Ruang misteri

Ruang misteri
Hunian Lelembut


__ADS_3

Matahari pagi menyinari. Cahayanya masuk melalui celah-celah rumah.


Aku terbangun setengah kaget karna shubuh sudah lama terlewat. Tidur yang terlalu larut membuatku bangun kesiangan.


Aku bangunkan Mas Aji yang masih terlelap. Ku gendong Riko dan ku bawa kekamar mandi.


Setelah memandikan Riko, aku menitipkannya ke Mas Aji.


Aku pergi mandi.


Dari semalam aku tak sadar, tanganku ada sedikit luka bakar.


"De, kenapa pastelnya gosong semua?" teriak Mas Aji yang waktu itu pergi kedapur untuk sarapan. Biasanya setiap pagi Mas Aji sarapan pastel, tapi tidak hari ini.


"Ia mas, Maaf... Semalam aku ketiduran," teriakku dari kamar mandi menjelaskan.


"Ya udah Dek kalau begitu Mas cari sarapan dulu!" jelas Mas Aji dari arah dapur.


"Ia Mas..." teriakku dan bergegas untuk menyelesaikan mandi.


Aku memakai handuk dan membuka pintu. Aku berjalan menuju kamar.


Sesampainya dikamar, terlihat anak mungilku tengah tertawa sendirian seolah ada yang mengajaknya bercanda.


Tak sempat aku memakai pakaian, aku langsung menggendong Riko dan mengambil pakain dari lemari, lantas membawanya keluar menuju ruang tamu.


Riko aku letakkan dikursi dan aku ganti pakaian disitu.


Tak lama mas Aji pulang membawa kantong plastik berisi bungkus nasi kuning.


"Loh, kenapa ada handuk disini?"


"Ia Mas, aku ganti pakaian disini Mas!"


"Kenapa tidak dikamar saja?"


Aku terdiam tak menjawab. Kalau aku jelaskan, dia juga tak kan percaya.


Aku kedapur untuk mengambil piring dan sendok untuk kita sarapan.


Stelah sarapan Mas Aji berangkat kerja dan Aku ikut kedepan untuk main kerumah Mama.


Mama tersenyum melihatku pagi ini yang mengunjungi rumahnya. Dengan cepat dia mengambil Riko dan menggendongnya. Mama begitu senang. Tapi, pandangannya memudar ketika Mama melihat wajahku yang suram.


"Dew, kenapa dengan raut wajahmu? Kalau kamu mau cerita, cerita saja." ujar Mama.


Aku pun mencetitakan kejadian semalam.


"Hati-hati Dew, itu kuntilanak jahat!" ucap Mama membuatku terdiam. Aku mencoba mencerna apa yang ia katakan.


"Tapi kan, bukannya itu hanya mimpi?"

__ADS_1


"Mimpi apa Dew... Yang membuat tanganmu terbakar seperti ini." ucap Mama sambil memegang tanganku yang ada luka bakar.


Terus Mama berpesan "Kalau Hari kamis, sore harinya kamu taburin garam kesetiap pojokan rumah sambil membaca sholawat."


Beberapa tahun kemudian.


Sore ini. Seperti biasa, aku menaburkan garam kesetiap pojokan rumah sambil membaca sholawat. Riko yang saat ini sudah berusia 3 tahun mengikuti kebiasaanku. Aku tertawa melihat kelucuan jagoan kecilku.


Tak lama Maa Aji datang, dia mengajak Riko keluar untuk membeli sesuatu.


Tak lama Maghrib pun tiba. Seperti biasa, aku memilih untuk sholat dirumah dari pada dimushollah.


Setelah aku selesai sholat. Aku mendengar ada anak kecil berlari sambil tertawa dan menaiki anak tangga untuk menuju lantai atas.


Waktu itu aku tengah mengaji. Ku pikir anakku sudah pulang.


"Riko... Riko... Itu kamu nak?" teriakku, tapi tak ada jawaban.


Aku menutup Qur'an dan merapikan alat sholat.


Aku berjalan menuju jendela yang ada disebelah pintu depan.


Aku lihat motor Mas Aji belum ada, berarti Riko pun belum pulang.


