Sadistic Brother

Sadistic Brother
30


__ADS_3

5 tahun kemudian


Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap tengah menatap jengah pada lembaran-lembaran dokumen yang berserakan di meja depannya. Sesekali ia memijit pelipisnya guna mengurangi denyutan pada keningnya.


Rean menyandarkan punggungnya pada kursi kantornya, menatap penuh rindu pada sosok berseragam SMA yang berada dalam bingkai foto meja kerjanya.


Gadis dengan senyum tipis dan raut wajah datar tanpa ekspresi. Tatapannya yang teduh, juga cara bicaranya yang lembut, membuat Rean semakin merindukan sosok belia tersebut.


"Aku merindukanmu, haruskah aku menyerah, Reana?" tanya Rean pada bingkai foto tersebut.


Krieett ...


Rean menolehkan kepalanya pada pintu yang terbuka perlahan. Ada Saga bersama Karina di sana. Rean memilih memutar kursinya ke belakang, ia enggan menatap wajah Neneknya.


"Rean, Jane sudah menunggumu untuk ke butik mencari gaun pernikahan kalian." Karina berkata lembut pada Rean. Wanita tua itu melangkah perlahan lebih dekat ke meja kerja lelaki itu.


"Jangan menyentuhnya!" hardik Rean kala tangan Karina hendak menyentuh bingkai foto Reana.


"Kamu masih belum bisa menerima takdir rupanya," gumam Karina yang sukses ditangkap oleh Indra pendengaran Rean. Lelaki itu mendecih pelan.


"Untuk apa aku harus menerima takdir yang kau buat sendiri. Kau bukan Tuhan yang bisa menentukan jalan takdir manusia. Meski kau nenekku, tapi bukan berarti kau bisa mengatur hidupku."


"Aku hanya meluruskan jalan seseorang yang nyaris saja tersesat." Karina berkata acuh pada Rean yang kini kembali memutar kursi kerjanya menghadap sang Nenek.


"Aku akan menemukannya, dan setelah itu kau tak bisa lagi melarang kami bersama!"


"Baiklah," jawab Karina final. Ia yakin sejauh apapun Rean mencari, ia tak akan pernah bisa menemukan Reana.


Karena ada satu tempat yang Rean tak akan Sudi mendatanginya.


Wanita tua itu melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Rean, sesungguhnya ia tak sanggup melihat tatapan penuh dendam pada dirinya dan juga sorot mata sendu kala mengingat Reana. Mungkin ia memang kejam, tapi ini semua juga demi kebaikan mereka.


***


Seorang anak lelaki berusia 5 tahun tengah berlari mengejar Adik kembarnya. Mereka tampak menikmati musim gugur bersama, berlari ke sana kemari di bawah taburan bunga sakura yang begitu indah.


Mereka adalah Sean Ray Hounten dan Azura Lynelle Hounten, sepasang anak kembar yang dilahirkan oleh Reana lima tahun yang lalu.


Setelah kejadian bunuh diri itu, ia mengalami koma selama dua Minggu. Namun, ketika ia terbangun tidak ada Rean di sisinya. Hanya Karina dan seorang Dokter yang tak ia kenal yang menunggunya.


Reana yang menanyakan perihal keberadaan Kakaknya, hanya mendapat gelengan lemah dari sang Dokter dan jawaban menyakitkan dari Karina.


Rean telah resmi menikahi Jane satu Minggu ketika Reana terbaring koma. Wanita itu merasa hancur, sakit hati, dan sangat terpuruk. Ia mengatakan pada sang Nenek untuk membawanya pergi sejauh mungkin hingga Rean tak bisa menemukannya.


Untuk itu lah, Reana dipindahkan ke negri sakura, Jepang. Ia tinggal di Okinawa dengan dua anaknya di sebuah rumah sederhana bergaya Jepang modern.


Bahagia? Tentu saja tidak.


Reana sama sekali tidak bahagia dengan kehidupan barunya, ia bekerja di sebuah kedai mi ramen yang hanya akan ramai pengunjung ketika musim dingin telah tiba.


Karina benar-benar seperti membuangnya begitu saja, hanya beberapa kali Neneknya mengirimkan uang padanya yang hanya bisa ia simpan untuk persiapan sekolah kedua anaknya nanti.


Sebetulnya ada beberapa pria yang mencoba melamar Reana, hanya saja wanita itu masih sangat mencintai Rean dan tak akan pernah bisa mencintai pria lain. Meski Rean terang-terangan menyakitinya dengan menikahi wanita lain.


Kini ia hanya akan menjalani hari-harinya bersama dua malaikat kecil yang selama ini menjadi alasannya bertahan di dunia yang begitu kejam.


Melihat mereka tersenyum saja sudah membuatnya bahagia.

__ADS_1


Meski kedua anaknya tidak seperti anak-anak pada umumnya.


