Ruang misteri

Ruang misteri
Aku Teman Mu


__ADS_3

" Baiklah, aku akan menjelaskan semua yang aku tahu. Sebenarnya, aku juga tidak tahu mahluk apa aku ini. Jika aku adalah hantu, mengapa semua ingatan ku sewaktu hidup masih bisa ku ingat. Dan mengapa aku tidak tahu bagaimana aku bisa tewas. Ingat waktu kita pertama bertemu, di pesta ulang tahun teman mu. Sebenarnya aku ke sana untuk mengikuti mantan pacar ku, setidaknya aku ingin memastikan dia bahagia. Tiba-tiba kau datang menyapa ku, perasaan heran, senang dan takut menghampiri ku. Aku senang ternyata masih ada yang bisa berkomunikasi dengan ku, aku heran kenapa kau bisa melihat ku. Dan aku takut, jika suatu saat kau tahu bahwa aku bukan lah manusia," jelas nya sambil meneteskan air mata.


" Siapa wanita yang kau sebut mantan pacar," tanya ku.


" Agnes, dia juga satu kampus dengan mu. Kami satu fakultas, fakultas pertanian. Tapi aku tenang, sekarang dia terlihat bahagia bersama sahabat ku," sahut nya.


" Sahabat? Aku tidak mengerti. Bisa kah kau menjelaskan nya perlahan. Atau coba katakan apa hal yang terakhir kau ingat," ujar ku.


" Begini, aku memiliki pacar dan dua orang sahabat. Mereka adalah Agnes, Galang dan Albert. Kami semua berada di fakuktas yang sama. Suatu hari, kami berempat pergi ke lahan kebun yang di sediakan untuk praktik. Namun sebelum pergi ke lahan, aku sempat bertengkar hebat dengan Galang. Walaupun akhirnya kami tetap pergi bersama-sama. Sampai di lahan, Galang masih mencoba melanjutkan pertengkaran kami. Sampai akhirnya Agnes dan Albert melerai dan memarahi kami berdua. Dengan wajah yang agak kesal, Galang meninggalkan kami bertiga di lahan itu. Aku hanya ingat sampai itu saja," jelas nya.


" Lalu saat di pesta, siapa sahabat yang kau maksud yang sedang bersama Agnes," tanyaku.


" Albert. Aku juga setuju jika mereka bersama. Lagian sekarang aku sudah tiada, wajar saja jika Agnes mencari pengganti. Daripada Galang, aku lebih setuju dia dengan Albert," jawab nya.


Aneh, saat menyadari Jonggi bukanlah manusia, aku tidak takut sedikitpun. Malah aku merasa sedih, sedih karena harus kehikangan orang yang bahkan tidak ku kenal sewaktu ia masih hidup. Tapi aku sangat merasa kehilangan. Ku rasa saat ini aku sedang patah hati.


Aku berpikir sejenak, ku coba mengimajinasikan kejadian yang di jelaskan Jonggi.


Entah mengapa, aku merasa ada yang tidak beres.


Pasti sahabat-sahabat Jonggi tahu, mengapa Jonggi bisa seperti ini.


" Kau mau aku membantu mu," tanya ku.


" Bantu apa," sahut nya.


" Aku akan mencari tahu mengapa kau bisa meninggal," ucap ku.


" Apa kau yakin? Namun aku takut, jika semua sudah terbongkar, aku tidak bisa lagi menemui mu seperti sekarang ini," ucap nya.


" Itu tidak penting. Yang terpenting adalah, kau harus tahu kejadian apa yang menimpa mu," ucap ku.


" Baiklah, tapi jangan paksakan dirimu. Bagi ku, sekarang kau jauh lebih penting daripada apapun. Apalagi hanya untuk mengetahui kejadian itu," ucap nya.


" Kau tenang saja. Pasti ada jalan keluarnya kok. Yaudah aku mau tidur dulu. Jagain aku ya," ucap ku dengan nada menggombal.


" Baik nyonya," sahut nya sambil tersenyum.


" Jangan nakal! Awas kalo nakal," seru ku.


" Tenang saja, aku masih punya etika," sahut nya.


Rasa lelah seharian membuat diriku segera terlelap .


Sebentar saja aku berbaring, alam mimpi sudah menyambut kehadiran ku.



Hari pun berganti, matahari menyapa sang pagi dengan hangat sinar nya.


Ku lirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00.


Karena ini hari Minggu, kampus libur.


Tapi hari ini aku mau pergi beribadah.


Jadi dengan sedikit malas, aku beranjak dari tempat tidur ku.


Sedikit bersih-bersih, sebelum memanjakan diri untuk mandi.

__ADS_1


Aku sadar, sedari tadi aku tidak melihat Jonggi.


"Ah, paling dia sudah pergi. Nanti juga bakal balik kok," gumamku dalam hati.


Saat semua sudah selesai, aku segera bersiap untuk pergi beribadah.


Saat sedang beribadah, aku merasa bahwa pak Pendeta terus memperhatikan ku.


