Sadistic Brother

Sadistic Brother
35


__ADS_3

Jane tersenyum senang kala melihat Azura dan Sean yang sudah duduk manis di jok belakang mobilnya, ia yakin sekali kalau rencana untuk menyingkirkan keduanya akan berjalan dengan lancar.


Siang tadi Jane sudah menjemput si kembar tersebut ke sekolah mereka, tentu saja tanpa sepengetahuan Reana maupun Rean. Dan kini mobilnya sedang menuju ke suatu tempat yang akan menjadi peristirahatan terakhir bagi Mereka berdua.


"Tante, kita di mana?" tanya Sean yang mulai bingung dengan tempat yang dilalui mereka berupa hutan lebat di kanan dan kiri jalan. Azura melongok ke jendela mobil, ia melihat hujan mulai turun sedikit deras.


"Tante, aku ingin pulang!" ucap Azura sedikit kesal, gadis kecil itu tidak menyukai Jane sejak awal bertemu.


"Diam!" bentak Jane menahan kesal. Sepasang anak kembar itu refleks diam dan duduk dengan saling memeluk erat, mereka merasakan sesuatu yang ganjil pada Jane. Tidak pernah mereka melihat Jane tertawa seorang diri dan meracau tak jelas dengan menyebut nama paman dan Ibu mereka.


"Kakak," lirih Azura yang sudah mengalirkan air mata di kedua mata kelabunya. Sean yang tak mengerti harus berbuat apa, hanya bisa diam dan memeluk erat Adiknya dengan kedua tangannya yang kecil.


"Sudah sampai! Ayo kita turun, hahaha." Jane berkata lembut diakhiri tawa keras seolah melihat hal yang lucu. Mereka semakin ketakutan. Namun, Sean tetap memasang wajah datar dan tak menangis sedikitpun, karena memang bocah lelaki itu jarang sekali menangis.


SRET!


Dengan satu kali tarikan, Jane berhasil mengeluarkan mereka berdua dari dalam mobil. Menyeret mereka yang berusaha melepaskan diri dan berhenti di bibir jurang yang terjal.


"Karena kehadiran kalian dan Reana, aku tak bisa memiliki Rean! Kalian dan juga ibu kalian adalah penghalang bagi hubungan kami, untuk itulah aku akan mengakhiri semuanya hari ini. Aku tidak ingin jika terus hidup menderita seorang diri," racau Jane di depan kedua anak yang kini berdiri dengan ketakutan dan ketidak tahuan akan kesalahan apa yang telah mereka perbuat.


Mereka tidak mengerti kenapa Jane terlihat begitu marah pada mereka, mereka merasa tidak pernah melakukan apapun yang salah pada wanita itu. Mereka hanya mengerti tentang belajar dan juga bermain.


Tapi, entah kesalahan apa yang tak sengaja mereka lakukan hingga membuat Jane murka seperti itu.


"Jangan, Tante!" teriak Sean kala melihat Adik yang tengah dipeluknya hendak di dorong oleh Jane. Yang ia tahu adalah, Azura tak boleh terluka. Ia juga masih ingat bagaimana Adiknya pernah tergores pisau dan berakhir di rumah sakit, untuk itulah Reana selalu menjauhkan Azura dari benda-benda tajam dan berbahan kaca lainnya.


Tapi kini, Sean takut jika Adiknya akan terluka parah apabila Jane mendorong mereka ke jurang. Maka, bocah lelaki itu menggigit tangan kanan Jane hingga wanita itu kesakitan dan refleks mendorong Azura ke jurang yang terjal tersebut.


Sean yang menyadari Adiknya terjatuh, segera berteriak memanggil nama Azura dan berlari mencari jalan untuk turun ke bawah. Namun, akibat guyuran hujan yang deras membuat tanah yang ia pijak menjadi licin. Sean memutuskan untuk merayap ke bawah agar ia tak terjatuh dan terluka.


Sedangkan Jane yang melihat Azura terbaring di tanah dengan darah yang mengalir deras, membuat wanita itu kebingungan dan dilanda rasa takut luar biasa.


Segera ia pergi meninggalkan tempat itu dan kedua anak kembar yang kini tengah mempertaruhkan nyawa mereka di hutan belantara.


"Maafkan aku, aku tidak akan sejahat ini jika ibu kalian tidak terus-menerus menyakitiku," ucap Jane lirih dan menghapus air matanya yang mengalir di pipi. Ia sebetulnya tak tega pada mereka, hanya saja dendamnya pada Reana sudah membutakan mata hatinya.