Azura, gadis kecil itu mengidap hemofilia yang membuatnya tidak boleh terluka sedikitpun. Reana selalu was-was akan keselamatan putrinya tersebut.


Pernah satu ketika Reana lalai menjaga mereka dan menyebabkan Azura terluka, luka kecil akibat pisau buah yang ia gunakan mengakibatkan putrinya kehilangan banyak darah dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Belum lagi Sean yang memiliki kelainan gen langka yang menyebabkan anak lelaki itu tidak dapat merasakan sakit sama sekali.


Kelainan tersebut dinamakan Congenital Insensitivity to Pain (CIP), kelainan yang diakibatkan oleh mutasi dalam gen yang mempengaruhi fungsi saraf.


Akibatnya Sean sama sekali tidak dapat merasakan sakit meski terluka cukup parah sekalipun.


Sungguh Reana sangat menyesali perbuatannya di masa lalu yang menyebabkan penderitaan untuk anak-anaknya sendiri.


Wanita itu terus memperhatikan kedua anaknya dari kajauhan, ia tengah duduk di teras depan rumahnya sekarang. Secangkir teh hangat tersaji di depannya.


"Ibu, Kakak terluka." Azura tampak berlari ke arah Reana yang langsung berjalan cepat menuju mereka. Segera Reana membawa putranya masuk ke dalam rumah diikuti Azura dari belakang.


Lutut bocah lelaki itu mengeluarkan darah, sepertinya ia terjatuh ketika bermain kejar-kejaran tadi.


Reana segera mengambil kotak p3k, membersihkan luka putranya dan mengobatinya semampu Reana.


"Kenapa kau bisa sampai terluka begini?" tanya Reana lembut. Wanita itu menatap putra sulungnya yang hanya menunduk diam. Sifatnya sedikit mirip dengan Rean. Hanya saja, Sean lebih banyak bicara dari pada Rean yang tertutup.


Selebihnya, mereka berdua benar-benar sangat mirip, baik dari segi fisik maupun sifat keduanya.


"Maaf, Ibu." hanya itu yang dapat Sean katakan. Kedua anaknya itu tampak menunduk menyasali perbuatan mereka. Reana hanya tersenyum lembut dan menyuruh keduanya untuk beristirahat karena cuaca semakin dingin.


***


Rean mendecih kesal kala harus menginjakkan kakinya lagi di Jepang, negara tempat tinggal mendiang Lilian yang menjadi tempat paling tidak ingin ia kunjungi selama ini. Kebenciannya pada Lilian sudah mendarah daging hingga membuatnya enggan mengunjungi negri sakura tersebut.


Ia langsung saja menuju ke ruang kerjanya dan akan segera menyelesaikan semua masalah yang ada di perusahaan tersebut agar secepatnya bisa kembali ke Negaranya.


"Saga, aku akan mencari udara segar dulu." Rean pergi begitu saja setelah meletakkan beberapa dokumen penting di meja, biarkan saja Saga yang mengurus semuanya, batin Rean kesal.


Dan kini, Rean tengah menikmati indahnya musim gugur di negeri tersebut. Bunga sakura yang begitu indah nampak memenuhi jalanan juga menutupi sebagian bangku taman yang kosong. Rean membersihkan kelopak pink dan putih itu agar ia bisa duduk di atas bangku kayu tersebut.


Angannya melayang pada sosok wanita yang selama ini sangat ia rindukan. Kecurangan sang Nenek yang begitu tega memisahkan mereka, tak dapat Rean maafkan.


'kenapa aku tak boleh bertemu dengan Reana untuk yang terakhir kalinya?'


'Rean, kau sedang tidak stabil. Biarkan kami yang mengurusnya, kau tenangkan dirimu di sini dan aku akan memastikan pemakamannya berjalan dengan lancar!'


'tidak, Nek! Aku ingin melihat Reana sebentar saja. Kenapa kau tak bisa mengerti dengan keinginanku?!'


'maaf, aku buru-buru!'


Teringat kembali Rean akan percakapannya dengan Karina lima tahun yang lalu. Tepat ketika pemakaman Reana akan dilangsungkan. Rean yang hendak menyusul Neneknya, disuntik bius oleh seseorang yang menjadi bawahan Karina.


Lelaki itu pingsan dan tak pernah lagi bisa melihat Reana untuk yang terakhir kalinya.


'kakak, Nenek berbohong pada kita!'


'apa maksudmu, Raina?'


'Reana ... yang di dalam peti mati itu bukan Reana!'

__ADS_1


'apa?'


'aku melihatnya sendiri. Nenek melarang kami semua membuka peti itu, dan ketika Nenek lengah, aku membukanya. Di dalam peti itu ada orang lain, bukan Reana!'


Rean merasa sakit kala ingatan itu datang kembali. Lelaki itu menatap sepasang anak yang -sepertinya kembar- tengah bermain bola di taman tersebut.


