Ruang misteri

Ruang misteri
Aku Teman Mu


__ADS_3

Kami pun pergi menemui Putri dan Puja, karena memang aku belum mengucapkan selamat kepadanya.


Pasti bakal di omelin nih, gumamku dalam hati.


" Selamat ulang tahun sahabatku. Semoga apa yang di semogakan terkabul yah." Ucapku sambil menyalam tangan Putri.


" Aminnn. Hadiahnya mana?" Jawabnya dengan nada memelas.


" Maaf yah, tadi aku lupa beli. Besok aku kasih deh. Aku janji." sahut ku.


" Haduh, bisa lupa yah. Aku sahabat mu loh. Apa kau tidak menganggap ku penting?" Tanya nya dengan nada kesal.


"Penting, penting banget malah. Maaf yah princess. Aku janji, besok ga bakal lupa." Balasku memohon.


" Udah, ini masih acara pesta. Jangan rusak mood kalian. Mending kita nikmati pesta nya." Ucap Tara yang mencoba menengahi.


" Iya, betul apa kata Tara. Lebih baik kita mencicipi kue yang sudah tersedia. Hehe." Sambung Puja sambil tersenyum.


" Haduh, pikiran mu memang penuh dengan makanan. Dikit-dikit pasti bahas makanan. Ayo lah kalau begitu." Sahut Putri.


Akhirnya kami memutuskan untuk menikmati suasana pesta.


Mulai dari makan kue, sampai bernyanyi gila gilaan di atas pentas yang sudah di sediakan om Hendra ( ayah Putri ).



Tak terasa hari sudah gelap, kulirik jam tangan ku sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Sata per satu tamu undangan pamit untuk pulang.


Hingga akhirnya tinggallah kami berempat.


Tiba tiba saja aku teringat kepada Jonggi.


" Put, dari tadi aku ga liat ayah mu." Ucap ku.


" Biasalah. Sibuk dengan dunianya yg penuh bisnis. Udah ah, gausah bahas itu." Sahut nya dengan nada sedikit kesal.


" Oh ya, kamu kenal dengan yang namanya Jonggi?" Tanyaku.


" Jonggi? Tidak, aku tidak kenal." Jawabnya sambil menggelengkan kepala.


Wajar sih dia tidak kenal, belum tentu semua yang datang itu adalah teman Putri.


Bisa saja itu adalah saudara, atau kerabat seseorang yang masuk dalam draft list tamu undangan.


" Pulang yuk." Ajak Tara.


" Iya nih. Gak enak kalo pulang terlalu larut. Bisa bisa dikirain yang keluyuran ga jelas." Sambung Puja.


" Yaudah. Kami pulang dulu ya princess." Ucapku sambil mencubit pipi Putri.


" Aduhh.. sakit tau. Iya hati-hati di jalan yah. Jangan ngebut ngebutan." Sahutnya sembari mengelus-elus pipinya.



Dalam perjalanan pulang aku hanya melamun.


Jonggi, ntah mengapa aku jadi kepikiran terus sama dia.


" Woii, melamun terus. Yang belum nikah bukan cuman kamu saja." Kalimat tara menhentikan lamunan ku.


" Siapa yang melamun? Aku hanya merasa letih." Jawab ku mengelak.


" Bentar lagi nyampek kok. Sabar aja." Ucap Puja sembari menyetir.


" Iya iya. Ga usah terlalu terburu buru." Sahutku.

__ADS_1


Akhirnya kami sampai di kost ku.


" Ga mampir dulu?" Tanyaku sambil turun dari mobil.


" Ga usah deh. Udah kemalaman. Next time aja ya." Sahut Tara.


" Yaudah, makasih yah. Hati hati di jalan." Ucap ku.


" Byeeee." Ucap mereka berdua.


" Byeeee." Sahut ku sambil melambaikan tangan ke arah mobil yang sudah mulai menjauh dari ku.


Akupun langsung masuk ke kamar kost ku dan langsung berbaring di kasur ku.


Rasa letih karena seharian berpesta membuatku ingin segera tidur.


Tak terasa aku pun terlelap.



Aku bangun dari tidur ku. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00 wib.


Dengan langkah gontai, aku pergi ke kamar mandi yang berada di luar kamar kost ku.


"Harus cepat nih. Soalnya sebelum berangkat ke kampus, aku harus membeli kado dulu." Ucap ku dalam hati.


Setelah selesai mandi, aku langsung bergegas berangkat menuju toko.


