Sadistic Brother

Sadistic Brother
22


__ADS_3

Maaf untuk keterlambatan update nya😥😥 soalnya saya lagi sibuk banget di dunia nyata. Mohon di maklumi ya😅😅😅


________ happy reading _________


Rean tengah duduk diam dengan pandangan dingin yang menusuk, di mana untuk pertama kalinya Karina mempertemukan ia dan Aldric dalam satu meja makan.


Lelaki itu berdecak kesal, ingin rasanya ia menyayat tubuh Aldric dengan katana kala melihat lelaki itu menyentuh punggung tangan Adiknya.


Reana menarik tangannya sendiri dan sedikit menggeser kursinya ke arah Raina yang duduk bersebelahan dengannya. Ia merasa tak nyaman dengan lelaki yang memiliki tatapan aneh padanya tersebut.


"Reana, Nenek ingin kau menurut pada Nenek untuk menikah dengan Aldric." Rean menatap Karina seolah ingin menguliti kulit keriput Neneknya sendiri ketika wanita tua itu berucap enteng ingin menikahkan Adiknya dengan Aldric.


"Me-nikah?" tanya Reana tak percaya. Gadis itu menunduk, ia tak siap menikah di usia muda. Terlebih dengan orang yang tidak ia cintai sama sekali. Bahkan dirinya ingat hanya beberapa kali bertemu dengan lelaki tersebut.


"Aku--"


"Pertunanganmu akan dilangsungkan sehari setelah pernikahan Rean dan Jane," lanjut Karina yang tak melihat segores luka di mata Reana kala dirinya mengingatkan tentang pernikahan Kakaknya.


BRAKK!!


Rean menggebrak meja makan Hingga membuat semua orang yang ada di sana menatap heran pada lelaki tersebut.


"Aku tak akan Sudi menikah dengan wanita itu!" ucap Rean lantang sembari menunjuk ke arah Jane yang tengah memakan steaknya.


Gadis itu menatap kecewa pada Karina yang melempar pandangan mengikuti telunjuk Rean. Bahkan kini seluruh pusat perhatian tertuju padanya.


"Rean!" bentak Karina tak kalah tegas, wanita tua itu kini berhasil menarik perhatian seluruh orang yang ada di ruang makan tersebut, "Jane adalah gadis yang baik, dia bisa menjadi pendamping hidup yang sempurna untukmu," lanjut Karina.


Jane tersenyum senang atas pembelaan Nenek tersebut. Lain dengan Reana yang merasa tertohok dengan ucapan Karina.


Mau dipikir bagaimanapun juga, ia memang tak seharusnya lancang mencintai Rean yang notabene Kakak kandungnya sendiri.


Tentu salah jika ia hanyut dalam permainan Rean selama ini. Reana menahan perih di dadanya kala menyadari semua perjuangan cintanya akan sia-sia dan berakhir tak akan pernah bisa memiliki Rean seperti harapannya.


Seorang Adik hakikatnya tetaplah akan menjadi Adik. Begitu pun sebaliknya. Baik Rean maupun Reana sendiri harus mengakhiri semua ini, jika memang Rean tak bisa mengakhirinya, maka Reana yang akan melangkah memutuskan jalan hidup mereka masing-masing.


"Aku tak peduli! Aku tak menginginkan siapapun! Berani menikahkan ku dengannya atau menikahkan Reana dengan laki-laki itu, maka aku tak akan segan-segan menyakitimu, Nenek!" Rean berkata lantang bahkan tak sedikitpun iba melihat tatapan terluka Karina. Baginya wanita tua itu adalah penghalang hubungannya dengan Reana.

__ADS_1


Ia mencintai Reana, dan Rean sudah sepenuhnya menyadari hal itu. Meski ia belum bisa bersikap lembut dan baik pada sang Adik, ralat, kekasihnya. Namun, Rean hanya menginginkan Reana. Hanya gadis itu.


"Kak--" Reana tak melanjutkan ucapannya kala melihat tatapan tajam dari Rean yang seakan menyuruhnya untuk diam. Tatapan mengintimidasi itu mampu membuat Reana menelan kembali kata-kata pembelaan untuk Neneknya.