Anak perempuan berambut panjang itu mengingatkannya pada sosok Reana ketika wanitanya itu masih kecil. Begitu mirip bahkan dari cara gadis kecil itu merengek pada si bocah lelaki.


'di mana Reana, Nek?! Kau membohongi kami! Di mana dia, dimana?!'


'maaf, Rean, Nenek terpaksa melakukan ini demi kebaikan kalian. Jalan yang kalian ambil salah. Aku sebagai Nenekmu bertanggung jawab penuh atas masa depan kalian semua!'


'di mana Reana! Katakan, di mana dia?!'


'Aku tetap tidak bisa mengatakannya. Begini saja, aku memberikanmu waktu selama lima tahun untuk menemukan Reana. Dan jika kau berhasil menemukannya, aku akan merestui hubungan kalian.'


'kau serius?'


'ya.'


'baik, aku terima!'


Rean tersentak kaget dan keluar dari lamunannya kala sebuah bola menggelinding di bawah kakinya. Ternyata bola itu milik bocah lelaki yang tadi bermain di taman itu.


"Itu milikku," seru bocah lelaki itu kala melihat bola miliknya diambil oleh Rean.


Rean tersenyum dan berjalan pelan ke arah si bocah.


"Ambillah," ucap Rean menyodorkan bola itu padanya.


"Sean, ternyata kau di sini. Ibu sudah mencarimu ke mana-mana!" Rean terpaku kala mendengar suara wanita yang berasal dari arah belakangnya.


Seketika, jantung Rean berdetak kian cepat. Suara yang begitu familiar untuknya, suara yang selama ini ia rindukan dari sosok seorang wanita yang ia cari selama bertahun-tahun.


Rean mematung terpaku di tempat. Secepatnya Rean berbalik ke belakang dan menemukan pemandangan yang membuat dirinya kehilangan kata-kata.


"Re-ana," panggil Rean terbata. Sosok wanita di depannya kini juga sama terkejutnya seperti dirinya. Tampak wanita itu memundurkan tubuhnya beberapa langkah, ia belum siap bertemu dengan Rean saat ini.


"Ibu!" panggil Azura, anak perempuannya. Reana seketika mengalihkan pandangannya ke arah kedua anaknya yang tengah menatap mereka penuh kebingungan.


"Kita pulang!" Reana menggandeng kedua anaknya untuk segera pergi dari sana. Ia tidak ingin Rean menyakiti kedua anaknya jika lelaki itu tahu si kembar tersebut adalah anak mereka.


"Tunggu!" sergah Rean seraya meraih pergelangan tangan Reana. Wanita itu mendesis kala merasakan sedikit sakit pada pergelangan tangannya.


"Apa mereka ... anak-anakku?" tanya Rean pelan. Ia menatap tajam tepat di manik kelabu Reana. Setetes air mata meluncur indah ke pipi pualamnya. Wanita itu menghapusnya secara cepat dengan satu tangannya yang terbebas.


"Bukan!" jawab Reana ketus. Rasa sakit hatinya atas penghianatan Rean yang tega menikah dengan wanita lain, begitu dalam hingga membuatnya tak memikirkan lagi bagaimana sang anak begitu mendamba sosok Ayah selama ini mereka tanyakan.


Reana lebih baik berbohong dan menyembunyikan semua kebenaran perihal status anaknya yang tak lain adalah anak kandung Rean, daripada harus menyaksikan anak-anaknya disakiti seperti ucapan Karina ketika ia baru saja melahirkan dulu.


"Kau bohong!" ucap Rean tajam. Lelaki itu mendekati si anak lelaki yang tengah menggandeng tangan saudara perempuannya yang tampak ketakutan. Rean memperhatikan bocah lelaki itu yang seperti duplikat dari dirinya.


"Putraku," ucap Rean penuh keharuan. Namun, belum sempat Rean menyentuh puncak kepala Sean, Reana dengan cepat menyentak tangannya dan membawa lari kedua anaknya dari sana. Wanita itu tengah diselimuti ketakutan luar biasa. Ia tak ingin lagi kehilangan orang-orang yang ia sayangi setelah kepergian orangtuanya ke surga saat ia masih kecil dulu.


Ia mencintai kedua anaknya melebihi nyawanya sendiri. Maka sebagaimana seorang ibu, ia akan melakukan apapun untuk melindungi keselamatan kedua anaknya dan membuat hidup mereka bahagia.


Rean menatap kepergian mereka dengan tatapan terluka. Sebegitu bencinya kah Reana padanya, hingga wanita itu tak mau mengakui Rean sebagai Ayah dari kedua anak mereka.

__ADS_1


Rean merogoh saku celananya, mengambil ponselnya untuk menghubungi Saga agar bawahannya itu menyelidiki keberadaan Reana di kota Okinawa tersebut.


_________Tbc.


__ADS_2