Ruang misteri

Ruang misteri
AKU TEMAN MU


__ADS_3

Ana,, bangun. Apa yg terjadi padamu?"Suara ayah menyadarkan ku.


"Ayah, kau kah itu?" Perlahan aku mulai bangkit dari tempat ku.


"Saat tiba di rumah, ayah memanggilmu. Namun tak ada jawaban. Ayah berkeliling, dan menemukan mu disini." Jelas ayah


"Ayah.. Aku takut sekali." Ucapku sambil memeluk ayah.


Air mataku tak dapat ku tahan. Pemandangan yg kulihat tadi, seakan tak bisa lepas dari pikiran ku.


"Ada apa? Cerita pada ayah" ucap ayah ku.


"Tadii...."


"Kringgggggg"


Belum sempat aku cerita, hp ku sudah berbunyi. Ku coba melihat siapa yg menghubungi malam² begini.


Ternyata Yuni, tumben dia menelfon ku jam segini.


"Halo Yun" ucap ku di hp.


"Iya Om... Iya Om. Baik om, tunggu sebentar ya om"


"Ayah, papa teman ku mau bicara.", Ucap ku sembari memberi hp kepada ayah.


"Halo. Ada apa? Kenapa aku harus melakukan itu? Kemana? Sekarang? Ok ok baiklah" Ucap ayah, dengan nada takut sambil mematikan telfon.


"Ada apa ayah?" Tanyaku.


"Ayo kita pergi. Nanti ayah cerita setelah kita sampai." Ucap ayah yg langsung menarik tanganku ke luar rumah.


Kami langsung naik ke mobil. Aku hanya berdiam diri, melihat orang² yg berkendara dari kaca jendela.


Ku lihat, raut wajah ayah sangat serius. Ntah kemana ia membawa ku. Setidaknya, aku merasa saat ini aku aman bersama ayah.


"Sabar ya, bentar lagi kita sampai." Ucap ayah, memecahkan kesunyian.


"Iya. kita mau kemana emang nya yah?" Tanyaku penasaran.


"Kerumah teman mu. Yang tadi nelfon, ayah nya meminta kita kesana secepat mungkin." Jelas ayah ku.


Aneh, kenapa ayah Yuni tiba² menyuruh kami datang. Bukan hal biasa untuk bertamu ke rumah orang malam² begini.


Ahk, nanti juga aku tau, Pikirku.


Tak lama kemudian, kami sampai di rumah Yuni. Ku lihat di depan pagar, mereka sudah menunggu kedatangan kami.


"Akhirnya kalian sampai juga. Ayo masuk" , ucap ayah Yuni yg menyambut kami.


Kami pun masuk, dan berkumpul diruang tengah. Kulihat kecemasan dalam raut wajah mereka.


"Pa, aku akan menemani Rini dan keysa ke kamar nya. Mereka sudah ngantuk." Ucap ibu Yuni.


Tinggallah kami berempat di ruangan itu. Yuni, seperti enggan untuk melihat ku. Aku tak tau kenapa, tapi aku merasa ia tidak seperti biasanya.


"Apa yg ingin anda ceritakan ?" Tanya ayahku memecah keheningan di antara kami.


" Begini, kedua anak kita dalam bahaya. Istri mu memberitahu aku bahwa ada mahluk yg ingin mencelakai mereka." Jawab ayah Yuni.


"Om ga bohong? Ibuku sudah lama meninggal" ucap ku yg merasa tidak percaya.


"Aku tau itu. Luna, itu nama ibu mu bukan? Dia memiliki lesung pipi, dan ada sedikit bekas goresan di bawah alis mata kiri nya" Jawab ayah Yuni.


Sontak jawaban nya membuat aku dan ayah ku terkejut. Apa yg dia katakan tentang ibu ku, semua nya benar. Bagaimana dia bisa tau? Gumamku dalam hati.


" Tuhan memberi ku anugrah, aku memiliki kemampuan unik. Indigo, mungkin itu kata yg tepat untuk ku." Ayah yuni mencoba meyakinkan kami.


Penjelasan nya menjawab keraguan ku.


"Apakah ibu ada di sini?" Tanyaku.


" Ya, dia datang bersama kalian. Sekarang dia di sini bersama kita." Jelas ayah yuni.


"Jadi, mahluk apa yg mengincar putri kita? Dan mengapa dia melakukan nya?" Tanya ayah ku.


"Untuk pertanyaan ini, mungkin Ana bisa menjawab nya" jawab ayah Yuni.


"Ha. Aku ? Kenapa aku om? Aku ga tau" jawab ku heran.


" Bukan kah kau telah mengizinkan mereka memasuki mu?" Ucap ayah Yuni.


Seketika aku teringat. Ya, aku memang sudah mengizinkan dia masuk. Tapi aku ga tau kalau yg masuk bukan cuman dia saja. Aku hanya ingin menolong, apa itu salah?


Ekspresi wajah ku mungkin sudah menjawab pertanyaan ayah Yuni. Aku yakin, dia memang sudah mengetahui nya.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kau berbuat seperti itu nak?" Tanya ayah ku, ku lihat ia meneteskan air mata.


