Ruang misteri

Ruang misteri
Hunian Lelembut


__ADS_3

Sekarang aku sudah punya 4 anak.


Saat si bungsu berusia 2 tahun, aku dan Mas Aji bercerai karna sudah tidak ada kecocokan lagi diantara kami.


Walau sudah tidak ada Mas Aji aku tak merasa kesepian, karena ada banyak orang yang main.


Waktu itu Tanto baru lulus SMA. Dia mau menginap dirumah ini.


Sore hari Tanto datang. Tapi, dia tidak sendirian. Tanto membawa 4 orang temannya, sebut saja nama 4 orang tersebut... Rendi, Syarif, Mahmud dan Roif. keempatnya ingin ikut bermalam dirumah.


"Assalamualaikum..." serontak mereka berucap.


"Walaikumsalam..." teriakku sambil menggendong si bungsu mendekat kearah gerbang.


Gerbang aku buka dan mengajak mereka untuk masuk kerumah.


Sambil melepas sandal, satu persatu dari mereka masuk. Tiba giliran Rendi masuk, dia langsung tersungkur dilantai.


Teman-temannya khawatir dan langsung mendekat. Tapi, tubuh Randi terangkat, dia merangkak sambil mengaum seperti harimau.


"Apa sing sampeyan lakoni neng kene?" (Ada perlu apa kalian datang kesini?) tanya Randi dengan nada menggemah


"nuwun mbah, bocah-bocah kie mung pengin grapyak!" (Maaf Mbah, Anak-anak ini hanya ingin silaturahmi) jawabku.


Aku pun bergumam, "Padahal dijakarta, tapi hantunya pakai bahasa jawa," Tak lama kemudian Randi langsung tersadar.


Randi yang habis kesurupan malah diketawain sama temannya.


"Kok Kamu bisa lengah gitu Ran?" tanya Tanto sambil tertawa.


Awalnya aku bingung dengan mereka, tapi aku mengerti setelah menyaksikan ulah mereka yang memanggil beberapa makhluk untuk dimediumisasi.


Rupanya mereka bukan anak biasa, mereka mengerti akan hal ghaib.


Awalnya aku sedikit takut, tapi ternyata tak seperti yang aku duga.


"Randi, kamu yang jadi medium," perintah Mahmud.


"Enak Aja. Kamu aja Mud, Aku kan tadi sudah kesurupan?!" tolak Randi.


Randi tak mau dan menolak perintah Mahmud. Tapi, setelah dibujuk sama semuanya, dia pun mau jadi medium.


Randi duduk bersilah, Mahmud duduk disampingnya setengah jongkok. Tangan kiri Mahmud megang tengkuk Randi, sementara tangan kanan seperti menarik sesuatu dan dimasukan ketubuh Randi.


"Hihihihihi..." Randi tertawa cekikikan, sementara tangannya seperti orang menyisir rambut, padahal Randi botak.


Kita yang lihat setengah tertawa. Mahmud mencoba berintraksi sambil menahan ketawanya.


"Maaf, kalau boleh tanya. Dengan siapa saya berbicara?" tanya Mahmud.


"Aku... Siti Mas," ucap Randi lirih.


"Mbak siti meninggalnya kenapa?" tanya Mahmud kembali.


"Aku ora ngerti kowe ngomong opo..?" (Aku tidak mengerti kamu ngomong apa..?)


Mahmud bingung, karna dia tidak mengerti bahasa jawa.


Aku menawarkan diri untuk mencoba bertanya. "Kalau jawa, biar Mbak Dewi saja," ucapku sambil melangkahkan kaki dan duduk didepan Randi.


Aku mencoba bertanya, "Opo'o mbak siti iso mati?" (Kenapa Mbak Siti bisa meninggal?)

__ADS_1


"Aku mati soale diperkosa!" (Aku meninggal karna diperkosa!)


"Tapi sampean kok iso guyu ngono? (Tapi kamu kok bisa ketawa gitu?)


"La, terus wong enak si!" (La, habis enak si!)


Aku bertanya sambil menerjemahkan ke mereka. Mereka tertawa mendengarkan apa yang aku jelaskan.


Aku mencoba bertanya kembali.


"Nak enak, piye kok iso mati?" (Kalau enak, kenapa sampai meninggal?)


"Yo... sebabe pegel diperkosa wong lanang 7. Aku mlaku sampek miring-miring. Terus mlebu sumur sampek mati!" (Ya... Sebabnya capek diperkosa 7 lelaki. Aku jalan sampai miring-miring. Terus, masuk sumur sampai meninggal!)


Kita tertawa, sampai aku berhenti tuk bertanya.


Sedikit demi sedikit menghentikan tertawa, aku kembali bertanya.


"Mbak siti manggone nang di?" (Mbak Siti tempatnya dimana?)


"Nang duwure lemari," (Diatas Lemari)


"Lapo kok nang duwure lemari?" (Kenapa milih tempat diatas lemari?)


"Enak. Yo sikilku iso tak goyang-goyang no, lan nang kono onok mas Ocong...." (Enak. Kakiku bisaku ayun-ayunkan, dan disitu ada Mas Ocong....") jawabnya sambil tertawa.


"Udahlah, udah keluarin. Aku capek ketawa terus," ujarku dan Mahmud mengambil alih untuk menyembuhkan Randi.


Randi sadar. Mereka berdua duduk kembali dikursi Tamu.


"Ayo... Siapa lagi?" ujar Tanto setangah teriak dan berdiri dari tempat duduknya.


