
Rean menatap tajam Karina yang duduk dengan congkaknya di kursi ruangan kerja Rean. Rasanya lelaki itu ingin segera melenyapkan Neneknya sendiri jika tak ingat betapa Reana begitu menyayangi wanita tua itu.
"Sekarang berikan foto-foto dan video itu!" ucap Rean penuh penekanan. Ia sudah muak jika harus berpura-pura baik pada Jane dan akan terus menyakiti Reana.
"Aku akan menyerahkan foto-foto dan juga videonya, jika kau sudah menikahi Jane," ucap Karina santai, ia yakin jika cucunya itu akan menurut padanya kali ini.
"Apa kau gila?! Aku tak akan Sudi menikahi wanita lain! Bahkan bertatapan dengan mereka saja aku merasa jijik!" ucap Rean tanpa sopan santun sedikitpun.
Baginya, wanita tua yang ada di depannya saat ini bukan lagi Neneknya, tapi seorang iblis yang berusaha menghancurkan masa depan cucunya sendiri. Entah kenapa ia begitu kejam pada Reana.
"Kalau begitu aku akan menyebarkannya ... dan kita akan lihat bagaimana reaksi Reana setelah aibnya tersebar luas. Apa kau siap melihat gadis itu hancur?"
Rean terkesiap, jika sudah menyangkut Reana, lelaki itu akan menjadi lemah dan tak berguna sama sekali. Rean mengepalkan tangannya, ia tak ingin jika masa depan Reana hancur karena foto dan video itu.
Karena foto dan Video itu berisi tentang Reana yang dalam kondisi nyaris tanpa busana saat bercumbu mesra dengan Rean beberapa hari lalu di kamarnya.
Orang suruhan Neneknya itu sangat ahli dalam menyamarkan identitas Rean, karena di dalam sana hanya berisikan wajah Reana tanpa terlihat wajah Rean sedikitpun.
Foto yang menjelaskan seolah-olah Reana tengah bermain dengan pria hidung belang yang masih mengenakan setelan formalnya. Sungguh, Rean merasa geram kali ini.
"Jangan main-main denganku, Nenek! Aku tidak akan segan-segan untuk mem--"
"Membunuhku?" tanya Karina remeh, " apa kau sanggup membunuh Nenekmu sendiri, Rean?" lanjut Karina meremehkan Rean. Secepatnya Rean mengambil Revolver dari laci meja penyimpanan di ruangan tersebut.
Tanpa perasaan sedikitpun, Rean segera menempelkan ujung senjata apinya pada kening Karina. Wanita tua itu kaget bukan kepalang, pasalnya sang cucu dengan tega akan membunuhnya.
"Dengan senang hati akan aku lakukan!" desis Rean yang sudah siap menarik pelatuknya.
"Dan apa kau siap jika melihat Reana bersedih, dan jangan lupakan kalau dia akan membencimu seumur hidupnya!" lagi-lagi Karina menjadikan Reana sebagai tamengnya, ia yakin kalau Rean akan sungguh-sungguh menghabisinya detik ini juga. Namun, lelaki itu akan luluh jika sudah menyangkut Reana.
Benar saja, Rean segera menarik kembali tangannya. Membayangkan akan dibenci oleh Reana dan kehilangan cinta gadis itu saja, sudah membuatnya sakit. Bagaimana jika itu semua sungguh-sungguh terjadi? Bisa-bisa Rean yang nantinya akan membunuh dirinya sendiri.
"Ini." Karina menyerahkan beberapa lebar foto Reana dalam keadaan yang kurang pantas.
"Mana sisanya? Jangan sebarkan foto ini. Kau boleh menghancurkanku, tapi jangan hancurkan Reanaku," ucap Rean buru-buru memasukkan foto itu dalam amplop. Ia tak ingin jika orang lain melihat tubuh gadisnya yang terekspose.
"Akan ku serahkan setelah kau menikahi Jane!" Karina tetap tak ingin mengalah pada Rean.
