
24
Raina menatap tak percaya pada dua saudaranya yang tengah berciuman dengan mesranya di atas sofa kamar Rean. Gadis itu membeku di tempat dengan air mata yang terus menetes dengan deras tanpa seijinnya.
Hatinya sakit, ia merasa hancur melihat dua saudara kandungnya melakukan hal yang sangat terlarang di depan matanya sendiri.
Pantas saja selama ini Rean terang-terangan menolak Jane, ternyata ini sebabnya. Mereka bermain api dengan membiarkan benih cinta tumbuh di hati masing-masing.
"Ka-li-an?" ucap Raina terbata. Sontak Rean dan Reana segera mengalihkan fokusnya ke arah pintu, di mana ada Reana yang tengah berdiri mematung dengan kedua tangan terkepal. Dan. Jangan lupakan air mata gadis itu yang terus menetes di pipi pualamnya.
"Raina?" Reana buru-buru membenahi kancing bajunya yang tadi sempat dibuka oleh Rean. Sedangkan lelaki itu sudah menghampiri adik bungsunya yang tampak begitu terguncang.
"Kalian ... kenapa?" tanya Raina tak percaya, ia tak menyangka apa yang menjadi kecurigaannya dan Karina benar-benar terbukti.
"Aku mencintainya, lebih dari seorang Adik!" Rean menjawab dengan tenang. Lain dengan Reana yang sudah menunduk malu di sofa, tanpa bergerak sedikitpun.
Raina menatap saudari kembarnya, menunggu penolakan dari bibir gadis itu atas argumen Rean. Namun, tak ada yang keluar dari sana. Dan Raina cukup tahu bahwa kakak sulungnya berkata jujur. Mereka memang tengah menjalin kasih.
"Ma-af," ucap Reana terbata, air matanya juga mulai menetes. Ia malu sekali, juga merasa sakit kala melihat tatapan terluka Raina untuk dirinya dan Rean.
"Aku ingin sendiri!" pungkas Raina meninggalkan mereka berdua. Ia berlari ke kamar dengan air mata yang mengalir tiada henti.
Bukankah ini dosa besar?
Entah kesialan apa di masa depan yang sudah menanti mereka. Raina takut, ia tak ingin kedua saudaranya terus menyelam dalam lautan dosa.
Ia memang kesal pada Reana, tapi bukan berarti ia membenci saudara kembarnya itu.
Raina memilih merebahkan diri di ranjang, menangis sepuasnya hingga alam mimpi menjemputnya.
***
Raina terbangun saat hari sudah berganti malam, sepertinya ia tertidur sangat lama. Badannya terasa pegal dan kepalanya sedikit pusing.
Ketika hendak bangun ia merasa pergerakannya tertahan oleh sebuah lengan yang memeluknya dari belakang.
Raina menoleh sedikit untuk melihat siapa yang tengah memeluknya begitu erat seolah tak ingin Raina pergi dari sisinya.
Raina tersentak kaget kala melihat Reana tengah tidur dengan jejak air mata di pipinya.
Sakit, itulah yang Raina rasakan kala melihat Reana menangis. Gadis itu menyentuh punggung tangan Reana, menggenggam tangan mungil itu dan tanpa disadarinya setetes demi setetes air mata membasahi bantal di bawah kepalanya.
Raina merasa kecewa pada dua saudaranya, tapi gadis itu tak sanggup membenci Reana maupun Rean. Ia hanya ingin disayangi.
Sejak kecil ia tak pernah berkumpul dan merasakan kasih sayang keluarga seperti yang Reana rasakan. Ia merasa iri pada Reana yang seakan dimanjakan oleh Rean.
Namun, ia tak sanggup jika harus membenci Reana. Rasanya sangat sakit kala melihat tatapan terluka kakak kembarnya tempo hari. Apalagi jika sampai melihatnya menangis.
