Sadistic Brother

Sadistic Brother
8


__ADS_3

Reana dan Vanesha menatap heran pada sosok gadis di depannya yang seakan duplikat dari Reana. Bukan hanya mereka berdua, akan tetapi seluruh murid yang kini tengah berada di koridor sekolah dibuat tak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang.


Jane, gadis itu berdandan begitu mirip dengan Reana. Untunglah wajah mereka berbeda. Kalau tidak, mungkin anak-anak yang lain akan mengira Jane adalah Reana.


Dimulai dari rambut Jane yang biasanya dikepang dua, kini ia memilih menggerainya dengan ujung yang sedikit ikal seperti rambut Reana. Tak lupa dengan jepit rambut kecil seperti yang biasa Reana pakai.


Bahkan Jane juga memotong rok sekolahnya menjadi setinggi rok sekolah Reana, begitu juga dengan sepatu dan jam tangan yang selalu Reana pakai ditiru dengan sempurna oleh Jane.


Jane juga melepas kaca matanya, karena Reana tak memakai kaca mata. Gadis itu menggantinya dengan softlens berwarna kelabu seperti warna mata Reana.


"Dia benar-benar meniruku, bahkan dia memakai lensa mata dengan warna yang mirip dengan warna mataku." Reana bergumam pelan sembari meneliti penampilan baru Jane.


"Bagaimana? Apa aku sudah mirip denganmu?" tanya Jane antusias.


"Ya, kurasa." jawab Reana malas. Kemudian gadis itu melangkah pergi dari sana diikuti Vanesha, tak mau ketinggalan, Jane juga mengikuti kemanapun Reana pergi.


***


Lilian tengah menatap ketiga orang berbadan tinggi tegap dengan pakaian hitam lengkap dengan senjata api di tangan mereka, wanita itu menghisap sebatang rokok dan duduk dengan congkaknya menatap ke arah luar jendela apartementnya.


"Culik kedua gadis itu dan hubungi nomor ini. Ancam orang yang kau hubungi itu agar mau datang sendiri untuk membebaskan kedua temannya. Ingatlah, kalian harus waspada. Sebab, gadis kecil yang kalian hubungi itu berotak licik warisan dari Kakaknya." Lilian memberi perintah pada tiga orang tersebut, ia yakin mereka akan dengan mudah menangkap Reana.


"Jika hanya menangkap seorang gadis SMU biasa, tidak perlu melakukan penjebakan seperti ini, kan?" Lilian menatap laki-laki berkaca mata hitam yang meremehkan rencananya.


"Jangan meremehkannya, Kakaknya tidak main-main dalam menjaga Reana. Belum lagi dengan anak itu yang memiliki seribu akal cerdik untuk berkelit, sudah berbagai cara aku lakukan untuk menyingkirkan bocah sialan itu. Namun hasilnya tetap nihil, mereka semua gagal menculik Reana!"


Lilian mengingat beberapa orang yang diperintahkan untuk menghabisi Reana, mereka selalu gagal karena gadis itu mempunyai banyak cara untuk meloloskan diri. Salah satunya adalah menipu para orang suruhannya dengan sirine polisi dari ponselnya. Kini ia harus belajar dari kesalahannya terdahulu.


"Jangan peduli dengan sirine polisi atau ular yang tiba-tiba terjatuh dari atas kalian, itu hanya jebakan!" peringat Lilian pada mereka. Ke tiga orang itu mengangguk paham.

__ADS_1


Segera mereka pergi meninggalkan Lilian untuk segera menjalankan misi mereka.


***


Rean memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut, pikirannya jatuh pada Reana yang saat ini tengah berada jauh darinya. Sejak pagi tadi ia merasa perasaannya tak enak, seperti akan terjadi sesuatu pada Reana.


Ia kini tengah berada Hongkong, mengurus bisnis selama beberapa hari dan meninggalkan Reana di mansion seorang diri. Jika dulu ia tak akan peduli pada Reana, tidak dengan sekarang yang mana ia akan sangat khawatir pada keadaan Adiknya tersebut.


Segera ia meraih ponselnya, Rean mengundur jadwal meeting hanya untuk memastikan keadaan Reana baik-baik saja. Ia menghubungi orang suruhan yang ia tugaskan untuk menjaga dan memata-matai Reana dari jauh.


"Semua baik-baik saja, Tuan." jawab orang di seberang. Rean menghela napas lega, namun perasaannya masih juga tak enak.