***


Sean menggoyangkan tubuh kecil Adiknya yang sudah terbaring di tanah, tubuh pucat anak perempuan itu membuat Sean ketakutan untuk yang pertama kalinya. Ia tidak ingin Adiknya terluka dan akan membuat Ibunya menangis seperti dulu, ia ingin semuanya hidup bahagia seperti teman-temannya yang lain.


"Azura," panggilan lirih Sean teredam oleh suara petir dan hujan yang kian deras. Sean ingat penjelasan ibunya tentang kondisi Azura, bahwa jika Adiknya terluka maka darahnya akan sulit untuk berhenti.


Dan kini Sean melihat darah mengalir dari pelipis, siku, dan kedua lutut Azura. Dengan kekuatan kecilnya, Sean mencoba menggendong sang Adik di punggungnya yang kecil.


Sekuat tenaga ia berjalan, meski beberapa kali dirinya harus terjatuh. Ia mencari jalan yang lebih rendah untuk naik ke atas dan meminta bantuan, Sean tak mungkin memanjat tebing itu dengan Azura di punggungnya.


Hingga akhirnya ia menemukan jalan yang bisa ia lalui meski harus sedikit menanjak. Sean sekuat tenaga mencoba naik ke atas, sesekali ia memanggil Azura dan dibalas dengan gumaman kecil Adiknya. Setidaknya itu sudah menjadi penyemangat untuk anak kecil itu agar segera membawa sang Adik ke rumah sakit.


"Azura," panggil Sean kala membaringkan Adiknya di pinggir jalanan hutan, ia harus mengambil nafas sebelum kembali menggendong Adiknya menuju jalanan kota.


Azura menggigil kedingan, berbeda dengan Sean yang tak peka dengan suhu membuat bocah lelaki itu tak merasa dingin sedikitpun. Sean melepas mantel hangatnya yang basah, memakaikan pada Azura dan kembali menggendong Adiknya menuju jalanan kota.


"Azura," panggilnya lagi hanya untuk memastikan Adiknya masih bernafas atau tidak.


"Hm," gumam Azura yang tak bisa lagi menjawab pertanyaan Kakaknya.


Setelah mendengar Adiknya masih bisa bergumam meski lirih, ia kembali menggendong tubuh Azura. Sean hanya berpikir untuk ke rumah sakit agar Adiknya di tolong oleh Dokter.


Sean yang memiliki ingatan cukup kuat tak kesulitan saat dihadapkan pada perempatan jalan di mana ia harus berbelok menuju kota. Hingga 20 menit kemudian ia sampai di jalanan kota dan terus berjalan mencari rumah sakit terdekat. Adiknya harus segera di tolong oleh Dokter, itulah yang ia pikirkan.


***


Reana terus menangis kala tak mendapati kedua anaknya di sekolah maupun di rumah teman-teman baru mereka. Beberapa kali Rean menghubungi anak buahnya yang ditugaskan untuk mencari Sean dan Azura, tapi tetap saja mereka tak membuahkan hasil sama sekali.


Hingga akhirnya Karina yang tak sabar memutuskan untuk mencari mereka bersama dengan Saga, ia tak ingin kedua cicitnya terluka sedikitpun.


Melihat Karina yang pergi dengan Saga, membuat Rean dan Reana bergegas mencari kedua anaknya sendiri, mereka tak bisa terus-terusan mengandalkan anak buah Rean yang entah bagaimana cara kerjanya hingga tak berhasil menemukan Sean dan Azura.


Siang berganti senja, dan hujan juga telah mereda. Rean dan Reana terus memfokuskan pandangan mereka pada tiap sudut jalanan kota, sembari berdoa dalam hati dan juga saling menguatkan. Reana tak henti-hentinya menangis memikirkan nasip si kembar. Kenapa cobaan dalam hidupnya tak juga kunjung pergi?


Ponsel Rean berbunyi menandakan panggilan masuk untuknya, lelaki itu menepikan mobilnya dan mengangkat panggilan itu dengan sedikit rasa tak sabar.


"Apa benar saya berbicara dengan CEO perusahaan Hounten?" suara seorang wanita menyapa Indra pendengaran Rean, lelaki itu bergumam meng-iya-kan pertanyaan perempuan asing tersebut.


"Saya mendapatkan nomor telepon anda dari perusahan anda, Tuan."


