
Ana, sadarlah. Cepat bangun." Sayup² aku mendengar suara parau seorang wanita.
" Bu, Kenapa kita ada di sini?" Ucapku bertanya kepada ibu Dinda. Tampak raut wajah nya yg cemas.
" Kamu.... Sepertinya kamu kesurupan nak." Jawab nya.
Ku perhatikan sekitar untuk memastikan dimana tempat ku saat ini. Aku tau tempat ini, ini ruang UKS.
Sejenak aku mengingat kejadian semalam. Apa mungkin itu yg membuat ku bisa kerasukan seperti tadi..
Ya,, aku memang mengizinkan dia memasuki tubuh ku. Tapi aku yakin,tadi itu bukan dia.
" Apa saja yg tadi ku perbuat bu?" Tanya ku.
" Kau,,,tidak karuan nak. Kau mencekik leher Yunita." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Aku bisa melihat air mata yg ia teteskan. Sambil menarik nafas panjang, ia berkata " Ibu takutt.. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi."
" Kejadian apa bu?" Tanyaku..
Mungkin kah tentang Andini? Apakah ada sesusatu yg sengaja di sembunyikan dari ku. Gumamku dalam hati.
Aku mencoba mengartikan maksud perkataan ibu Dinda. Ada yg tidak beres.. Pikirku.
" Berdoalah agar itu tidak terjadi." Ucapan ibu Dinda menghentikan lamunan ku.
"Apa sebenarnya yg ibu bicarakan?" Aku bertanya dengan tatapan serius.
" Jika nanti sudah waktu nya, ibu akan menceritakan semuanya kepada mu. Kau memang harus segera tau. Tapi tidak sekarang, tidak dengan kondisi mu yg seperti ini." Jawab nya tegas.
"Ana, kau sudah baikan?" Suara yg tiba² datang menghentikan perbincangan ku dengan bu Dinda.
Kulihat Reni, Sarah dan Yuni berlari kecil menghampiri ku. Yuni langsung memelukku.
Aku bisa melihat matanya yg menahan sejuta air mata yg memaksa untuk di keluarkan.
" Yun, aku minta maaf. Percayalah, aku tidak mungkin melakukan itu." Ucapku sambil menangis.
" Kau tidak perlu meminta maaf, aku mengerti apa yg sedang terjadi." Jawab yuni sambil menghapus air mata ku.
__ADS_1
Aku sadar bahwa ibu Dinda sudah tidak ada di ruangan ini. Kemana dia pergi,mengapa dia pergi begitu saja. Pekik ku dalam hati.
"Guys, kemana ibu Dinda?" Tanyaku.
"Dikantornya mungkin." Jawab Sarah pendek.
" Ga mungkin. Barusan ia menemani ku di sini. Tepat sebelum kalian datang, kami masih bercerita." Ucapku heran.
" Dari tadi lo sendirian! Sebelum kesini, gue lihat ibu Dinda di kantor nya." Jawab Reni dengan nada sedikit meninggi.
Ha..Lalu.. Lalu siapa yg tadi bersamaku? Ah sudahlah, aku tidak ingin terlalu memikirkan itu. Toh dia juga tidak menggangu ku.
Lagian, aku masih sedikit pusing.
" Ke kelas yuk, bentar lagi bel masuk bunyi." Ucap Reni sembari melihat jam tangan nya.
"Ana, kau ikut? Atau masih pengen istirahat?" Tanya Yuni.
"Aku ikut. Malas juga sendirian di sini." Jawab ku sambil beranjak dari tempat ku.
Kami pergi menuju kelas masing². Aku dan Yuni berpisah dengan Sarah dan Reni,, kelas kami memang berbeda.
Bel sekolah menandakan pelajaran hari ini usai. Sedari tadi aku hanya memikirkan ucapan ibu Dinda sewaktu di ruang UKS.
Itu membuatku melamun. Alhasil, pelajaran hari ini tidak singgah sedikitpun di otak ku.
"Yun, balik yuk. Capek banget." Ucap ku kepada Yuni.
"Iya, kau pulang naik apa?" Tanya Yuni.
"Kek nya pesan OJol aja deh." Jawab ku, sambil berjalan menuju gerbang sekolah.
Akhirnya Ojol pun datang, dan kami pulang. Yuni dengan ojolnya begitu juga dengan ku.
Sampai dirumah aku tidak melihat ada orang. Mungkin ayah masih bekerja, pikir ku.
Di rumah memang hanya ada aku dan ayah. Berbeda dengan dulu, di saat ibu dan kakak ku masih hidup.
Sayang nya, ibu meninggal saat aku berusia 13 tahun. Sedangkan kakak menyusul ibu setahun kemudian.
__ADS_1
Aku sangat menyayangi mereka, terlebih kakak ku. Mengingat ia lah orang yg selalu melindungi ku dari orang² jahil.
"Sudah lah, aku tak boleh bersedih. Mereka sudah tenang di atas sana." Ucapku dalam hati yg mencoba menghibur diri.
" Critttt...criitttt..Crittt"
Tiba² aku mendengar suara. Seperti suara benda keras yg di goresan di atas kaca.
Suaranya sangat menggangu,, ngilu..
Aku mencoba mencari tahu dari mana asal suara itu.
Ku telusuri setiap sudut rumah ku. Semakin jelass, aku sudah semakin dekat dengan asal suara..
Tidak mungkin! Gumam ku saat berdiri tepat di depan pinta kamar milik kakak ku dulu.
Tidak..tidak mungkin
Kamar ini tidak pernah di gunakan. Bahkan ini hanya di buka jika ayah menyuruhku membersihkan nya.
Suara nya semakin jelas. Sekarang aku sangat yakin, suara ini berasal dari dalam kamar ini..
Sejenak aku menarik nafas panjang, itu ku lakukan untuk mengusir rasa takut ku dan mengumpulkan keberanian yg ada dalam diriku.
Perlahan ku gapai gagang pintu. "Kreekk" Terdengar suara pintu yg berdecit saat aku membuka nya.
Gelap sekali. Ini memang sudah pukul 19.30 wib. Ku jatah sakelar lampu yg ada d samping pintu.
"Klikkk" ku tekan sakelar nya dan lampu pun menyala.
ASTAGAAAAA.. APA... APA ITU????
TIDAK.... TIDAKK MUNGKIN !!!!!!
"HaaaaaAaaaahhh".
Aku tak sanggup melihat apa yg ada di depan ku. Seketika itu juga, aku jatuh pingsan..
BERSAMBUNG.
__ADS_1