Ruang misteri

Ruang misteri
Aku Teman Mu


__ADS_3

Ketika kedua mata ini terbuka, aku melihat Galang, Puja, Putri dan Tara sedang menatap cemas ke arahku.


" Yun, apa yang terjadi?"


Pertanyaan Tara mengingatkanku dengan siluet yang seakan sengaja mempertontonkan adegan pembunuhan sadis.


Ya, aku melihat semuanya.


Sangat jelas, bagaimana seoran Jonggi bisa tewas di tangan manusia kotor yang hina.


" Kejam, dunia ini dipenuhi oleh manusia-manusia yang sangat kejam." ucapku.


" Apa maksud mu? Tolong buat agar kami bisa paham." sahut Tara.


Jonggi, bagaimana perasaannya jika mengetahui hal ini.


Kenyataan memang menyakitkan, tapi aku harus memberitahunya.


" Begini saja, besok siang kita kumpul di taman kampus. Aku butuh bantuan kalian. Kali ini kita harus benar-benar berhati-hati." ucapku.


" Benar juga, hari sudah gelap. Kita perlu istirahat." sahut Putri.


" Baiklah kalau begitu. Galang, tolong antarkan Tara pulang yah. Yuni dan Putri, pulang bareng aku saja." ucap Puja.


" Ya sudah. Ayo kita pulang." ucap Galang.


Akhirnya kami memutuskan untuk pulang.


Jonggi, bagaimana aku harus mengatakan kepadanya.


Apakah dia akan percaya begitu saja padaku.


Itulah yang bergumul di otak ku, saat dalam perjalanan.


Tiba di kost, aku langsung masuk ke kamar.


Memanggil nama Jonggi di dalam hatiku, berharap ia bisa mendengarnya.


Usaha ku tidak sia-sia, Jonggi datang dan langsung duduk di samping ku.


" Ada apa? Kangen ya?" tanyanya.


" Kalo iya kenapa?" sahutku sambil tersenyum.


" Gapapa sih. Seneng aja, ternyata masih ada yang kangen kepadaku." ucapnya.


" Aku pengen ngomong serius nih." ujarku.


" Loh, yang barusan emang ga serius ya?" sahutnya sambil tersenyum. Senyum khas seorang Jonggi.


Senyum yang sangat indah, senyum yang tak pernah membuatku bosan untuk menatap nya.


" Itu juga serius. Tapi ini jauh lebih serius." ujarku.


" Yaudah, bilang aja." sahutnya.


" Aku sudah tahu apa yang telah terjadi kepadamu. Apa yang membuatmu sampai merenggut nyawamu. Tapi jika aku menceritakan nya, kamu tidak akan percaya." ujarku.


" Masalah itu ya. Lalu, bagaimana caramu membuatku percaya?" tanyanya.


" Begini saja, tunggu kami di lahan pertanian kampus. Sebaiknya kau terus di sana. Tunggu sampai kami datang, mungkin hari Minggu atau Senin." ujarku.


" Jadi, aku tidak bisa datang kesini untuk menemuimu lagi?" tanyanya.


" Untuk saat ini, kurasa kau tidak perlu menemuiku. Aku lebih membutuhkanmu untuk berada di lahan pertanian." sahutku.


" Baiklah kalau begitu. Namun, izinkan aku untuk menjagamu malam ini. Andai ini yang terakhir, aku tidak akan pernah menyesalinya." ucapnya dengan raut wajah sedih.


Aku menjawabnya dengan senyuman.


Hari telah berganti, aku berangkat ke kampus seperti biasa.


Namun di ruang kelas, pikiran ini tidak bisa fokus menerima materi yang di jelaskan.


Siluet itu terus terbayang dibenak ku.


Berharap waktu cepat berlalu, agar semua ini bisa selesai.


Kelas telah usai. Dan seperti yang sudah disepakati, kami berlima berkumpul di taman kampus.


" Okey, semua sudah di sini. Aku ingin kalian membantuku, kali ini kita harus benar-benar bekerjasama. Karena, yang kita hadapi kali ini lebih kejam dari iblis." jelasku.