" Jangan bertele-tele, cepat katakan ada apa?!" bentak Rean merasa si penelpon telah membuang-buang waktunya.


"Ada dua orang anak berusia sekitar lima tahun dalam perawatan kami, di rumah sakit st. Thomas. Salah satu dari keduanya dalam kondisi kritis." jelas wanita itu yang membuat jantung Rean seakan berhenti berdetak sesaat, kemudian disusul dengan detak jantung yang seperti sebuah dentuman hingga terasa nyeri dan napasnya juga tercekat. Ia bahkan kesulitan untuk menanyakan siapa dua anak kecil itu.


"Aku akan segera ke sana, dan lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka!" ucap Rean kemudian menutup sambungannya secara sepihak.


Reana tak perlu lagi bertanya siapa yang menghubungi Kakaknya tadi dan apa yang mereka bahas, karena wanita itu sudah dapat membaca hal buruk yang terjadi dari sikap Rean yang tampak kacau dan panik.


Reana hanya duduk diam tanpa banyak protes kala Rean memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, wanita itu hanya berdoa dalam hati semoga kedua anaknya bisa diselamatkan.

__ADS_1


"Tenanglah, mereka kuat sama sepertimu," ucap Rean dengan satu tangannya yang mengelus puncak kepala Reana. Meski ia juga tengah dilanda kepanikan hebat, akan tetapi Rean tetap berusaha tenang untuk menguatkan Reana.


"Aku takut," cicit Reana yang mulai merasa kepanikan hebat menyerangnya. Ia terus berdoa pada Tuhan agar melindungi kedua anaknya.


***


Tak butuh waktu lama bagi mereka sampai di rumah sakit St. Thomas, tepat 10 menit mereka telah sampai di sana. Rean dan Reana langsung menuju ke ruang di mana Azura tengah berbaring lemah di dalamnya setelah mereka mendapat data anak-anak itu dari resepsionis rumah sakit.


"Di mana Sean?" tanya Rean pada seorang perawat ketika ia tak melihat Sean di sana. Perawat tersebut kemudian membawa Rean menuju ruang rawat vvip dan melihat Sean tengah duduk menangis seorang diri di sana. Rean segera berlari dan memeluk putra sulungnya.


Lelaki itu juga memeriksa seluruh tubuh Sean kalau-kalau ada yang terluka, dan ternyata putranya itu hanya sedikit tergores dibagian lututnya.


Rean menciumi kedua pipi dan kening Sean, ia bersyukur putranya baik-baik saja.


"Paman, aku takut ... aku tidak bisa menjaga Azura dengan baik, hiks ... aku bukan Kakak yang baik," ucap Sean merasa bersalah. Bocah lelaki itu menangis bukan karena lututnya yang terluka, akan tetapi ia menangis karena rasa bersalah pada Adiknya.


Rean memeluk hangat putranya, ia mengusap punggung Sean seolah menenangkan putra sulungnya tersebut. Sean yang merasa nyaman akan pelukan Rean, perlahan mulai meredakan tangisannya.


"Tidak akan terjadi apapun pada Azura, dia gadis kecil yang kuat, sama seperti Ibumu." Sean sebetulnya juga merasa khawatir pada Azura, tapi ia memilih memasang wajah datar seolah semua baik-baik saja agar tak membuat Sean semakin merasa sedih dan bersalah.


Tak berapa lama kemudian Karina datang bersama Saga setelah mendapat telepon dari Reana, mereka menggantikan Rean untuk menjaga Sean, sedangkan lelaki itu menemani Reana yang tengah cemas menunggu Azura yang sedang kritis.


"Pasien membutuhkan donor darah, golongan darahnya A (+)," ucap seorang Dokter yang keluar dari ruangan Azura. Reana hendak mendonorkan darahnya, namun Rean mencegahnya dan memilih mendonorkan darah lelaki itu untuk putrinya.


Karena ia tahu Reana sedang dalam kondisi yang kurang sehat.


"Terimakasih, Kak," ucap Reana dengan air mata yang masih berlinang.


"Sama-sama, Sayang," jawab Rean sembari menghapus air mata Reana. Lelaki itu juga mencium bibir Reana singkat sebelum mengikuti Dokter lelaki tersebut ke ruangan transfusi darah.


***


Karina menyuapi Sean semangkuk sup yang telah ia berikan sedikit es batu agar cukup hangat untuk dimakan. Wanita tua itu sempat panik lantaran cucunya memakan sup yang asapnya masih mengepul tanpa didinginkan terlebih dahulu.