Kini ia tahu bahwa kasih sayang Rean padanya dan Reana itu berbeda. Ia tidak ada alasan untuk merasa iri akan kasih sayang itu. Rean mencintai Reana sebagaimana lelaki mencintai wanitanya. Sedangkan Rean mencintai Raina selayaknya seorang kakak pada Adiknya.
"Maaf ... hiks ... Kakak," isak Raina sendu. Ia merasa sangat bersalah pada Reana.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku," jawab Reana tiba-tiba yang mengagetkan Raina.
"Kau tidak salah," sanggah Raina. Ia mengusap kasar air matanya. Mereka berbicara tanpa mengubah posisi awal.
"Aku bersalah. Aku mencintai orang yang salah, aku bersalah karena aku seorang pendosa!" ucap Reana getir.
"Jangan menghakimi diri sendiri sebagai pendosa. Kita semua memiliki dosa sendiri-sendiri, dan aku yakin Tuhan akan mengampuni kita."
"Tapi dosaku tak terampuni. Aku membiarkan perasaan terlarang tumbuh untuk Kakak kandungku sendiri. Aku membiarkan ia menyentuhku, aku membiarkan semuanya. Aku bersalah," sesal Reana mengingat apa saja yang ia lakukan bersama Rean. Meski belum ke tahap lebih jauh, hanya saja perbuatan mereka tetap dilarang.
"Aku mohon padamu ... jaga dirimu dari Kakak, seberapa besar pun rasa cintamu padanya, jangan sampai membiarkan ia melakukan hal lebih jauh padamu. Aku takut jika suatu saat ia meninggalkanmu dan menikah dengan Jane."
Raina merasa was-was jika sampai Rean melakukan hal lebih jauh pada Reana, sedangkan lelaki itu akan menikah dengan Jane sebentar lagi. Ia tak ingin Reana menanggung aib seorang diri. Belum lagi kesakitan yang harus saudara kembarnya itu terima, Raina tak sanggup membayangkannya.
"Iya, aku akan menjaga diriku dengan baik. Percayalah padaku," ucap Reana yang membuat Raina tersenyum.
__ADS_1
Biarlah ia menutup mata pada hubungan terlarang dua saudaranya, mungkin memang ini cara Tuhan untuk membuat Raina tak akan kehilangan keduanya. Selamanya.
Ya, Raina memang egois. Ia tak ingin jika kasih sayang dua saudaranya terbagi dengan orang luar, maka ia akan mendukung hubungan keduanya jika memang hal itu bisa membuat Raina memiliki mereka selamanya.
Mereka tertidur dengan Reana yang memeluk Adiknya dari belakang.
***
Rean melempar beberapa lembar foto yang diberikan oleh Jane padanya tadi pagi di atas meja kerjanya. Foto Reana tengah berciuman dengan seorang lelaki yang juga menjadi murid di sekolah Reana.
Foto itu diambil dari belakang punggung Reana, tampak lelaki itu tengah memegang pergelangan tangan Reana dan mencium gadis itu. Rean benar-benar sangat marah, ia membanting barang apapun yang ada di dekatnya tak peduli seberapa mahalnya harga barang itu.
Hatinya sakit, hancur, ia kecewa dengan gadis yang begitu ia cintai ternyata Bernai menghianatinya. Lelaki itu mengambil katana miliknya, Reana harus diberi pelajaran.
Sementara itu, Reana tengah menyiapkan sebuah kue ulang tahun untuk Rean di meja pantry. Gadis itu menghiasnya dengan begitu elegan, perpaduan warna putih, gold dan coklat.
Kue yang indah.
Reana tersenyum ketika pekerjaannya selesai, hingga akhirnya Raina datang dan memeluk Reana dari belakang. Gadis itu sedang dalam mode manjanya sekarang.
"Kau membuat kue untuk siapa?" tanya Raina penasaran. Seingatnya ini bukan ulang tahun mereka atau pun Karina.
