Sadistic Brother

Sadistic Brother
9


__ADS_3

Rean berdiri kaku di tempatnya kala melihat Reana yang tengah di siksa oleh tiga orang lelaki yang entah siapa mereka, bahkan kini Adiknya itu sudah menangis keras dengan baju seragam yang sudah terlepas.


Rean mengepalkan tangannya penuh amarah, ditambah lagi ia melihat Lilian tengah duduk di sofa tunggal, menonton Reana yang tengah dilecehkan di depan mata wanita yang selama ini dicintai oleh Rean.


Lilian nampak sama sekali tak peduli, bahkan wanita itu terlihat tengah merokok dan juga segelas wine berada di meja bundar sampingnya.


Segera Rean mengarahkan Barretanya ke arah orang yang sudah siap menyetubuhin Adiknya.


DOR!


Orang tersebut ambruk ke belakang dengan kepala yang tertembus peluru. Tampak oleh Rean, Lilian tengah berdiri dengan tubuh gemetar di sana.


"Beraninya kalian menyentuh milikku!"


DOR!


DOR!


Dua tembakan ia lesatkan dengan mudah ke arah dua orang yang bersiap menyerangnya, Rean berjalan ke arah Lilian yang sudah berjalan mundur ke belakang. Wanita itu bahkan terlihat gemetar hingga nyaris terjatuh ketika berjalan.


"Kau wanita iblis yang tak pantas kucintai!" desis Rean sembari mencengkram rahang Lilian.


"Kau salah paham, Rean ... aku bisa menjelaskan semuanya padamu," ucap Lilian dengan nada bergetar.


Tatapan mata Rean yang penuh amarah membuat Lilian ketakutan setenga mati, lelaki itu melihat ke arah Reana yang sudah dipeluk oleh Vanesha dan Jane yang mana ikatan mereka berdua telah dilepas oleh anak buah Rean.


"Aku ingin wanita murahan ini merasakan apa yang Adikku rasakan. Setubuhi dia sepuas kalian, anggap saja ini bonus dariku." Lilian membulatkan matanya tak percaya pada apa yang dilakukan Rean padanya.


"Rean, kau tak bisa melakukan ini padaku. Aku hanya membantumu melenyapkan gadis pembawa sial itu, seharusnya kau berterima kasih padaku yang sudah berbaik hati padamu. Tapi kenapammppt," ucapan Lilian terhenti ketika Rean membungkam mulutnya dengan lakban.


Lelaki itu melempar tubuh Lilian ke arah tiga anak buahnya yang menangkap wanita itu dengan suka cita. Hingga akhirnya Lilian dibawa pergi oleh mereka.


Rean melangkah ke arah Adiknya yang sudah nyaris tak berbusana, gadis itu dipeluk oleh dua orang temannya yang seolah menutupi tubuh Reana.


Rean melihat Adiknya yang pucat pasih dengan air mata yang berurai, hatinya terasa sangat sakit melihat Reana dalam kondisi seperti itu.

__ADS_1


Rean segera melepas mantel hangat yang ia kenakan.


"Aku Kakaknya, biarkan dia bersamaku," ucap Rean pelan. Kedua teman Reana memilih mundur dan membiarkan Rean memakaikan mantelnya pada Reana yang sudah memeluk tubuhnya sendiri.


"Hiks ... hiks ...," isak Reana di pelukan Rean. Meskipun ini rencananya sendiri untuk menjebak Lilian, tapi gadis itu tak pernah menyangkan bahwa Lilian akan menyuruh bodyguarnya untuk melecehkannya.


"Jangan takut, aku di sini," ucap Rean sembari memeluk Reana dengan hangat. Rean segera mengetik pesan untuk orang-orang yang membawa Lilian pergi.


To : Saga


Habisi dia setelah kalian puas.


Rean memasukkan ponselnya pada celana bahan pria itu, ia menggendong tubuh ringkih Reana dan membawanya pergi dari sana bersama Vanesha dan Jane.


***


Reana terus mengigau dengan suhu tubuh yang sangat tinggi, Rean sudah memberikan obat dari Dokter Arthur akan tetapi panas tubuhnya belum juga turun. Dokter Arthur mengatakan bahwa Adiknya mengalami syok berat, Rean merasa bersalah telah meninggalkan Reana seorang diri di mansion sehingga kejadian ini terjadi.


Sebelumnya lelaki itu tak pernah peduli akan Reana, hanya saja sekarang semua berbeda. Entah kenapa ia menjadi sangat lemah jika menyangkut soal Reana.


