
Malam ini aku tidak bisa tidur. Sementara Mas Aji dan Riko sudah tertidur pulas.
Belakang rumah yang aku tempati sekarang adalah tanah lapang, tapi tidak ada akses jalan kesana karna rumah ini adalah rumah terkahir dari sebuah gang.
Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Aku masih belum bisa tidur, aku putuskan untuk sholat hajat.
Aku melangkahkan kaki dari kamar menuju kamar mandi.
Belum sempat ambil wudhu, terdengar suara eraman dari belakang rumah, eraman itu terdengar seperti suara seekor harimau.
Aku penasaran, mencoba melangkahkan kaki menuju pintu belakang.
Pintu kubuka, "kreot..." terlihat sosok harimau berkulit putih melihat kearahku.
Bulu kudukku mulai meremang, tapi aku masih memandanginya penasaran.
Jarak kita pada waktu itu sekitar 10 meter-an. Dia mencoba mendekat, aku mundur sedikit demi sedikit.
Aku pegang daun pintu dan pintu langsung kututup.
Aku bergegas kembali menuju kamar mandi, tapi harimau putih itu sudah ada didalam.
Aku takut dan berbalik menuju kamar, dengan langkah cepat aku melangkah.
Dan ternyata... Harimau itu sekarang ada diranjang, merebahkan badan. Dia tidur diantaraas Aji dan Riko. Dengan mata tertutup aku menjerit. Jeritanku begitu keras sampai membuat Mas Aji terbangun.
"Dek, Dek.., sadar. Ada apa?" tanya Mas Aji. Aku masih belum berani membuka mata dan menunjuk kearah tempat tidur. Mas Aji diam sejenak kemudian dia bertanya kembali, "memang ada apa Dek? Diranjang tidak ada apa-apa selain Riko," ucap Mas Aji sambil menepuk-nepuk pundakku.
Aku membuka mata dan mencoba melihat kearah ranjang.
Yang dikatakan Mas Aji benar, disitu tidak ada apa-apa selain Riko. Sambil menangis aku menceritakan hal tersebut pada Mas Aji, tapi Mas Aji tidak percaya dan bilang kalau aku hanya berhalusinasi.
Aku dituntun sama Mas Aji untuk naik ke atas ranjang. Aku tidur ditengah, Mas Ani disebelah kiri sedangkan Riko disebelah kanan.
Mungkin karena kecapekan, Mas Aji pun terlelap kembali.
Tak berselang lama Riko nangis begitu hebat dan disusul suara, "hihihihii..," suara itu mirip suara perempuan.
Sambil menggendong Riko yang menangis, aku mencoba mencari sumber suara tersebut.
__ADS_1
Aku berjalan dan tak tahu entah kenapa...
sambil membawa Riko yang kugendong aku pergi kelantai dua.
Satu-persatu aku naiki anak tangga.
Pintu sudah terlihat dan aku membukanya. Terlihat ruang kosong yang gelap.
Aku mencoba berbalik dan suara tersebut terdengar lagi ditelingaku. Sementara Riko masih menangis dan makin menjadi.
Perlahan tapi pasti, aku menoleh kearah belakang.
Mataku menelusuri lantai tersebut dan terhenti saat melihat kaki yang mengambang.
Sedikit demi sedikit aku mencoba melihatnya.
Dari kaki sampai kain putih berwarna kusam, tapi pandanganku tak terhenti.
Aku terus menelusuri anggota tubuhnya.
Tetlihat rambut panjang terurai kedepan, aku makin penasaran dan kulihat dia menundukan kepala. Dia terdiam dan tak lama menangis.
Tak berselang lama, keluar darah dari anggota tubuhnya, darah yang kental menetes sedikit demi sedikit membasahi lantai.
Aku mundur, tapi pintu tiba-tiba tertutup.
Aku mencobaoba untuk membukanya, tapi seakan ada yang menguncinya dari luar. Seketika itu aku langsung jatuh pingsan.
Shubuh itu Mas Aji terbangun, dia mendengar suara tangisan anak lelaki. Mas Aji menoleh kanan dan kirinya, tapi kami tidak ada disampingnya.
Mas Aji berjalan dari kamar, mendekati suara tangisan Riko.
Terdengar suaranya dari lantai dua.
Di menelusuri anak tangga dan dia kaget ketika melihat aku terbaring ditempat.
Mas Aji langsung menggendong Riko dan mencoba untuk menenagkannya.
Kala itu Mas Aji pikir mungkin aku marah sama dia dan aku pun pergi untuk tidur dilantai dua.
__ADS_1
Tanpa membangunkanku, Mas Aji membawa Riko dan turun kebawah.
Singkat cerita...
Malam berikutnya aku tidak bisa tidur. Hanya memejamkan mata tapi pikiran melayang entah kemana.
Rasa haus menghampiri dan kulangkahkan kaki keluar kamar, menuju dapur.
Aku membuka kulkas dan minum air putih yang sudah dingin, "glek glek glek."
aku terdiam sejenak karna perasaan tak enak.
Aku pikir ada seseorang tengah berdiri dibelakang. Sambil menaruh botol dan menutup kulkas dengan pelan. aku berbalik dan melihat seseorang mengenakan pakaian layaknya pendekar.
Kita bertatap muka dan dia tersenyum.
Dengan sedikit rasa takut aku membalas tersenyum dan kulangkahkan kaki meninggalkan dia.
Belum jauh aku berhenti dan mencoba melihat sosok tersebut.
Ketika aku berbalik sosok itu sudah tidak ada.
Jumat keliwon berikutnya. Tepat jam 2 malam aku tengah menggoreng pastel buat jualan esok karna aku sudah tidak bekerja.
Tak berselang lama, sosok perempuan berkaki kuda datang lagi. Aku kaget setengah mati dan reflek mengambil kertas koran yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Kertas aku bakar dan aku menakutinya dengan api.
Sambil mengarahkan api kesosok tersebut, mataku mencari sesuatu dan aku menemukan garam dapur.
Sosok itu aku lempar pakai garam seraya berteriak, "Jangan ganggu aku...."
Aku hanya fokus melemparinya dengan garam sampai tak ingat dengan kertas koran yang aku bakar.
Api dari koran mengenai tanganku dan seketika aku terbangun.
Kali ini aku menyadari, bahwa mimpiku adalah nyata.
Aku melihat tangan dan ada abu dari koran yang terbakar.
__ADS_1
Aku pergi menuju dapur dan ternyata pastel yang aku goreng dalam mimpi memang ada dan semuanya hangus karna terlalu lama tak diangkat. Sampai api mulai memakan penggorengan karna kehabisan minyak.
#Bersambung..