
Rean dan Jane tengah melakukan fitting baju pengantin mereka, seorang desainer ternama beberapa kali membantu Jane yang tengah memilih gaun pengantin yang pas untuknya. Sedangkan Rean tengah berada di satu ruangan yang dipenuhi tuxedo mahal dari brand terkenal.
Lelaki itu memilih untuk mencari beberapa tuxedo untuk ia kenakan di acara resmi yang akan ia hadiri nanti malam. Saat tengah sibuk mencari, tiba-tiba seseorang datang ke ruangan itu. Reana tengah berjalan perlahan menuju tempat Rean berdiri.
Sekuat hati ia berusaha agar tak terlihat lemah dengan tiba-tiba menangis di depan Rean karena tak kuat menahan sakit hati yang begitu dalam.
Maka, ia memutuskan untuk membatasi kontak mata dengan sang Kakak dan mengalihkannya ke deretan tuxedo yang ada di kanan dan kiri mereka.
"Jane memanggil Kakak," ucap Reana lirih. Rean mengangguk dan mengembalikan tuxedo yang ia pegang tadi ke tempat semula.
"Kau tampak murung. Ada apa?" tanya Rean sembari berjalan mendekati Reana. Wanita itu menggeleng dan berusaha tersenyum.
"Apa kau tak merestui pernikahanku?" Reana tersentak kaget kala mendapat pertanyaan itu dari Rean. Haruskah ia jujur kalau sebenarnya dirinya menolak pernikahan Rean dan Jane?
Haruskah ia jujur bahwa dirinya masih sangat mencintai Rean?
Reana segera menghapus pikiran negatif itu dari benaknya, ia tidak ingin dianggap plin plan tak punya pendirian. Juga ia tak ingin merusak hubungan Kakaknya dan Jane.
"Apa maksud Kakak? Tentu saja aku setuju. Aku ikut bahagia, sungguh." Reana tersenyum getir yang dibalas tatapan sendu dari Rean. Lelaki itu merasa hatinya sangat sakit mendengar persetujuan Reana tersebut.
"Kau setuju aku menikah dengan wanita lain?" tanya Rean memastikan. Reana mengangguk dan berusaha tersenyum.
Namun, bukan senyuman yang ia tunjukkan, melainkan sebuah ringisan menahan sakit yang semakin lama berubah isakan dengan air mata yang berderai.
Rean mematung di tempat, ia melihat sosok mungil di depannya itu semakin terisak dan menangis kian dalam. Lelaki itu berjalan lebih dekat ke arah Reana, ia tahu bahwa sekarang Adiknya masih sangat mencintainya sama seperti dirinya sendiri.
Rean merengkuh tubuh gemetar Reana, mendekapnya sangat erat penuh rasa cinta. Hingga beberapa menit kemudian, tangisan Reana mereda. Wanita itu mendongak ke atas dan tatapannya bertemu manik kelabu milik Rean yang tengah memancarkan sinar redupnya.
"Katakan kalau kau mencintaiku, maka aku akan membatalkan pernikahan ini." Rean menangkup kedua pipi Reana, menghapus jejak air mata wanita itu dan menatapnya secara intens.
"Kakak, aku ... aku--." Reana tak mampu menyelesaikan kata-katanya, ia dilanda kebingungan. Hatinya menginginkan Rean untuk menjadi miliknya, suaminya. Sedangkan otaknya terus memerintahkan untuk menolak adanya cinta terlarang itu, mengingatkan dirinya akan status adik kakak yang mereka sandang.
"Katakan, Reana," bisik Rean di telinga Reana. Wanita itu meremas jas kerja Kakanya.
"Aku akan jahat pada Jane jika masih menginginkanmu."
"Semua halal dilakukan untuk bersama dengan orang yang dicintai." balas Rean santai.
"Tidak, Jane sahabatku, dan kau Kakakku ... aku tidak bisa menjadi penghalang kalian bersatu." Reana kembali terisak kala menyadari betapa dirinya menginginkan sosok Rean. Betapa tidak tahu diri sekali ia saat terang-terangan mengakui rasa cintanya pada sang Kakak.