"B********!" umpat Rean tak peduli siapa lawan bicaranya sekarang. Jika saja lelaki itu tak ingat Reana, bisa dipastikan saat ini Karina sudah di sapa oleh malaikat pencabut nyawa.
Rean memutuskan pergi dari ruang kerjanya. Berdebat dengan Karina sama saja seperti berdebat dengan anak kecil yang tak mau mengalah.
***
Rean berdiri di balkon perpustakaan yang ada di mansionnya, sebuah buku cukup tebal berada di tangannya. Buku itu berisi tentang dampak pernikahan terlarang antar saudara. Adanya kemungkinan keturunan mereka yang terlahir cacat, mengidap autoimun, hingga bayi yang tak selamat dan juga sulit mendapat keturunan.
Lelaki itu menerawang jauh ke masa depan, ia menatap langit seolah dirinya dapat melihat gambaran masa depannya di atas sana. Rean menghembuskan napas lelah, berbagai cobaan bertubi-tubi datang menghampirinya.
Bukan hanya jalannya bersatu dengan sang Adik yang sangat sulit, tapi juga dampak di kemudian hari jika mereka resmi menikah.
Namun, bukan Rean namanya jika ia menyerah begitu saja. Lelaki itu bersumpah tak akan melepaskan Reana, meski gadis itu sendiri yang meminta.
"Rean," panggil seorang gadis dari arah belakangnya. Rean menoleh dan melihat Jane ada di sana, gadis itu berdiri hanya beberapa meter di depannya, sangat dekat.
"Ada apa?" Rean bertanya dingin pada Jane, ia muak dengan wanita bermuka dua itu.
"Kita harus ke butik untuk memesan gaun pengantin. Aku memiliki kenalan seorang desainer terkenal, kita bisa menemuinya," ucap Jane menawarkan pilihan pada Rean. Gadis itu tersenyum cantik.
"Nanti sore saja, Jane. Aku sedang kurang sehat pagi ini."
"Apa kau membutuhkan Dokter? Aku bisa memanggilkannya untukmu." Jane menyentuh punggung tangan Rean, lelaki itu sebenarnya ingin menepis, tapi ia urungkan mengingat semua yang dilakukannya pada Jane akan dilaporkan gadis itu pada Karina. Dan jika ia memperlakukan Jane dengan kasar, maka Karina akan berlaku lebih kejam pada Reana.
"Tidak, aku cukup beristirahat saja," tolak Rean pelan. Jane mendekat, gadis itu menangkup wajah Rean dengan tiba-tiba.
Semakin dekat hingga Jane melumat bibir Rean dengan lembut. Lelaki itu hanya diam, tak ada balasan dan tak ada penolakan. Namun, hatinya terasa sakit ketika membayangkan wajah kecewa Reana.
__ADS_1
PRANG!
Suara ribut pecahan benda berbahan keramik mengagetkan mereka berdua. Sontak keduanya menoleh ke arah pintu, ada Reana di sana dengan tatapan kosong penuh luka.
Air matanya mengalir deras, bahkan ia melupakan kakinya yang berdarah akibat pecahan piring keramik yang ia bawa.
Rean segera berjalan ke arah Reana, akan tetapi gadis itu dengan cepat berlari dari sana. Ia tak memperdulikan Kakaknya yang terus memanggil bahkan mengejar dirinya. Hatinya sudah sakit, hatinya remuk, dan hatinya sudah pedih akan luka sayat yang ditorehkan oleh Rean cukup dalam.
Ia berlari melewati pintu utama mansion, tak ada arah tujuan, yang jelas ia ingin pergi jauh dan tak lagi melihat Rean dan Jane di sekitarnya.
BRUK!
"Maaf ... hiks ... maafkan aku," ucap Reana di sela sesenggukannya. Gadis itu terus menunduk menyembunyikan wajah sembabnya. Ia tak ingin orang lain tahu dirinya menangis, meski itu tampak sia-sia belaka, karena orang yang ia tabrak sudah mengetahui air matanya sejak awal.
