Ruang misteri

Ruang misteri
Aku Teman Mu


__ADS_3

Bahaya apa yang ia maksud?


Ah sudahlah, yang penting Putri sudah membaik.


" Makasih ya teman-teman." ujar Putri.


" Iya sama-sama. Kita kan sahabat mu, jadi sudah sepantasnya saling menolong." sahut Puja.


" Jadi ini yang kamu maksud Yun?" tanya Tara.


" Iya. Udah gak penasaran lagi kan." sahut ku.


" Kamu kok bisa tahu?" tanya Puja.


" Firasat saja. Kebetulan firasat ku benar." jawab ku berbohong.


Om Hendra tersenyum mendengar jawaban dariku.


Sepertinya ia tahu alasan aku berbohong kepada teman teman ku.


" Terimakasih ya udah mau nolongin om. Om ga tahu bagaimana cara membalasnya." ucap om Hendra.


" Selow aja om. Putri udah kita anggap saudara kok. Jadi wajar saja jika kami ikut membantu." jelas Tara.


Aku dan Puja mengangguk pertanda bahwa kami setuju dengan jawaban Tara.


Sedangkan om Hendra terlihat sangat senang mendengar jawaban dari Tara.



" Yaudah, kami pamit pulang dulu ya om. Soalnya masih ada mata kuliah yang harus kami ikuti." ucap Puja sambil bangun dari tempat duduknya.


" Baiklah kalau begitu. Maaf ya kalau om belum bisa mengantarkan kalian." sahut om Hendra.


" Gapapa om. Lagian Puja bawa mobil kok. Kami pamit ya princess cepat sembuh, biar empat serangkai bisa main bareng lagi." ucapku sambil melambaikan tanganku ke arah Putri.


" Iya, hati-hati di jalan ya." balas Putri.


Kami bertiga pergi meninggalkan tempat itu.


Lalu memutuskan untuk pergi ke kampus.


Sebenarnya aku sudah tidak perlu ke kampus lagi, soalnya jam pelajaran mata kuliah yang aku ambil sudah habis.


Tapi tak apalah, lagian aku akan sangat bosan jika harus pulang ke kost sekarang.



Sepanjang perjalanan menuju kampus, aku hanya melamun.


Kata-kata pak ustadz masih terngiang di telinga ku.


" Yun? Yun? Yunitaaaa!" bentak Tara.


" Eh iya, maaf. Ada apa Ra?" sahutku.


" Jangan bengong terus. Mikirin apa sih? Bahaya yang pak ustadz bilang?" tanya Tara.


" Ga usah terlalu dipikirkan Yun. Mungkin itu hanya dugaan saja. Belum tentu benar. Cuma, kamu harus lebih hati-hati juga sih." sambung Puja.


" Iya iya. Udah ah, jangan bahas itu. Mending ngegibah saja. Hahahaha." sahut ku bercanda.


Dan jadi lah sepanjang perjalanan kami asik membahas hal-hal yang tidak perlu di bahas.


Puja juga sesekali menyindir Tara dan aku.


Karena diantara kami berempat, aku dan lah yang belum mempunyai pasangan.


Jujur, aku pengen sih ada cowok yang datang deketin.


Mungkin sekarang belum ada, tapi aku yakin pasti bakal ada kok.


~~ TIBA DI KAMPUS ~~


" Yun, kami masuk dulu ya. Ga lama-lama amat kok." ucap Puja.


" Eh nanti kalo udah selesai, temui aku di perpustakaan ya." sahutkuu sambil meninggalkan mereka berdua.


Akupun menuju perpustakaan.


Tempat dimana aku merasa nyaman kalau lagi tidak ada kegiatan.


Menurutku, membaca adalah hal yang berguna untuk menghabiskan waktu luang.


Tiba di perpus, aku langsung mengambil sebuah buku novel dan berjalan menuju bangku langganan ku.


Belum lama aku membaca, seseorang tiba-tiba menyapa ku.

