Sadistic Brother

Sadistic Brother
32


__ADS_3

Satu bulan setelah kejadian pemerkosaan yang dilakukan oleh Rean di rumah Reana, wanita itu sudah bisa menjalani aktifitasnya seperti biasa. Ia sudah melupakan kejadian itu meski masih sering mendapatkan mimpi buruk dan dihantui akan dosa.


Sedangkan Rean sendiri dengan terang-terangan mencoba mengambil hati kedua anaknya. Lelaki itu selalu datang membawakan mainan atau makanan kesukaan mereka, belum lagi Rean yang selalu meluangkan waktu untuk bermain dengan mereka disaat Reana sibuk bekerja.


Dampaknya adalah, Azura yang menjadi sangat dekat dengan Rean dan juga begitu manja padanya. Tentu saja hal itu membuat Rean sangat senang.


Azura akan selalu merengek pada Rean untuk ikut ke kantor dan ke rumah lelaki itu yang diangguki dengan semangat oleh Rean. Begitu pun Sean yang selalu ingin terus bermain dengan Rean di kala hari libur sekolah tiba.


Sikap kedua anaknya yang lebih dekat dengan Rean daripada dirinya, membuat Reana semakin membenci pria itu. Sikapnya yang ketus pada Rean, nyatanya tak membuat lelaki itu jengah sama sekali.


Bahkan Rean dengan akal liciknya bisa menghasut kedua anaknya agar ia bisa sering tidur di rumah Reana.


Hal itu berdampak pada image baik yang selama ini Reana sandang, mulai luntur akibat gunjingan tak jelas beberapa orang yang melihat mobil Rean selalu terparkir di depan rumah Reana dan akan pergi saat pagi hari telah tiba.


Rean memang beberapa kali sempat akan melakukan aksi kurang ajarnya lagi pada sang Adik, akan tetapi Reana lebih sigap dengan menendang kejantanan lelaki itu atau menyemprotkan cairan merica ke mata Rean agar ia bisa kabur melarikan diri.


Sungguh ia tak akan bisa tidur dengan tenang kala Kakaknya itu menginap di rumahnya.


Kini ia harus pergi bekerja. Reana telah melarang kedua anaknya untuk pergi bersama Rean dan telah memperingatkan lelaki itu agar tak sembarangan membawa anak-anaknya lagi.


Tanpa diduga oleh Reana sbelumnya, kedai mie ramen tersebut dalam keadaan ramai pengunjung hingga ia tak bisa pulang hingga pukul 5 sore.


Alhasil Reana baru bisa menjemput anaknya pukul 6 sore dan mendapati sekolah telah kosong. Wanita itu kaget bukan main, ia mulai panik dan mencari anaknya ke sekitar bangunan yang sudah digembok itu.


"Nyonya?" suara seorang wanita mengagetkannya. Reana menoleh dan melihat seorang guru wanita yang kebetulan menempati kuil depan sekolah anaknya datang menghampiri Reana yang tengah kebingungan mencari mereka.


"Maaf, apa Ibu Guru tahu di mana Azura dan Sean?" tanya Reana sopan sembari mengatur napasnya yang tersengal.


"Mereka sudah pulang sejak pukul 1 siang tadi, Nyonya." Reana langsung membulatkan matanya karena terkejut mendengar ucapan guru wanita itu.


"Tapi ... ."


"Ayah mereka yang baru tiba di Jepang, yang menjemput Sean dan Azura." Reana refleks jatuh terduduk di tanah kala mendengar jawaban guru itu.


Ayah siapa? Reana bertanya dalam hati.


Wanita itu tak mau membuang banyak waktu. Ia segera mengambil motornya dan melakukannya dengan kecepatan cukup tinggi.


Reana rasanya ingin memaki diri sendiri kala motor maticnya mogok di tengah jalan. Ia yang sudah tidak sabar lagi, memilih berlari untuk mencari anak-anaknya. Ia tidak ingin mereka diambil oleh Rean dan meninggalkannya seperti lelaki itu yang menghianatinya.


***


Reana berjalan tak tentu arah, ia terus berdoa pada Tuhan agar Rean tak menyakiti mereka seperti Rean menyakitinya dulu. Bisa jadi kebaikan Rean selama ini pada anak-anaknya hanya kamuflase pria itu agar kejahatannya tidak terendus, bukan?


Sungguh Reana telah menangis dibuatnya. Wanita itu memang sangat lemah jika telah menyangkut kedua buah hatinya, ia tak akan bisa membayangkan jika sampai hal buruk terjadi pada mereka.


