
Dua minggu kemudian Reana sudah diperbolehkan untuk pergi ke sekolah karena lukanya sudah mengering. Ia merasa lega mendengar kabar bahwa Lilian telah kembali ke Jepang selama beberapa bulan, dengan begitu ia tak perlu merasa was-was jika Lilian akan membuatnya disiksa oleh Rean lagi.
Gadis itu tengah berjalan santai di koridor sekolah kala melihat Jane yang tengah dibully oleh beberapa siswi yang mana Reana ketahui mereka adalah putri dari beberapa Pejabat dan seorang Mentri hukum.
Reana bingung dengan teman sekolahnya yang hanya diam menonton tanpa berusaha untuk melerai pertengkaran yang tak seimbang itu. Jane sudah dijambak oleh Audrey dan tiga teman lainnya yang tengah sibuk mencatat PR gadis itu.
"Aww!" pekik Audrey kala lengannya dilempar dengan minuman kaleng oleh Reana. Audrey menatap nyalang pada Reana yang melihat ke arahnya dengan tatapan datar.
"Awas kau!" Audrey segera pergi dari sana dengan pergelangan tangan yang sedikit membiru akibat lemparan Reana yang cukup kuat.
Ia tak mau berurusan dengan Reana yang ia anggap gadis aneh, tatapan mata Reana mampu membuat gadis sekejam Audrey memilih untuk pergi daripada memperpanjang masalah dengan Reana.
"Ini," ucap Reana, tangannya terulur untuk menyerahkan sebuah buku PR yang tadi sempat dilempar oleh teman Audrey ke arahnya.
"Terimakasih, Reana. Kau benar-benar sangat keren," puji Jane yang sama sekali tak digubris Reana. Gadis itu pergi begitu saja dari sana meninggalkan Jane yang menatapnya dengan kagum.
***
Zefaro kini tengah bermain sepak bola bersama dengan beberapa temannya, lelaki itu sangat mahir dalam menggiring dan memasukkan bola ke gawang lawan. Dalam kelompoknya, mereka sangat mengandalkan keahlian Zafaro ketika mereka bertanding melawan sekolah lain.
Terdengar bunyi peluit dari seorang pelatih mereka, waktu latihan telah selesai dan mereka bisa beristirahat dan digantikan oleh Adik kelas Zefaro yang juga akan berlatih sepak bola di sana.
Audrey segera berlari ke arah Zefaro dan memberikan handuk juga sebotol air mineral yang sudah ia persiapkan. Lelaki itu berdecak kesal melihat Audrey yang selalu menempel padanya, hingga kemudian pandangan Zefaro teralihkan oleh kehadiran Reana di sana.
Reana tengah duduk santai di bawah pohon sembari melihat beberapa temannya yang bermain bola, Zafaro mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri dan memilih untuk duduk diam sambil menatap Reana yang terlihat antusias dengan permainan teman-temannya.
"Ternyata dia bisa terlihat normal, ya?" gumam Zefaro yang melihat Reana memekik kesal kala tim di kelasnya gagal memasukkan bola ke gawang lawan.
__ADS_1
"Kau sedang melihat ke arah mana, Faro? Aku tengah berbicara denganmu sekarang." Audrey merasa kesal kala Zefaro sama sekali tak menggubrisnya.
Tiba-tiba saja ia berdiri kemudian berjalan ke arah pelatih yang tengah memberikan instruksi pada muridnya, terlihat Zefaro sedikit berbincang pada pelatih. Zefaro ingin memberikan sesuatu pada Reana, dirinya hanya ingin melihat Reana yang tersenyum bahagia ketika teman setimnya bisa memenangkan pertandingan itu.
Walaupun masih latihan, namun antusias dari Reana membuat Zefaro ikut merasa senang. Setelah berbincang sedikit dengan pelatih, Zefaro terlihat memasuki lapangan dan ikut bergabung dalam tim kelas Reana.
Zefaro yang lincah mengoper bola pada Adik kelasnya, membuat mereka lebih mudah dalam memasukkan bola ke gawang lawan. Reana memekik senang bahkan gadis itu terlihat berdiri dan bertepuk tangan untuk kemenangan timnya.
Pemuda yang dianggap preman sekolah itu tersenyum kala melihat Reana yang begitu bahagia melihat teman-temannya bisa mengalahkan tim kelas sebelah dalam latihan ini.
Zefaro tak pernah melihat Reana yang bisa berekspresi seperti gadis lainnya, untuk itulah ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengambil gambar Reana dengan kamera ponselnya.
"Cantiknya," puji Zefaro kala memandang pada layar ponsel yang menampilkan Reana tengah tersenyum senang melihat ke arah lapangan.
