Sadistic Brother

Sadistic Brother
19


__ADS_3

Satu minggu kemudian Reana sudah kembali masuk sekolah, Rean melarang Saga untuk mengantar jemput maupun berdekatan dengan Reana. Ia tak mau jika Reana-nya dekat dengan lelaki lain selain dirinya, maka Saga ditugaskan untuk menjaga Raina, sedangkan Reana akan menjadi urusan Rean sendiri.


Reana menautkan jarinya gugup kala mendapati tatapan menyelidik dari Raina yang mempertanyakan keberadaannya selama dua minggu terakhir. Untungnya Rean segera datang bergabung dengan mereka dan menghentikan tatapan mengintimidasi dari Raina.


Gadis itu merengek manja di lengan Rean kala Kakaknya lebih memilih mengantar Reana dari pada dirinya. Ia ingin ikut dengan Kakaknya, akan tetapi mobil sport Rean hanya memiliki dua tempat duduk dan itu hanya untuk Rean dan Reana.


Saga melihat ke arah Reana, ia merindukan sosok gadis kecil yang selalu ia jaga selama ini. Namun, sudah beberapa hari terakhir Reana hanya dikurung di kamar Rean hingga ia tak dapat bertemu dengan Nona mudanya.


"Jaga matamu, Saga! Atau kau ingin aku mencongkelnya, huh?!" kecam Rean tajam dan membuat Saga menunduk diam.


Lelaki itu curiga ada yang tak beres dengan sang Tuan, melihat kemarahannya begitu besar padahal Saga hanya sekedar menatap Reana, akan tetapi ia tak bisa bertanya lebih jauh lagi karena sadar posisinya tak lebih hanya seorang bawahan.


"Maafkan saya, Tuan," ucap Saga menyesal. Rean mengisyaratkan agar Raina segera berangkat dengan Saga, gadis itu menurut sembari mengerucutkan bibirnya kesal.


Sepeninggal mereka Rean segera menarik Reana untuk duduk di pangkuannya, lelaki itu memeluk Adiknya dengan posesif.


"Ka-kak ... aku akan terlambat," cicit Reana pelan, ia takut pada Rean yang kini menumpukan dagunya pada bahu Reana. Mengabaikan para maid yang mencuri pandang pada mereka.


"Reana ... jangan berulah, jangan berdekatan dengan lelaki mana pun, meski itu Zefaro atau pun Saga. Aku tak suka!" ucap Rean dengan nada dingin. Lelaki itu seakan menuntut jawaban 'iya' dari Reana.


"Bukankah selama ini Kakak kenal dengan Zefaro dan Saga, mereka--"


"Aku tak suka dibantah!" Reana langsung diam kala mendengar bentakan keras dari Rean. Gadis itu hanya mengangguk ragu, ia tak ingin membuat Rean kembali mengamuk. Lukanya belum mengering sempurna.


"Nanti aku akan menjemputmu, dan membawamu ke kantorku. Aku ingin kau menemaniku bekerja," ucap Rean tak bisa dibantah. Reana lagi-lagi hanya mengangguk mengiyakan.


"Bagus!" Rean mencium lembut bibir Adiknya.

__ADS_1


"Nona, ini bekalmu," ucap Sienna yang tak mengetahui kegiatan Rean yang tengah mencumbu mesra Reana.


"Shit!" Lelaki itu mengumpat pada Sienna yang langsung menunduk takut. Reana refleks berdiri di susul Rean yang langsung mencekik leher Sienna hingga wanita itu mendelik karena kesusahan bernapas.


"Am-pun, Tu-an ... sa-ya ... ti-dak ... ta-u," ucap Sienna kesusahan, ia menyadari kesalahannya. Rean menatap wanita itu seperti iblis yang siap memangsanya hidup-hidup.


"Beraninya kau mengganggu kesenanganku, Bangsat!" ucap Rean sarkas. Reana kalut melihat Sienna yang sudah memucat dengan mata yang nyaris tertutup. Gadis itu menangis dan mencengkram lengan Kakaknya, ia tak ingin Sienna tewas di tangan Rean.


"Kakak, stop!" pekik Reana menyadarkan Rean. Lelaki itu segera melepaskan Sienna dan wanita itu langsung luruh ke lantai, terlihat beberapa maid menolongnya dan membawanya pergi dari hadapan sang Tuan.