Tak berapa lama Reana berjalan, ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk untuknya. Buru-buru wanita itu mengangkatnya meski ia tahu bahwa nomor si penelepon tidak dikenalnya.


"Hallo?" sapa Reana berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Ia sedikit menepuk dadanya untuk mengurangi rasa sesak yang menghantam kala si penelepon memperdengarkan suaranya.


"Apa mau mu? Di mana anakku?!" tanya Reana emosi. Wanita itu duduk di bangku yang terdapat di trotoar jalan, tak peduli meski beberapa pasang mata menatapnya seolah ingin tahu.


"Mereka baik-baik saja. Aku tak akan mungkin menyakiti mereka, tenanglah." lelaki yang menjadi lawan bicaranya di telepon tampak begitu tenang menyampaikan keadaan si kembar. Lain halnya dengan Reana yang hampir kehabisan nafas karena menahan isakan, orang itu tak boleh tahu ia menangis atau lelaki tersebut akan semakin menertawakannya.


"Berikan mereka padaku atau aku akan melaporkamu ke polisi, Rean!" ancam Reana yang dibalas kekehan dari si penelpon.


"Kau bahkan tidak lagi memanggilku 'Kakak'," ucap Rean dengan seulas senyum yang tidak bisa Reana tangkap oleh penglihatannya saat ini. Ia senang dengan Reana yang hanya memanggil namanya saja. Bukan panggilan Kakak seperti biasanya.


"Kakak macam apa yang tega berlaku sedemikian buruk pada Adiknya? Sekarang kau juga menculik anak-anakku, ********!" maki Reana yang telah hilang kesabaran.


"Aku mencintaimu, Sayang. Datanglah ke rumahku dan temui anak-anak kita." Rean menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Reana tak sanggup lagi menahan tangisnya, wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis sepuasnya di sana.


Mengapa ia selalu kalah telak dari Rean?


Dan kenapa laki-laki itu berlaku sangat kejam padanya?

__ADS_1


Sungguh, Rean adalah lelaki yang tidak kenal akan kata puas untuk menyakiti seseorang. Buktinya saja, ia masih bisa menari di atas penderitaan Reana saat ini. Dan penderitaan itu juga dibuat oleh Rean sendiri.


"Nona." Reana mendongak kala mendengar seseorang memanggilnya. Saga berdiri di depannya bersama dengan dua orang lainnya yang berbadan besar berseragam hitam.


Lelaki itu merogoh saku jasnya dan memberikan selembar sapu tangan pada Reana. Wanita itu menerimanya dan segera menghapus air matanya.


"Rean yang menyuruhmu?" tanya Reana ketus. Saga mengangguk dan mempersilakan Reana untuk mengikutinya berjalan ke arah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari tempatnya duduk tadi.


Reana masuk ke dalam mobil itu dengan pikiran kacau balau, ia ingin bertemu Anaknya dan mengajak mereka pulang. Tapi, ia juga begitu takut bertemu dengan Rean. Kejadian mengenaskan lima tahun lalu yang membuat masa depannya hancur, membekas begitu dalam pada ingatannya. Ia trauma pada Rean yang notabene Kakak kandungnya sendiri.


***


Rean tersenyum bahagia kala melihat kedua anaknya yang tengah menyantap hidangan makan malam yang disiapkan oleh para maidnya, mereka memakan makanan mewah itu dengan sangat lahap.


"Paman, kau begitu baik pada kami. Terimakasih," ucap Azura dengan nada riangnya, gadis kecil itu sedikit cadel dalam berbicara. Berbeda dengan Kakaknya yang sudah sangat lancar dalam setiap pengucapan kata.


Rean tersenyum hangat dan mengusap puncak kepala putrinya, ia merasa terharu bisa melihat kedua malaikat kecilnya bahagia meski hanya dengan perlakuan kecilnya saja.


"Sama-sama. Paman juga merasa bahagia, kalian sudah mau menemani paman seharian ini," ucap Rean yang disambut senyum lebar kedua anaknya.


"Kak, seandainya saja kita punya Ayah," ucap Azura yang sontak membuat jantung Rean serasa diremas. Ingin rasanya Rean memeluk kedua anaknya dan mengatakan 'akulah ayah kalian'.


Namun, yang bisa ia lakukan hanya diam menatap trenyuh kedua anaknya yang kini berubah sendu.