"Hah? Siapa lagi. Maksud kamu apaan To?" tanyaku. "Ia Mbak, malam ini Kita sengaja kesini mau mainan kayak gini," terang Tanto membuat aku menggelengkan kepala.


Roif duduk bersilah, sementara Tanto melakukan seperti yang Mahmud lakukan sebelumnya.


Tiba-tiba Mata Roif terbelalak. Matanya menatap tajam kearah kita.


"Ada apa kalian memanggilku?" ucap Roif dengan nada menggemah.


"Kita mau minta nomor Mbah," ucap Syarif. Kita semua langsung melirik ke arah Syarif dengan wajah geram.


"Ia... Ia, maaf aku bercanda," ucapnya sambil tertawa dan menggaruk rambut belakangnya


Roif tersadar. Rupanya sosok tersebut keluar dengan sendirinya.


Kita semua melirik kearah Syarif, seolah menyalakan dia.


"Syarif sini kamu!" ujar Tanto sambil melotot dan menyuruh Syarif menggantikan posisi Roif.


Syarif duduk bersilah, sedangkan Roif kini duduk dikursi tamu.


Tanto memulai mediumisasi.


"Dengan siapa saya berbicara?" tanya Tanto


"Abdi henteu ngartos naon anu dicarioskeun!"jawab Syarif dalam Bahasa Sunda.


Anto melirik kekanan dan kiri, tapi kita memang tidak ada yang mengerti.


Akhirnya Tanto melanjutakan bertanya.

__ADS_1


"Sareng Saha Urang nyarios?" (Dengan siapa aku berbicara?)


"Sareng Nini Singgih. Eh dor... Rewas simabdi!" (Dengan Nini Singgih. Eh dor... Kaget aku) ucapnya kala dengan ada suara petasan. "Setan saja bisa Latah," gumamku dalam hati.


Aku tidak tahu kalau Tanto bisa Bahasa Sunda, entah siapa yang mengajarinya. Walau aku tidak mengerti, tapi kita mendengarnya gak enak. Mungkin Tanto pakai bahasa Sunda kasar? Entahlah... Aku tak mengerti.


Walau kita tidak begitu mengerti, tapi kita dibuat tertawa oleh ulah si setan Latah.


Melihat yang merasuki tubuh Syarif seperti itu. Tanto sedikit iseng.


"Ni...." panggil Tanto sambil memoncongkan bibir dan mendekat seolah ingin mencium.


"Monyong... Eh monyong," ucap Syarif latah. Sejenak kita tertawa.


Tanto lanjut bertanya.


"Linggih Nini timana?" (Tempat Nini dimana?)


"Linggih Abdi ti pawon!" (Tempat Aku didapur)


"Eh, dor deui. Ih rewas, ulah sok ngagawean budak kolot. (Eh, dor lagi. Ih kaget, jangan ngerjain orang tua) ucapnya ketika aku iseng ngangetin dia dari belakang.


Malam ini aku dibuat ketawa sama ulah mereka. Aku tertawa sampai mengeluarkan air mata dan memegang perut, "hadeuh".


Setengah tertawa, Tanto lanjut bertanya.


"Kunaha Nini bisa maot?" (Kenapa Nini bisa meninggal?)


"Katabrak becak!" (Ketabrak Becak)


"Pan katabrak becak bisa maot?" (Ketabrak becak kok bisa meninggal?)


"Nya, pun mentas katabrak becak haju kena jalan gede, haju kageleng trek." (Ia, habis ketabrak becak jatuh kejalan raya, terus terlindas truk.)


Kita tertawa hebat mendengar cerita Nini Linggih yang merasuki tubuh Syarif. Aku sampai megang perut dan menundukan kepala saking hebatnya aku tertawa.


"Ngiring jeung Abdi daek teu Ni? Ngkin ku Abdi pasihan linggih piken Nini?" (Ikut Aku mau gak Ni? Nanti Aku kasih tempat buat Nini?)


"Alim ah, entos betah di rompok... Hao... Hao... Hao... Mastakana muter-muter. Eh ragag, eh ragag." (Aku tidak mau, Aku betah dirumah... Hao... Hao... Hao... kepalanya muter-muter. Eh copot, eh copot.)


Kita tertawa lagi karna melihat keisengan Tanto yang memutar-mutarkan kepalanya dan langsung menjatuhkan kepalanya kesebelah kanan. Membuat Nini Lingih berhenti bercerita dan kembali Latah.


"Atuh ngges Nini kaluar nyah?" (Ya udah, Nini keluar ya?)


"Muhun." (Iya.)


Nini Linggih keluar dan Syarif kembali sadar. Kita akhiri mediumisasi. Karna waktu sudah hampir tengah malam, tapi kita belum makan. Kita pun makan.


Setelah makan, mereka mulai aksinya menarik makhluk ghaib, tapi aku tidak ikut karna mengantuk.


Pagi pun tiba. Mereka sudah pulang ketika habis shubuh.


Seperti biasa, kegiatan awal nyapu halaman.


Tak lama Bu Asri datang menghampiriku. Beliau bertanya.


"Tadi malam kalian main apa?" tanya Bu Asri dengan nada melengking.


"Gak bu, kita gak ngapa-ngapain kok!" jawabku singkat.


"Gak usah bohong. Pulangkan Ibunya yang kalian tangkap tadi malam. Anaknya nangis dan mengaduh kepadaku," ucap Bu Asri tegas.

__ADS_1


"Ya... Ketahuan," gumamku dalam hati.


__ADS_2