Sadistic Brother

Sadistic Brother
11


__ADS_3

Reana bersembunyi di belakang punggung Saga kala Rean mengamuk dan ingin menghabisi seorang lelaki dewasa yang Reana tak tahu siapa namanya.


Ia baru saja pulang dari sekolah dan sudah melihat Rean yang mengacungkan Revolver miliknya ke arah orang asing yang datang dengan Neneknya itu.


"Kakak," panggil Reana lirih ketika melihat Rean yang berdiri terengah setelah menghajar beberapa bodyguard yang melindungi lelaki asing itu dari serangannya yang brutal.


Rean menoleh dan mendapati Reana berdiri di balik punggung Saga. Nampak Adiknya itu sangat ketakutan karena melihat ulahnya.


"Masuk ke kamar!" titah Rean yang membuat Reana langsung berlari ke atas tanpa babibu lagi. Gadis itu melihat sisi monster Kakaknya telah kembali, ia memilih memasuki kamarnya dan mengunci pintu dengan rapat agar Rean tak bisa masuk dan menghajar dirinya lagi.


Hanya saja kekhawatiran pada Kakaknya lebih dominan dibanding dengan ketakutannya pada Rean. Ia khawatir jika bodyguard yang dibawa Karina akan menghajar Rean juga. Ia tak ingin Kakaknya celaka.


Reana melihat ke arah jendela kamarnya ketika mendengar deru mesin mobil meninggalkan mansion miliknya. Tiga mobil itu sudah pergi, berarti Karina dan pria asing itu juga sudah meninggalkan mansionnya.


Reana seketika teringat pada Rean, ia takut Kakaknya yang tak ada perlindungan diri itu terluka oleh orang yang dibawa Neneknya, mengingat hubungan keduanya memang tengah bersitegang selama beberapa tahun terakhir.


Gadis itu segera berlari turun ke bawah untuk melihat keadaan Rean, hal pertama yang ditemuinya adalah Kakaknya yang tengah mengamuk dengan seluruh barang yang sudah tak berbentuk lagi.


Ada empat pengawal yang terbujur kaku di sana dengan kepala tertebas katana yang tengah di pegang Rean. Bahkan dua di antaranya sudah tewas mengenaskan dengan tangan, kaki dan kepala yang terpisah dari badannya.


Aroma anyir darah menusuk penciumannya, Reana yang syok hanya bisa terduduk lemas menyaksikan Rean yang tengah menghancurkan apapun di sekitarnya.


Saga yang melihat Nona Mudanya tengah dalam kondisi yang tak baik-baik saja, segera berlari ke arah Reana. Saga menggendong Reana untuk berlari ke arah tangga dan memasukkannya ke dalam kamar.


"Saga," lirih Reana gemetar. Wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin bercucuran.


"Reana, tenanglah," ucap Saga kemudian memberikan gadis itu segelas air yang langsung diteguk olehnya.


"Keluar!"


PRANG!


Reana yang kaget dengan suara dingin Rean, refleks menjatuhkan gelas yang ada di tangannya. Ia menatap Kakaknya berdiri di ambang pintu dengan katana di tangan kanannya. Reana memeluk pinggang Saga dengan air mata berurai, ia sungguh tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.


"Jangan keluar, kumohon," pinta Reana yang membuat Saga tak tega untuk meninggalkannya. Akan tetapi tatapan membunuh dari mata kelabu Rean membuatnya tak bisa membantah perintah lelaki itu.


"Maaf, Nona." Saga melepaskan belitan tangan Reana dan segera meninggalkan gadis itu. Rean menghampiri Adiknya dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Tuhan selamatkan aku," pinta Reana ketika pintu kamarnya di tutup oleh Saga.


***

__ADS_1


Ruangan kamar yang temaram menjadi saksi bisu kesadisan seorang Rean. Tanpa ampun ia menghajar Reana yang sudah bersimbah darah. Aroma anyir serta raungan kesakitan berbaur menjadi satu yang berpusat pada seorang gadis yang kini sudah meringkuk di sudut ruangan.