"Jangan bicara begitu, Azura, nanti Ibu sedih." Sean tampak mengelus pelan puncak kepala Adiknya. Seolah menenangkan gadis kecil itu yang saat ini matanya berkaca-kaca, karena membayangkan bisa memiliki sosok Ayah seperti teman-teman sekolahnya yang lain.


"Semua teman kita memiliki Ayah, kenapa kita sendiri yang tidak punya?" Rean tanpa sadar meneteskan air mata meski tanpa isakan. Hatinya begitu sakit kala mendengar keluhan putri kecilnya. Mereka begitu merindukan sosok ayah yang saat ini telah ada di depan mereka.


Rean adalah Ayah sekaligus Paman mereka. Cukup rumit kan hubungan keluarga itu?


"Kakak, Aku ingin pulang," rengek gadis kecil itu yang mulai menangis.


"Azura, kemarilah." Rean mengajak kedua bocah itu untuk duduk di sofa. Keduanya menurut dan duduk masing-masing di sebelah Rean.


"Kalian boleh memeluk Paman," ucapan Rean membuat kedua anak itu terkejut. Mereka menatap Rean dengan pandangan bertanya-tanya.


"Anggap saja aku adalah sosok Ayah yang selama ini kalian rindukan." Rean hampir saja menangis kala mereka berdua menghambur ke pelukannya.


Kedua bocah itu memeluk Rean begitu erat seakan tak ingin siapapun memisahkan mereka. Rean terus mengecup puncak kepala kedua anak itu, memeluk dengan erat diiringi air mata yang kian deras meluncur di pipinya.


Sungguh, Rean merasa sangat bahagia, haru, sekaligus sedih berbaur menjadi satu. Ia seakan tak ingin lepas dari kedua anaknya, ingin bersikap egois juga memaksa Reana agar mau kembali padanya.


"Kalian bisa beristirahat sekarang. Besok paman akan mengantar kalian pulang." Rean menggandeng tangan si kembar. Mengajak keduanya untuk beristirahat di kamar yang sudah ia siapkan.


"Paman, kami ingin tidur dengan paman," ucap Sean yang langsung diangguki oleh Rean. Akhirnya mereka berdua tidur dalam pelukan sosok sang Ayah yang selama ini belum pernah mereka temui. Seorang Ayah yang sangat mereka rindukan kini berada dalam pelukan keduanya.


Sedangkan Rean mulai memikirkan cara licik untuk menjerat Reana.


***


Reana berjalan terburu-buru memasuki kediaman Rean. Wanita itu juga meninggalkan Saga yang berusaha mengejar Reana yang tampak begitu panik.


Ia takut jika Rean menyakiti anaknya, bayangan penyiksaan Rean padanya sejak kecil menghantui pikirannya. Bisa saja ucapan Karina yang mengatakan bahwa Rean akan membunuh kedua Anaknya akan dilakukan pria itu malam ini.


Reana harus cepat, ia harus menemukan anaknya dan menyelamatkan mereka.


"Maaf, Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang maid yang berada di lorong lantai dua. Maid itu menghampiri Reana yang nampak kebingungan.


"Anakku? Di-di mana anakku?" tanya Reana panik. Ia hampir kehilangan kewarasannya sekarang.


"Reana, tenanglah." Saga menepuk bahu Reana. Berusaha membuat wanita itu sedikit tenang


"Anakku ... Azura, Sean?" panggil Reana panik. Wanita itu sudah gemetar karena tiba-tiba bayangan Rean yang menghabisi beberapa bawahannya dahulu terlintas di pikirannya.


"Tenanglah, Nona. Tuan Rean tengah menemani mereka beristirahat di kamar." Maid itu menunjuk sebuah pintu yang ada di lorong tersebut. Segera Reana berlari ke sana diikuti Saga dari belakang.

__ADS_1


Ceklek ...


"Azura, Sean?" panggil Reana tak percaya kala melihat kedua anaknya tidur dengan pulas dalam pelukan Rean.


Rean menoleh ke arah sumber suara, sedangkan Reana sudah akan berlari mengambil kedua anaknya yang tengah terlelap jika saja tak dihentikan Saga.


Saga membawa Reana keluar dari kamar itu diikuti oleh Rean setelah mengecup kening Anak-anaknya.


"Saga, kunci pintu kamar ini dan pastikan dia tak bisa mengambilnya!" titah Rean yang membuat Reana membulatkan kedua matanya.