"Kak Rean," jawab Reana dengan senyum tipisnya. Raina menepuk keningnya tanda ia melupakan ulang tahun Kakak sulungnya itu.
"Aku harus menyiapkan kado untuknya," ucap Raina panik, "apa kau sudah menyiapkan kado untuk Kak Rean?" tanya Raina kemudian. Reana mengangguk, ia mengambil kotak berwarna biru tua dengan pita emas yang di simpan dalam lemari dapur.
"Wow, apa ini jam tangan mahal?" tanya Raina penasaran. Reana mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu aku harus memerikan kado yang lain. Bagaimana jika memberikan satu setelan kantor untuknya?" tanya Raina yang diangguki tanda setuju oleh Reana.
"Kalau begitu simpan dulu kuenya, aku akan pergi keluar bersama Saga." Raina tanpa menunggu lama langsung berlari keluar rumah meninggalkan Reana yang tengah menyelesaikan acara menghias kuenya.
***
Raina tengah memilih setelah kantor yang berwarna gelap untuk Rean, ia ingat kalau Kakaknya hanya menyukai warna yang gelap.
"Maaf," ucap Raina sopan. Ia tak berani melihat pada orang tersebut karena takut orang di depannya itu akan marah.
"Hm," gumam orang itu yang ternyata seorang lelaki. Raina mendongak guna melihat siapa lelaki itu, dan pandangan matanya fokus pada lelaki yang begitu ia kenal.
"Zefaro?" tanya Raina tak percaya jika lelaki itu adalah Zefaro, preman sekolah yang kejam dan terkenal bengal. Tapi ia sangat menyukai lelaki itu entah karena apa.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Raina senang. Gadis itu tersenyum malu-malu sembari memainkan jari telunjuknya. Ia yakin pipinya sudah merah sekarang.
"Mencari setelan jas untuk acara keluarga," jawab Zefaro acuh. Ia malas berurusan dengan Raina.
"Ah, begitu? Aku ju-ga mencari un-tuk kakakku." Raina merutuki kebodohannya yang justru tergagap di depan Zefaro.
Astaga, ada apa dengan lidahnya? Pikir gadis itu merasa malu.
"Hm," gumam Zefaro tak jelas. Ia memutuskan mengambil jas berwarna hitam dan mengembalikan setelan jas berwarna coklat tua itu.
Sedangkan Raina tersenyum sendiri melihat ke arah Zefaro yang perlahan menghilang dibalik kamar pas.
"Akhirnya ketemu!" ucap Raina senang kemudian mengambil setelan berwarna coklat tua itu.
***
Rean membuka kasar pintu utama mansion,ia juga berteriak keras memanggil nama Reana. Hingga gadis itu buru-buru keluar dari dapur untuk menghampiri Raina.
Reana kaget sekaligus takut kala melihat sebuah katana mengkilap berada di tangan Rean, katana yang selalu lelaki itu gunakan untuk menyakitinya dulu.
"Ka-kak?" Reana tergagap kala melihat Rean yang berdiri penuh dengan amarah yang tersorot dari mata pria itu.
Tanpa pikir panjang, Reana segera berlari menuju tangga hendak ke kamarnya untuk menyelamatkan diri dari Rean.
Namun, dengan cepat lelaki itu mengejar Reana dan mencekal tangan si gadis. Reana menjerit karenanya.
__ADS_1
Beberapa maid terlihat panik dan keluar untuk mencari Saga dan meminta bantuan. Sialnya, Saga tengah pergi bersama Raina mencari kado untuk Rean.
Reana berusaha lepas dari Rean, tapi sebuah tamparan di pipi kanannya membuat gadis itu berhenti berontak dan memegang pipinya yang panas. Sudut bibirnya berdarah.
"Apa salahku, Kak?" tanya Reana menahan tangisnya. Ia merasa semua baik-baik saja sampai Rean berangkat ke kantor pagi tadi. Tapi kenapa tiba-tiba pria itu pulang dan langsung mengamuk padanya.