Ia lebih takut pada Rean daripada Karina.


Rean kembali duduk ketika menyadari masih ada Aldric di samping gadis yang ia cintai, hampir saja ia pergi meninggalkan meja makan jika tak mendengar suara Aldric yang memanggil Reana dengan lirih.


"Ya, Paman?" jawab Reana ragu. Ia melihat sosok tampan dengan tuxedo gelap tersebut sebagai seorang yang memiliki niat tak baik, terlihat dari tatapannya yang seakan menelanjangi Reana.


"Aku ingin duduk di taman samping mansion mu. Apa kau mau menemaniku?" tanya Aldric yang sukses membuat Rean naik pitam. Ia tak ingin gadisnya disentuh pria lain.


"Tidak!" Rean dengan tegas menolak ajakan Aldric pada Reana. Lelaki yang lebih tua darinya itu menatap Rean tak suka.


Sedangkan Rean sudah lebih dulu berjalan memutari meja makan persegi panjang tersebut dan menarik tangan Reana dengan kasar.


"Akh!" gadis itu memekik tertahan kala tubuhnya menubruk tubuh atletis milik Kakaknya. Ia hanya bisa diam menunduk kala Rean terus mencengkram pergelangan tangannya.


Terasa sakit memang. Hanya saja ia tak mau membuat Rean semakin murka.


"Rean! Apa-apaan kamu?! Aldric berhak atas Reana karena ia adalah calon suami Adikmu. Lepaskan Reana dan biarkan ia bersama Aldric!" Karina membentak Rean dengan keras, ia semakin khawatir jika semua pikiran buruknya pada mereka benar-benar nyata.


"Aku akan melepaskan Reana jika Nenek mengusir lelaki itu dari rumahku!" Rean terlihat seperti seorang anak kecil yang tengah merajuk karena berebut mainan dengan temannya. Apapun itu, Karina yakin Rean akan melakukan hal nekat jika ia tak segera menyuruh Aldric pergi.


Apalagi Rean sudah bersiap akan meraih katananya yang tergeletak santai di meja dekat tangga, tentu masih dengan Reana yang terus dibawanya ke manapun ia melangkah.


"Aldric, sebaiknya pembicaraan kita akhiri sampai di sini. Terimakasih atas kedatanganmu kesini, dan maafkan atas semua kekacauan yang terjadi." Karina berbicara lembut pada Aldric yang tak digubris lelaki itu.


Aldric hanya fokus pada Reana yang tengah mengenakan dress seatas lututnya, membuat lelaki itu menelan ludahnya susah payah. Ia sangat menginginkan Reana.


"Berani menatap Adikku seperti itu, akan ku congkel kedua bola matamu!" hardik Rean sembari mengacungkan katana ke arah Aldric. Lelaki itu juga sudah menyembunyikan sang Adik di balik punggungnya.


"Baiklah, aku akan pulang ... Reana, selamat malam." Aldric tersenyum penuh arti pada Reana yang menyembunyikan wajahnya pada punggung Rean. Bahkan lelaki itu bisa merasakan Adiknya gemetar ketakutan.


"Aku akan menghabisi siapapun yang berani mempertemukan Reana dengan lelaki pedofil itu!" marah Rean yang membuat semua orang yang berada di sana terdiam menunduk, termasuk Karina.


"Saga," panggil Reana menahan tangisnya kala melihat Saga berjalan ke arah mereka dengan dua orang bawahannya. Lelaki itu nampak bingung dengan ketegangan yang terjadi, namun ia segera mengabaikan pertanyaan dalam kepalanya kala melihat Reana yang berdiri di balik punggung Rean.

__ADS_1


Saga segera menghampiri Reana, gadis itu segera memeluk Saga erat dan menangis sepuasnya di dada lelaki tersebut. Rean membiarkan hal itu karena memang sejak kecil Saga sudah mengurus Reana, jadi ia memberikan toleransi pada Saga untuk berdekatan dengan Reana-nya.


"Tenanglah, kau akan baik-baik saja. Aku sudah ada di sini sekarang," ucap Saga sembari mengusap punggung Reana yang bergetar karena menangis sesenggukan.