"Katakan bahwa kau mencintaiku dan semua akan berubah. Kau akan bahagia, begitu juga dengan kedua anak kita. Jangan menjadi egois, Reana, karena sekarang yang kau pikirkan bukan hanya kebahagiaanmu, tapi juga kebahagiaan kedua anak kita." Reana teringat akan kedua anaknya yang begitu menginginkan sosok seorang Ayah.
Wanita itu diam mematung. Haruskah ia menyerah dan memilih kembali pada Rean? Bagaimana dengan nasip Jane? Bagaimana dengan Neneknya yang begitu ingin jika sosok Jane menjadi Istri Rean?
"Reana," desah Rean yang semakin memangkas habis jarak diantara keduanya.
"Mmhh," lenguhan Reana terdengar begitu indah di telinga Rean kala ciuman mereka semakin dalam dan mesra. Rean mencurahkan seluruh rasa cintanya pada Reana lewat ciuman yang menghanyutkan itu.
"Katakan kau mencintaiku, Reana." bisik Rean menuntut. Wanita itu mengangguk samar. Ia menyerah pada hatinya yang memilih kembali pada Rean. Ia ingin Rean menjadi miliknya tak peduli akan status yang mereka sandang.
"Menikahlah denganku, dan aku akan membahagiakanmu juga anak-anak kita." Rean semakin menghanyutkan Reana dalam ciuman mesranya. Semakin menuntut hingga wanita itu kuwalaan menghadapi Rean yang kian panas menyentuhnya.
"Apa kau ingin istirahat? Ada sebuah hotel cukup bagus di dekat sini."
Reana mengangguk dengan pandangan sayu. Salahkah ia jika ingin memiliki Rean seutuhnya sebagai kekasihnya?
***
Reana membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah kegiatan panasnya bersama Rean. Senyum tipis mengembang di bibirnya kala mengingat betapa lembut dan romantisnya Rean memperlakukannya.
Tak lama kemudian, ia telah selesai dengan kegiatan mandinya dan bergegas keluar untuk mencari baju ganti yang tadi sempat dibelikan Saga untuknya.
"Kita akan segera pulang, aku ingin secepatnya bertemu dengan Azura dan Sean." Rean memeluk mesra pinggang Reana, lelaki itu juga mengambil alih tugas wanita itu yang tengah menyisir rambut panjangnya.
"Mereka sangat dekat dengan Nenek," ucap Reana pelan. Rean memandangi wajah cantik Adiknya yang seakan menolak tua. Wajah manis dengan tatapan polos yang mampu membuat Rean bertekuk lutut pada Reana.
"Kenapa wajahmu tidak terlihat menua? Bahkan sekarang Raina saja sudah mulai muncul keriput," ucap Rean yang terkekeh geli ketika mengingat Raina yang marah besar karena Rean tanpa sengaja menunjuk keriput pada sudut matanya.
"Sekarang Adik kita sedang mendiamkanmu, kan?" tanya Reana diselingi tawa ringan yang membuat Rean gemas hingga menggigit pipi Reana cukup kuat.
__ADS_1
"Akh! Sakit!" Reana mengaduh kemudian mendorong Rean cukup kuat. Lelaki itu tertawa kemudian duduk di pinggiran ranjang sembari mengecek ponselnya.
Sebuah pesan dari Jane ia hapus tanpa membukanya terlebih dulu. Ia tak peduli dengan apa yang tunangannya itu lakukan, karena yang ia pedulikan hanya Reana dan kedua Anaknya.
"Kak, bagaimana jika hubungan kita diketahui Nenek?" tanya Reana yang sudah duduk di samping Rean.
"Tidak usah dipikirkan, cepat atau lambat Nenek akan tahu hubungan kita saat pernikahan kita digelar," ucap Rean santai.
Lelaki itu kemudian menarik Reana untuk naik ke atas pangkuannya. Reana hanya menurut duduk di pangkuan Rean, menghadap kearah sang Kakak yang kini sudah memegang tengkuknya.
Reana hanya pasrah kala bibir Rean mencumbu habis bibirnya yang sudah membengkak. Tak lama mereka berciuman panas, tiba-tiba Reana memukul dada Rean kala sang Kakak menggigit bibir bawahnya dengan gemas. Reana yang mengaduh kesakitan justru dibalas tawa ringan dari Rean.
