Sadistic Brother

Sadistic Brother
18


__ADS_3

Raina berjalan ke arah Zefaro yang tengah memainkan ponselnya, sepertinya lelaki itu tengah sibuk bermain game online kesukaannya. Sebuah kado kecil berwarna coklat muda dengan pita berwarna emas berada di tangan kanan Raina, ia memutuskan ingin menjadi teman dekat Zefaro seperti Reana.


"Ekhem," dehem Raina dengan sengaja. Faro menatap cuek ke arah Raina yang tersenyum malu-malu padanya, hanya dua detik, karena setelahnya lelaki itu asik kembali dengan ponselnya.


"Ini untukmu," ucap Raina sembari memberikan sebuah kado kecil itu. Namun, Zefaro hanya cuek tak ingin berurusan dengan Raina meski ia tahu gadis di depannya ini adalah kembaran Reana.


"Aku tidak sedang ulang tahun!" jawab Zefaro cuek. Raina meringis menahan nyeri dan juga malunya sebuah penolakan. Ia melihat sifat Zefaro sama persis dengan Reana. Cuek dan dingin.


"Anggap saja ini sebagai kado memulainya pertemanan kita," bujuk Raina tak mau kalah. Zefaro menatap sengit pada Raina, ia tak suka diganggu oleh siapapun, hanya Reana yang boleh mengganggunya.


"Jangan mendekatiku dan bersikap sok akrab padaku!" Zefaro pergi begitu saja meninggalkan Raina yang kini hanya diam menunduk menyembunyikan tangisnya.


Semua yang ia inginkan tak pernah bisa ia dapatkan. Semua yang ia inginkan selalu sukses Reana dapatkan tanpa bersusah payah. Terkadang Raina membenci takdirnya yang dilahirkan sebagai Adik kembar dari Reana, ia menganggap dirinya tak lebih hanya sekedar bayang-bayang gadis itu.


"Jangan menangis." Raina mengangkat kepalanya kala mendengar suara seorang lelaki yang asing di telinganya. Terdengar lembut dan penuh perhatian.


Raina mendongakkan kepalanya, terlihat seorang lelaki tampan tengah menyodorkan sapu tangan padanya. Raina ingat laki-laki itu adalah Arzeana, atau mereka memanggilnya Arz.


Seorang pria hangat yang sifatnya berbanding terbalik dengan Zefaro.


"Terimakasih," ucap Raina pelan. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan milik Arz.


"Dia memang seperti itu, sifatnya tak pernah berubah." terlihat Arz menatap punggung Zefaro yang kian menjauh dari pandangan mereka.


"Sepertinya kau mengenal Zefaro dengan baik?" tanya Raina penasaran. Arz hanya tersenyum hangat.


"Cukup kenal, hanya saja kurang baik," jawab lelaki itu disertai senyum hangat hingga memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya. Manis. Itulah senyum seorang Arz.

__ADS_1


***


Terlihat seorang siswa yang duduk dengan santai di pembatas rooftop sekolah, ia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya seakan benda itu sangat nikmat untuknya.


Ia menghembuskan asapnya keluar melewati mulutnya, menikmati setiap inci batang mengandung nikotin yang bagai racun dalam tubuhnya sendiri. Toh ia tak perduli, semua harus hilang, bayangan itu, teriakan itu, ia tak mau mengingatnya lagi.


Semua orang memiliki rahasia, semua orang memiliki masalah dan semua orang memiliki cara tersendiri untuk menenangkan gemuruh hatinya dari setiap masalah yang menghantam kehidupan mereka bertubi-tubi.


Begitupula dengan Zefaro, ia tak peduli dengan anggapan orang yang menilainya sebagai berandalan. Ia tak peduli dengan anggapan orang yang menyebut nya sebagai siswa tak bermoral.


Penjahat, preman, pemalak, bahkan gelar psikopat juga ia sandang. Ia tak perduli, mereka hanya melihat dirinya dari luar. Mereka tak pernah tahu apapun tentang Zefaro, si psikopat yang tak akan pernah kenal yang namanya belas kasihan.


***


Rean memeluk Reana dari belakang kala Adiknya itu tengah menikmati indahnya langit senja dari jendela besar kamar Rean. Reana diam tak bergerak, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"Hm ... ayo kita makan malam di luar, aku ingin malam ini kau berdandan cantik untukku." Rean melepas pelukannya. Lelaki itu memberikan sebuah paper bag yang di dalamnya terdapat sebuah dress berwarna krem yang indah. Warna yang Reana sukai.


Gadis itu tersenyum manis, ia mengambil dress itu dan menempelkan pada tubuhnya sendiri. Terlihat elegant dan pas di tubuh kecilnya, Rean tersenyum melihat Adiknya menyukai pilihannya.


