Ruang misteri

Ruang misteri
Aku Teman Mu


__ADS_3

Apakah ini takdir yang Kau gariskan? Mengapa kehidupan begitu rumit.


Saat aku masih tetap menatap ke arahnya, tiba-tiba ia memalingkan wajahnya ke arah ku.


Untuk beberapa detik kami saling memandang, dan berakhir dengan senyuman manis yang terpapar di wajahnya.


Jleebbbb....


Jantungku serasa berhenti berdetak, saat melihat senyuman itu.


Aku tidak sempat membalas senyuman itu, karena ia langsung memalingkan wajahnya kembali ke pemandangan sekitar.


" Yun, pantes kamu liatin dia terus. Pria tampan seperti dia, aku juga mau dong." ucap Putri yang sedari tadi mengikuti arah tatapanku.


" Kamu kenal dia ya?" tanya Tara.


" Aku harap begitu." sahutku dengan nada sedih.


" Loh, kok jawabnya gitu sih?" ujar Tara.


" Haduh, kalian ini ga mau ketinggalan yah. Selalu ingin tahu urusan orang lain." ucap Galang dengan nada mengejek.


" Yuni kan sahabat kami, jadi wajar saja kami mencampuri urusan dia." sahut Tara kesal.


" Udah, jangan bertengkar. Malu di dengar orang. Nanti kalian pasti tahu kok." ucapku menengahi.


Saat tour nya selesai, kapal pun merapat ke daratan.


Kami bergegas turun dari kapal, dan menunggu di bawah sambil memperhatikan setiap orang yang ikut turun.


Berharap kami agar kami tidak kehilangan pria itu, karena hanya ada satu jalan keluar dari kapal.


Tak lama, harapan kami akhirnya terjawab.


Kami melihat pria itu turun. Dan ajaibnya, ia melangkah mendekati kami.


Semakin ia mendekat, semakin kencang pula jantung ini berdebar.


" Hai nona. Apakah aku ada masalah dengan mu? Tatapan mu di kapal sangat membuatku risih." ucapnya yang ternyata sadar kalau saat di kapal, mataku selalu tertuju padanya.


" Tiittt...tttiii..dakk." sahutku gugup.


" Perkenalkan namaku Galang. Dia Yunita, dan yang dua ini Tara dan Putri." ucap Galang memperkenalkan diri.


Aku tahu kalau Galang sengaja memotong pembicaraan kami, karena dia tahu aku belum siap untuk keadaan ini.


" Namaku Leonardo. Panggil saja Leo." ucapnya simpel.


Saat mendengar namanya, hatiku seperti ditusuk berkali-kali.


Betapa bodohnya aku yang mengharapkan keajaiban terjadi.


" Apa kau kenal dengan seseorang bernama Jonggi?" tanyaku yang menahan tangis.


" Jonggi? Maaf nona, aku tidak pernah dengar nama itu." ucap pria itu dengan wajah bingung.


Air mata ini tak dapat ku bendung saat mendengar jawaban darinya.


" Benarkah? Kau tidak berbohong kan?" tanyaku yang masih menangis.


" Untuk apa aku berbohong? Bukankah ini aneh? Kalian datang dan tiba-tiba menanyaiku nama seseorang yang tidak ku kenal. Kalau boleh tahu, siapa Jonggi itu? Mengapa kalian bertanya apa aku mengenalnya?" tanya Leo.


Air mataku terus mengalir, lidah ku tidak dapat berkata apa-apa.


Tara dan Putri memeluk tubuhku, dan mencoba untuk menenangkan ku.


Sepertinya mereka sudah mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


" Jonggi adalah teman kami, dia meninggal beberapa waktu yang lalu." ujar Galang.


" Lalu? Apa hubungan denganku?" tanya Leo yang masih kelihatan bingung.


" Wajahnya...... Wajah kalian sangat mirip. Bahkan bisa dibilang sama. Apalagi tadi saat kau tersenyum, aku pikir senyuman itu hanya dimiliki Jonggi." jelasku dengan isak tangis.


" Sekarang aku paham dan mengerti bagaimana perasaan kalian. Tapi maaf, aku tidak kenal dengan Jonggi. Dan aku bukanlah Jonggi. Kadang kenyataan memang sulit ditebak." ucap Leo.


" Aku mengerti. Maaf sudah menyita waktumu." sahut Galang.


" Bolehkah aku menghabiskan waktu liburan dengan mu?" ucapku memelas.


" Bukannya aku tidak mau nona, tapi aku datang kesini bukan untuk liburan. Urusan bisnis lah yang membawaku ke tempat ini. Dan mungkin aku akan sangat sibuk. Namun walaupun begitu tinggalkan saja kontak mu, aku akan menghubungimu jika ada waktu luang." sahutnya.


Tanpa basa-basi aku langsung meraih handphone ku, dan kamipun saling tukar kontak.


Setelah itu, dia pamit pergi dan beranjak meninggalkan kami.


Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku.


Teman-teman ku sepertinya mengerti, mereka terus mencoba menghibur ku.


" Sudahlah Yun, kamu harus bisa menerima kenyataan." ucap Tara.