"Sakit," rengek Reana manja. Rean kemudian mendekatkan lagi bibirnya dan mencium Reana dengan lembut, wanita itu menikmatinya hingga rasa sakit pada bibir bawahnya lenyap entah ke mana.
"Satu kali lagi?" tanya Rean serak, ia berusaha menarik turun tali dress Adiknya. Namun, pergerakannya terhenti karena Reana yang menahan tangannya.
Reana sudah sangat lelah hari ini, jika Rean dituruti lelaki itu tak akan pernah ada puasnya.
"Aku ingin pulang," rengek Reana yang dibalas desahan kecewa dari Rean. Padahal ia masih ingin berlama-lama dengan Reana, tapi Adiknya itu malah sudah ingin pulang.
"Tapi aku masih merindukanmu," ucap Rean berusaha menolak ajakan pulang Reana.
"Kita selalu bertemu di mansion," jawab Reana polos. Rean mengutuk Adiknya dalam hati karena tidak pekanya wanita itu akan kondisinya saat ini.
"Itu berbeda. Di mansion kau tak mau berdekatan denganku," balas Rean yang ingat sikap cuek Reana padanya jika berada di tengah keluarganya.
"Karena di mansion ada Nenek dan Jane. Mereka akan curiga jika kita berdekatan." Reana berkata seraya memainkan kancing kemeja Rean. Lelaki itu berjanji dalam hati untuk segera mengusir semua orang yang tinggal di mansionnya.
Termasuk Raina yang suka sekali menempel pada Reana dan kedua anaknya.
Reana yang merasa aneh dengan senyum Rean, memilih menatap mata Kakaknya itu dengan intens. Ia yakin ada sesuatu yang direncanakan oleh Rean.
"Kakak merencanakan sesuatu?" tanya Reana dengan penuh selidik.
"Ya. Secepatnya aku akan mengusir mereka semua, termasuk Raina. Dengan begitu aku akan lebih leluasa memperlakukanmu semauku. Aku juga akan semakin dekat dengan si kembar." Reana yang kesal dengan rencana Kakaknya refleks mengerucutkan bibirnya. Entah kenapa semua rencana Rean itu tak ada yang bagus di dengar oleh Reana maupun orang lain.
"Tidak boleh. Aku sayang pada Nenek dan Raina." Reana menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Rean. Lelaki itu mengusap punggung sang Adik dengan lembut.
Sebaliknya dengan Reana yang tengah bersedih, Rean justru merasa jika sisi lelakinya kembali muncul akibat sang Adik yang duduk di pangkuannya, juga hembusan nafas hangat Reana pada lehernya.
"Satu kali lagi, hm?" Reana yang kesal dengan Rean langsung turun dari pangkuan lelaki itu.
Ia awalnya berpikir jika sang Kakak akan menghiburnya dan mengatakan bahwa ia tak akan mengusir Neneknya dan yang lain, tapi kenyataannya malah Rean yang mengatakan hal lain di luar topik pembicaraan.
Sungguh Reana geram dengan sifat Rean yang berubah mesum.
"Dasar mesum!" ucap Reana kesal kemudian pergi meninggalkan Rean yang terus memanggil namanya.
"Salahku di mana?" tanya Rean pada dirinya sendiri.
Kini ia merasa frustasi akibat hasratnya yang tak tersalurkan pada Reana. Membayangkan wajah Reana saja sudah membuatnya gila akan nafsu, bagaimana jika mereka tinggal bersama dengan Reana yang sudah menjadi kekasihnya sekarang?
"Reana," rintihan Rean menyebut nama Reana terdengar lirih. Lelaki itu membaringkan tubuhnya di ranjang, mencoba meredam nafsunya agar tak menyerang Reana secara paksa ketika di mobil nanti. Namun, ia sangat kesulitan melakukannya karena wajah cantik wanita itu terus memenuhi kepalanya.
"Astaga!" pekik Rean kaget kala ia mengambil ponsel hendak menghubungi Reana, justru wajah Jane lah yang muncul memenuhi layar ponselnya. Ia melihat ke bawah, dan kembali melihat ke layar ponsel yang masih menampilkan wajah Jane, nafsunya langsung hilang entah ke mana.
