobar, dengan cepat boneka itu membara.
Dan saat api padam, boneka itu menghilang.
Kami tidak melihat sedikit pun sisa boneka itu.
__ADS_1
Ini sudah selesai, pikirku.
" Bu, tolong ambilkan minyak wangi. Mungkin itu bisa membuat Tara sadar," ujar ku kepada ibu kost.
Ibu kost langsung mengambil minyak wangi, dan mengoleskan nya ke hidung Tara.
Tak lama kemudian Tara sadar. Wajah nya sudah seperti Tara yang ku kenal.
" Ada apa? Kenapa kalian semua ada di sini," tanya Tara.
" Kamu terjatuh di tangga. Itu membuatmu tidak sadarkan diri," sahut ku.
Raka kemudian meminta maaf kepada Tara.
Ia menangis sejadi jadinya, Tara bingung dengan perlakuan Raka.
" Terimakasih Yun, sekarang suara itu sudah hilang," ucap Raka.
" Kalau tadi Tara kenapa-kenapa, aku tidak segan-segan membunuh mu," sahut Puja dengan nada mengancam.
" Udah, semua sudah terlanjur. Yang penting Raka sudah menyesalinya. Sebaiknya kita pulang saja," sahut ku.
Kami bertiga memutuskan untuk pulang, kami meninggalkan Tara bersama ibu kost di kamar nya.
Puja menawarkan untuk mengantarkan ku pulang, tapi aku menolak nya.
Aku ingin menemui Jonggi, tapi tak tahu harus mencari kemana.
Ku cari ke semua tempat di mana aku pernah menemui nya, mulai dari rumah Putri, toko boneka sampai ke perpustakaan kampus.
Namun semua sia-sia.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kost.
Sampai di kost, aku langsung menuju kamar ku.
Ku cari kunci kamar yang ku simpan di dalam tas ku.
Setelah menemukan nya, aku langsung membuka kamar ku dan masuk ke dalam.
Belum sempat aku melangkah, seseorang datang menyapa ku.
" Sudah pulang? Bagaimana dengan Tara," tanya suara itu.
" Jonggi. Kamu di sini. Aku mencari mu seharian, ternyata kau di sini. Banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu," sahut ku.
" Wess,, sepertinya penting," ucap nya.
" Sudah masuk dulu, kita bicara di dalam saja," sahut ku sambil masuk ke dalam kamar.
" Jonggi, sebenarnya kamu ini siapa," tanya ku.
" Pertanyaan mu aneh, bukan kah kita sudah kenalan? Aku Jonggi, ingat," ujar nya.
" Maksud ku, kau ini apa? Manusia atau bukan," ucap ku sambil mengambil segenggam garam.
" Yun, apa yang kau lakukan? Letakkan garam itu sekarang juga. Ternyata kau sudah mengetahui nya. Baiklah, tidak ada lagi gunanya berpura-pura. Aku akan memberitahu mu, tapi tolong jauhkan garam itu dari ku," sahut nya dengan nada memelas.
Akupun langsung, meletakkan kembali garam itu. Kemudian aku duduk di kasur ku, mempersiapkan diri untuk mendengarkan penjelasan Jonggi.
Tapi sebenarnya sekarang aku sudah yakin, bahwa dia bukan lah manusia.
Tapi entah mengapa, aku tidak merasa takut saat berada di dekat nya.
" Ayo, mulai lah menjelaskan," suruh ku.
" Baiklah, dengarkan baik-baik,........."
BERSAMBUNG.
__ADS_1