***
Reana menatap Jane dengan pandangan bingung, pasalnya si cupu itu kini tengah memberinya sebuah kotak dengan pita berwarna pink yang mana isi di dalamnya adalah coklat.
"Apa?" tanya Reana bingung. Jane tersenyum malu-malu kemudian membenarkan letak kaca matanya sebelum menjawab pertanyaan Reana.
"Ini untukmu sebagai ucapan terimakasih karena sudah menolongku tadi," jawab Jane yang kemudian meraih tangan Reana agar mengambil kotak coklat pemberiannya.
"Huh?" Reana semakin tak mengerti dengan tingkah Jane yang ia rasa sedikit aneh. Gadis itu mengembalikan coklat tersebut pada Jane, ia tak mau menolong orang karena ingin mendapatkan imbalan, "ambil lagi saja, aku tidak suka coklat!" sambung Reana.
Gadis itu hendak pergi ke bangkunya, tapi Jane menghentikan langkahnya dan meraih pergelangan tangan Reana.
"Apa lagi?" tanya Reana datar. Ia tak mengerti apa yang diinginkan Jane darinya.
__ADS_1
"Kulihat kau begitu keren, Reana, bolehkan aku mengikuti gayamu?" tanya Jane malu-malu. Reana hanya mengangkat satu alisnya tak peduli, ia malas mengurusi hal yang tak penting.
"Terserah! Lakukan apa pun yang kau inginkan, tapi jangan terus menerus menggangguku!" Reana pergi ke bangkunya setelah mengatakan hal itu. Jane merasa senang karena mendapat ijin untuk mengikuti gaya Reana, ia akan menerapkannya besok. Ia juga ingin terlihat keren seperti Reana selama ini.
***
Reana merasa kesal karena Zefaro terus saja mengajaknya pulang bersama, bahkan lelaki itu juga mengikuti kemana pun Reana melangkah.
"Ada apa denganmu? Berhentilah mengikutiku!" dengus Reana kesal, ia berjalan menuju gerbang sekolah. Terlihat Rean sudah menunggunya di sana.
"Aku hanya ingin mengantarmu pulang, kenapa kau tidak mau? Semua gadis ingin sekali berdekatan denganku, tapi kenapa kau justru terus menghindariku?" tanya Zefaro merasa kesal. Reana kemudian menyerahkan beberapa lembar uang dari saku seragamnya, lelaki itu menatapnya bingung.
"Ada apa ini? Siapa dia?" suara berat Rean membuat Zefaro membalik tubuhnya ke belakang, terlihat Rean sudah berdiri di sana dengan pandangan mata yang tajam. Zefaro menelan ludahnya susah payah.
"Kau mengenalnya?" tanya Rean tajam pada Adiknya, Reana berjalan ke arah Rean setelah menyerahkan beberapa lembar uang pada Zefaro yang hanya diam mematung di sana.
"Iya, dia Kakak kelasku. Tapi, dia selalu meminta uang pada murid yang ada di sekolah setiap hari, dan hari ini aku tak memberinya uang, jadi dia terus menagihnya padaku, Kak!" Zefaro melotot tak percaya pada pengakuan Reana. Gadis itu kenapa tega memfitnah dirinya yang sudah berniat baik mau mengantarnya pulang? Batin Zefaro.
"Aku tidak--"
"Begitu ya?" ucap Rean memotong perkataan Zefaro. Rean mengambil dompetnya pada saku celana bahan pria itu, mengambil beberapa lembar uang dan menyerahkannya pada Zefaro.
"Ambil ini, dan jangan merampas uang anak-anak lagi. Biarkan mereka belajar dengan tenang!" Rean menasehati Zefaro yang kini tengah menatap lembaran-lembaran uang di tangannya, jumlah yang sangat banyak ia serahkan begitu saja, pikir Zefaro.
Rean segera menggenggam tangan Reana dan membawanya pergi dari sana. Lelaki itu sempat berpikir bahwa Reana menjalin hubungan dengan pria itu, hampir saja Rean akan menghajar Zefaro jika memang pemuda tesebut berteman dengan Adiknya.
Rean memasukkan Reana ke dalam mobil dan membawa gadis itu ke kantornya, masih ada beberapa pekerjaan di sana dan ia merasa tak ingin jauh dari Reana. Maka ia menyuruh Diana membawakan baju dan memesan makanan untuk Adiknya, ia ingin bekerja ditemani oleh Reana.
__ADS_1
_________Tbc.
Ini kayaknya si Rean dibo'ongin terus ya sama Adeknya:v