"Reana?" panggil lelaki itu pelan. Reana mendongak, dan tangisannya semakin kencang kala melihat siapa yang ia tabrak itu.
"Paman ... hiks ... Paman Aldric ... hiks ... sa-kit, sakit sekali ... hiks," tangis Reana yang membuat Aldric menatap pilu gadis kecil itu. Ia seakan ikut merasakan kesakitan yang Reana derita, Aldric merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Membiarkan jas mahalnya basah oleh air mata Reana, ia juga membiarkan Reana meraung di dalam pelukannya.
Tak peduli di mana mereka kini berada, tak peduli berapa pasang mata yang menatap mereka dengan pandangan bertanya-tanya, dan tak peduli seberapa lama Reana menangis dan ia harus terus berdiri sembari mendekap erat gadis remaja itu.
Aldric hanya ingin sedikit saja berguna untuk Reana, meski ia nantinya tak akan bisa memiliki gadis tersebut. Tak apa, asal ia bisa selalu hadir kala Reana terluka. Tak apa, asal ia bisa memberikan kebahagiaan sesaat untuk Reana sebelum gadis itu di bahagiakan oleh orang yang benar-benar dicintainya.
Sakit? Tentu saja sakit. Namun, Aldric sudah banyak belajar menahan sakitnya luka kehidupan, ia sudah belajar dari kecil tentang berbagai macam kesakitan.
Hidupnya tak sesempurna yang orang lain lihat, Aldric tetaplah manusia biasa yang memiliki masa lalu kelam sama seperti orang lain pada umumnya.
"Menangis lah. Tak apa, aku ada di sini." hanya itu yang Aldric katakan, Reana memeluk lelaki itu dengan kuat, tangisannya sedikit mereda dan ia ingin pergi menghilang dari kehidupan Rean dan keluarganya yang lain.
Namun, jika ia pergi, bagaimana dengan Raina? Adiknya itu sangat manja padanya dan juga tengah membenci Rean saat ini. Bagaimana jika ia membenci Reana juga? Reana bimbang, ia juga tak bisa egois dengan memilih pergi begitu saja dan ia juga tak bisa membiarkan hatinya terus merasa sakit dan akhirnya hancur seorang diri.
Ia tak bisa terus menunggu diam di istana Rean hingga hari kehancurannya itu tiba.
"Bawa a-ku pergi, Paman. Ke manapun," ucap Reana terisak. Aldric memejamkan mata, ia ingin membawa Reana pergi. Akan tetapi, gadis itu akan semakin menderita jika hidup bersamanya yang sama sekali tak dicintai Reana.
"Ayo, ikut denganku." Aldric membawa Reana ke mobilnya tepat saat Rean berhenti di belakang gadis itu. Aldric menatap Rean dengan penuh kecewa, tak apa jika kali ini Aldric bersikap sedikit egois pada Reana. Ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada Rean tentang arti Reana di sisinya.
"Reana," panggil Rean lirih penuh rasa sakit dalam dadanya. Terasa sesak dan seakan sebuah katana menghunus jantungnya. Rean menangis, ia tak sanggup melihat Reana yang menatapnya dengan penuh kecewa.
Rean masih berdiri memandangi mobil yang dengan tega membawa gadisnya pergi.
Kini, ia menjadi lelaki lemah, ia menangis hanya karena Reana yang dulu sangat ia benci memilih pergi meninggalkannya.
"Reana, mengapa kau meninggalkanku ... aku melakukan itu untukmu, untuk melindungimu dari Nenek. Jangan pergi, Reana ... jangan tinggalkan aku sendiri," ucap Rean lirih sebelum kehilangan kesadarannya.
***
Raina mencekik leher Jane setelah memaki gadis itu habis-habisan. Kini, bukan hanya Reana yang pergi, tapi juga Rean yang terbaring lemah dan tengah di tangani oleh Dokter Arthur.
