
maap² up-nya lama bgt, soalnya tata lagi kecanduan game online😅😁
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Arz datang menemui Zefaro yang kini tengah duduk seorang diri di roof top sekolah mereka, sebatang rokok ada di tangan lelaki itu.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu, apa kau ada waktu?" tanya Arz yang kini bersandar pada pembatas roof top tersebut.
"Tidak!!" tolak Zefaro dingin. Tak berapa lama kemudian, seseorang datang ke sana memecah ketegangan diantara mereka. Terbukanya pintu roof top dengan sedikit kasar membuat mereka menolehkan kepala ke arah sumber suara.
"Ma-af, aku pikir tak ada orang di si-ni," ucap Raina dengan memainkan jemari tangannya. Gadis itu selalu gugup jika ada Zefaro di dekatnya. Entahlah, tapi efek dari adanya lelaki itu di dekatnya begitu kuat bagi Raina hingga membuatnya tergagap tanpa disengaja.
"Ayo pergi!"
"Eh?" Raina kaget bukan kepalang kala Zefaro datang mendekat padanya, belum lagi lelaki itu yang menarik tangannya dan membawa gadis itu pergi dari sana.
Raina tersenyum dengan tertahan, ia tak mau jika Zefaro salah paham melihatnya tersenyum seorang diri hanya karena tangan gadis itu yang masih digenggam oleh Zefaro.
"Ternyata itu gadis barumu," gumam Arz lirih.
***
Reana mendorong Rean sekuat tenaga kala lelaki itu kehilangan kontrol dirinya, Rean memaksa Reana untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi dari yang selama ini mereka lakukan.
Pikiran Reana masih seratus persen waras, tentu saja ia menolak mentah-mentah permintaan Rean yang dianggapnya keterlaluan.
Apa kakaknya itu tak memikirkan masa depannya?
"Kak, lepas!" ucap Reana yang kuwalaan menghadapi Rean yang begitu agresif akan dirinya.
Bahkan, Reana sudah nyaris tanpa busana karena ulah dari Rean.
"Apa kau tak mencintaiku?" tanya Rean menuntut. Pasalnya gadis itu mati-matian menahan sentuhannya agar tak lebih jauh lagi.
"Aku mencintaimu, sungguh! Tapi aku tak bisa memberikan kesucianku padamu! Tolong mengertilah!" ucap Reana sedikit keras, ia harus segera berlari keluar dari kamar Rean atau dirinya tak akan selamat dari lelaki itu.
Tapi jika ia keluar dengan kondisi seperti itu, pasti Neneknya akan mengetahui perbuatan Rean, ia tak ingin Melihatnya bersedih karena ulah mereka.
"A-ku mo-hon, Kak, lepaskan aku ... hiks," ucap Reana sembari memeluk erat kaki Rean kala lelaki itu akan menghempaskannya ke ranjang.
"Reana."
"Tolong kasihani aku ... sekali ini saja, Kak ... aku menjaga kehormatanku selama ini hanya untuk suamiku kelak, tolong jangan dirusak, kumohon!" isak Reana pilu membuat Rean mengacak rambutnya frustasi.
"Tapi, aku yang akan menjadi suamimu!"
"Walaupun begitu, biarkan kita dipersatukan di altar pernikahan terlebih dahulu. Kumohon mengertilah," ucap Reana ditengah isakannya. Gadis itu tak ingin memberikan kehormatannya pada lelaki yang belum tentu menjadi jodohnya kelak. Bukan hanya itu, bagi semua wanita, kesucian adalah hal yang wajib dijaga dan hanya diperuntukkan untuk suami kita kelak.
Dan lagi, ia takut jika tiba-tiba Rean meninggalkannya dan memilih menikah dengan Jane. Mengingat status mereka yang hanya akan ada kata 'Adik-Kakak' bukan 'sepasang kekasih' seperti selayaknya pasangan lainnya.
Berbeda dengan Rean yang saat ini begitu menginginkan Reana, akan tetapi ia tak tega jika harus memaksa gadis itu melayaninya sekarang. Melihat Adiknya menangis seperti itu saja sudah membuat dadanya serasa sesak dan ngilu.
Ya, kini harus Rean akui kalau ia sekarang menjadi sangat lemah hanya karena cintanya yang begitu besar untuk Reana.
"Baik, aku mengampuni mu."
Astaga, apa yang akan kulakukan tadi? lanjut Rean dalam hati.
"Terimakasih ... terimakasih, Kak," ucap Reana merasa lega. Ia bersyukur karena Rean mau melepaskannya. Buru-buru gadis itu membenahi baju tidurnya, ia tak ingin tidur di kamar Rean malam ini. Bisa saja Kakaknya itu berubah pikiran dan akan menyerangnya lagi.