__ADS_1


" Hei, ketemu lagi." ucapnya.


" Eh Jonggi. Kamu ngikutin aku ya." sahutku dengan nada menggombal.


" Idiihhh, PD amat. Cuman kebetulan aja. Atau mungkin..." ia tidak meneruskan kalimatnya, hanya melemparkan senyum nya yang menawan.


" Mungkin apa? Jangan ngaco deh." sahutku, yang mulai salah tingkah.


" Hahahaha. Sepertinya aku jatuh cinta. Tapi kenapa kita ga dari dulu aja kenal nya ya. Kenapa baru sekarang?" ujarnya.


" Apaansih. Baru kenal bentar, udah main cinta-cintaan segala." sahutku sembari tersenyum kearahnya.


" Hahaha. Becanda. Lagian udah telat kok." sahut nya.


Telat, Dia udah punya pacar ya, padahal aku sih berharap, gumamku dalam hati.


Tanpa ku sadari, orang-orang di sekaitar menatap ke arah kami dengan tatapan aneh. Mungkin mereka terganggu dengan suara kami, aku baru ingat kalau ini perpustakaan.


Jadi emang ga boleh ribut.


" Sssttt... udah, jangan berisik, dilihatin tuh sama orang-orang," ucapku.


Jonggi tersenyum sambil mengangguk.



Saat sedang asik membaca, tiba-tiba aku mendengar keributan dari luar ruangan.


Suara nya sangat terdengar tidak asing di telinga ku.


Astaga, itu suara Tara.


Aku langsung berlari keluar ruangan, dan mencari asal suara itu.


Benar saja, ku lihat Puja dan Tara ada di sana.


Ada juga seorang pria bersama mereka.


" Lo ngeyel banget sih," ucap seorang pria yang ternyata adalah Raka.


" Gue? Bukan nya lo yang ngeyel? Udah dibilang gue ga suka sama lo. Mau gimanapun tetap ga suka," bentak Tara.


" Apa yang lo minta udah gue kasih, tapi tetap saja lo nolak gue," sahut Raka.


" Kan lo yang bodoh, mau ngasih apa yang gue minta. Udah ah, gue mau balik. Malas debat sama orang yang ga penting," ucap Tara sambil menarik tangan Puja dan berjalan ke arah ku.


" Pulang yuk," ucap Puja.


Aku dan Tara mengangguk. Dan kami langsung menuju mobil di parkiran kampus.


Sepanjang perjalanan pulang, kami sibuk membahas apa yang baru saja terjadi.


" Ra, sepertinya kamu terlalu kasar deh," ucap Puja.


" Iya, kalau mau nolak, kan bisa di bilang baik-baik Ra," sambung ku.


" Udah biar aja, biar dia tahu rasa. Bodo amat dia mau sakit hati atau nggak," jawab Tara.



Sampai di kost, aku melakukan aktivitas seperti biasa.


Mandi, ngerjain tugas dan memasak untuk makanan besok.


Setelah semua selesai, aku pun langsung berbaring di ranjang ku.


Tak butuh waktu lama, aku langsung tertidur pulas.


Krrinngggg...Krinngggg...


Bunyi nada handphone membangunkan ku, ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 07.15 wib.


" Halo, ada apa Puja. Pagi\-pagi gini udah nelpon," tanya ku.


" Yun, aku baru saja di hubungi ibu kost Tara. Katanya Tara sakit parah Yun. Kamu ke sana sekarang yah, kita jumpa di sana aja," sahut Puja.


" Ok baiklah," ucap ku sambil memutuskan telepon.


Aku beranjak dari tidur ku, langsung menuju kamar mandi. Dan bergegas ke tempat Tara.


Baru saja aku keluar dari kost, menunggu ojol yang ku pesan untuk mengantarkan ku.


Aku melihat pria yang tidak asing berdiri di samping jalan.


" Jonggi, ngapain di sini?" tanyaku.


" Lagi nunggu teman. Kamu kost di sini ya?" tanya Jonggi.