Segera ia mematikan panggilan dari tunangannya itu dan memilih menyusul Reana ke mobil lebih cepat dari dugaan sebelumnya.
***
Sesampainya di mansion, Rean segera di sambut oleh Jane dengan rengekan manja yang terdengar mengesalkan di telinga Rean. Wanita itu juga sengaja menempelkan dadanya pada lengan Rean, bukannya merasa senang, Rean justru merasa jijik dan berusaha melepaskan lengannya dari pelukan Jane.
"Lepas!" desis Rean lengkap dengan tatapan membunuhnya. Bukannya melepaskan, Jane justru menjulurkan lidahnya pada Rean seperti seorang anak kecil yang tengah meledek temannya.
Rean rasanya ingin sekali menjambak kedua rambut Jane yang tengah dikepang dua itu, jika saja tak ada Sean dan Azura di sana.
"Tante Jane jangan ambil paman Rean dari Azura!" sungut Azura yang langsung menatap kesal pada Jane. Bocah lima tahun itu juga menarik tangan Rean agar menjauhi Jane yang dianggapnya menyebalkan.
Jane yang diperlakukan seperti itu oleh Azura merasa tersinggung, ia kemudian mendekati Azura dan tersenyum manis nyaris seperti senyum nenek sihir di mata Azura.
__ADS_1
"Tante tidak akan mengambil paman mu, Tante hanya ingin bermain sebentar saja dengannya." Jane memaksakan keramahan pada Azura, jika saja tidak ada Rean sudah pasti anak kecil itu akan digantung oleh Jane yang memang tak menyukai anak kecil.
"Tidak boleh! Paman Rean hanya milikku, tidak ada yang boleh mengambilnya!" Rean bersorak dalam hati kala mengetahui putri kecilnya begitu menyayanginya dan sanggup membuat wajah Jane merah padam karena emosi bercampur rasa malu.
"Azura, kau tidak boleh bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga Tante Jane juga akan menjadi Tante mu karena sebentar lagi dia akan menikah dengan paman Rean." Karina mencoba membujuk cucunya agar mau mengerti.
Wanita tua itu belum mengetahui bahwa Azura dan Sean adalah anak dari Rean bersama Reana. Itu semua disebabkan oleh penjelasan Reana yang mengatakan bahwa sang pacar yang sudah menghamilinya telah kabur bersama dengan Tante yang ada di hiburan malam.
Mendengar pernyataan itu dari Reana sontak membuat Rean merapalkan sumpah serapah dalam hatinya khusus untuk Reana. Bagaimana mungkin adiknya bisa mencemarkan nama baiknya seperti itu?
"Aku tidak mau, Nek! Paman Rean tidak boleh diambil siapa pun, paman Rean hanya milik Ku," ucap anak kecil itu kemudian memeluk Rean dengan erat, sedangkan Rean sudah tersenyum dalam hati dan mengusap lembut puncak kepala sang putri.
"Tenanglah, Azura, paman memang hanya milikmu." Rean melihat ke arah Reana yang tengah menahan diri agar tak tersenyum atas kelucuan putrinya.
"Paman janji? Jangan dekati Tante Jane lagi atau aku akan marah!" ucap Azura yang kini sudah lancar dalam pengucapan katanya. Rean kemudian mensejajarkan tingginya dengan Azura, lelaki itu kemudian menautkan jari kelingkingnya dengan sang anak juga mengangguk mengiyakan janji Azura.
"Iya, Paman janji," ucap Rean yang membuat Azura tersenyum senang. Tak berapa kemudian, Sean datang dan menggandeng tangan sang Adik. Mengajaknya pergi ke kamar meninggalkan Jane yang tengah merencanakan sesuatu untuk mereka berdua.
***
Malam ini Jane sengaja memakai baju tidur yang begitu tipis dan pas menempel pada tubuhnya, dan sebuah teh hangat berada di tangannya.
"Rean, kau belum istirahat?" tanya Jane yang melihat Rean masih duduk di depan layar laptopnya. Beberapa berkas yang entah apa itu juga sesekali ia periksa. Rean menatap dingin pada Jane, ia lebih berharap bahwa Reana yang tengah menghampirinya.