" Iya Yun. Kami jadi sedih, kalau melihat kamu terus begini." sambung Putri.


" Terimakasihh teman-teman, kalian tidak pernah bosan menghadapi sifat ku ini." ucapku sambil menarik nafas panjang.


" Mending kita lanjutkan liburan kita hari ini. Bagaimana jika kita melihat tarian Si Gale-gale." ujar Galang.


" Si Gale-gale? Aku belum pernah mendengarnya." ucap Tara.


" Aku pernah dengar, tapi belum pernah melihat secara langsung." ucap Putri.


" Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita let's go." ucap Galang.


Walaupun sebenarnya hatiku dan pikiranku masih tertuju kepada Leo, tapi aku tidak boleh terlalu menunjukkan itu di depan teman-teman ku.


Bagaimanapun juga, aku tidak boleh membebani liburan mereka.


Kami tiba di lokasi tepat saat pertunjukannya baru dimulai.


Banyak orang yang ikut menonton, ternyata Si Gale-gale adalah patung berbentuk manusia yang di rakit secara khusus.


Saat musik dimainkan, patung itu menari mengikuti alunan musiknya.


Terlihat ada orang dibelakang patung yang bertugas untuk menggerakkan patung tersebut.


Namun kabarnya, dulu patung Si Gale-gale ini bisa bergerak sendiri hanya dengan mendengar alunan musik khas suku batak tanpa ada yang menggerakkan patung dari belakang.


Konon katanya, seorang Raja membuat sebuah patung khusus untuk anaknya yang sudah tiada.


Semua orang yang mendengar penjelasan dari pemandu wisata terlihat sedih saat mendengar kisah Si Gale-gale ini.


Tapi saat melihat tarian patung ini, aku teringat dengan pak Juntak.


Tarian ini mirip dengan tarian pak Juntak saat aku masih SMA dulu.


Titt..tittt.tittt...


Handphone ku berbunyi pe


rtanda ada pesan masuk.


Saat ku cek, ternyata Leo yang mengirim pesan singkat kepadaku.


" Nona, besok malam ada pesta kecil-kecilan di tempat ku. Apakah kau dan teman-teman mu bisa datang?" begitulah isi pesannya.

__ADS_1


Setelah membaca pesannya, aku segera bertanya kepada teman-teman ku.


Dan mereka pun setuju.


Tak terasa malam sudah menyapa.


Menghabiskan waktu seharian membuat kami merasa lelah.


Waktu liburan masih tersisa beberapa hari. Jadi kami pikir, kegiatan untuk hari ini sudah cukup.


Aku, Putri dan Tara berpsah dengan Galang, karena tidur adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


" Yun.. Yunita..." terdengar suara yang tidak asing bagiku.


" Jonggi? Kemana saja kau. Aku sangat merindukanmu." ucapku sambil memeluk erat tubuh Jonggi.


" Tidakkah kau tahu, bahwa segelas air putih sama jernihnya dengan segelas arak? Namun keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Bahkan ada yang membahayakan kesehatan." ucapnya pelan.


" Apa maksud mu?" tanyaku bingung.


" Tidakkah kau mengerti, semua cacing terlihat sama. Namun saat kita mengenali jenisnya, ternyata ada cacing yang sangat berbahaya. Bukankah Tuhan hanya menciptakan satu matahari saja? Namun cahaya tulus dari mentari tidak akan ada duanya." jelasnya.


" Aku tidak mengerti apa maksud ucapan mu ini." ujarku.


Dia hanya tersenyum mendengar kalimat yang ku utarakan.


" Yun, ayo bangun." ucap Tara yang mencoba membangunkan ku.


Sial, ternyata hanya mimpi.


Tapi, aku merasa kalau mimpi itu bukan sembarang mimpi.


Itu bukan hanya sekadar bunga tidur saja. Pasti Jonggi ingin menyampaikan sesuatu.


" Malah melamun, mandi sana. " ucap Putri .


Kringgg..... Kringgggg...


Tiba-tiba handphone ku berbunyi.


Kulihat, ternyata ayah yang menghubungiku.


" Halo pa?" ucapku di telepon.


" Kakak, ini Keysa. Kakak harus pulang sekarang." ucap Keysa yang sepertinya sedang menangis.


" Kenapa dek? Kenapa tiba-tiba menyuruh kakak pulang?" sahutku.


" Mama kak. Mama meninggal. Dan ayah masih di rumah sakit." ujarnya.


Brakkkk....


Handphone yang ku genggam kini terjatuh kelantai.


Tubuhku seperti tidak bertenaga saat mendengar kalimat dari Keysa.


Spontan air mataku langsung membanjiri wajahku.


" Kenapa Yun?" tanya Tara dan Putri.


" Mama.... Mama ku sudah tiada..." sahutku yang masih terus mengeluarkan air mata.


Mendengar itu, Tara dan Putri langsung memeluk tubuhku.


Mereka menyampaikan turut berbelasungkawa.


Putri juga menghubungi Galang, dan menyuruhnya untuk memesan tiket pulang untuk ku.

__ADS_1


__ADS_2