
Delapan Bulan setelah Aku melahirkan...
Kita pindah ke daerah BDN, dekat Pasar Pondok Gede.
Kita pindah ke kontrakanan punya paman.
Beliau menyuruh kita menempati kontrakan miliknya yang waktu itu kosong (tak berpenghuni).
Saat itu kita mencoba tanya harga, "Berapa rupiah yang harus kita bayar jika kita mengontrak disini?" beliau jawab, "Sudah, tempati saja dari pada kosong. Kalian tidak usah membayar."
Paman kemudian memberikan dua kunci, "Terserah kalian mau menempati yang mana, lagian semuanya kosong."
Kita menuju rumah kontrakan.
Sesampainya dikontrakkan. Kita milih rumah yang berukuran sedang, padahal rumah satunya lumayan agak besar.
Kita mendekat ke rumah yang berukuran sedang.
Mas Aji mencoba membuka pintu yang terkunci, "jeklek.., kreot..." terdengar suara pintu yang terbuka. Kita masuk kerumah yang lama tidak dihuni.
Tak lama bulu kuduk kiang meremang, ditambah hawanya yang panas, membuat aku tidak nyaman.
Tak lama, Mas Aji pergi. Katanya mau ada keperluan.
Setelah menidurkan bayiku (Lala) diranjang. Aku pun bersih-bersih rumah dan merapikan beberapa pakaian.
Azan Maghrib berkumandang. Aku sholat dikamar.
Lala masih terlelap tidur diranjang ayunnya.
Sholatku terganggu karena mendengar suara, "Krek... Krek... Krek... ,"
Setelah sholat Maghrib, aku mengaji.
Tak lama badan berasa kian dingin, rambut kepala seperti berdiri (seperti difilm-film kalau ada orang kesetrum terus rambutnya berdiri) dan Lala menangis dengan sangat hebat.
Aku letakkan Al Qur'an dan mukenah diatas sajadah dan aku langsung menggendong Lala, tapi tangisannya tak kunjung berhenti, tak biasanya Lala menangis sehebat ini.
Lantas aku bersholawat dan tak lama Lala kembali terlelap..
Hampir setiap hari terjadi hal seperti ini.
Aku mengaji, badan terasa dingin, rambut naik keatas dan Lala menangis hebat.
Singkat cerita...
Tiba dimalam jumat pertama.
Tengah malam aku terbangun. "Hoam.., malam jumat," gumamku tersenyum.
Aku sholat malam dan setelahnya mau membangun Mas Aji untuk ....
Tapi sebelum Mas Aji terbangun, aku ingin terlihat cantik.
Aku duduk didepan meja rias. Dihadapan cermin aku berdandan, "Hm.., udah cantik gini, pasti Mas Aji suka." gumamku dalam hati.
Aku beranjak ketempat tidur, berbaring disebalah Mas Aji.
Belum sempat aku membangunkan Mas Aji. Terdengar suara, "Krek... Krek... Krek...," dari arah belakang.
__ADS_1
Aku langsung ketakutan dan menutup wajahku dengan bantal. Aku hanya berdoa dalam hati dan tak terasa aku pun terlelap.
Azan Subuh berkumandang. Aku terbangun dengan perasaan sedikit kesal.
Aku goyangkan tubuh Mas Aji, Mas Aji terbangun dan terkejut kala melihat wajahku.
"Masya Allah cantiknya istriku," sanjungnya membuatku tersipuh malu.
*Hehee ia Mas, sisa make-up semalam." terangku tersipu malu. "Tapi aku bingung Dek, bibirmu yang mana?" tanya Mas Aji membuatku penasaran, "maksudmu apa mas?" tanyaku. "Lipstikmu blepotan, hampir menutup semua muka." ucapnya tertawa.
Aku yang penasaran bangun dari ranjang dan menuju tempat rias untuk bercermin. Aku terkejut kala melihat wajahku dicermin, "semalam cantik kaya bidadari, tapi sekarang malah mirip Joker." gumamku dalam hati.