Baru saja ia keluar dari rumah sakit, tapi Rean sudah akan membuatnya kembali masuk ke rumah sakit lagi.
Secepatnya Reana berjalan ke arah pintu ketika Rean masuk ke kamar mandi, ia melangkah perlahan agar Rean tak mengetahuinya dan kembali menyeret gadis itu tanpa ampun kembali ke ranjangnya.
__ADS_1
"Reana? Ada apa? Kenapa kau tampak begitu pucat?" tanya Raina yang bingung karena tiba-tiba saja Reana masuk ke kamarnya. Bukan hanya itu, sang Kakak juga nampak ketakutan dengan wajah pucat pasi.
Karena khawatir, Raina segera memberikan segelas air putih yang ada di atas meja samping ranjangnya. Ia berfikir, mungkin Reana tengah mengalami mimpi buruk malam ini.
"Bolehkah aku tidur denganmu?" tanya Reana dengan nada setengah berbisik.
"Tentu, tidurlah dengan ku!" Raina mengajak Reana menuju ranjangnya. Gadis itu juga menenangkan sang Kakak dengan memeluknya penuh sayang.
"Lupakan apapun yang baru saja kau alami," bisik Raina pada telinga Reana. Gadis itu mengangguk meng-iya-kan ucapan sang Adik hingga akhirnya alam mimpi menjemput mereka berdua.
"Dia pergi. Aku yang bersalah, kenapa aku jadi begitu bodoh karena nafsu yang tak bisa ku kendalikan?!" Rean menjambak rambutnya dengan geram kala mengingat betapa ia telah menjadi pria bajingan yang akan dengan tega menyetubuhi Adik kandungnya sendiri.
Wajar saja jika Reana ketakutan padanya, wajar saja jika gadis itu memilih pergi ketika Rean merendam tubuhnya dengan air hangat agar lebih rileks tadi, dan bagaimana jika Reana memilih pergi dari hidupnya setelah lelaki itu hampir membuat kesalahan?
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Rean, ia tak akan sanggup kehilangan Reana. Biarlah ia dikatai lemah hanya karena wanita, karena itu semua memang benar adanya.
Rean lemah karena Reana, ia tak sanggup menjalani kehidupan barunya tanpa gadis itu di sisinya. Belum lagi Karina yang begitu Keukeh ingin menikahkannya dengan Jane.
Sepertinya akan ada beberapa ujian kesetiaan untuk mereka berdua.
Mungkin, Tuhan sedang mencoba memberi mereka peringatan. Hanya saja keegoisan dari Rean tak pernah mengindahkan jalan terbaik yang Tuhan berikan pada mereka.
Tuhan telah mengirimkan Jane dan juga Aldric untuk menjadi pasangan mereka berdua, akan tetapi baik Rean maupun Reana seakan enggan menerima jodoh yang telah dipilihkan Tuhan untuk mereka.
Hingga akhirnya, mereka memilih tenggelam dalam lautan dosa cinta terlarang dan berusaha meraih kebahagiaan yang semu. Mereka yang telah menyimpang dari takdir, apakah akan bisa berakhir bahagia?
Rean menggenggam sebuah kotak cincin yang ia ambil dari laci nakas. Dibukanya kotak tersebut dan tampak sepasang cincin pernikahan yang sudah Rean siapkan untuk menikahi Reana.
Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana mungkin mereka menikah tanpa restu dari Neneknya sendiri?
Dan sudah pasti pernikahan mereka akan ditolak dari berbagai pihak, belum lagi kecaman serta hujatan yang pasti akan mereka tanggung seumur hidup mereka.
Jika Rean tak mempermasalahkan hal itu, bagaiman dengan Reana yang sebenarnya memiliki hati yang begitu rapuh?
Rean segera menghubungi Saga, menyuruh lelaki itu untuk mencari tahu di mana negara yang melegalkan pernikahan sesama saudara.
Jika ia tak bisa menikahi Reana di negaranya sendiri, maka ia bertekad akan membawa pergi gadis itu untuk dinikahi di negara lain. Toh marga mereka berbeda.
***
Raina menatap bingung pada Arz yang tiba-tiba duduk di depannya ketika ia makan di kantin sekolah. Gadis itu tengah makan sendiri karena Reana pergi dengan Vanessa entah ke mana.
"Tidak ... aku hanya bingung saja, kenapa kau memilih duduk di sini?"
"Apa aku mengganggumu?" tanya Arz dengan nada seolah ia tersinggung atas pertanyaan Raina.
"Ti-tidak! Hanya saja te-teman-temanmu terus melihat ke arah sini," ucap Raina sambil menunduk, ia lebih memilih memandangi makan siangnya daripada melihat wajah rupawan di depannya.
Sebetulnya ia takut akan dibully oleh para fans girl dari Arz, mereka begitu bar-bar jika melihat Arz berdekatan dengan seorang gadis.