Hingga ia memanggil seorang Dokter untuk mengecek lidah dan rongga mulut cucunya karena takut melepuh akibat sup yang panas itu.


Namun, Dokter memberi penjelasan yang membuat Karina merasa begitu terpukul. Sean mengidap CIPA, cucunya itu memiliki sindrom yang tak bisa merasakan rasa sakit pada permukaan kulitnya.


Karina juga ingat ketika beberapa waktu lalu


tangan Sean sempat tersiram air mendidih lantaran bocah lelaki itu yang tak sengaja menabrak seorang maid ketika berlarian di dapur. Sean ketika itu tengah bermain kejar-kejaran bersama Azura, Adiknya.


Melihat tangannya yang tersiram air mendidih, Sean sama sekali tak merasa kesakitan sedikitpun, bahkan ia tetap saja berlarian bersama Azura, hingga akhirnya Karina melihat tangan bocah itu yang sudah melepuh. Beruntung ketika kejadian tak ada Rean di sana, jika sampai Rean mengetahuinya, bisa jadi si Maid tersebut sudah pulang tinggal nama saja.


"Boleh kah Nenek bertanya sesuatu padamu, Sean?" tanya Karina hati-hati. Sean mengangguk dengan mulut masih penuh sup.


"Siapa yang melakukan ini semua padamu?" tanya Karina yang sudah ingin menanyakan hal itu sejak awal ia datang, akan tetapi ia urungkan mengingat kondisi Sean belum memungkinkan untuk ditanyai lebih lanjut.


"Tante Jane, Nenek." Karina membulatkan matanya tak percaya. Seketika amarah wanita tua itu mencapai ubun-ubunnya kala mengetahui siapa yang sudah tega mencelakai kedua cicit kesayangannya.


Begitu juga dengan Saga yang sedari tadi berdiri diam di samping Karina, lelaki itu bahkan sudah mengepalkan tangannya karena emosi.


"Beri tahu Reana siapa yang harus bertanggung jawab." Karina berkata lembut pada Saga meski tengah diselimuti amarah yang siap meluap kapan saja. Ia tak ingin menunjukkan ekspresi marahnya di depan Sean.


"Baik," jawab Saga kemudian pergi meninggalkan Karina yang masih menyuapi Sean dengan sabar.


***


Reana, wanita itu menatap dingin pada Jane yang kini mundur beberapa langkah darinya. Sebuah katana mengkilat sudah ada di tangan kanan Reana yang siap ia ayunkan ke arah Jane kapan saja yang ia mau.


Jane tidak menyangka jika Reana bisa berbuat sekejam itu padanya, wanita itu kemudian meraih vas bunga kecil dan melemparkannya ke arah Reana yang dengan santainya ditangkis menggunakan katana hingga benda itu terpental dan jatuh ke lantai hingga pecah berkeping-keping.


"Berani sekali kau bermain-main denganku, Jane," desis Reana dingin yang seketika membuat kedua kaki Jane lemas. Wanita itu menelan salivanya susah payah, tenggorokannya terasa tercekat dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.


"Re-ana, k-kau gila!" pekik Jane yang berusaha mundur ke belakang seiring Reana maju perlahan. Tampak olehnya tatapan dingin Reana yang membuat wanita itu semakin mirip dengan Rean.


Meski wajah Reana lebih dominan seperti orang Asia, akan tetapi mata, bibir, warna rambut begitu mirip dengan Rean. Wajah mereka juga hampir mirip jika dilihat sekilas mata.


"Aku tidak akan seperti ini, jika kau tak mengajakku bermain, Sayang." Reana berkata tenang dengan senyum smirk yang menyeramkan.


Reana bisa terima jika Jane mengambil Rean darinya, akan tetapi ia tak akan terima jika seseorang menyakiti anak-anaknya. Sekuat tenaga ia akan melindungi keduanya, apalagi sekarang si bungsu Azura tengah terbaring koma di rumah sakit.


Nyawa gadis kecilnya sedang terancam, dan putra sulungnya kini mengalami ketakutan luar biasa dan rasa bersalah mendalam atas apa yang menimpa Azura. Bocah lelaki itu terus menyalahkan dirinya sendiri juga enggan bertemu dengan orang lain selain Karina, Rean dan Reana.


Sean mengalami trauma akibat perbuatan Jane yang sudah dianggap sebagai sahabat oleh Reana sendiri.