__ADS_1


" Iya." jawab ku singkat.


Ojol yang ku pesan pun datang.


" Maaf ya Jong, aku pergi dulu. Ga bisa ngobrol lama\-lama," ucap ku sambil naik kendaraan ojol.


" Iya, hati\-hati," sahut Jonggi.


Tanpa basa\-basi, supir ojol langsung menarik pedal gas. Perlahan, kami menjauh dari Jonggi.


" Tara.... Penyakit Tara bukan sembarangan," ku dengar Jonggi berteriak saat kami sudah menjauh dari nya.


Darimana dia tahu Tara sakit? Apa maksud nya penyakit Tara bukan sembarangan?, itulah yang terngiang di otak ku.


" Neng, tadi pamit sama siapa?," tanya supir ojol yang menghentikan lamunan ku.


" Itu, teman. Cowok yang tadi berdiri di sampingku," jawab ku.


" Ada\-ada aja neng. Tadi neng sendirian kok. Ga ada orang yang berdiri di dekat neng," sahut nya.


Astaga, jantung ku serasa berhenti mendengar jawaban pak ojol.


Ini bukan kejadian yang pertama.


Jika Jonggi bukan manusia, kenapa aku tidak takut saat berada di dekat nya.


Dan kenapa aku tidak merasa ada hawa negatif yang terpancar dari dirinya, seperti biasa jika aku melihat hantu.


Siapa sebenarnya Jonggi ini? atau pertanyaan yang lebih tepat adalah, mahluk apa sebenarnya Jonggi?





Akhirnya aku sampai di tempat Tara, dan kulihat Puja juga sudah duduk di depan pintu kamar Tara.


Tanpa basa\-basi, aku langsung menemui Puja.


" Kenapa ga masuk?," tanyaku.


" Udah, tadi aku udah masuk. Aku takut, makanya aku keluar lagi," sahut nya.


" Takut apaan? Yaudah, ayo masuk," ucap ku dan langsung membuka pintu kamar Tara.


Belum sempat aku melangkah ke dalam kamar, aku terkejut melihat Tara di ikat di atas ranjangnya.


Ia di ikat seperti orang gila.


Setelah melihat kedatangan kami, Tara langsung menangis.


" Lepaskan aku Yun, kau tega melihat aku seperti ini?," ucap Tara.


" Yun, ibu kost nya bilang. Kita ga boleh lepaskan Tara. Ada yang aneh dengan nya, tadi aku sudah melihat sendiri," ucap Puja kepada ku.


" Aneh kenapa?" tanya ku.


Belum sempat Puja menjawab pertanyaan ku, aku melihat keanehan itu sendiri secara langsung.


" Diam kau gadis murahan! Aku tidak menyuruh mu untuk berbicara," bentak Tara dengan nada yang sangat berat. Seperti suara seorang pria yang sudah sangat tua.


Tara juga menghentakkan tubuh nya ke kasur, seraya ingin melepaskan diri.


Ia tidak berhenti berteriak, menangis, tertawa, dan kemudian berteriak lagi.


Dan semua itu bergantian hanya selang beberapa detik saja.


" Ayo lepaskan aku wanita cantik. Hahahahaha," ucap Tara dengan intonasi yang sangat aneh.


Tara juga tersenyum ke arah kami, namun bukan senyum yang biasa. Senyum ini sangat menyeramkan.


Aku sangat bingung, apa yang harus kulakukan.


Keluarga Tara juga sangat jauh, tidak sempat jika harus menunggu mereka datang kesini.


Aku juga yakin, Tara tidak akan sembuh jika di bawa ke rumah sakit.


Tolong aku Tuhan, apa yang harus ku perbuat.


Apakah ini bahaya yang di maksud pak ustadz? Tapi bahaya ini bukan untuk ku, ini untuk Tara.


Teka\-teki apa lagi ini, semuanya bercampur aduk.


Jonggi, Tara dan pak ustadz, semuanya membuatku bingung.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2