Aku mencoba untuk tidak terlalu GR, tapi ternyata benar. Ia terus memperhatikan ku.


Hingga ibadah selesai, ia pun menghampiri ku.


" Selamat hari Minggu dik," ucap pak pendeta.


" Selamat hari Minggu pak," jawab ku.


" Sedari tadi aku memperhatikan mu, aku pikir aku salah lihat. Dan setelah aku perjelas, ternyata ini memang benar," ucap nya.


" Maksud bapak," tanya ku.


" Kau Yunita kan? Anak nya ibu Charice," tanya nya.


" Benar, itu saya. Bagaimana bapak bisa mengenal saya," tanya ku.


" Saya adalah teman lama ibumu. Saya pernah berkunjung ke rumah mu, saat kau masih kecil. Bagaimana kabar mereka," tanya nya.


" Baik pak," ucap ku.


Akhirnya kami berbincang-bincang.


Ternyata ia juga sudah tahu bahwa ayah adalah seorang indigo.


Tiba-tiba aku teringat dengan perkataan ustadz Hamidz, mungkin pak Pendeta ini bisa menjelaskan nya.


" Pak, kemaren ada seseorang yang mengatakan bahwa bahaya besar sedang menungguku. Aku sangat merasa terganggu dengan kalimat itu. Akupun tidak tahu, bahaya seperti apa yang ia maksud," ujar ku.


" Hahaha. Ternyata sudah ada yang memberitahu mu," jawabnya.


" Kok malah ketawa pak. Bapak juga tahu ya," tanya ku.


" Yuni, kau harus paham. Tuhan tidak memberi anugrah kepada hamba Nya tanpa alasan yang jelas. Sejalan dengan anugrah yang kau punya, akan ada masalah yang kau hadapi. Namun kau harus yakin, bahwa kau bisa melewati nya," jelas nya sambil mengambil beberapa benda.


" Pakailah ini, ini akan menjaga mu dari yang jahat. Bawa ini, suatu hari kau pasti membutuhkan nya," ucap nya sambil memberi kalung Rosario, dan sebotol air.


" Baik pak, terimakasih," ucap ku.


" Sampaikan kirim salam ku kepada orang tua mu ya," ucap nya.


" Baik pak. Saya pulang dulu ya pak," ujar ku sembari berjalan meninggalkan nya.



Sampai di kost, aku terus memikirkan kalima demi kalimat yang pak ustadz dan pak pendeta katakan kepada ku .


Aku yakin, suatu saat bahaya itu akan datang. Dan saat ia datang, aku sudah harus siap menghadapi nya.


Tak lama kemudian, handphone ku berbunyi.


Kulihat, ternyata Putri menghubungi ku. Segera ku angkat telepon nya.

__ADS_1


" Yun, aku udah pulang dari rumah sakit. Kau ke rumah ku ya. Puja dan Tara juga sudah ku kabari," ucap nya.


" Baiklah, aku kesana sekarang juga," sahut ku sambil memutuskan telepon.


Tanpa basa-basi aku langsung memesan ojol. Toh di kost juga aku bosan.



Sampai di rumah Putri, aku melihat Tara dan Puja juga sudah ada di sana.


Mereka menyambut kedatangan ku dengan senyuman.


Kamipun menghabiskan waktu bersama.


Melakukan kegiatan yang sudah biasa kami lakukan.


Apalagi kalo bukan menggosip.


Hahaha, ya namanya juga cewek.


Di tengah-tengah pembicaraan, aku teringat akan sesuatu.


" Teman-teman, aku mau cerita nih. Aku mau minta tolong. Tapi sebelumnya, kalian harus berjanji tidak akan menganggap ku gila," ucap ku.


" Yaudah cerita aja. Kau kan sudah gila, tanpa cerita pun, kami sudah menganggap mu gila," sahut Putri bercanda.


Lalu mereka semua tertawa.


" Aku serius," ucap ku dengan sedikit kesal.


" Ok ok maaf. Yaudah cerita aja. Jadi penasaran," sahut Puja.


Aku menceritakan tentang anugrah yang ku miliki, aku juga bercerita tentang Jonggi.


Ku ceritakan niat ku untuk mencari tahu bagaimana Jonggi bisa meninggal.


Mereka kelihatan sangat antusias mendengar setiap kata yang ku ucap kan.


" Jadi, apa kalian mau membantu ku," tanya ku.


" Mau sih mau. Tapi apa yang bisa kami bantu," sahut Putri.


" Pasti ada kok. Nanti kita cari tahu bersama-sama," ujar ku.


Mereka hanya mengangguk.


Kemudian Puja berkata


" Sebenarnya, aku sudah lama tahu kalau kamu itu indigo," ucap nya.


" Tahu darimana," tanya ku.


" Ada deh. Nanti juga kamu bakal ngerti kok," sahut nya.


" Eelleehh, kamu mah sok tau," sahut Tara mengejek.


Kami pun tertawa mendengar ucapan Tara.


Kemudian kami melanjutkan gosip yang sempat terhenti karena cerita ku.

__ADS_1


__ADS_2