***


Reana menatap datar layar ponselnya yang menunjukkan pesan dari nomer tak dikenal. Pengirim tersebut mengatakan untuk menukar dirinya dengan dua orang temannya yang kini tengah di sekap di sebuah bangunan terbengkalai.


Reana menutup pesan itu tanpa berniat membalasnya, ia segera melangkah menuju ruang kelas untuk mengikuti pelajaran pagi ini.


Reana melihat ke arah jendela kaca di kelasnya. Beberapa bodyguard Rean terlihat menyebar di berbagai tempat, gadis itu tersenyum miring setelah mendapatkan sebuah ide yang pasti akan membuat Lilian memakan umpannya sendiri.


Reana memilih mendengarkan lagu kesukaannya dengan earphone, ia ingin bersantai sejenak sebelum melakukan sebuah rencana yang cukup berbahaya. Reana tak ingin melibatkan siapapun dalam masalah ini, baginya dua temannya saja sudah menyusahkan.


***


Reana berjalan menuju sebuah bangunan kosong yang terbengkalai, bangunan dengan tiga lantai yang luasnya mencapai satu setengah hektar lengkap dengan kolam renang yang sudah berlumut dengan dipenuhi akar pohon besar yang merambat ke dinding kolam tersebut.


Tampak kengerian di sana, belum lagi dengan suasana temaram yang di akibatkan oleh pepohonan hutan sekitar bangunan yang rindang. Sejauh setengah kilo meter ia berjalan dari jalan utama, Reana terpaksa berhenti tepat di jalan masuk hutan lantaran orang tersebut memerintahkan tak boleh membawa taksi itu masuk ke kawasan rumah itu.


Reana memasuki teras rumah, kemudian sebuah pintu berukuran besar ia dorong hingga menimbulkan decitan sedikit keras. Reana melanjutkan perjalanannya dengan santai hingga menaiki anak tangga penghubung lantai tiga.

__ADS_1


Tampak dua orang temannya tengah duduk diikat, serta maa dan mulut yang tertutup kain hitam. Tiga orang lelaki berbadan besar berdiri di depannya, menyambut Reana dengan senyum mengerikan.


Gadis itu sedikit mundur, tapi ia tak berniat untuk berlari dari sana. Hingga akhirnya seorang wanita ikut bergabung dengan mereka, wanita cantik berambut sebahu dengan gaun sexy yang memamerkan lekuk tubuhnya.


Reana sering menyebutnya sebagai mahluk kesayangan sang Kakak.


"Selamat sore ... Reana," sapa wanita itu dengan nada yang dibuat-buat. Suaranya tetap sama seperti biasanya, lembut dan tenang.


"Lepaskan mereka!" ucap Reana tak kalah tenang. Ia sudah lelah bermain-main dengan Lilian, wanita itu tak bisa didiamkan lebih lama lagi. Ia tak sudi memiliki ipar titisan iblis seperti Lilian.


"Aku akan melepaskan mereka, setelah aku menghabisi dirimu!" kini nada bicara Lilian terdengar dingin di akhir kalimat. Sepertinya wanita anggun di depannya ini begitu membenci Reana, sehingga ia menyuruh tiga tukang pukul untuk menghajar gadis itu.


"Kau begitu licik, Lily."


"Jangan memanggilku Lily! Hanya Rean yang boleh memanggilku begitu," ucap Lily emosi. Rean memberikan nama panggilan kesayangan untuk Lilian, dan wanita itu tak suka jika ada orang lain yang memanggilnya begitu.


"Cih," decih Reana memancing kemarahan Lilian. Wanita itu melangkah cepat ke arah Reana dan menampar gadis itu dengan kuat. Dalam hati, Reana merasa senang karena umpannya ditangkap oleh Lilian dengan baik.


Reana tahu betul watak Lilian yang asli, wanita itu sangat mudah tersulut emosi meski hanya karena hal kecil. Namun, ia akan terlihat penyabar, anggun, dan dewasa jika ada dihadapan Rean.


PLAK!


PLAK!


PLAK!


Reana mengusap pipinya yang memerah akibat tamparan Lilian, baginya tamparan itu tak sebanding dengan pukulan dan tamparan dari Rean.


"Hajar dia, kalau perlu setubuhi gadis ini sepuas kalian. Dan aku akan melihat dia tersiksa sekarang," ucap Lilian di akhiri tawanya yang keras.

__ADS_1


__________Tbc.


__ADS_2