Pada hari Sabtu atau malam minggu. Mas Aji pergi kerumah kakaknya. Aku dan Lala ditinggal dirumah.
Pukul 8 malam Lala menangis. Aku mencoba menenangkan dia dan membawanya keluar kamar. Tepat diluar dari kamar adalah ruang tamu.
Aku mencoba lagi menenangkan Lala disitu.
Pintu kamar terbuka. Sambil mencoba menenangkan Lala, aku terpaku melihat antara dua tembok kamarku, aku lihat ada putih-putih bergerak, tapi gerakannya tak beraturan dan disertai suara, "Krek... Krek... Krek...." Sosok putih hanya tulang, "Hah.., tengkorak!" gumamku dalam hati. Aku takut melihat sosok tersebut yang semakin mendekat. Aku berdoa dalam hati dan meminta pertolongan kepada-NYA.
Tak lama terdengar suara mengetuk dari pintu depan, "Tok tok tok" aku mendekat kearah pintu dan melihat dari balik jendela. Hordeng ku buka, terlihat sosok Bu Endang berdiri didepan pintu rumah, "Alhamdulillah..." dalam hati kecilku bersyukur.
Bu Endang ku persilahkan masuk dan beliau mengambil Lala lantas menggendongnya.
Aku penasaran sama sosok tengkorak, aku kembali melihat kearah kamar, "Alhamdulillah, sosok tengkoraknya sudah tidak ada."
Lala berhenti berhenti menangis dan dia tertidur. Tak lama Bu Endang pun pamit pulang.
Sambil menunggu Mas Aji pulang, aku tidur diruang tamu.
Pukul 12 malam Mas Aji pulang.
"De, kenapa kamu tidur disini?" tanya Mas Aji. Aku menjawab "Ia Mas, aku sengaja tidur disini karna menunggu kamu pulang."
Aku berjalan kekamar mandi untuk ambil wudhu.
Setelah ambil wudhu aku balik lagi kekamar untuk sholat malam (tahajjud).
Waktu itu Mas Aji sudah terlelap.
Ku hamparkan sajadah dan ku kenakan mukenah. "Allahu akbar," ucapku sambil sedekap mengawali sholat.
"Krek... Krek... Krek...." terdengar lagi suara tersebut, datangnya dari arah belakang.
Aku mempercepat sholat. "Assalamualaikum," ucapku tengah salam dan terlihat ada sosok tengkorak dibelakang. "Assalamualaikum." salam kedua dan sekarang sosok tersebut berdiri tepat dibelakangku.
Aku mengusap wajah untuk mengakhiri sholat. Tanpa berdzikir dan berdoa, aku langsung lari keranjang Lala untuk mengambilnya.
Sambil mendekap erat Lala, aku merebahkan badan disamping Mas Aji.
Aku menutup mata sambil berdoa dan tak sadar aku pun tertidur.
Keesokan harinya kita memutuskan untuk pindah kerumah sebelah, rumah yang agak besar dari rumah yang kita tempati sekarang.
Dirumah ini terasa lebih menyeramkan dari pada rumah yang kita tempatin kemarin.
Selang beberapa hari, rumah yang ada disebalah atau rumah yang kita tempati waktu itu ada yang pakai (ngontrak).
Namanya Pak Tomid dan Bu Asih. Mereka memiliki dua anak yang masih kecil. Umur anaknya yang paling besar 8 tahun, namanya Andi. Sedangkan yang kecil berumur 5 tahun, namanya Sari. Pak Tomid adalah penjual telur asin keliling, sedangkan Bu Asih dirumah dengan kedua anaknya.
__ADS_1
Malam ini adalah malam pertama mereka tinggal dirumah tersebut.
Pak Tomid, Bu Asih dan Andi sedang berada diruang tamu, mereka sedang menonton TV. Sedangkan Sari dikamar sendirian sambil main boneka.