"Indahnya," ucap Reana kagum. Seumur hidup baru kali ini ia dibelikan baju semahal dan sebagus itu oleh Rean. Selama ini Rean tak pernah memperhatikannya, dan sekarang Kakaknya sudah berubah menjadi lebih perhatian padanya. Tentu Reana bahagia.


"Kakak, aku tak pernah memiliki baju sebagus dan semahal ini sebelumnya," ucap Reana jujur. Rean tersenyum dan mengecup bibir Adiknya singkat, ia merasa menyesal karena selama ini mengabaikan Reana.


"Mulai sekarang kau bisa meminta apapun yang kau mau padaku. Aku akan memberikannya, dengan syarat, kau harus menurut padaku." Rean melumat bibir Reana dengan lembut seusai mengatakan semua itu pada si gadis.


Reana membeku, ia tercekat kala menyadari satu hal, Kakaknya tak tulus memberikan semua itu untuknya. Lelaki itu ternyata mengingginkan imbalan, dan bisa jadi ia memiliki maksut lain dengan memanjakan Reana.

__ADS_1


"Ka-kak?" panggil Reana terbata kala ciuman sepihak itu dilepas, bibirnya terasa bengkak. Namun, ia mencoba menyembunyikan luka di hatinya dengan tersenyum tipis pada Rean. Nyaris seperti ringisan menahan sakit, dan Rean menyadari hal itu.


"Kau hanya milikku, jangan pernah bermain di belakangku atau aku akan menghabisi semua orang yang kau sayangi. Termasuk Nenek dan Adikmu, Raina." Reana membulatkan kedua matanya tak percaya.


Raina? Buaknkah selama ini Rean begitu menyayangi raina? Tapi mengapa ia tega mengancam Reana dengan membawa nama Raina?


"Kak--"


"Kau kaget?" Rean memotong ucapan Reana, lelaki itu tersenyum licik. "Aku memang menyayangi Raina, tapi bukan berarti aku tak tega untuk menghabisinya. Jika kau berulah dan berani menjalin hubungan dengan laki-laki lain, maka kau akan melihat mayat Karina dan Raina berada di depan matamu! Dan itu akan menjadi salahmu, Reana!"


Reana refleks jatuh terduduk, ia merasa dadanya sangat sesak dan bayangan mengerikan kematian mereka membuatnya ketakutan hingga ia nyaris lupa caranya bernapas.


Rean melepas dasi yang ia kenakan. Mengikat kedua pergelangan tangan Reana, dan mengangkat dagu gadis itu agar melihat ke arah Rean yang tengah berlutut di depannya.


Reana mendongak, ia belum menyadari kedua tangannya yang sudah diikat ke belakang oleh Rean. Lelaki itu dengan panas mencium bibir Reana, memasukkan lidahnya dan menuntut lidah Adiknya untuk ikut bermain dengannya.


Reana kuwalahan mengimbangi permainan Rean, bulir air mata jatuh tiada henti di pipi gadis cantik itu kala ia menyadari peran apa yang dimainkan Rean kini. Bukan sebagai Kakak bagi Reana, tapi sebagai lelaki yang begitu mendamba akan tubuh wanitanya.


Reana menangis pilu, ia menjerit menyayat hati kala Rean memberikan tanda kepemilikan pada leher, hingga tubuh bagian depannya tak absen dari noda ungu kemerahan maha karya dari Rean.


Lelaki itu melepas ikatan tangan Adiknya, melihat sang Adik terengah dengan keringat yang keluar dari pori-pori kulit Reana, membuat Rean menahan napasnya sejenak. Ia menahan sesuatu yang selama ini tak pernah ia rasakan pada wanita lain. Ia menggeram kesal.


"Cepatlah bersiap sebelum aku gelap mata dan merusakmu detik ini juga!" Reana segera bangkit dari tempatnya dibaringkan Rean di atas karpet berbulu putih itu, dengan kaki gemetar ia berusaha berlari masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dengan rapat.


Ia bisa gila jika terus menghadapi Rean yang seperti ini. Gadis itu mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower, menggosok bekas ciuman Rean di tubuhnya dan justru rasa pedih yang ia dapat. Percuma, karena memar kissmark itu tak akan pernah hilang dari kulitnya.


Reana menangis meratap seorang diri di bawah guyuran air dingin yang terasa menyakitkan ketika mengenai kulitnya. Ia tak memiliki pilihan lain sekarang, ia menyayangi Karina dan Raina maka ia harus melindungi mereka meski harus menumbalkan dirinya pada Kakak kandungnya sendiri.

__ADS_1


___________Tbc.


__ADS_2