" Aku hanya ingin menolong ayah. Aku tidak percaya kematian kak Andini adalah sebuah kecelakaan. Disekolah, aku selalu melihat arwah kak Andini. Raut wajah nya sangat sedih ayah. Tapi aku hanya bisa melihat saja. Aku tidak bisa melakukan apa². Bahkan untuk berkomunikasi dengan nya pun aku tak bisa." Jawab ku sambil menangis.


"Andini? Kak? Apa maksud mu, andini adalah kakak mu?" Tanya Yuni, setelah lama terdiam, akhirnya dia berbicara .


"Iya yun, dia kakak ku. Hanya dia saudara yg ku punya. Makanya kemaren sewaktu kau bilang dia meminta pertolongan mu, aku langsung membawa mu ke ruang laboratorium." Jawab ku.


"Saya tidak bisa mencerna pembicaraan ini. Luna, Andini mereka sudah meninggal. Bahkan aku tak tau harus percaya atau tidak." Ucap ayah ku.


"Memang akan terasa sulit untuk percaya. Tapi satu hal yg harus kau yakini, kami tidak berniat jahat. Hanya ingin membantu, agar putri kita bisa selamat." Ucap ayah Yuni.


" Cara nya?" Tanya kami serentak.


" Besok kita lanjutkan, ini sudah terlalu larut. Kalian menginap lah di sini, sampai semuanya beres." Ucap ayah yuni.


Ku lihat memang sudah pukul 23.30 wib. Kami memang perlu istirahat, apalagi mengingat masalah yg harus kami hadapi besok.


Tak terasa pagi sudah menyapa. Usai sarapan, ku lihat adik² Yuni diantar ibu nya ke sekolah.


Hari ini, aku dan yuni tidak sekolah. Ayah nya melarang kami pergi.


Kami berkumpul di ruang tamu, membahas tentang cara menghentikan semua ini.


"Yun, kau pernah melihat mahluk itu?" Tanya ayah, sekaligus membuka percakapan.


" Pernah. Aku tidak akan pernah bisa melupakan nya" ucap Yuni.


" Bagaimana bentuk nya?" Tanya ayah.


" Tinggi,, hitam, matanya merah dan gigi² nya terlihat sangat tajam ayah." Jawabku .


"Aku juga melihat dia." Potong Ana dengan suara lantang.


" Dimana?" Ucap ayah ingin tau.


" Aku melihat nya di rumah. Di dalam kamar yg dulu kakak andini pakai. Tapi dia tidak sendirian, dia bersama kak andini. Aku melihat dia mencekik kak andini." Jawab ku .


"Sudah ku duga. Mahluk yg kalian lihat itu ada Genderuwo. Mahluk itu hanya akan bertahan jika ada seseorang yg memelihara nya." Ayah yuni mencoba menjelaskan.


"Pelihara?" Tanya ku .


" Ya, pelihara. Memberi dia makan, menyediakan tempat tinggal nya. Layak nya kita memelihara hewan." Jelas ayah Yuni.


"Berarti andini adalah salah satu korban nya?" Tanya ayahku dengan nada iba.


Kami berempat terdiam, saling menatap satu sama lain. Seolah berfikir dan mencoba mengumpulkan setiap kemungkinan yang ada. Ntah mengapa, tiba² aku tersadar akan sesuatu. Ya aku tau.


" Bagaimana kalau kita menyelidiki ruang laboratorium om?" Tanya ku ke ayah Yuni.


" Kenapa harus disana?" Dia balik bertanya.


" Itu ruang yg di segel ayah. Disanalah awal mula ini semua terjadi padaku." Jawab Yuni, terlihat dia mengerti apa yg sedang aku fikirkan.


" Iya om, dan di sana juga aku sering meliha Kak Andini." Lanjut ku.


" Tidak sembarangan melakukan itu. Kita harus memiliki surat izin." Ucap ayah.


" Baiklah, kita akan menyelediki nanti. Setelah proses belajar mengajar usai. Aku yg akan mengurus surat izin dari kantor polisi." Jawab ayah Yuni.


Aku baru ingat kalau ayah Yuni seorang polisi. Pasti bukan hal yg sulit untuk mengurus surat izin. Apalagi kedudukan nya sudah termasuk tinggi di kepolisian.


Setelah sepakat, kami berempat bubar. Mengerjakan kesibukan masing².


Ku lihat ayah ku bergegas pergi bekerja, begitu juga dengan ayah Yuni. Alhasil, tinggal kami berdua dengan Yuni.


Daripada bengong, kami membagi tugas untuk memasak, mencuci piring dan menyapu rumah. Setidaknya, ibu Yuni akan merasa sedikit terbantu.


PROV


YUNITA


Capek juga ternyata. Pantas saja ibu sering marah jika adik² ku mengotori rumah. Aku dan ana saja hampir kewalahan, walaupun akhirnya selesai juga. Mudah²an ibu senang, pikir ku.