Jane hanya bisa pasrah kala Raina sama sekali tak bisa ia lawan. Entahlah, kenapa gadis kecil seperti Raina bisa memiliki kekuatan sebesar itu dan membuat Jane nyaris mati kehabisan napas jika saja Karina dan Saga tak menghentikannya.
"Apa Nenek puas sekarang? Nenek sudah membuat kedua kakakku menderita. Reana pergi, dan Kak Rean belum sadarkan diri!
Apa Nenek ingin membunuh mereka secara perlahan, huh?!" teriak Raina tepat di depan wajah Neneknya sendiri.
Wanita tua itu merenung, merasa sakit kala mengingat semua yang dikatakan Raina itu ada benarnya. Ia bukan bermaksud menyiksa mereka, ia hanya ingin membuat kedua cucu kesayangannya kembali ke jalan yang benar.
Mereka adalah saudara sedarah, satu Ibu dan satu Ayah. Tidak dibenarkan mereka untuk menjalin hubungan apalagi sampai menikah. Tidak dibenarkan dalam agama apapun, hubungan mereka terlarang dan harus segera dihentikan sebelum menjadi malapetaka bagi diri mereka sendiri.
"Raina, Nenek hanya--"
"Hanya apa?! Kau itu sangat egois dan mementingkan dirimu sendiri! Bukan begini cara Nenek membuat mereka untuk sadar! Bukan dengan mengadu domba mereka agar saling membenci satu sama lain! Apa Nenek senang kalau kita terpecah? Apa Nenek senang melihat semua cucumu membencimu?!"
Karina menitikan air mata kala mengingat masa kecil cucunya yang cukup bahagia. Tanpa perselisihan, tanpa pertengkaran, dan tentu saja tak ada luka seperti sekarang.
Jika sudah seperti ini, siapa yang bersalah?
__ADS_1
Apakah Tuhan sengaja mempermainkan akdir mereka?
Karina berusaha masuk ke dalam kamar Rean, akan tetapi Raina menghentikannya. Gadis itu menatap tajam pada Neneknya, ia sangat membenci wanita tua yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu.
"Aku sendiri yang akan mengurus Kakakku. Kalian jangan mengganggunya!" Raina masuk ke dalam setelah Dokter Arthur keluar. Raina mengahmpiri Rean dengan Saga yang mengikutinya di belakang.
"Reana ...," igau Rean dalam tidurnya. Lelaki itu nampak lemah dan ketakutan. Ia terus memanggil Reana.
"Kakak," bisik Raina merasa iba. Gadis itu melihat ke arah Saga yang juga tengah berdiri mematung di sampingnya.
"Carikan Reana untuk Kakakku. Dia sangat membutuhkan Reana, cari dia sampai ketemu." Raina berusaha tegar dengan menahan air matanya agar tak tumpah.
Saga segera pergi melaksanakan tugas dari Raina, ia harus bisa menemukan Reana atau dirinya akan terus melihat tiga saudara itu yang diselimuti kabut kesedihan.
Saga sudah menganggap mereka seperti keluarganya sendiri, sudah pasti kesedihan mereka adalah kesedihan Saga juga. Ia tak ingin masalah ini terus berlarut-larut hingga akhirnya menghancurkan mereka semua.
Raina menatap ke langit-langit kamar Rean, ia berusaha menahan air matanya agar tak menetes. Ia tak ingin terlihat lemah untuk saat ini.
Namun, air matanya tak bisa dibendung lagi kala melihat sebuah kotak cincin pernikahan yang ada di meja samping ranjang Rean.
"Sebegitu cinta kah kau pada Reana, Kak?" tanya Raina sebelum mengecup lembut kening Rean. Gadis itu tidur di samping Rean dengan memeluk lelaki itu yang kini demamnya sudah mulai menurun.
