
Rean berjalan perlahan menuju kamar yang Reana tempati, sebuah nampan berisikan makan makan ada di tangannya. Lelaki itu mengetuk pintu kamar sang Adik dengan perlahan, ia tahu pemilik kamar tersebut belum terlelap.
Rean memutuskan untuk membuka pintu kayu itu, ia melihat Reana duduk meringkuk pada kaki ranjang.
"Keluar!" ketus Reana yang melihat kehadiran Rean di kamarnya. Wanita itu menggeser tubuhnya agar tak terlalu dekat dengan Rean yang duduk bersila di sampingnya.
"Makanlah," ucap Rean lembut pada Adiknya. Wanita itu memalingkan wajahnya ke samping kanan. Ia enggan bertatapan dengan Rean.
"Aku akan menyuapimu." Rean mencoba menyuapi Reana, tapi wanita itu tetap tak mau membuka mulut dan malah melempar piring tersebut dengan kasar. Makanan pun tumpah di depan mereka.
Rean hanya menatap sendu pada Reana, ia sedih dan sakit menerima penolakan Reana secara terus menerus. Namun, bukan Rean namanya jika ia menyerah.
Lelaki itu beranjak keluar dari kamar Reana, mengambil makanan yang baru dan tetap berusaha membujuk Adiknya agar mau mengisi perutnya.
"Kubilang keluar, Kak!" teriak Reana emosi. Wanita itu kemudian melempar lagi piring kedua berisikan makan malamnya yang dibawakan oleh Rean. Kembali, makanan itu tumaoh berserakan di lantai.
"Maafkan aku," ucap Rean penuh sesal. Lelaki itu mencoba memeluk Reana, tapi wanita itu justru menepisnya dengan kasar. Ia juga memukuli dada dan bahu Rean tanpa ampun.
Namun, lelaki itu tetap diam membiarkan Adiknya meluapkan amarah padanya.
"Kau jahat, Kak! Sampai kapan kau mau merendahkan aku?! Kenapa kau terus menyakitiku?! Apa salahku, Kak?! Kau jahat!" maki Reana sembari terus memukuli Rean. Lelaki itu tetap diam di tempat, membiarkan Reana puas meluapkan amarahnya.
Hingga akhirnya wanita itu menghentikan gerakannya dan memilih menangis terisak dengan kedua telapak tangan yang menutup wajahnya.
Rean bergerak mendekati Reana dengan perlahan, mendengar tangisan Reana lebih menyakitkan daripada pukulan wanita itu yang tak seberapa.
Rean memeluk tubuh gemetar Reana dengan lembut, hangat dan penuh akan kasih sayang. Bukan tangisan Reana yang ia inginkan, bukan seperti ini rencana awal pria itu menyuruh sang Adik menemuinya.
Seharusnya Rean dapat menggunakan otak jeniusnya untuk berpikiran lebih logis dan mencari cara agar mendapatkan maaf dari Reana. Bukan malah membuat wanita itu terluka.
"Menangis lah sepuasnya, aku akan tetap di sini dan memelukmu hingga tangisanmu mereda." Reana semakin terisak dan tanpa sadar memeluk tubuh Rean sangat erat. Di satu sisi ia merindukan sosok lelaki di depannya itu, dan disisi lain ia masih sakit hati atas penghianatan Rean pada dirinya lima tahun yang lalu.
Belum lagi pelecehan yang Rean lakukan padanya beberapa jam yang lalu, meski jika dilihat Reana lah yang memaksa Rean melayaninya. Reana benar-benar mengutuk hatinya yang tak bisa sejalan dengan logikanya untuk membenci Rean.
"Kakak, tolong lepaskan aku ... biarkan aku hidup bahagia dengan anak-anakku. Aku tidak ingin semakin larut dalam dosa, aku menyerah mencintaimu, Kak. Karena sampai kapanpun, status kita tidak akan pernah berubah. Aku hanya bisa menjadi Adikmu, bukan kekasihmu." Rean merasa sebuah palu besar menghantam dadanya. Sakit dan sesak kala mendengar penuturan dari Reana yang telah menyerah dan tak ingin memperjuangkan cinta mereka lagi.