" Apa masih ada mahluk yang lebih kejam dari iblis?" tanya Galang.


" Manusia. Manusia bisa lebih kejam daripada iblis apapun. Karena sejatinya, manusia itu sendirilah yang menciptakan iblis di hatinya." sahutku.


" Jadi apa rencana mu?" tanya Puja.

__ADS_1


" Percuma kita tahu siapa pembunuh dan di mana jasad Jonggi saat ini, jika kita tidak punya bukti apa pun. Maka yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari buktinya. Dan aku tahu bagaimana caranya." jelasku.


Kujelaskan kepada mereka rencana yang sudah kurancang.


Setiap orang harus benar-benar bisa memainkan perannya di waktu yang tepat.


Jika salah sedikit saja, kemungkinan aku yang akan menanggung resikonya.


" Apa kalian sudah paham?" tanyaku setelah menjelaskan panjang lebar.


" Paham." sahut mereka serentak.


Hari demi hari berlalu, Puja mengatakan semua peralatan yang dibutuhkan sudah siap.


Putri juga bilang bahwa ayahnya sudah menyuruh polisi untuk siap siaga.


Ini hanya masalah waktu saja.


Keadilan pasti akan terungkap.


~ ~ ~ S K I P ~ ~ ~


~ ~ ~ M I N G G U ~ ~ ~


Seperti bisa, hari ini aku pergi beribadah.


Segala keluh kesah, ku curahkan di dalam doa.


Aku juga tidak lupa berdoa agar rencana kami tidak berantakan.


Sepulang ibadah aku pergi menemui Puja dan Putri ku.


Untuk memastikan apakah semuanya benar-benar sudah siap.


Ku telepon Galang dan Tara, untuk menanyakan keberadaan mereka.


Ternyata mereka sudah di lokasi yang di rencanakan.


Sejenak kulirik arloji di tanganku.


Ini sudah pukul 18.00 wib, aku ada janji untuk menemui Agnes.


Akhirnya aku bersiap-siap untuk pergi ke kediaman Agnes.


Aku juga membawakan boneka untuknya,


Setelah pamit kepada Puja dan Putri, akupun langsung beranjak.


Aku melihat rumah sederhana yang berjarak agak jauh dari keramaian.


Aku mencoba mengetuk pintu, sembari memanggil nama Agnes.


Tak lama, akhirnya seseorang membukakan pintunya.


" Siapa ya?" tanyanya.


" Aku Yuni, temannya Tara. Katanya, kakak menyuruhku untuk datang kesini. Oh iya, ini boneka untuk kakak." ujarku.


" Aduh, jadi merepotkan saja. Kupikir kau tidak jadi datang. Silahkan masuk." ucapnya sambil menerima boneka dariku.


Ku langkahkan kakiku memasuki rumahnya.


Belum jauh aku masuk ke dalam, tiba-tiba pintu tertutup dengan kencang.


Ku lihat, ternyata ada pria yang bersembunyi dibalik pintu.


Ia mengunci pintu, sementara Agnes langsung menahan ku.


" Apa yang kau lakukan?" tanyaku.


" Diam saja. Kau terlalu mencampuri urusan orang." sahutnya membentakku.


Pria itu pun datang membantu agnes, lalu mereka mengikatku di sebuah bangku.


" Lepaskan aku." ucapku memelas.


" Hahaha, untuk apa kami melepaskan mu? Kau harusnya senang, kami akan mengirim mu menemui Jonggi." ucap pria itu.


" Apa maksud mu?" tanyaku.


" Tak usah pura-pura bodoh. Maksudku adalah, kami akan membunuhmu. Tapi kau harus bangga karena kami tidak melakukannya di lahan kotor, seperti yang kami lakukan kepada Jonggi." ucap Agnes.


" Hah? Jangan bilang kalau kalian lah yang membunuh Jonggi." tanyaku.


" Hahaha. Akhirnya kau paham." sahut Agnes.


" Sayang, siksaan apa yang harus kita berikan padanya?" tanya pria itu.