***
Reana duduk termenung di depan sebuah piano yang ada di kediaman Aldric. Gadis itu tengah memainkan melodi sendu dari piano tersebut, melodi penuh kepedihan yang mewakili hatinya yang tengah kesakitan.
Ia menangis, terus menangis, dan terus teringat akan Rean. Benar kata orang, jika cinta membuat orang sekuat apapun menjadi lemah.
Akan tetapi ia tak menyesal sama sekali telah memiliki cinta yang begitu besar untuk Rean. Meski ia tahu cinta yang ia semai itu adalah rasa tabu yang hanya akan membuat penderitaan dalam hidupnya.
Ia mencoba menulikan telinga atas cemoohan orang di sekitarnya, ia juga coba membutakan mata kala melihat sosok lelaki yang ia cintai itu adalah Kakak kandungnya sendiri. Ia tak ingin melihat kenyataan, dan ia juga telah mengenyampingkan norma yang ada karena berani mencintai saudaranya sendiri.
Dan inikah balasannya?
Pengkhianatan!
Sakit, itulah yang Reana rasakan. Ia berusaha membenci Rean, tapi dirinya benar-benar tak sanggup melakukannya. Hatinya menolak meski otaknya memerintah untuk membenci.
Reana kembali sesenggukan, dan Aldric menatap miris gadis yang ia cintai kini tampak sangat rapuh dan putus asa. Sejenak ia memikirkan keadaan Rean. Bagaimana keadaan lelaki itu saat ini?
Apa ia bersenang-senang dengan wanita barunya? Ah, Aldric menepis semua anggapan itu. Rean adalah lelaki yang sulit jatuh cinta, dan ia yakin kalau kali ini Rean tak akan begitu saja melupakan Reana.
"Jika saja kalian bukan saudara," lirih Aldric juga ikut merasa sedih meski tak sebesar yang Reana rasakan.
***
Raina menunggu Reana di gerbang sekolahnya, gadis itu berharap jika Reana akan pergi ke sekolah pagi ini meski Kakaknya itu tengah kabur dari rumah.
Akhirnya kekecewaan lah yang ia dapatkan, hingga bel masuk berbunyi Reana tak hadir di sana. Ia merindukan Kakaknya, ia ingin memeluk Reana dan menenangkan gadis itu yang sudah pasti saat ini tengah dilanda kesedihan akibat ulah Jane dan Karina.
"Raina?" panggil Zefaro bingung kala melihat Raina yang masih berdiri di pintu gerbang padahal bel sudah berbunyi.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Zefaro lagi. Tapi Raina yang biasanya akan meresponnya dengan gugup atau malu-malu saat menjawab pertanyaannya, kini gadis itu hanya diam mematung.
"Reana ... pergi dari rumah," ucapnya lirih tapi masih bisa didengar jelas oleh Zefaro. Lelaki itu terkejut, pasalnya selama ini Reana tampak baik-baik saja.
"Bagaimana bisa? Maksudku, ada masalah apa?" tanya Zefaro yang mencurigai ada sesuatu yang tak beres pada sahabatnya itu.
"Ceritanya cukup rumit," jawab Raina yang bingung dari mana dulu ia menjelaskan. Ia sebetulnya ragu akan menceritakan hubungan terlarang yang tengah dijalani oleh kedua Kakaknya tersebut. Bagiamana pun juga itu adalah aib keluarga yang harus ditutupi dengan rapat.
"Kau bisa mempercayaiku untuk menjaga rahasia." Zafaro meyakinkan Raina yang bimbang. Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk setuju.
Setelahnya, Zefaro mengajak Raina untuk keluar dari area sekolah mereka. Membolos satu kali tentu bukan masalah, kan?
Keduanya kini menaiki sebuah mobil sport Lamborghini milik Zefaro. Mereka menuju tempat yang biasa Zefaro kunjungi kala dirinya ada masalah atau bersedih.
__ADS_1
__________Tbc.