"Hm ... tapi aku sedang ingin makan siang denganmu, bagaimana kalau--"
"Jangan mengganggunya!" mereka mengalihkan pandangan kala mendengar suara dingin seorang lelaki.
Zefaro, lelaki itu berdiri di samping meja mereka dengan style yang begitu kontras dengan Arz yang selalu nampak rapih.
"Faro?" panggil Raina pelan. Gadis itu diam-diam tersenyum dengan semburat merah muda di pipinya.
"Ikut denganku!" Zefaro menarik tangan Raina pergi dari sana. Wajah dingin lelaki itu membuat Raina memilih diam dan menurut.
"Makan!" Zefaro menyerahkan kotak bekal miliknya pada Raina. Gadis itu memandang bingung pada Zefaro, tetapi ia tak berani bertanya lebih jauh.
"Tapi ... ini kan milikmu, bagaimana kau akan makan siang jika bekalmu aku makan?" tanya Raina yang enggan memakan bekal milik lelaki itu.
Ia merasa tak enak hati jika harus memakan makanan milik orang lain, apalagi Zefaro tak memiliki bekal lagi untuk dimakan lelaki itu.
"Aku sedang tidak ingin makan," jawab Zefaro dingin, lelaki itu menyalakan sebatang rokok seperti biasa. Namun, Raina menarik rokok yang akan dihisapnya dan menggantikan sebatang permen lollipop yang didapat Raina dari Reana tadi pagi.
"Hey!" Zefaro kaget kala puntung rokoknya diinjak oleh Raina.
"Lebih baik makan permen yang manis daripada menghisap sebatang racun!" ucap Raina sedikit keras.
"Kau ini." Zefaro tak bisa lagi membantah ucapan Raina, ia memilih diam dan terus memakan permen itu. Senyum tipis tampak disembunyikan oleh Zefaro.
"Makanlah!" ucap Zefaro kala mendengar perut Raina berbunyi minta diisi. Gadis itu menunduk malu dan memilih memakan bekal Zefaro yang tutupnya sudah dibuka oleh lelaki itu.
Sebuah masakan yang tampak begitu lezat membuat Raina segera ingin mencicipinya. Benar saja, rasa masakan itu sangat lezat hingga membuat Raina memakannya dengan lahap.
"Enak sekali," puji gadis itu dengan jujur.
__ADS_1
"Ibuku yang memasaknya," ucap Zefaro yang membuat Raina menghentikan acara makannya.
Wajah gadis itu yang semula bahagia, kini tampak murung karena mengingat sosok mendiang Ibunya yang hanya sekilas saja ia lihat.
Jangankan memasakkan makanan untuknya, bahkan Ibunya saja tak ada waktu meski hanya sekedar menjenguknya sebentar.
"Ibumu sangat pandai memasak, aku kagum padanya." Raina menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar dirinya tak menangis.
Ia hanyalah gadis rapuh yang kurang akan kasih sayang orangtuanya. Hanya kilasan kenangan mengerikan yang mampir ke otak cantiknya. Kilasan masa lalu di mana Ayahnya selalu memukuli Ibunya dengan brutal.
"Besok aku akan membawakan makan siang untukmu juga!" ucap Zefaro yang membuat Raina kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak? Lelaki yang terkesan sangat dingin itu tiba-tiba menjadi bersikap begitu baik padanya.
Raina tersenyum dan berhasil melupakan kesedihannya berkat Zefaro. Gadis itu berdoa dalam hati, semoga kisah cintanya pada Zefaro akan memiliki akhir yang indah.
"Terimakasih," ucap Raina yang kemudian menghabiskan makan siang milik lelaki itu.
***
Jane menggenggam tangan Rean yang kini tengah berjalan di sampingnya, lelaki itu hanya diam saja karena ada Karina di sana. Ia malas jika harus mendengar ocehan dari wanita tua tersebut.
Malam ini mereka bertiga akan makan malam di sebuah restoran terkenal yang ada di kota itu. Karina memilih ikut karena ia takut jika Jane akan ditinggalkan oleh Rean di jalan begitu saja, bukan tidak mungkin Rean melakukan hal sekejam itu, bukan?
Dan tanpa Rean duga sebelumnya, Reana sudah duduk di meja pesanan mereka. Jantung Rean serasa diremas hingga terasa begitu sakit dan ngilu, kala ia melihat tatapan terluka Reana yang melihat pada tangan kanannya yang digenggam oleh Jane.
Reana memilih memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Raina yang menatap kedatangan mereka dengan tatapan begitu dingin, adiknya itu memang tidak mudah ditebak perangainya.