"Iya," jawab Reana sedikit lebih tenang.


"Rean, ikut dengan Nenek sebentar," ucap Karina sedikit melunakkan suaranya berharap sang cucu mau menurutinya.


"Bawa dia ke kamarku. Aku akan menyusulnya nanti." Rean mengusap lembut puncak kepala Reana sebelum meninggalkannya untuk mengikuti ke mana arah Karina pergi.


***


Karina menatap lembut penuh sayang pada Rean yang duduk diam di seberang meja kerja lelaki itu, kini mereka berada di ruang kerja Rean.


Beberapa saat lalu Karina sudah menjelaskan tentang dampak hubungan terlarang bagi sesama saudara. Bukan hanya dosa yang mereka terima, tapi juga ketidak sempurnaan keturunan mereka kelak.


"Aku tak perduli. Seberapa keras kau menentang hubungan kami, atau seberapa besar usahamu meyakinkan ku, aku tetap pada pendirianku. Mencintai Reana atau aku akan membawanya pergi dari kalian!" tolak Rean entah sudah yang ke berapa kalinya.


Karina menghembuskan napas lelah,membujuk cucu lelakinya ini harus memiliki kesabaran seribu lapis. Tak akan semudah membalikkan telapak tangan.


"Bagaimana jika putra dan putri kalian nantinya akan memiliki kekurangan?" tanya Karina berusaha sesabar mungkin.


"Aku tidak peduli. Aku akan tetap menerima mereka apapun kondisinya, karena mereka memang anak-anakku!" lantang Rean yang memang sudah menyiapkan mental lebih dulu. Ia berani menerima konsekuensinya jika tetap melanjutkan hubungan terlarang bersama Adik kandungnya sendiri.


Karina tak lelah membujuk, ia tetap akan membuat Rean menurut meski harus menggunakan Reana sebagai tameng. Wanita itu tersenyum dalam hati, sebuah nama terbersit dalam benaknya.


"Bagaimana dengan Reana? Apa kau yakin ia bisa menerima? Apa kau yakin gadis itu tak akan kecewa dan bersedih sepanjang hidupnya?" Karina tersenyum dalam hati ketika melihat raut wajah Rean yang berubah ...-bimbang?


Ia semakin bersemangat mencari ide untuk membuka mata hati Rean agar kembali ke jalan yang benar.


"Kau mungkin bisa menerima keadaan kalian nantinya, karena aku yakin kau lebih kuat dalam menghadapi segala situasi dalam kehidupan kalian ke depannya nanti. Tapi, bagaimana dengan Reana? Apa dia kuat? Apa dia mampu? Kau tak akan tahu betapa ia depresi nantinya, Rean. Karena Reana adalah gadis yang tertutup." Karina tersenyum lembut ketika melihat Rean menunduk kecewa.


Namun, detik berikutnya wajah wanita itu berubah pias. Pasalnya sang cucu justru terkekeh seakan semua ucapan Karina hanya lelucon belaka. Wanita itu menggeram kesal.


"Jika yang Nenek takutkan adalah Reana yang tak akan kuat menghadapi segala kemungkinan buruk di masa depan, Nenek tak perlu khawatir karena aku ada di sampingnya. Aku akan menguatkannya dan kami akan sama-sama melangkah melewati beribu duri penghalang itu. Dan jika dia lelah berjalan aku bisa menggendongnya di punggungku. Begitu pun jika ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat, maka aku siap memberikan bahuku untuknya bersandar. Aku siap merengkuhnya kala ia rapuh seakan menyerah pada takdir. Dia akan kuat jika bersamaku, dan aku akan tetap bertahan hanya untuknya. Bukan untukmu atau untuk orang lain." Rean berucap panjang lebar untuk pertama kali dalam hidupnya.


Karina bungkam, ia tak mengerti jalan pikiran Rean. Ia tak tahu jika cucu psikopatnya bisa memiliki pemikiran yang 'sedikit' waras.

__ADS_1


Wanita itu hanya diam mematung menatap punggung Rean yang kian menjauh.


_________Tbc.


__ADS_2