__ADS_1


" Terserah kau saja sayang. Kau tidak perlu terburu-buru. Nikmati saja setiap teriakan yang keluar dari mulutnya." sahut Agnes.


" Aku punya ide, bagaimana kalau kita melukis di wajah cantiknya itu." ucap pria itu sambil memegang pisau.


Aku takut, air mataku terus menetes.


Aku tidak bisa bergerak, apalagi untuk melawan.


Kulihat pisau itu mulai mendekati wajahku.


" Aahhkkk, sakitttt. Tolong hentikan. Aku mohon." ucapku saat ujung pisau sudah menyentuh wajahku.


Darah dan air mata seakan berlomba-lomba untuk menetes.


" Hahaha. Tenanglah, aku akan membuatmu terlihat sangat cantik." ucap pria itu.


Di saat bersamaan, kulihat Agnes memegang jeruk nipis yang sudah di belah.


Ia memerasnya hinga airnya mengenai luka sayatan. Rasanya sangat perih.


Aku tidak bisa berhenti menangis.


" Bunuh saja aku. Jangan siksa seperti ini." ucapku.


" Tenang saja, kami akan membunuhmu. Namun biarkan kami sedikit bersenang-senang dulu." ucap pria itu.


Tuhan tolong aku, keajaiban mu lah yang kuperlukan saat ini.


Mereka terlihat sangat menikmatinya.


Seakan teriakan ku hanyalah senandung melodi yang indah.


Brakkkkkk....


Tiba-tiba saja pintu terbuka, samar-samar ku lihat Puja dan Putri datang ditemani banyak polisi.


" Angkat tangan!" ucap polisi sembari menodongkan senjata.


" Sialan! Kalian jangan mengancam ku." ucap pria itu sambil mengarahkan pisau ke leherku.


Ku lihat Agnes berlari ke arah dapur.


Sepertinya ia ingin kabur melalui pintu dapur.


" Tenang, semuanya bisa di bicarakan. Tolong pikirkan baik-baik." ucap petugas polisi dengan nada memelas.


" Hahaha. Kenapa kau takut? Aku hanya seorang diri saat ini, sementara kalian ramai. Apakah nyawa gadis ini sangat berharga?" ucapnya yang masih mengarahkan pisau itu.


Brukkkk...


Terdengar suara berisik dari arah dapur.


Itu membuat pria ini terlihat khawatir.


" Sayang, apa itu kau?" ucapnya berteriak tanpa melihat kearah asal suara itu.


Namun tidak ada jawaban.


" Sayang? Kau mendengar ku?" ia terus bertanya, namun tetap tak ada yang menjawab.


Akhirnya ia memalingkan wajahnya untuk melihat kebelakang.


Dorrrrr....


Bersamaan pada saat berpaling, fokusnya berkurang. Ia tidak sadar bahwa sedari tadi, sudah ada Sniper yang membidik kepalanya.


Kini, wajahku berlumuran darah.


Darah ku dan darah dari kepala pria itu.


" Tenanglah nak. Kau sudah aman. Kami akan membawamu ke rumah sakit. Kau gadis pemberani." ucap petuga polisi yang langsung mengamankan ku.


" Boneka itu..... Boneka itu adalah bukti." ucapku yang masih ketakutan.


" Apa maksudmu?" tanya polisi.


" Di dalamnya ada rekaman suara. Itu adalah rekaman pembicaraan kami tadi. Itu adalah bukti bahwa mereka adalah pembunuh Jonggi." ucapku.


" Baiklah gadis pintar. Sekarang naik lah ke ambulance, kau butuh perawatan." ucapnya sambil mengiring ku ke mobil ambulance.


" Satu lagi pak, apakah jasad Jonggi sudah ditemukan?" tanyaku.


" Tenang saja. Sebagian petugas kami sudah ada di sana.


Mereka pasti menemukannya." ucapnya sambil menutup pintu ambulance.


"Terimakasih Tuhan, ternyata semua berjalan dengan lancar, aku harus merasakan kesakitan ini." gumamku dalam hati.

__ADS_1


Galang dan sahabat-sahabatku sudah memainkan perannya dengan baik.


BERSAMBUNG.


__ADS_2