"Kalian sudah datang?" tanya Karina basa-basi, padahal memang ia sendiri yang sengaja menyuruh mereka datang lebih dulu karena jika mereka yang datang lebih dahulu, bisa-bisa Reana memilih pergi dari sana setelah melihat Rean dan Jane dari kejauhan.
Namun, jika Rean yang datang belakangan, Reana dan Rean tak akan bisa lari dari sana karena ada Jane yang menahan tangan Rean. Ditambah para pengunjung restoran sudah cukup banyak, cucu lelakinya itu pasti tidak mau menarik perhatian dan akan membuatnya malu di depan umum.
"Kami sudah ada di sini sejak tiga puluh menit yang lalu. Bukannya Nenek sendiri yang menyuruh kita datang lebih awal?!" ketus Raina yang dengan cepat mengetahui rencana sang Nenek.
Sedangkan Rean melepas tangan Jane dengan cepat, tapi gadis itu memang keras kepala, buktinya saja Jane tetap menempel pada Rean hingga duduk pun berada di dekat lelaki itu.
Rean yang enggan menjadi pusat perhatian, memilih diam dan menurut pada Jane, sedangkan Reana memilih menunduk diam menatap makanan yang telah tersaji di depannya.
Reana mencibir dirinya sendiri kala melihat kemesraan Rean dan Jane, mereka tampak serasi sebagai pasangan kekasih. Sungguh!
Reana merasakan sakit yang teramat sangat kala melihat adegan Jane yang menyuapi sang Kakak, lelaki itu memang terlihat tanpa ekspresi dengan pandangan tetap lurus ke arah Reana yang duduk di depannya.
"Aku permisi, Nek." Reana berdiri dari duduknya kala ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit pada dadanya, ia yakin jika terus berada di sini, gadis itu pasti akan menangis.
"Kau mau ke mana?"
"Eh?" pertanyaan seorang lelaki dari belakangnya mengagetkan gadis itu. Tampak Aldric berdiri di belakang Reana dengan setelan formalnya yang membuat lelaki itu tampak semakin rupawan.
Pesona seorang Aldric nyatanya mampu menarik perhatian beberapa pengunjung wanita, mereka dengan malu-malu berbisik dan mencuri pandang pada Aldric yang kini tengah memberikan sekotak cokelat pada Reana.
"Om?" tanya Reana bingung. Aldric tersenyum pada Reana dan menyapa calon keluarga barunya.
Rean menatap Aldric dengan tatapan menusuk, seolah menguliti lelaki itu dengan tatapannya saja. Aldric yang memang memiliki sikap santai, hanya tersenyum tenang dan duduk di dekat Reana.
Satu hal yang ditangkap oleh penglihatan lelaki itu adalah Reana yang tengah mati-matian menyembunyikan rasa sakitnya di depan sang Nenek dan semua yang ada satu meja dengannya.
"Mmm ... Reana, apa kau merasa bosan di sini?" tanya Aldric mengalihkan konsentrasi gadis itu. Reana mengangguk dan bergumam menjawab pertanyaan Aldric.
Tanpa pikir panjang, lelaki yang duduk di sampingnya itu mengambil tisu dan menggenggamnya dengan kuat. Tak berapa lama kemudian, Aldric kembali membuka kepalan tangannya kembali.
Reana menganga tak percaya kala tisu yang tadinya digenggam oleh Aldric, kini berubah menjadi coklat berbentuk bulat dengan ukuran sedang.
"Waahhh, hebat!" sorak Reana takjub, gadis itu bahkan melupakan kehadiran Rean yang kini memandang mereka dengan tatapan kesal.
"Kau senang?" tanya Aldric yang diangguki oleh Reana.
Kemudian Aldric juga memberikan beberapa tebakan untuk Reana yang sukses membuat gadis yang memiliki otak pas-pasan itu berpikir keras. Ekspresi Reana yang tampak sangat serius, berhasil membuat Aldric menahan tawanya agar tak terbahak, baginya ekspresi Reana yang seperti itu tampak sangat lucu baginya.
Rean mendecih pelan, ia merasa sangat kesal dan tidak terima dengan kemesraan mereka berdua. Lelaki itu berjanji akan secepatnya menjadikan Reana miliknya.
__________Tbc.
**maaf kalau update-nya lama banget, harusnya kemarin udah tata up, cuma tata lagi gak ada kuota hehehe:v
oh iya, tata mau bilang nih, kalau sebenernya tuh tata gak punya mental sekuat penulis lain. jadi tata mohon banget ya, kalau berkomentar jangan terlalu jleb banget, soalnya komentar kayak gitu suka bikin macet ide:(
ada beberapa komen sih di cerita tata yang satunya tuh jleb gitu, akhirnya idenya macet dan novelnya gak up²:(
udah gitu aja hehehe
makasih banyak buat kakak yang mau menempatkan waktu untuk baca cerita unfaedah aku:v**
__ADS_1