Ruang misteri

Ruang misteri
Aku Teman Mu


__ADS_3

Saat kulihat Putri yang sedang terbaring di tempat tidur pasien aku sangat terkejut.


Terkejut bukan karena tubuh Putri yang terbaring lemah, tapi karena mahluk mengerikan yang ada di sampingnya.


Mahluk itu seakan tidak memiliki rahang atas dan ia hanya memiliki satu bola mata yang terletak di tengah-tengah kening nya.


Lidah nya yang panjang menjulur menjilati wajah Putri.


Belum lagi kuku nya yang panjang terlihat sedang asik menusuk ubun-ubun Putri.


Sepertinya mahluk itu tidak tahu kalau aku bisa melihat nya.


" Yun, kenapa? Kok keliatan heran?" Tanya Tara yang sudah memperhatikan ku sejak tadi.


" Ng.. nggak kok. Dokter bilang Putri sakit apa?" Sahut ku yang masih melihat ke arah mahluk itu.


" Kata dokter sih keracunan makanan. Makanya tadi Putri sempat muntah-muntah." Jawab nya.


" Kasihan Putri, ia sangat banyak mengeluarkan cairan. Mungkin itu yang membuat dia sampai koma." Lanjut Puja.


" Om Hendra sudah di kasih tau?" Tanyaku.


" Udah. Katanya sih, dia akan datang kesini secepat nya. Masih di jalan mungkin." Jawab Tara.


Sebenarnya aku yakin kalau Putri tidak keracunan makanan.


Menurut ku, mahluk itu lah yang membuat Putri begini.


Tapi aku masih belum tau bagaimana cara mengungkapkan nya kepada teman-teman ku ini, terlebih lagi kepada om Hendra.


Bisa-bisa mereka mengira aku mengarang cerita.


Atau mungkin aku bakal di cap aneh.


Tapi bagaimanapun juga, aku harus memberitahu om Hendra tentang hal ini.


Sebagai sahabat Putri, aku siap menanggung resiko nya.


Ya, aku harus memberitahu om Hendra.


Kalau dia tidak percaya, itu bukan kesalahan ku lagi.



Selang beberapa menit, tiba-tiba ada orang yang membuka pintu.


" Eh, kalian masih di sini ya. Makasih sudah mau menjaga Putri selagi om tidak ada." Ucap pria yang baru saja datang. Ternyata, itu adalah om Hendra.


" Iya om. Gapapa kok. Namanya juga sahabat." Jawab Tara sambil sedikit tersenyum.


" Udah diperiksa dokter?" ucap om Hendra.


" Udah om. Katanya sih keracunan makanan." Jawab Puja cuek.


Puja memang sedikit kesal dengan om Hendra.


Soalnya menurut Puja, sosok seorang ayah harus lebih banyak memberi waktu kepada anak nya.


Apalagi Putri adalah anak satu-satunya.


" Waduh, bagaimana mungkin Putri bisa keracunan. Dia tidak pernah makan sembarangan. Apalagi dia lebih suka makan di rumah daripada jajan di luar." Jawab om Hendra heran.


Mendengar ucapan om Hendra, aku semakin yakin bahwa sosok itu adalah penyebab nya.

__ADS_1


" Om, bisa bicara sebentar? Ini tentang Putri. Tapi jangan di sini om. Bagaimana kalau kita keluar ?" Tanyaku.


" Boleh. Kalian berdua tunggu di sini sebentar yah." sahut om Hendra sambil berjalan keluar.



" Ada apa? Kelihatannya sangat penting." Ucap om Hendra.


" Gini om. Mmmm... Tapi janji ya, om jangan marah. Soalnya, ini agak susah untuk dipercaya." Ucapku dengan nada memelas.


" Baik, katakan saja. Saya tidak akan marah." Jawab nya mengabulkan persyaratan ku.


" Menurutku, Putri tidak keracunan om. Dia di ganggu mahluk halus. Tapi aku tidak tahu mahluk ini jenisnya apa. Soalnya seumur hidup, baru kali ini aku melihat mahluk yang seperti ini." Ucapku seraya berbisik.


" Maksud mu? Tolong jelaskan pelan-pelan, mengapa kau bisa beranggapan seperti ini." Sahut om Hendra dengan ekspresi bingung.


" Jadi gini om. Tuhan menganugerahkan aku kelebihan, aku bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk tak kasat mata. Kata lainnya, aku ini anak indigo. Jadi tadi di dalam ruangan, aku melihat makhluk yang berada di samping Putri. Mahluk itu menjilati wajah Putri dan menusuk-nusuk kepalanya. Jadi aku fikir, itulah penyebab Putri tidak sadarkan diri." Ucapku.


" Kau yakin?" Tanya nya, kali ini raut wajah om Hendra terlihat sangat tegang.


" Yakin om. Soalnya dulu aku pernah berurusan dengan mahluk halus om. Tapi bukan seperti ini kasusnya." Jawab ku yang mencoba meyakinkan om Hendra.


" Kau bisa mengobati Putri?" Tanya om Hendra dengan nada memohon.


" Maaf om, aku tidak tahu bagaimana cara mengusir mahluk itu. Aku takut jika tidak ditangani orang yang benar, masalahnya akan semakin rumit." Jawab ku.


" Jadi kita harus bagaimana?" Tanya nya lagi.