Ia memeluk sang Adik semakin erat, sungguh berat rasanya jika harus berpisah dan berhenti mencintai Reana. Apalagi mereka telah dikaruniai dua orang anak.
Bagaimana mungkin Rean melepasnya begitu saja setelah lima tahun ini ia mencari bagaikan orang gila?
"Reana, aku tidak sanggup. Tolong mengertilah," ucap Rean dengan nada terbata. Ia menahan agar tak terisak, nyatanya air mata terus mengalir di pipinya.
"Reana, tolong pertahankan aku ... kita akan berjuang bersama. Aku mohon, jangan membuang ku begini," ucap Rean yang tak dapat lagi membendung tangisannya.
__ADS_1
Baru kali ini Rean bersikap begitu lemah pada perempuan. Apalagi perempuan itu adalah Adik kandungnya sendiri. Tapi toh Rean tak peduli, ia hanya ingin Reana tetap berada di sisinya. Ia tidak ingin ditinggalkan oleh satu-satunya wanita yang ia cintai.
"Cobalah untuk menerima Jane, aku mohon lakukan itu untukku," ucap Reana mencoba kuat meski hatinya serasa di remas. Sakit dan ngilu.
Rean menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin wanita manapun selain Reana.
"Tidak, aku hanya ingin denganmu. Aku rela melepas semua yang kumiliki, asal kau mau bersama ku. Aku akan melakukan apapun, asal kau tidak meninggalkan ku."
"Tuhan telah mengirimkan Jane untukmu. Hubungan kita dibangun di atas lautan dosa, jangan sampai kita tenggelam semakin dalam dan akan membuat kita sengsara di masa depan. Cobalah untuk mencintainya yang begitu tulus mencintaimu. Aku ikhlas menerima takdirku." Rean mengeratkan pelukannya, ia tak ingin Reana meninggalkannya. Sudah cukup ia tersiksa selama lima tahun ini, ia tidak ingin tersiksa lagi.
"Tapi--"
"Turuti keinginanku jika kau mencintaiku," ucap Reana yang juga merasakan perih di hatinya. "Jika kau memang mencintaiku, tentu kau akan menurutiku, kan?"
Mau tak mau Rean mengangguk. Mungkin memang ini jalan yang digariskan Tuhan untuk mereka, menjadi sepasang saudara yang saling menyayangi sebagaimana semestinya.
"Terimakasih, Kakak." Reana sebetulnya merasa menyesal atas apa yang telah ia ucapkan. Namun, jika ia tak mengakhirinya sekarang, maka semakin dalam mereka akan tenggelam.
***
Sesuai permintaan Reana, Rean kini mulai bersikap baik pada Jane. Perlahan tapi pasti hubungan keduanya semakin dekat, Rean yang tipikal pria kaku dan pendiam, selaras dengan Jane yang ceria juga perhatian. Di pandangan publik mereka adalah sepasang kekasih yang serasi.
Sedangkan Reana juga memenuhi keinginan Rean yang menyuruhnya untuk kembali tinggal di kediaman mereka bersama dengan Azura dan Sean.
Rean juga membatasi interaksi antara dirinya dan Reana. Ia juga enggan melakukan kontak fisik karena takut akan membuat Reana tak nyaman. Lelaki memilih bersikap layaknya seorang Kakak, ia mencoba menerima Jane meski terasa begitu sulit. Semua ia lakukan demi Reana, ia senang jika bisa melihat Adiknya bahagia. Mungkin ini lah cara Tuhan untuk mempersatukan mereka, sebagai keluarga.
Saat ini Reana tengah mengumpat dalam hati kala melihat pemandangan mesra antara Rean dan Jane yang saling bercengkrama di depan wanita itu, kini mereka tengah ada di taman mansion menikmati senja sore hari.
Jane tampak begitu bahagia, ralat, mereka tampak begitu bahagia. Melupakan Reana yang tengah merapalkan berbagai macam umpatan dalam hati yang dikhususkan untuk keduanya.
"Reana, kau mau ke mana?" tanya Rean yang melihat Reana pergi menuju pintu gerbang mansion. Lelaki itu mengejar sang Adik dan menarik lengannya, hari hampir gelap dan Reana sulit menghafal jalan.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar. Tenanglah, aku tidak akan tersesat lagi." ketus Reana yang sebetulnya merasa cemburu pada kemesraan Kakaknya dan sang tunangan.