"Tidak apa, jangan takut, Reana ... aku ada di sini," bisik Rean lembut di telinga Reana, gadis itu setengah sadar dengan napas yang memburu.


"Ka-kak," panggil Reana terbata, air matanya masih mengalir hanya saja kedua matanya masih tetap terpejam.


"Ya, aku di sini. Aku akan menjagamu, jangan takut," bisik Rean di telinga Adiknya.


"Ka-kak," panggil Reana lagi. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya pada dada Rean, tubuhnya gemetar sarat akan ketakutannya yang luar biasa.


Rean mengusap pelan punggung Reana hingga gadis itu kembali tertidur lelap. Memori masa kecil mereka kembali terputar di kepala Rean, di mana ia sering sekali mendapati Reana yang selalu menyusul untuk tidur dengannya.


Rean kecil yang selalu akan mengusap punggung Reana hingga Adiknya tertidur pulas, sejak Reana masih balita Reanlah yang mengurus semua keperluan dan mengajari Reana banyak hal. Hanya saja sikap orangtuanya yang akan selalu menyalahkan Rean jika terjadi sesuatu pada Reana, membuat lelaki itu sakit hati hingga muncul dendam yang hingga kini masih membara dan Reana lah yang menjadi korbannya.


Jantung Rean berdetak kencang kala Reana memeluk pinggangnya erat, lelaki itu merasakan desiran aneh pada dadanya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Gadis itu tidur kembali dengan pulas, Rean menatap wajah cantik Reana. Entah dorongan dari mana yang membuat Rean mengecup bibir Adiknya.

__ADS_1


Semakin lama kecupan itu berubah menjadi lumatan lembut dan Rean yang tersenyum tipis mendapati dirinya yang menikmati degupan jantungnya yang kian menggebu.


"Kenapa kau harus menjadi Adikku? Aku sangat membencimu!" desis Rean ketika kembali tersadar bahwa gadis yang tengah diciumnya itu adalah sang Adik kandung sendiri.


***


Reana kini duduk di ayunan rotan yang ada di taman belakang mansion, sesekali tangannya mengambil sejumput makanan ikan untuk ia lempar ke kolam ikan di depannya.


Reana hanya duduk diam dengan pandangan kosong, seekor kucing berwarna putih terlihat begitu nyaman duduk di pangkuannya.


Hari ini ia masih belum bisa pergi ke sekolah, luka serta lebam di tubuhnya belum juga pulih. Apalagi sejak kejadian pelecehan itu, ia menjadi sedikit takut jika harus berhadapan dengan laki-laki.


"Di luar sangat dingin, sebaiknya kau masuk." Reana melihat ke sumber suara. Seorang lelaki tampan berdarah Tiongkok tengah berdiri di sampingnya setelah menyelimuti Reana dengan selimut hangat.


"Aku ingin di sini," jawab Reana yang memang sedang malas untuk bergerak, apalagi untuk berjalan ke kamarnya yang terbilang jauh dari tempatnya duduk sekarang.


"Aku akan mengurusmu selama Tuan Rean berada di Dubai." Reana berdecak kesal, sepertinya Rean akan semakin posesif dari sebelumnya.


Jika dibandingkan dengan bodyguardnya yang lain, Saga adalah orang yang paling sabar terhadap Reana. Ia akan bersikap seperti seorang teman dari pada pengawal.


"Hm," gumam Reana malas. Gadis itu membuka sebuah pesan dari Vanesha yang menanyakan soal kondisinya.


Reana malas untuk mengetik pesan, ia hanya ingin duduk santai dengan selimut tebal ysng akan membuatnya hangat.


"Bagaimana dengan Lilian?" tanya Reana yang teringat akan Lilian kemarin.


"Anak buahku memperkosanya hingga wanita itu tewas karena pendarahan hebat." Reana memeluk tubuhnya sendiri karena rasa ngeri membayangkan betapa tersiksanya Lilian di sana.


"Apa Kakakku tau?" Reana takut jika Kakaknya akan terpukul mendengar kabar kematian Lilian.


"Sudah! Tuan Rean terlihat sama sekali tak peduli pada Lilian." Saga menjawab dengan jujur sesuai dengan apa yang ia lihat.


"Hm," gumam Reana kembali, ia tak mengerti dengan isi kepala Rean. Seharusnya ia akan sedih melihat kekasihnya diperlakukan demikian hingga meregang nyawa, tapi nyatanya Kakaknya itu tak peduli sama sekali.


__________Tbc.

__ADS_1


__ADS_2