Aku mendengar suara mobil ibu memasuki garasi. Aku dan Ana pergi keluar untuk memastikannya.


" Bu, rumah sudah bersih kinclong." Ucap ku sambil mengangkat ibu jari ku.


" Oh, terimakasih." Ucap ibu sambil mengiring adik² ku turun dari mobil.


" Bagaimana sekolah nya?" Tanyaku pada mereka.


"Capek" jawab mereka serentak.


Lantas kami tertawa setelah mendengar jawaban dari mereka.

__ADS_1


" Ma, aku udah lapar." Ucap keysa manja.


" Yaudah ayo makan, kak Yuni dan kak Ana sudah memasak makanan paling lezat seantariksa." Ajak ku sambil berjalan ke arah dapur.


Ibu dan Ana tertawa mendengar omongan ku. Kami pun langsung menuju dapur.


Sambil menikmati makanan, kami bercanda seperti biasanya. Ku lihat, Ana tidak terlalu canggung berhadapan dengan ibu. Mereka terlihat akrab.


Melihat suasana ini, aku merasa sangat bahagia. Canda tawa yg menemani kami, membuatku melupakan bahaya yg sedang mengancam aku dan Ana.


Selesai makan, kami mencari kesibukan masing². Mencoba mencari kegiatan yg membuat aku lupa akan semua masalah ini.


Tak terasa hari sudah petang, Ku lihat ayah baru saja pulang. Kami menyambut nya dengam senyuman indah.


"Ana, ayah mu belum datang?" Itulah


kalimat yg pertama keluar dari mulut ayah.


"Belum om." Jawab Ana.


"Coba telfon, bilang kalau kita tidak boleh berangkat terlalu larut." Ucap ayah.


Belum sempat Ana menelfon, ayah Ana sudah datang.


"Maaf, kerjaan di kantor memaksa ku pulang telat." Ucap ayah Ana.


" Tak apa, aku juga baru saja tiba." Jawab ayah.


" Makan lah sebelum kalian berangkat." Ucap ibu .


"Ok. Mari makan. Perut juga perlu persiapan bukan?" Ucap ayah ku sambil tersenyum.


Setelah selesai makan. Kami langsung bersiap siap. Segala keperluan untuk penyelidikan sudah di masukkan kedalam bagasi mobil. Ayah tidak memperbolehkan ibu dan kedua adikku ikut, Untuk alasan keselamatan.


Setelah dipastikan tidak ada yg tertinggal, kami pun berangkat.


Cukup hening, tak ada di antara kami berempat yg membuka topik pembicaraan. Kami hanya diam, bergulat dalam fikiran masing² tentang apa yg akan kami temui di sana.


Akhirnya sampai juga.


Kami langsung turun dari mobil. Hanya pak Tarno lah yg menyambut kedatangan kami, beliau adalah satpam sekolah ini.


"Ada apa pak?" Tanya pak tarno yg kelihatan sedikit heran.


" Kami perlu menyelidiki ruangan di sekolah ini." Jawab ayah ku, sambil menunjukkan surat izin dari Kantor nya.


" Baiklah kalau begitu. Tapi saya tidak perlu ikut ke dalam kan?" Tanya pak Tarno.


"Tidak. Tidak usah. Itu bisa berbahaya" jawab ayah tenang.


Kulihat Ayah dan Om ana langsung mengambil semua peralatan yg ada di bagasi. Kami berempat langsung memasuki gedung sekolah. Melewati ruangan demi ruangan, dan akhirnya sampai ke ruang laboratorium.


Tapi ada yg berbeda, tidak seperti biasanya. Pintu ruangan ini terbuka. Tidak kelihatan ada segel.


Sekilas Wajah Ana juga terlihat memancarkan rasa heran. Dia juga memikirkan hal yg sama .


Ada yg telah membuka ruangan ini.


Terlihat ruangan ini begitu seram, tak ada sedikit pun pencahayaan. Gelap, Gelap dan gelap.


Aku heran, mengapa sekolah sebesar ini tidak mampu mengganti lampu ruangan ini.


"Brassshhhh..."


Suara dari dalam ruangan seakan menyuruh kami pergi. Seperti suara bangku yg dihempaskan .


"Ayo kita masuk" Ucap ayah, sambil melangkah ke dalam.


Kami pun masuk, belum jauh melangkah kedalam. Kami sudah disuguhkan pemandangan yg mengerikan.


"Ayaahhhh.. aku takuttt" ucap Ana sambil memeluk ayah nya.


Sementara aku, ayah dan om ana hanya terpaku memandang apa yg berada tepat di depan kami.


Ya Tuhan, apa ini nyata? Jika ini mimpi, seseorang tolong bangunkan aku segera.


"Hahahahaahahahahahaahahah" terdengar suara dengan nada yg sangat berat.


Seketika pula pintu ruangan tertutup kencang.


"Mati Lah... Hahahaha."


Aku melihat nya, dia di sana. Dia tidak sendirian. Bukan..bukan.. maksud ku bukan dia..


Tapii merekaa. Tidakkkkkk.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2