Reana hendak merebut kunci itu dari tangan Saga, akan tetapi pergerakan Rean untuk menahan Reana lebih cepat. Lelaki itu mencengkram tangan Reana, dan segera menyeret wanita itu ke dalam sebuah ruangan. Kamar pribadinya.


"Kau gila!" maki Reana kala Rean sudah mengunci pintu kamarnya dan memasukkan kunci itu dalam saku celananya.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Rean seraya membelai lembut pipi kiri Adiknya.


"Jangan lancang menyentuhku, Rean! Aku tidak sudi kau menyentuhku meski hanya seujung kuku sekalipun!" ucap Reana sarkas.


Rean terkekeh pelan, ia melihat Reana berusaha agar tak terlihat takut padanya. Nyatanya, wanita itu tetap saja gemetar dan menggigil ketakutan.


"Kembalikan anakku dan biarkan kami pulang!" ucap Reana dengan nada bergetar. Lelaki dewasa di depannya kini justru mengecup pipi kanannya yang langsung diusap oleh Reana dengan kasar.


"Aku akan mengembalikan mereka, jika kau mau kembali padaku." Rean menyentuh bahu Reana yang tertutupi jaket berwarna maroon.


"Aku tidak sudi!"


"Kalau begitu, aku akan mengatakan pada mereka bahwa akulah Ayah kandung mereka. Dan bisa dipastikan bahwa mereka akan memilih ikut denganku daripada ikut dirimu." Reana merasa palu besar memukul jantungnya. Ia tidak sanggup kehilangan anak-anaknya, tapi ia juga tak sudi kembali pada Rean yang sudah beristri.


Memangnya wanita mana yang Sudi dijadikan simpanan?


"Tidak, kau tidak bisa melakukan ini padaku!" ucap Reana tak terima. Rean menegakkan tubuhnya dan berjalan kearah meja yang di atasnya terdapat dua gelas minuman.


Rean mengambilnya dan memberikan salah satu gelas tersebut pada Reana.


"Aku tidak haus!" tolak Reana pada minuman itu. Minuman beralkohol rendah yang sebetulnya tak akan membuat Reana mabuk jika hanya meminumnya seteguk saja.


Namun, ia terlalu waspada pada sosok lelaki di depannya yang bisa saja meletakkan sesuatu pada minumannya agar ia mati saat itu juga. Tak ada jaminan bahwa Rean akan setulus itu memberinya minum, kan?


"Minumlah, setelah itu kau boleh keluar dan membawa mereka pulang." tawaran dari Rean membuat Reana mengambil gelas itu dan meneguk minuman tersebut hingga sisa setengahnya saja.


Sedangkan Rean tampak menyembunyikan senyum iblisnya.


Wanita itu keluar dari sana diikuti Rean dari belakang setelah mendapatkan kunci dari lelaki itu. Baru beberapa langkah ia berjalan, Reana merasa aneh pada tubuhnya.


"Apa yang kau berikan padaku?" tanya Reana kala merasakan sensasi aneh pada tubuhnya beberapa menit kemudian.


Terasa panas dan juga ia merasa kulitnya begitu sensitif akan sentuhan.


"Apa maksudmu?" tanya Rean berpura-pura bodoh.


"K-kau ... sshhh ... jahat sekali, Rean!" Reana merasa tubuhnya semakin memanas. Ia seakan begitu mendamba sentuhan demi sentuhan.


"Ada apa? Apa aku bisa membantumu?" bisik Rean tepat di telinga Reana yang sukses membuat wanita itu merasakan sengatan hebat pada tubuhnya. Ia bahkan berusaha keras agar tak meraba tubuh bagian depan Rean yang kini semakin menghimpitnya.


"Hiks ... k-kenapa ... k-kau tega padaku, Kak," ucap Reana terbata. Ia sangat sulit berbicara dengan kondisi seperti saat ini. Wanita itu menyandarkan tubuhnya pada dinding, semakin merosot hingga terduduk di lantai yang dingin.


"Ayo, biarkan aku membantumu," ucap Rean kemudian menggendong tubuh mungil Reana yang sudah semakin hilang kendali. Wanita itu juga beberapa kali berusaha mencium bibir Rean yang ditanggapi lelaki itu dengan senang hati.


"Akhirnya," ucap Rean dengan perasaan senang luar biasa.


Rean membawa Reana kembali masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintunya dari dalam dan membiarkan wanita itu menggila akan sentuhannya.


Rean menikmatinya, begitu juga dengan Reana yang kesadarannya hanya tersisa beberapa persen saja.


_______Tbc.

__ADS_1


__ADS_2