Ruang misteri

Ruang misteri
Hunian Lelembut


__ADS_3

Semenjak hari itu... Riko mempunyai teman ghaib, yang menemaninya kala sendiri dirumah.


Aku penasaran dan bercoba bertanya sama Riko tentang sosok tersebut, "Namanya Sontol. Dia seumuran Riko. Kepalanya botak, matanya sipit dan telinganya runcing. Dia mengenakan popok, sementara mulutnya monyong," jelas Riko.


Aku jadi teringat Rara (keponakan), dia juga punya teman dengan ciri-ciri yang sama dan namanya pun sama seperti yang Riko ceritakan.


Semenjak Riko berteman sama Sontol, dia pintar menebak nomor togel.


Banyak orang-orang datang kerumah untuk bertanya tentang nomor yang mau keluar. Tapi, kalau aku sendiri yang mencoba bertanya, "Kalau Mama tidak boleh," ujar Riko menerangkan. Padahal aku hanya iseng bertanya seperti itu.


Waktu itu Angga, temannya Riko main kerumah. Dia penasaran sama sosok Sontol yang sering Riko ceritakan.


"Ko. Kapan-kapan, kenalin Aku sama teman kamu."


"Ia Ngga. Nanti Aku kenalin dan bawa dia kerumahmu!"


Siang itu, Riko membawa Sontol main kerumah Angga.


"Ni Ngga, Aku bawa Sontol kerumah."


"Dia dimana Ko?"


"Dia sekarang berdiri tepat didepan pintu rumah kamu."


"Bagus Ko, suruh dia masuk!"


Angga dan Riko main seperti biasa, layaknya anak kecil pada umumnya.


Tak berselang lama... Riko pamit pulang. Tapi temannya, si Sontol tidak ikut bersamanya. Dia masih betah main dirumah Angga.


Beberapa hari berlalu. Dari hari pertama Angga ditemani Sontol, badannya mendadak demam. Bu Fitri (Ibu Angga) bingung, karna demam yang diderita anaknya tak kunjung sembuh.


Akhirnya Bu Fitri menemui Ustadz Dermawan. Beliau mengerti akan hal ghaib.


Ustadz menyanggupi permintaan Bu Fitri dan datang kerumahnya.


Setibanya dirumah Bu Fitri, mata Ustadz terpaku melihat kearah pintu kamar Angga.

__ADS_1


Sedangkan Angga masih terkulai lemas dikamarnya.


"Siapa anak itu?" tanya Ustadz. Angga menjawab, "itu adalah kenalanku," jawab Angga tegas.


Ustad Dermawan diam untuk sejenak kemudian berucap, "Kalau sudah kenal, suruh dia pulang."


Angga mengangguk seraya berkata, "Sontol, kamu pulanglah kerumah Riko. Aku tidak ingin mengenalmu lagi."


Tak lama Ustadz pun pamit pulang dan beberapa saat kemudian tubuh Angga sudah agak baikkan.


Semenjak kejadian itu... Angga tidak mau kenal lagi sama sosok yang namanya Sontol.


Hari minggu pukul 12 siang.


Tetanggaku yang satu-satunya ini. Dia kedatangan tamu dan masih kerabatnya. Tamu tersebut membawa seorang anak, namanya Supri. Anaknya masih seumuran dengan Riko.


Siang itu dia menghampiri pintu gerbang rumahku, sambil menendang-nendangnya. "Brot... Brot... Brot...."


Entah apa maksudnya, mungkin dia cuma anak nakal biasa. Kami tak menghiraukannya karna kami lagi asik nonton TV dan kami tak mau ribut sama tetangga.


Tak berselang lama terdengar suara teriakan dibarengi dengan tangisan.


Bu Siti, ibu dari Supri mendadak kebingungan melihat tingkah anaknya.


Yang Bu Siti pikir waktu itu adalah anaknya habis diganggu sama anak lain.


"Siapa yang membuat Kamu menangis?" tanya Bu siti. Supri tak menjawab, dia hanya menunjuk kearah rumahku.


Dengan hati menggondok, Bu Siti menggandeng Supri yang tengah menangis menuju rumahku.


Gerbang digedor dengan sangat kasar. Kami keluar melihat mereka tengah berdiri dibalik gerbang. Tatapan wajah Bu Siti tak enak dipandang.


Kami berjalan keluar pintu dan menuju gerbang. Gerbang aku buka dan Bu Siti tengah melotot. Dia bertanya lagi sama Supri, "Apa anak ini yang mengganggumu?" Supri tak menjawab, dia hanya menunjuk dengan jari telunjuknya.


Bu Siti marah tak jelas, dia menuduh Riko membuat anaknya menangis.


Dengan kepala dingin aku melontarkan perkataan, "Sebelum menuduh orang. Tanya dulu sama anaknya, siapa yang sudah nakal?!" terangku. Aku diam sejenak dan melanjutkan perkataan yang tak sempat diucapkan, "Makanya, kalau bertamu ke rumah orang yang sopan!"

__ADS_1


Bu Siti langsung melihat kearah Supri. Supri menggelangkan kepala dan berkata, "Bukan, bukan anak itu!"


"Tuh, kenalin Bongol. Dia berdiri dibelakang pintu," terang Riko. Supri penasaran mendengar Riko berkata seperti itu. Di berjalan menuju belakang pintu.


"A... A... A..." teriak Supri. Kejadian itu membuat Riko tertawa.


Dengan wajah penuh tanda tanya, Bu siti menggendong anaknya yang tengah menjerit disertai tangisan yang begitu hebat. Bu siti dan Supri kembali kerumah Bu Asri.


"Kok Bongol? Bukannya Sontol?" tanyaku penasaran. Riko menghentikan tertawanya, "Ia. Itu, temannya Sontol. Dia lagi main dibalik pintu gerbang. Karna Supri berisik, Bongol pun marah dan mengganggunya," terang Riko.


"Waduh... Roman-romannya ada teman baru lagi," gumamku dalam hati.


Setelah aku pikir-pikir... Aku khawatir kalau Riko terus seperti ini, akan berdampak negatif sama dia.


Sore ini aku membawa Riko untuk berkunjung kerumah Ustadz Dermawan. Aku menjelaskan perihal ini kepada beliau. Ustadz menjawab "Tidak apa Bu, nanti saat umurnya genap 7 tahun, makhluk tersebut akan hilang dengan sendirinya."


Aku pulang dengan membawa jawaban yang tak begitu menyenangkan. Aku ragu kalau yang Ustad Dermawan ucapkan itu benar.


Tapi... Belum genap 7 tahun, Riko sering murung dan tak pernah seceria dulu.


Aku mencoba bertanya sama Riko, kenapa dia jadi seperti ini.


Aku coba bertanya perihal teman ghaibnya.


"Ko, mana teman kamu yang namanya Sontol?"


"Sontol sudah pergi Ma..."


"Pergi kemana Ko?"


"Dia pergi sama Ayahnya."


Aku diam sejenak sambil berfikir. Bapak tuyul seperti apa? Aku penasaran dan mencoba bertanya lagi.


"Ko, bentuk fisik Bapaknya Sontol seperti apa?"


"Ayahnya gendut, tak memakai pakaian. Kepala botak tapi diatas kepalanya ada rambut panjang yang dikuncir naik keatas."

__ADS_1


#Bersambung...


__ADS_2