"Masih ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan," jawab Rean ketus. Jane kemudian memberikan secangkir teh hangat pada Rean, ia juga sengaja menunjukkan sebagian dadanya yang membusung.
Baju yang ia kenakan cukup ketat pada bagian dada, sehingga Jane memanfaatkan itu untuk menggoda Rean. Tapi, Rean hanya melihat sekilas dengan tatapan tak minat.
"Pergilah," usir Rean yang langsung membuat Jane tersinggung. Seharusnya jika Rean lelaki normal, ia pasti akan tergoda pada tubuh Jane yang bisa dibilang sexy. Tapi kini yang terlihat, Rean sama sekali tak tertarik sedikitpun.
"Aku ingin menemanimu," ucap Jane sembari menyentuh bahu Rean dengan sensual. Rean merasa sengatan hebat pada tubuhnya lewat jemari lentik Jane. Entah mengapa tiba-tiba seluruh tubuhnya merinding hingga membuatnya menjauh dari Jane dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Jane bingung yang melihat Rean tiba-tiba menggeser duduknya menjauhi Jane.
"Pergilah!"
"Tapi--"
"PERGI!" dengan secepat kilat, Jane pergi dari ruangan Rean dengan perasaan kesal yang sudah bertumpuk di ubun-ubunnya.
Beberapa menit kemudian Rean telah menyelesaikan pekerjaannya, ia melihat pada jam tangannya, pukul 3 dini hari.
Ketika hendak masuk ke dalam kamarnya, ia melihat pintu kamar Reana terbuka setengah. Lelaki itu hendak menutupnya, akan tetapi ia urungkan kala melihat sang Adik yang tengah tertidur pulas.
Rean berjalan dengan perlahan menuju ke ranjang Reana, wanita itu tidur dengan memeluk Azura yang posisinya berada di tengah-tengah Reana dan Sean.
Dengan perlahan Rean memindahkan tangan Reana, menyibak selimut wanita itu lalu menggendong tubuh kecil tersebut dan membawanya ke kamar Rean.
Dengan penuh kehati-hatian, Rean meletakkan Reana di atas ranjang king size-nya. Mengelus pipi Reana dengan lembut, juga menyesap aroma vanilla yang menguat dari tubuh sang Adik.
Rean mengagumi kesempurnaan paras Reana, sangat cantik juga manis dan lagi wajahnya yang seakan tak menua sedikitpun.
"Reana," desah Rean sembari mengecup seluruh permukaan wajah Reana hingga ke leher jenjang wanita itu. Reana merintih merasakan sensasi geli dan rangsangan beruntun dalam tidurnya. Namun, ia masih enggan untuk bangun dan hanya menganggap bahwa semua itu mimpi.
"Kak Rean," panggil Reana lirih kala ia membuka mata dan melihat sang Kakak yang tengah sibuk menjelajahi tubuh depannya dan berusaha melucuti baju tidurnya.
"Iya, Sayang, aku di sini." Rean menjawab dengan nada lembut penuh sayang, ia juga mengelus pipi kiri Reana dengan ibu jarinya.
Reana hanya bisa pasrah kala Rean mencium bibirnya dengan penuh nafsu, mengabaikan sosok di balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka tengah menatap murka pada keduanya. Lebih tepatnya pada Reana.
Jane melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana lembutnya Rean memperlakukan Reana, ia juga melihat sendiri bagaimana Rean begitu menyukai tubuh Reana, juga menyayangi wanita tersebut.
Dan yang lebih menyakitkan untuknya adalah, ia yang juga melihat Rean menyetubuhi Reana malam itu. Suara desahan Reana menjadi belati yang menusuk hati Jane, sakit dan ia berjanji akan menyingkirkan Reana beserta kedua Anaknya.
_____________Tbc.
*Maaf ya kalau tata up nya lama, soalnya tata beneran udah gak boleh ngetik cerita lagi:(
Jadinya tata ngetiknya tuh sembunyi².
__ADS_1
Maklumin ya kalau mungkin up nya lama dan gak sempet bales komentar:(