SRET!


"Akh! Sa-sakit," lirih Jane yang diakhiri isakan pilu kala kulit lengan atasnya tergores cukup dalam. Darah segar merembes dari sana, Jane memegangi lukanya dengan tangan satunya.


Sedangkan Reana terus berjalan mengikuti Jane yang terus mundur hingga menaiki dua anak tangga penghubung lantai dua.


"Astaga, Reana!" panggil Rean dengan nafas tersengal akibat berlari lari pintu gerbang mansionnya yang terlambat dibuka oleh penjaga kediamannya. Lelaki itu datang dengan Saga yang juga sama terkejutnya dengan Rean.


"Rean, tolong aku," isakan Jane mengiba pada Rean yang kini berdiri di belakang Reana.

__ADS_1


"Reana, tolong hentikan! Biar aku yang mengurusnya, aku akan--"


"DIAM!" bentak Reana yang sukses membuat Rean bungkam. Lelaki itu bukannya mengasihani Jane, ia hanya tak ingin membiarkan Reana menjadi pembunuh sama seperti dirinya.


"Reana, kau lihat sendiri kan? Rean lebih peduli padaku daripada dirimu yang hanya Adiknya saja. Seharusnya kau sadar posisimu sebagai Adik, tidak seharusnya kau menggoda Kakakmu sendiri agar tidur denganmu!" Jane berkata lantang pada Reana yang kini menunduk diam. Wanita itu tak merespon ucapan Jane sedikitpun, tapi Jane menganggap keterdiaman Reana adalah karena ibu dua anak itu takut padanya.


Jane kemudian berlari ke arah Rean dengan cepat, wanita itu memeluk Rean dengan erat meminta perlindungan.


"Reana," panggil Rean lirih tak percaya melihat Reana yang kini tampak begitu mengerikan.


Reana kemudian mengambil Revolver dari laci meja yang ada di dekat kamar Rean, dan dengan pandangan datar tanpa ekspresi, Reana mengarahkan ujung senjata api itu pada Jane dan Rean.


"Reana, kau tidak ahli dalam menembak. Jika kau menembak Jane, bisa jadi justru akan mengenai Rean." Saga memperingati Reana dan berharap wanita itu mau menurunkan senjata apinya.


"Aku tidak peduli!" jawab Reana datar yang membuat Rean tersentak. Lelaki itu tak melihat adanya cinta sedikitpun di mata Reana untuknya.


Ia ingat posisi seperti ini, di mana dulu keadaannya Reana yang menjadi sasaran bidikan Revolvernya, tapi kini keadaannya berbalik.


"Rean, kau lihat kan wanita itu. Dia bukan hanya wanita murahan yang menggodamu agar kau menidurinya, tapi ia juga iblis yang bisa melenyapkan nyawa manusia--"


DOR!


"Akh!" pekik Jane tak dapat melanjutkan kata-katanya kala sebuah timah panas bersarang pada dada kanannya.


Reana tersenyum miring, ia kemudian mengayunkan katananya yang berada di tangan kanan ke arah bahu Jane.


SRET!


Darah segar mengucur dari bahu Jane yang kini menganga cukup dalam. Reana kemudian menarik Rean dengan kasar dan mendorongnya agar menjauh dari Jane.


"Ikut denganku!" ucap Reana dingin kemudian tanpa bekas kasihan sedikitpun ia mengikat kedua tangan Jane kebelakang dan menjambak rambutnya dengan kasar agar mengikutinya pergi entah ke mana.


Sedangkan Rean dan Saga memilih mengikuti mobil Reana dari belakang.


***


Rean mengehentikan mobilnya ketika melihat mobil yang dikendarai oleh Reana berhenti tepat di bibir jurang. Wanita itu kemudian turun dan membuka pintu belakang mobilnya untuk menarik Jane keluar dari sana, tampak Jane yang sudah kehilangan banyak darah membuat wanita itu pucat dan lemas.


"Reana, jangan bertindak gegabah. Aku juga sama marahnya sepertimu, tapi jangan membuat dirimu sendiri jadi pembunuh." Rean berkata lembut pada Reana. Ia tak ingin jika wanita yang ia cintai melakukan tindakan jahat seperti itu.