Kalau begitu yang diatas siapa?


"Alah... Paling juga makhluk seperti itu," gumamku dalam hati.


Aku duduk dikursi ruang tamu dan suara tersebut terdengar lagi, "Beg... Beg... Beg..." "Hahaha hahaha," suara langkah kaki yang diiringi suara tertawa anak kecil.


Aku langsung berdiri dan melihat.


Ternyata Mas Aji dan Riko sudah pulang, aku menyambut mereka dengan senyuman.


Wajah Mas Aji penuh selidik ketika menatap wajahku. Tapi, dia enggan tuk bertanya.


Anehnya suara berisik dari atas tiba-tiba tak terdengar.


Kita menuju ruang tengah untuk nonton TV sambil menunggu malam.


Adzan berkumandang, aku sholat dan selesai sholat aku kembali keruangan tengah.


Riko tertidur, sementara Mas Aji masih serius menonton TV.


Aku menggendongnya menuju kamar dan aku baringkan ketempat tidur. Tubuhku ikut ku rebahkan disamping Riko sambil menepuk-nepuk pahanya yang hampir terbangun ketika aku baringkan. "Hust hust hust," ucapku lirih.


Riko mengigau...


Matanya masih tertutup tapi mulutnya mengucapkan sesuatu seraya berteriak "Sungai... Sungai..."


Awalnya aku pikir dia hanya mengigau biasa. Tapi, dia terus mengucapkan kata yang sama.

__ADS_1


Badanya kian panas, bajunya basah bermandikan keringat.


Aku lari keruang tengah untuk memanggil Mas Aji.


Dia bangun dari duduknya, sementara TV dibiarkan dalam keadaan masih mengalah.


Kami berjalan menuju kamar. Mas Aji bingung melihat kondisi anaknya yang seperti itu.


"Dek, coba kita turuti apa mau dia," ucap Mas Aji yang tengah memegangi tubuh Riko dan menatap kearahku.


Aku mengangguk dan Mas Aji menggendong Riko.


Kita berjalany menuju pintu belakang.


Jam 10 malam kita menyusuri tanah lapang. Tak jauh dari tanah lapang ada sebuah sungai.


Sesampainya disungai mata Riko terbelalak, memandang tapi penuh kekosongan.


Tak berselang lama, kita memutuskan untuk pulang.


Baru membalikkan badan dan belum juga melangkah, Riko kembali berontak dengan mata tertutup.


Aku dan Mas Aji bingung melihat kondisi Riko yang seperti itu.


Kita membalikan badan mengarah kesungai dan Riko pun tenang. Tapi, dia kembali membuka mata dengan tatapan kosong.


"Ayo kita pulang," ucap Mas Aji dengan tegas. Aku menurutinya dan Riko kembali berontak. Mas Aji menggendongnya dengan hati-hati agar Riko tidak terjatuh.


Sepanjang malam Riko seperti itu. Aku dan Mas Aji sampai tidak bisa tidur dibuatnya.


Lewat tengah malam Mas Aji menitipkan Riko untuk aku jaga. Karena, dia sudah tidak kuat menahan rasa kantuk dan lelahnya.


Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menangis dan berdoa.


Jam 6 pagi. Aku pergi kedapur untuk mengambil gelas dan aku isi dengan air keran.


Aku beranjak lagi kekamar dan duduk disamping Riko yang masih terbaring sambil berontak.


Air dalam gelas aku bacakan Al-Fatihah, lantas aku minumkan ke Riko.


Riko seakan tak mau meminumnya, dia terus menyemburkan air yang sudah aku bacakan Al-Fatihah. Tapi, aku terus memaksanya untuk minum dan akhirnya tertelan.


Tak lama Riko pun tenang.


Dia membuka mata, raut wajahnya mengisyaratkan kebingungan.


Riko melirik kestiap sudut kamar sekan mencari sesuatu.


Aku masih terduduk dan memandanginya dengan wajah sedih berkelimang air mata.


"Mama, teman Riko mana?" ucap Riko sambil memandang kearahku.

__ADS_1


"Teman Riko yang mana?" aku bertanya balik.


#Bersambung..


__ADS_2