" Begini saja om. Om kan umat muslim, jadi coba om panggil ustadz atau kiyai. Katakan apa yang sudah kujelaskan tadi. Mereka pasti mau bantu kok. Dan aku yakin mereka bisa mengatasi hal seperti ini." Sahut ku.


" Baiklah. Kalau kau memang yakin, om akan pergi mencarinya. Tolong jaga Putri selagi om pergi." Ucap om Hendra.


" Ok om. Om harus bisa secepat mungkin." Sahut ku.


Akupun kembali masuk ke dalam ruangan.



" Udah selesai? Ngomongin apa sih? Pake rahasia-rahasiaan segala." Ucap Tara.


" Iya nih, kasih tahu dong. Kita kan jadi penasaran. Oh ya, om Hendra mana?" Sambung Puja.


" Udah tenang saja. Nanti kalian bakal ngerti. Om Hendra pergi sebentar. Nanti balik ke sini lagi kok." Sahut ku.


Sembari menunggu kedatangan om Hendra, kami bertiga hanya bercerita.


Menggosip tepatnya.


Mulai dari masalah cowok terganteng di kampus, sampai ke masalah asmara.


Yah, namanya juga cewek. Kalo udah ngumpul dua tiga orang, pasti ada aja yang mau dibahas.



Tak berapa lama om Hendra sudah datang, kulihat ia bersama seseorang.


Dari pemakaian nya, seperti nya dia seorang ustadz.


" Yuni, Puja, Tara, perkenalkan ini ustadz Hamidz." Ucap om Hendra.


Kami bertiga melemparkan senyum ke arah ustadz Hamidz. Dan ia juga membalas senyum kami .


" Mana orang yang bapak maksud?" Tanya ustadz Hamidz.

__ADS_1


" Di sebelah sini pak. Namanya Putri, dia adalah anak ku satu-satunya. Tolong di bantu ya pak ustadz." Jawabnya sambil berjalan mendekati Putri.


" Astagfirullah. Dugaan bapak benar. Tolong ambil segelas air." Ucap pak ustadz setelah melihat Putri.


Mendengar perkataan pak ustadz, Tara langsung mengambil segelas air, dan memberikannya kepada pak ustadz.


Pak ustadz langsung berdoa, ia terlihat seperti membayakan ayat-ayat suci Al Quran.


Tiba-tiba tubuh Putri bergetar hebat.


Matanya masih terpejam, namun ia seperti tidak senang dengan kedatang ustadz Hamidz.


" Bagi yang tahu ayat ini, ikuti saya." Ucapnya sambil melanjutkan mengucapkan ayat-ayat Al Qur'an.


Kulihat, om Hendra dan Tara juga ikut mengucapkan nya.


Aku dan Puja yang beragama non Muslim juga ikut berdoa menurut doa yang diajarkan agama kami. Setidaknya itu juga akan membantu.


" Jimat.... Kau memiliki jimat pengelaris?" Tanya ustadz Hamidz.


" Iyaa...iyaa ustadz. Kemarin saya minta jimat kepada seorang dukun, agar bisnis saya lancar." Jawab om Hendra.


" Berikan kepadaku jimat itu sekarang juga." Seru pak ustadz.


" Ini dia ustadz." Ucap om Hendra sambil melepaskan cincin yang ia pakai dan memberikan nya kepada ustadz Hamidz.


Sambil melafalkan ayat suci, ustadz Hamidz memasukkan cicin itu kedalam gelas yang sedari tadi di pegang nya.


" Kembali lah ke neraka jin Jahanam." Ucap ustadz Hamidz sambil menyiramkan air yang berada dalam gelas yang ia pegang, ke arah Putri.


Otomatis cincin nya juga ikut terlempar.


Aku bisa melihat mahluk itu masuk kedalam cincin yang terlempar itu.


Tiba-tiba tubuh Putri berhenti bergetar.


Sekarang ia tampak lebih tenang, dan ia pun sudah terlihat sadar.


" Tolong ambil cincin nya." Ucap pak ustadz.


Om Hendra pun memungut cincin itu dari lantai dan memberikan nya kepada ustadz Hamidz.


Ustadz Hamidz menggenggam cincin ia mengepalkan tangan nya sembari mengucap ayat-ayat Al Qur'an.


Dan saat ia membuka kepalan tangan nya, cincin itu sudah lenyap entah kemana.


" Alhamdulillah, sudah lenyap. Bapak jangan pernah lagi menerima jimat kepada siapapun. Itu bisa mengundang para jin. Bisa-bisa keluarga bapak akan jadi korban." Ucap ustadz Hamidz.


" Baik ustadz, maafkan saya. Terimakasih atas bantuan nya." Sahut om Hendra.


" Baiklah akan pergi. Oh iya, saya hampir lupa. Siapa namamu anak gadis? Ucap ustadz Hamidz yang melihat kearah ku.


" Yunita pak ustadz." Jawab ku.


" Kau sangat spesial. Namun, berhati-hati lah. Ada bahaya besar yang akan mendatangi mu. Assalamualaikum." Ucap nya sambil berjalan keluar.


" Walaikumsalam " ucap kami serentak.


Aku bingung bahaya apa maksud ustadz itu.


Aku juga tidak sempat bertanya, beliau langsung pergi.


Ini membuatku sedikit takut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2