"Kau masih bertanya apa salahmu?! Penghianat!" desis Rean tajam.
"Penghianat?" tanya Reana bingung. Ia sungguh tak mengerti apa yang dimaksud oleh Rean.
"Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini, tapi dengan teganya kau mengkhianatiku. Kau menjalin hubungan dengan pria lain di belakangku! Kau bilang, kau juga mencintaiku, tapi ternyata kau hanya membohongiku, Reana!" ucap Rean tajam pada Reana yang kebingungan. Tatapan terluka Rean membuat gadis itu nyeri pada ulu hatinya.
Ia sakit kala melihat orang yang ia cintai terluka, apalagi itu karena dirinya. Meski Reana tak mengerti apa yang dimaksud Rean dengan 'mengkhianati', tapi tetap saja ia merasa sakit kala tatapan itu dilayangkan untuk dirinya.
"Kak, aku tak pernah mengkhianatimu. Percayalah!" sanggah Reana atas tuduhan Rean.
"Lalu ini apa?!" Rean melempar beberapa lembar foto Reana yang tengah berciuman dengan seorang lelaki.
Tidak! Itu bukan Reana, karena gadis itu tak merasa pernah melakukan hal itu.
"Tidak! Ini bukan aku. Aku tak per--"
PLAK!!
Rean dengan tega menampar Reana. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rean segera menyeret gadis itu ke dalam kamarnya dan **** Reana di atas sofa.
Tangan kanannya mencekik leher Reana dengan kuat seakan menyalurkan rasa sakit hatinya pada Reana lewat cekikan itu.
BUGH!
"Akh!" Rean memekik sakit kala merasakan sebuah pukulan keras pada punggungnya.
Lelaki itu melihat ke belakang.
Betapa kagetnya ia kala melihat Raina tengah memegang tongkat baseball dan mengarahkan padanya. Gadis itu tampak waspada dan menatap benci pada Rean.
"JANGAN SAKITI KAKAKKU!" teriak Raina tepat di depan Rean.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Rean merasa sakit pada bahunya kala mendapat pukulan membabi buta dari Raina.
Ia terhenyak sesaat. Lelaki itu baru menyadari betapa sakitnya lebam akibat sebuah pukulan.
Apa yang dilakukan Raina padanya mengingatkan lelaki itu atas perbuatannya pada Reana. Entah bagaimana rasa sakit yang harus diterima Reana kala menghadapi kekerasan fisik yang ia lakukan.
"Raina, cukup!" pekik Reana dan berusaha menghentikan aksi Raina yang terus memukuli Rean yang hanya diam mematung di depan mereka.
"TAPI DIA MENYAKITIMU! DIA SAMA SEPERTI AYAH YANG SELALU MENYAKITI IBU KITA, KAK!" teriak Raina panik. Rean menatap Adik bungsunya nanar, Raina memiliki trauma akan kekerasan yang dulu pernah dilakukan ayah mereka pada sang Ibu.
Dan kini, gadis itu harus menyaksikannya lagi.
"Aku tidak apa-apa, tenanglah!" Reana memeluk erat Raina yang gemetar takut. Tak berapa lama kemudian Diana datang dan membawa Raina pergi dari sana. Gadis itu harus ditenangkan.
Bruk!
Tak berapa lama setelah kepergian mereka, Reana jatuh tak sadarkan diri hingga membuat Rean panik dan memangku gadis itu di lantai.
"Reana, bangunlah! Maafkan aku, kumohon jangan membuatku takut, Reana!" Rean menepuk pipi kanan Adiknya, akan tetapi gadis tetap diam dan tak ada tanda-tanda akan segera membuka matanya.
"SAGA!" panggil Rean pada Saga yang berada entah di mana. Selang satu setengah menit, Saga datang dan mereka segera membawa Reana ke rumah sakit.
______________Tbc.
__ADS_1