"Aku adalah seorang ibu, aku tidak akan membiarkan orang sepertinya hidup bebas setelah menyakiti kedua anakku. Kau yang baru bertemu dengan Sean dan Azura tidak akan mengerti bagaimana usahaku selama ini untuk menjaga mereka. Memiliki kedua anak yang menderita sindrom CIPA dan penyakit hemofilia, bukanlah hal yang mudah untuk menjaga mereka seorang diri." Rean merasa terpukul jantungnya kala mendengar penuturan dari Reana.


Kedua anaknya menderita penyakit berbahaya dan ia tidak mengetahuinya?


Ayah macam apa dia?


Pantas saja Reana begitu murka ketika mengetahui Jane yang telah menyakiti kedua anaknya. Itulah berbagai pertanyaan yang ada di dalam kepala Rean, ia merasa tak berguna sebagai seorang Ayah.


Ia tak dapat membayangkan bagaimana Reana bisa mengurus dan menjaga kedua anak mereka seorang diri.


"Itu adalah karma kalian selama ini! Lihatlah anak-anak mu, Reana, mereka menanggung semua dosa kalian. Dan aku akan mengakhiri semua penderitaan mereka dengan melenyapkan mereka berdua agar tak terus hidup menderita." Jane kemudian tertawa meremehkan Reana yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ia memang pantas mati!" desis Rean yang kemudian menyandarkan punggungnya pada mobil milik Reana. Ia tak lagi ingin menghalangi Reana menghabisi nyawa Jane. Bahkan, tangannya sendiri sudah gatal ingin mencekik leher wanita iblis itu.


"Seharusnya kau berterima kasih pada kami karena telah menyelamatkanmu yang nyaris terlempar di jalanan." Jane menatap Rean yang berkata demikian. Ia bingung dengan ucapan laki-laki itu.


"Apa maksudmu?" tanya Jane dengan suara bergetar.


"Ayahmu menjualmu pada Nenekku karena dia terlilit hutang pada Nenekku dan tak bisa melunasinya. Dan asal kau tau, semua perusahaan yang Ayahmu miliki, itu sudah menjadi milikku." Rean berkata dengan congkaknya membongkar semua kebaikan Karina selama ini pada Jane karena mengincar perusahaan milik keluarganya.


"Tidak mungkin," ucap Jane yang sudah seperti orang linglung.


"Dan kenapa kau dijodohkan denganku? Itu karena Nenekku tak mau rugi dengan melepas gadis cerdas sepertimu. Kau pintar dalam mengelola perusahaan itu, jadi Nenekku ingin mendapatkan perusahaan dan juga seluruh aset kekayaan kalian, sekaligus otak jeniusmu untuk dimanfaatkan."


Rean tersenyum merendahkan pada Jane yang kini menangis terisak. Sejak lama Rean mengetahui niat busuk Karina untuk merampas semua kekayaan keluarga Jane dengan cara membuat mereka terlilit hutang yang sangat besar.


Awalnya Rean menolak rencana itu karena berimbas pada dirinya yang harus menikahi Jane. Namun, seiring ia juga menikmati hasil kerja Karina dalam mengumpulkan kekayaan keluarga Jane, ia pun ikut membantu dengan menyuruh Jane menandatangi hak kepemilikan mansion dan bar dengan dalih Jane harus menandatangani dokumen produser pernikahan.


"Licik!" desis Jane marah.


"Terimakasih pujiannya," ucap Rean tersenyum bangga. Kemudian lelaki itu mengambil Revolver milik Saga dan menembak tepat pada kepala Jane.


Setelahnya Reana melepaskan pegangannya pada bahu Jane, dan Saga yang kemudian menendang jasad Jane ke jurang yang cukup dalam itu.


"Biarkan saja mereka berpesta," ucap Rean yang melihat beberapa binatang liar yang mulai menghampiri jasad Jane di bawah jurang sana.


Setelahnya lelaki itu menghampiri Reana yang nampak shock, mencium mesra bibir wanita itu yang gemetar karena menahan tangis. Bagaimana pun juga, Jane adalah sahabatnya.


"Haruskah aku menyesal?" tanya Reana yang dijawab gelengan kepala oleh Rean.


"Tidak. Dia pantas mendapatkannya, kematiannya setimpal dengan kejahatannya pada kedua anak kita." Rean memeluk Reana dengan hangat. Menenangkan wanita itu agar tak terlarut dalam kesedihan dan rasa bersalah.


Rean kemudian melempar kunci mobil Reana pada Saga, menyuruh bawahannya itu untuk membawa mobil sang Adik sedangkan ia akan ke mansion bersama dengan Reana.


____________Tbc.

__ADS_1


__ADS_2