Tak berselang lama Sari teriak, "A...," dia berlari menuju ruang tamu tempat Ayah, Ibu dan Kakaknya berada.
Sari menangis ketakutan. Pak Tomid mencoba bertanya, "Ada apa Sari? Kenapa Kamu menangis?" tanya Pak Tomid sambil mengusap air mata Sari.
"Teng... Teng... Tengkorak Yah," ucapnya terbata-bata.
"Ngawur aja, mana ada tengkorak. Ada juga siluman harimau," ucap Andi sambil merangkak mendekati Adiknya yang tengah menangis.
"Hust.., Andi, gak boleh." seru Bu Asih melarang. Andi hanya tersenyum dan kembali ketempat duduknya.
Bu Asih mencoba menenagkan Sari dan ia tertidur.
Awalnya mereka tidak percaya dengan apa yang dilihat Sari.
Sampai malam berikutnya terjadi sesuatu sama Pak Tomid.
Pada malam berikutnya, Pak Tomid ingin pergi ketempat Agen telur asin. Tapi badanya terasa berat, dia pun merebahkan anggota tubuhnya di atas kursi yang berada diruang tamu. Sedangkan Istri dan anaknya sudah terlelap dikamar mereka masing-masing.
Alih-alih menghilangkan letih, Pak Tomid malah ketiduran.
Pukul 4 pagi Pak Tomid terbangun. Dia kaget dan teriak memanggil nama Istrinya, "Asih... Asih... Asih...".
Bu Asih mendengar teriakan suaminya, dia langsung berdiri dari tempat tidur dan berjalan membuka pintu. Bu Asih berjalan menuju ruang tamu.
Sesampainya diruang tamu Ia mengangah kaget, karna melihat suaminya tengah telanjang.
"Bu, pakaian Bapak kemana?" tanya Pak Tomid. 'Ibu tidak tahu, memang Bapak tadinya pakai baju?" tanya balik Bu Asih.
"Bapak tadi memakai pakaian lengkap, awalnya mau kerumah agen, tapi bapak tertidur." jelas Pak Tomid. Bu Asih hanya menggelngkan kepala.
Esok harinya Pak Tomid tidak pergi untuk berjualan, karena dia tiba-tiba demam.
Bu Asih mampir ke rumah dan menceritakan keanehan yang terjadi tersebut.
Aku mendengarkan keluhan Bu Asih dan dia balik bertanya kepadaku.
Aku pun menjelaskan keanehan yang terjadi sewaktu menunggu rumah tersebut kepada Bu Asih.
Aku diam sejenak, lantas menceritakan keanehan dirumah ini.
"Pernah aku lihat ada sosok nenek-nenek duduk dikursi ruang tamu." ucapku.
"Jadi tidak rumah itu saja, rumah ini juga sama?" tanya Bu Asih dan aku hanya mengangguk.
Malam ini adalah malam jumat yang kedua, tapi dengan rumah yang berbeda.
Malam jumat adalah malam yang indah, bagi mereka yang sudah berkeluarga.
Lala terlelap diranjang ayunannya, sedangkan Mas Aji tidur diranjang sebelahnya.
Sebelum aku membangunkan Mas Aji untuk ... Aku menuju Cermin dan berniat untuk mempercantik diri.
Sedang asik memakai make-up dan menyisir rambut. Terlihat dari pantulan cermin, ada sosok tengah berdiri. Dia memakai kain putih seperti kerudung, tapi dibagian wajahnya berwarana hitam (mirip pakaian suster atau biarawati). Wajahnya putih pucat, lingkar matanya hitam. Dia melihat kearahku sambil melotot.
Aku lari dan langsung naik keatas ranjang. Aku langsung menarik selimut dan menutupi semua anggota tubuhku.
__ADS_1
Malam Jumat yang istimewa untuk kedua kalinya pun.., gagal.
#Bersambung..