"Kakak," panggil Reana di sela isak tangisnya. Rean meraih tangan Reana cepat hingga gadis itu menubruk dada Rean.


"Diamlah, dia pantas mendapatkannya," desis Rean tajam di telinga Reana. Ia sama sekali tak berusaha menenangkan Adiknya yang terisak menangisi Sienna yang malang.


"Aku akan menyuruh orang membawanya ke rumah sakit, tenanglah dan jangan banyak menuntut," ucap Rean sembari mengusap punggung Reana.


***


Reana berjalan menuju rooftop sekolah, bel istirahat baru saja berdering lima menit yang lalu, dan kini ia hanya ingin menyendiri di atap sekolah yang sepi.


Gadis itu menghembuskan napas pelan, tampak di bawah sana beberapa siswa tengah berlalu lalang ke sana ke mari, ada yang bergerombol dan ada yang menyendiri.


Reana menatap langit yang kini terlihat mendung dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan yang lumayan lebat, mengingat betapa pekatnya awan hitam yang berkumpul di angkasa.


Reana terus melakukannya, ia mendongak ke atas sembari mendengarkan lagu lewat earphone di telinganya. Berharap air matanya tak terjatuh mendahului hujan yang akan segera turun, ia tak ingin ada orang lain yang melihatnya menangis.


"Menangislah jika itu bisa mengurangi beban yang ada di bahumu!" ucap Zefaro cuek. Lelaki itu terlihat sedang memakan permen karet dan berjalan santai di pembatas jalan yang lebarnya tak lebih dari dua jengkal.

__ADS_1


"Kau, sedang apa di sini?" tanya Reana ketus, ia tak ingin berdekatan dengan Zefaro jika itu hanya akan membuat Rean murka.


"Menunggu hujan!" jawabnya acuh kemudian melompat turun di samping Reana. Gadis itu beringsut mundur.


"Hujan tak akan turun," ucap Reana sambil menunjuk awan tebal yang mulai menyingkir tergantikan awan biru yang cerah.


"Ya, langit menjadi cerah." Zefaro memberikan sekantong makanan yang ia letakkan di sudut rooftop bersama dengan tas ranselnya.


"Makanan?" Reana yang mengetahui ada banyak camilan dan bekal makanan Zefaro di dalamnya, segera meraih kantong itu dan duduk bersandar tembol pembatas setinggi dada tersebut.


Reana menyukai apapun makanan yang dibawa atau yang dimakan Zefaro, entahlah ia tak menyukai orangnya, tapi sangat menyukai makanan miliknya.


Zefaro menatap Reana yang mulai makan snack kentang yang ia beli sebelum berangkat sekolah tadi.


"Apa itu enak?" tanta Zefaro yang padahal ia sendiri sudah tahu rasanya. Reana mengangguk, ia membiarkan lelaki itu mengambil sebungkus rokok yang ada di dalam tas ranselnya.


Zefaro menyalakan pemantik apinya, tapi dengan cepat Reana meniup pemantik itu hingga mendapat tatapan tak suka dari Zefaro.


Reana mengambil rokok itu dan menggantinya dengan permen lolipop. Zefaro mendecih kesal, tapi ia tak menolak untuk memakanya.


"Merokok itu tak baik untuk kesehatanmu. Bagaimana kamu bisa melindungi orang yang kau sayangi, jika melindungi dirimu sendiri saja kau tak bisa," ucap Reana cuek tanpa melihat ekspresi Zefaro yang telah berubah.


Lelaki itu diam mematung, bayangan menyakitkan itu kembali datang. Tangannya gemetar hingga permen yang ia pegang ikut terjatuh, hal itulah yang membuat Reana fokus padanya.


"Kau tak apa?" Zefaro berjingkat kaget ketika Reana menyentuh bahunya pelan. Gadis itu yakin, lelaki yang ada di depamnya ini dalam keadaan tak baik-baik saja.


"Hm," jawab Zefaro dingin. Kemudian ia melenggang pergi begitu saja setelah mengacak poni Reana sebentar. Si gadis hanya diam melihat lelaki itu pergi, tak ingin mengejar dan tak ingin memaksa Zefaro untuk bercerita jika memang lelaki itu belum mau terbuka padanya.

__ADS_1


_______________Tbc.


__ADS_2