
Reana menikmati sarapannya dengan tenang, gadis itu sesekali menghafal dalam hati dialog drama yang akan ia perankan satu minggu lagi. Reana sangat menyukai bermain drama, biola, dan juga melukis.
Rean turun dari tangga dengan setelan formalnya, lelaki dewasa itu terlihat sangat tampan dan sempurna seolah tanpa cacat sedikitpun padanya. Reana segera bangkit dari tempatnya duduk, ia tidak sadar bahwa Rean ada di sana. Ia tengah terburu-buru sekarang.
Merasa tak dihargai oleh Reana, Rean tersulut emosi dan menarik kasar rambut Adiknya hingga gadis itu tertarik ke belakang. Reana tersentak kaget kala punggungnya menubruk dada bidang sang Kakak.
Reana mendongak ke atas dan melihat Rean tengah menatapnya dengan kilatan emosi yang terpancar jelas pada netra tajam lelaki tersebut. Reana merasa kedua kakinya lemas seketika, ia tidak tahu lagi kesalahan apa yang ia buat hingga memancing kemarahan Kakaknya.
"Am-pun, Kak," lirih Reana. Ia begitu takut pada Rean yang sepertinya akan melahapnya hidup-hidup.
"Tidak tahu sopan santun! Berani benar kau meninggalkan meja makan ketika aku datang! Bocah sialan!" maki Rean kejam pada Reana.
PLAK!
Reana memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Rean, kuatnya tamparan lelaki itu hingga membuat Reana jatuh ke lantai yang dingin.
"A-ku tidak bermaksut un-tuk kurang ajar k-kak." Reana berusaha menjelaskan pada Rean yang terlihat semakin emosi.
"Tidak bermaksut katamu? Cih! Gadis bodoh!" Rean menjambak Adiknya dan meyeret gadis itu untuk menaiki tangga menuju lantai tiga. Sebuah kamar kedap suara yang selalu Rean gunakan untuk menyiksa Reana sepuas hati.
Rean yang awalnya memang kesal pada Ayah Lilian yang memutuskan untuk mempercepat pertunangannya dengan Lilian, melampiaskan kekesalah itu pada Reana yang gak tahu menahu perihal masalah itu.
Rean memang mencintai Lilian, hanya saja ia masih belum mau terikat dalam hubungan pernikahan. Rean masih ingin bebas dan masih ingin terus mengembangkan bisnisnya tanpa aturan dari si tua Benjamin.
Ben adalah tipe orangtua pengatur yang selalu ingin semua orang menuruti kamauannya, ia juga ingin semua orang tunduk atas perintah dari Ben. Bukan tidak mungkin sifat itu juga menurun pada Lilian, maka dari itu Rean selalu mengulur waktu yang telah mereka tentukan untuk hari pernikahan yang bagi Rean sama saja dengan menyerahkan harga dirinya pada Ben begitu saja.
***
__ADS_1
Ruangan itu penuh dengan berbagai macam senjata api, busur dan anak panah, pisau lipat yang begitu tajam, serta cambuk yang selalu Rean gunakan untuk menghukum Reana.
Lelaki itu ingin menyalurkan emosinya pada Ben, ia benar-benar kesal pada orang tua itu dan ingin menghabisinya jika ia tak ingat bahwa Ben adalah orangtua dari kekasihnya.
Sejahat-jahatnya Rean, ia sangat menyayangi Lilian sehingga gak ingin melihat wanita itu menangis. Maka apapun akan ia lakukan.
Rean menatap Adiknya yang kini berdiri dengan gemetar sembari memeluk tas ransel sekolahnya. Rean segera mengunci pintu ruangan itu hingga membuat Reana diserang rasa panik dan ketakutan yang teramat sangat.
Gadis itu meringkuk di kaki ranjang sembari menunggu detik penyiksaannya dimulai. Terlihat Rean kini tengah mengambil pisau lipat yang ada di rak khusus untuk meletakkan belati serta anak panah. Lelaki itu tersenyum sadis dan segera menghampiri Reana.
Rean mencengkram pergelangan tangan Adiknya, gadis itu menggeleng cepat kala dilihatnya sang Kakak yang memposisikan ujung pisau yang begitu runcing mengkilat di atas telapak tangannya.
"Jangan, Kak ... kumohon Jangan!" teriak Reana panik kala Rean semakin mendekatkan ujung pisau pada telapak tangannya. Rean tersenyum meremehkan dan mulai mengukir sesuatu pada telapak tangan Reana.