Sayatan, tusukan, cambukan, bahkan juga kini kedua tangannya yang terborgol membuat Reana hanya bisa pasrah pada takdir kematian yang setiap saat bisa meraihnya.


Rean duduk di tepi ranjang, ia menatap bilah katana yang meneteskan darah segar Reana. Ia baru saja menyayat paha gadis itu dengan luka yang dalam. Ia juga baru saja mencambuk Adiknya dengan bengis hingga garis yang mengalir darah terbentang di punggungnya.


Kini ia sudah puas, ia puas karena Reana tak akan lagi bisa ke manapun. Ia senang karena Reana kini tak akan meninggalkannya dalam kondisi selemah itu. Ia juga senang karena pasti laki-laki itu juga akan jijik jika melihat begitu banyak tanda kepemilikan di leher jenjang Adiknya.


Rean berjalan ke arah Reana yang kini hanya bisa menatapnya dengan kondisi memprihatinkan, baju seragam yang ia kenakan sudah terkoyak di sana sini akibat cambuk dan katana yang digoreskan pada tubuhnya.


"Ugh!" Reana melenguh sakit kala Rean mencekik lehernya dengan kuat. Lelaki itu menggertakkan giginya kala mengingat lelaki yang menjadi saingan bisnisnya itu sangat menginginkan Reana.


"KENAPA KAU HARUS TERLAHIR MENJADI ADIKKU? KENAPA HARUS KAU YANG MENJADI ADIKKU, HUH? jangan harap aku akan melepaskanmu, jika kau berfikir untuk meninggalkanku, kau akan tau akibatnya!" Rean menjambak rambut Reana hingga gadis itu mendongak.


Rean melumat kasar bibir Reana dan mengecap rasa amis darah di sana, lelaki itu tak peduli, ia bahkan menggigit bibir Adiknya hingga robek dan membuat pemiliknya makin menangis kencang.


Tangannya di borgol ke arah belakang, sehingga menyulitkan Reana untuk melawan Kakaknya. Ia hanya bisa pasrah dan berharap semoga semuanya cepat berakhir.


"Tuan, tolong hentikan!" Saga terdengar sedikit berteriak dari luar. Rean mendecih kesal dan melepas Adiknya hingga gadis itu ambruk ke lantai yang penuh dengan bercak darahnya.


Lelaki itu berjalan ke arah pintu kamar, membukanya dan membiarkan Saga masuk ke sana. Saga segera menghampiri Reana, menggendong gadis itu ke ranjang dan segera menyuruh supir menyiapkan mobil sementara ia mengganti baju Reana dengan yang lebih layak.


Rean meninggalkan mereka tanpa perasaan sedikit pun.


***


"Dia terlalu banyak mengeluarkan darah. Kita membutuhkan donor darah secepatnya." Saga menatap Reana yang terlihat semakin memucat, selang oksigen terpasang di hidungnya.


"Lakukan apapun untuknya." Saga menatap iba pada Reana. Kenapa takdir gadis semuda dia bisa seberat ini?


"Ambil saja darahku dan donorkan padanya." Saga melihat ke arah sumber suara yang terdengar dingin itu, Rean terlihat berdiri di belakangnya dan menatap lurus ke dalam ruang rawat Adiknya.


Saga tidak menyangka bahwa Rean akan menyusul mereka ke rumah sakit.


Saga dan Dokter Arthur memberi jalan untuk Rean agar lebih leluasa masuk ke dalam, namun Rean hanya diam mematung dengan pandangan.. -sedih?


"Cepat!" ucap Rean tegas. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit saat melihat Adiknya terbaring lemah seperti itu, terasa nyeri ketika mengingat tangisan mengiba Reana.


Namun, Rean juga sangat membenci Reana ketika gadis itu bahagia dengan orang lain, apalagi jika sampai Adiknya bahagia dengan lelaki lain. Rean akan sangat membencinya.


***

__ADS_1


Rean menatap Adiknya yang sejak dua hari lalu belum juga sadarkan diri. Tiba-tiba air matanya menetes tanpa persetujuan lelaki itu, ia mengusap kasar meski kemudiam menetes lagi dan lagi.