" Boneka aja deh, Putri kan suka boneka." Pikirku.




Sampailah di salah satu toko boneka di dekat kampus ku.


Aku langsung mencari boneka yang berukuran sedang, tapi harga nya harus murah.


" Eh, lagi cari boneka ya? Untuk pacar?" Sapa seorang pria yang berada di dekat ku.


" Hm, Jonggi kan? Iya nih, aku lagi nyari boneka. Tapi bukan buat pacar. Buat teman ku Putri, yang ulang tahun semalam." Jawab ku.


" Oh gitu ya. Kok baru sekarang beli boneka nya, Kan acaranya semalam?" Tanya nya, sambil tersenyum.


Ya tuhan, senyuman nya manis banget.


Aku ga bakal bosen lihat senyuman nya.


Ternyata dia bisa masuk dalam kategori pria tampan.


" Yun? Kok malah melamun sih? Aku tampan yah?" Ucap nya dengan nada menggombal.


" Ehh.. enggakk.. enggak melamun kok. Semalam aku lupa beliin dia kado. Dan janji bakal di beli sekarang." Ucap ku, dengan raut wajah malu karena ketahuan sedang memperhatikan nya.


" Hahaha. Iya deh, aku cuman bercanda. Sepertinya boneka itu cocok deh?" Ucapnya sambil menunjuk boneka Hello Kitty.


" Iya, aku juga mau ngambil ini." Ucap ku mengiyakan.




Aku pun langsung ke kasir untuk membayar boneka yang sudah ku rasa cocok untuk Putri.


Ku lihat Jonggi masih menunggu ku di pintu keluar toko.


Selesai membayar, aku langsung menghampiri nya.

__ADS_1


" Kamu tinggal di sekitar sini?" Tanya ku.


" Iyah. Biar dekat ke kampus." Ucap nya sambil mengatakan nama universitas yang sama dengan ku.


" Kuliah di situ juga? Aku juga mahasiswi kampus itu." Sahut ku.


" Oh ya? Bagus dong. Kita bisa lebih sering ketemu." Jawab nya.


Tiba\-tiba handphone ku berbunyi. Aku merogoh tas ku, dan mencoba mengambil handphone ku.


" Halo, kenapa Ra? Tanya ku pada Tara yang menghubungi ku.


" Kamu dimana? Bisa datang ke rumah sakit Pelita?" Sahut nya dengan terbata bata.


" Siapa yang sakit?" Tanya ku.


" Putri. Cepat lah, aku dan Puja sudah disini." Sahut nya.


" Ok ok. Aku kesana sekarang juga." Jawab ku sambil memutuskan telepon.


" Eh, aku pergi dulu yah. Ada urusan penting." Ucap ku kepada Jonggi.


" Iya, hati\-hati di jalan. Kapan\-kapan kita ngobrol lagi ya." Jawab nya.


" Ok. Byeee." Ucap ku sambil berjalan meninggalkan dia.


Ia hanya membalas dengan senyuman.


Senyuman termanis yang pernah ku lihat.





Sampai di rumah sakit, aku langsung menuju meja resepsionis dan langsung bertanya.


" Sus, pasien atas nama Putri Hendrawati dirawat di kamar berapa?" Tanya ku.


" Sebentar ya, saya cek dulu." Jawab suster sambil membuka sebuah buku yang ada di depan nya.


" Oh ini dia. Kamar VIP nomor 303 yang berada di lantai 3." Ucap nya .


" Ok, makasih ya sus." Sahut ku sambil berjalan ke arah lift.


Sampai di lantai 3, aku mencoba mencari kamar nomor 303. Setelah berjalan menyusuri gedung, akhirnya aku menemukan nya.


Aku langsung membuka pintu kamar itu, dan melihat Puja yang duduk di kursi yang disediakan untuk tamu pasien.


" Eh, kamu udah datang." Ucap Puja yang menyambut kedatangan ku.


" Iya, baru aja nyampek. Putri mana?" Tanyaku sambil masuk ke dalam.


" Itu, dari tadi dia mengigau. Dan tak henti memanggil nama mu." Ucap nya sambil menunjuk ke arah Putri.


Aku mencoba melihat lebih dekat ke arah yang di tunjuk .


Astaga. . . .


Apa itu? ? ?


Aku tidak salah lihat bukan? Tidak, tidak mungkin aku salah lihat.


Ini nyata, apa yang ku lihat sekarang memang nyata.


Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan kepada hamba mu ini?

__ADS_1



BERSAMBUNG.


__ADS_2