Rean yang menyadari hal itu hanya tersenyum dalam hati, rencana lelaki itu untuk membuat Reana mengakui sendiri perasaannya bisa dipastikan akan berhasil.
"Baiklah, kau juga sudah dewasa. Hati-hati di jalan, dan jangan pulang terlalu malam." Rean menahan senyumnya kala melihat bibir Reana semakin mengerucut. Sungguh melihat Reana cemburu seperti itu menjadi hal paling menarik untuk Rean.
"Ah, sepertinya aku hanya akan berdua saja di mansion, karena Sean dan Azura tengah pergi dengan Nenek." Rean sengaja mengeraskan suaranya agar Reana mendengar apa yang ia ucapkan.
Benar saja, hanya dalam hitungan detik wanita itu kembali memutar arah dan memilih masuk ke dalam mansion.
"Kena kau, Reana," ucap Rean merasa geli dengan kelakuannya yang seperti remaja labil masa kini hanya demi membuat sang Adik cemburu.
__ADS_1
***
Selesai makan malam, Rean memutuskan membaca buku di perpustakaan mansion. Jane telah ia antar pulang sebelum makan malam dimulai karena wanita itu akan ada acara bersama keluarganya.
Rean duduk di sofa ditemani sebuah buku tebal bersampul coklat yang begitu serius ia baca, sesekali lelaki itu juga menyeruput teh hangat yang tersaji di depannya.
Tak lama kemudian Reana datang ke ruangan itu, tampak sebuah piring berisi kue ada di tangannya. Wanita itu duduk di samping Rean setelah meletakkan kue itu di meja depan Kakaknya.
"Kau belum tidur?" tanya Rean yang fokusnya tak teralihkan dari buku yang ia baca.
"Belum bisa ... aku membuatkan kue untukmu, makanlah," ucap Reana yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Rean.
"Kakak tadi sudah makan kue yang dibuatkan oleh Jane. Rasanya juga sama enaknya dengan kue buatanmu." mendengar nama Jane disebut, refleks Reana mengerucutkan bibirnya dan mendumel dalam hati.
"Apa kau serius akan menikah dengan Jane?" tanya Reana hati-hati. Ia tak ingin dianggap terlalu ingin tahu dan berusaha mencampuri kehidupan pribadi Rean. Ia harus bersikap senormal mungkin meski kali ini jantungnya berdetak tak karuan diiringi rasa sakit hati yang luar bisa perihnya.
"Iya, aku serius." jawab Rean enteng tanpa mengalihkan pandangannya pada sang Adik.
"Apa?"
"Jane adalah gadis yang baik, dia menyayangi Azura dan Sean. Bagiku itu sudah cukup." Rean mengubah fokusnya pada Reana yang kini diam menunduk.
Sebetulnya Rean sudah tidak tahan melihat wanita itu selalu bersedih setiap harinya, tapi jika tidak begini bagaimana Reana akan sadar betapa pentingnya sosok Rean baginya?
"Begitu kah?" tanya Reana sedih. Rean melihat wanita itu meremas roknya cukup kuat, ia tahu bahwa Reana tengah menahan rasa sakit di hatinya karena ucapannya tadi.
"Reana," panggil Rean lirih yang membuat wanita itu mendongak. Rean mendekat ke arah Reana, semakin lama semakin dekat hingga jarak beberapa senti saja bibir mereka sudah bertemu.
Reana memejamkan matanya, berusaha terlihat tenang hingga bibir Rean menyentuh bibirnya nanti.
Namun, saat-saat yang ia tunggu tidak juga kunjung tiba, justru ia merasa poninya tengah diusak oleh seseorang. Wanita itu membuka mata dan melihat Rean tengah mengacak-acak poni tipisnya.
"Eh?"
"Ada tepung yang menempel di rambutmu." Rean kembali menjauhkan tubuhnya dari Reana, wanita itu hanya bergumam lirih dengan perasaan yang kecewa.
________Tbc.
kenapa tata up nya banyak?
karena hp tata mau disita. tata udah gak boleh ngetik lagi gak tau sampai kapan. jadi, jangan lupain tata ya😘
bye~😘
__ADS_1