Rean menggenggam tangan Reana, mencium punggung tangannya dengan lembut juga menggumamkan kata 'Kau bukan Adikku' secara berulang-ulang. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, kebencian seperti apa yang ada dalam hatinya kini.


Kedua pasanga kelopak mata sang gadis terbuka, iris kelabu yang teduh itu mulai menampakkan dirinya. Reana melihat ke samping kanan, dan menemukan Rean duduk sembari menggenggam tangannya di sana.


Kakaknya itu menatap dirinya dengan sorot mata yang tak biasa, Rean terlihat seakan bersyukur dengan bangunnya gadis itu kembali. Reana tersenyum getir kala meyakini bahwa itu bisa saja senyum yang akan mengantarkannya pada penderitaan selanjutnya.


Jika terus menderita begini, siapa yang akan sanggup bertahan?


Reana hanyalah gadis remaja biasa yang bisa juga menangis, meratap, dengan segala kesakitan yang ia terima secara batin maupun fisik. Reana juga bisa berhenti bertahan dan memilih untuk menyerah.


Gadis itu memejamkan kedua matanya guna menikmati sentuhan telapak tangan Rean pada pipi kanannya, Kakaknya itu manangkup pipi tirus Reana dengan sangat hati-hati seakan takut jika salah sedikit saja ia akan menimbulkan luka baru pada Adiknya.


"Kau sudah bangun?" tanya Rean yang sebenarnya tak perlu. Reana membuka matanya dan melihat Rean yang menatapnya dengan ... lembut?


"Kakak yang menjagaku?" tanya Reana ingin tahu, ia tak mau salah paham pada Kakaknya. Bisa saja Saga yang berprofesi sebagai bodyguardnya itu yang menjaganya, 'kan?


"Dasar bodoh!" ucap Rean tanpa nada ketus seperti biasanya. Ia bukanlah lelaki yang pandai berkata manis, ia bukanlah lelaki dengan sejuta ucapan merayu mendayu selayaknya lelaki seusianya yang lain.


Ia adalah Rean, lelaki yang begitu tampan dengan segala ucapan kasar yang selalu ia lontarkan.


Ia adalah Rean, lelaki yang tak bisa di dekati apalagi disentuh oleh siapapun termasuk sejuta wanita yang berusaha mendekatinya selama ini.


Hanya umpatan dan makian kasar yang selalu keluar dari mulutnya. Tak ada kata ramah sedikit pun, dan hanya ada otak licik yang ia miliki.


Tak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan Rean.


"Makasih," ucap Reana lirih. Mereka hanya diam saling menatap selama beberapa menit. Tak ada yang memulai percakapan dan tak ada yang ingin memulainya. Mereka seakan berbicara lewat tatapan mata yang terkunci satu sama lain.


Hingga ...


Sebuah kecupan singkat yang berlanjut dengan lumatan panjang mengakhiri tatapan mereka. Reana mencengkram erat bagian bahu jas Kakaknya, mereka berdua hanyut dalam kenikmatan dosa yang sengaja mereka abaikan.


Rean tak perduli dengan otaknya yang memaksa mengingat status mereka, justru lelaki itu semakin memperdalam lumatan dan hisapan yang membuat Adiknya melenguh nikmat.


"Sepertinya kita ke kantin rumah sakit saja dulu, aku benar-benar sangat lapar," ucap Zefaro setelah kembali menutup pintu kamar rawat Reana yang sempat ia buka tadi, agar ke tiga temannya tak jadi masuk ke dalam.


"Apa?" tanya gadis yang seperti duplikat Reana tersebut. Mereka bertiga melihat aneh ke arah Zefaro yang entah kenapa pipinya menjadi bersemu pink, lelaki itu juga terlihat salah tingkah.


"Nanti saja mengunjunginya, aku sedang lapar sekali. Ayolah," ajak Zefaro memaksa. Kini mereka berempat meninggalkan ruangan di mana sepasang insan tengah hanyut dalam kenikmatan dosa yang tak terkira besarnya.

__ADS_1


_________Tbc.


__ADS_2