"Kau harus selalu patuh pada perintahku. Namaku sudah terukir indah di telapak tanganmu, dan kau harus mengingat satu hal bahwa kau hanya milikku!" desis Rean dan memandangi guratan penuh darah pada telapak tangan kecil Reana. Ia tersenyum puas, nama Rean terukir di sana.
"Hiks ... hiks ... aku akan pergi meninggalkan Kakak dan kembali ke rumah Nenek. Aku tidak mau tinggal dengan Kakak lagi!" ucap Reana sedikit keras. Rean yang trauma atas masa lalu yang membuatnya kehilangan kedua orangtua dan hampir juga kehilangan Reana, menjadi semakin marah kala Adiknya berani mengatakan akan meninggalkannya.
"BERANI KAU MELAWANKU? HUH?" teriak Rean emosi, ia tak akan membiarkan Adiknya pergi begitu saja.
"KAKAK JAHAT! TIDAK PUNYA HATI DAN KEJAM! AKU TIDAK MAU TINGGAL DENGAN KAKAK LAGI!" teriak Reana melawan Rean. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya duduj dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, Rean dengan cepat menghentikan langkahnya, mencekik Reana dari belakang dan membisikkan sesuatu di telinga Reana.
"Sampai kapanpun kau tak akan bisa keluar dari mansionku. Kau hanya milikku, tubuhmu hanya diciptakan untukku. Maka dari itu jangan coba-coba lari dari sini atau kau akan menerima konsekuensinya, Sayang. Aku tak akan segan menghabisi Nenek yang sangat kau sayangi itu jika kau berani melawanku!" desis Rean di telinga Adiknya. Ia sangat menyayangi Neneknya, untuk itulah Reana terpaksa mengangguk dan menuruti kemauan Rean.
"Hiks ... jangan sakiti Nenekku! Lakukan apapun sesuka hatimu padaku, asal jangan sakiti Nenekku!" pinta Reana memohon pada Rean. Lelaki itu tersenyum licik, ia berhasil mengendalikan Reana kembali.
__ADS_1
"Aku akan mengampunimu dan juga wanita tua itu. Asalkan kau menuruti keinginanku. Jangan pernah berdekatan apalagi berpacaran dengan pria di luar sana, jika aku melihatmu mendekati mereka, maka aku akan menghabisi mereka tepat di depan matamu. Dan jika kau berani kabur apalagi membangkang dariku, maka aku akan menghabisi si tua itu tanpa ampun! Kau mengerti?" Reana mengangguk cepat, ia kini tak bisa lagi berpikir dengan jernih.
Rean kemudian melepas cekikan di leher Adiknya, terdapat bekas memerah di leher Reana. Rean memeluk Reana dari belakang secara posesif, dan detik berikutnya lelaki itu melumat lembut bibir Reana.
Tak ada yang bisa Reana lakukan. Ia hanya diam membisu. Ia masih bingung kenapa tiba-tiba Rean mencium bibirnya begitu lama juga begitu lembut, dan jangan lupakan bahwa ini adalah ciuman pertama Reana.
Ada rasa sakit dan sesak di dada gadis itu ketika mengetahui ciuman pertamanya diambil begitu mudah oleh Kakak kandungnya sendiri, rasa sakit di hati mengalahkan rasa sakit pada telapak tangannya yang terus mengucurkan darah pada setiap goresan yang Rean buat.
***
Rean kini tengah duduk di sofa tunggal yang ada di kamarnya. Beberapa dokumen penting ia periksa dengan teliti, secangkir teh dan kue buatan Reana selalu menemani lelaki itu kala tengah bersantai di rumah atau tengah mengerjakan dokumen kantornya.
Rean menatap ke arah Reana tengah tertidur pulas di ranjangnya. Pria itu tersenyum tulus ketika melihat wajah cantik Adiknya yang terlelap damai. Rean mengingat ciuman yang dilakukannya tadi pada Reana, lelaki itu kembali tersenyum kala mengingat rasa manis dan lembut bibir sang Adik.
Lelaki tersebut berdiri dari tempatnya duduk dan melangkah ke arah Adiknya yang terlelap, ia duduk di samping Reana dan mengelus lembut tangan terlilir perban akibat luka yang ia torehkan.
Rean memutuskan ikut masuk dalam selimut bersama Reana, memeluk hangat tubuh sang Adik kemudian ia ikut terlelap dalam mimpi.
Entah kenapa ada perasaan senang dan tenang kala berada di dekat Reana, lelaki itu berjanji tak akan membiarkan Reana pergi dari hidupnya. Ia ingin terus menyiksa Adiknya hingga gadis itu merasakan kesakitan hatinya selama ini. Yah, itulah yang ada di pikiran Rean.
________ Tbc.
__ADS_1