Sadistic Brother

Sadistic Brother
3


__ADS_3

Reana tengah sibuk menghafal dialog tokoh dalam drama yang akan ia perankan. Beberapa kali gadis itu terlihat meneguk air mineral dalam botol miliknya, hingga suara gaduh akibat tempat sampah yang ditendang dengan keras mengagetkannya dan beberapa anak yang lain.



Reana melihat ke sumber suara, seorang pria berseragam tak rapi dengan beberapa temannya tengah berjalan ke arah mereka. Reana bingung melihat beberapa temannya yang lain, mereka menyingkir takut dan memberikan jalan untuk empat orang lelaki dengan pakaian berantakan tersebut.



Reana tak ambil pusing, selama mereka tak mengganggu dirinya maka ia tak perlu repot-repot untuk menyingkir.



Empat anak laki-laki itu berdiri di depan Reana dengan congkaknya menatap gadis yang tengah memegang beberapa lembar naskah dialog drama. Reana hanya mengangkat satu alisnya seolah bertanya 'ada apa?' Pada mereka.



Lelaki tampan yang berdiri di depan ke tiga temannya yang lain mencengkram rahang Reana kuat, tetapi gadis itu hanya mendesis pelan kemudian menampik tangan pria tersebut.



"Berani sekali kau padaku, Nona!" geram pemuda itu. Dua buah anting terpasang cantik di masing-masing telinganya, membuat pria tersebut terlihat semakin tampan dan mempesona dengan tambahan benda itu di telinganya.



" ... " tak ada jawaban apapun dari Reana, ia terlalu malas berdebat dengan siapapun pagi ini.



"APA KAU TAK MENDENGARKU, HUH?" bentak lelaki itu emosi. Reana sama sekali tak bergeming atau terlonjak kaget seperti temannya yang lain, bahkan mereka masing-masing sudah berdoa dalam hati.



"Aku tak punya urusan denganmu! Jadi, jangan menggangguku!" Reana dengan cuek pergi berlalu dari sana begitu saja, meninggalkan mereka yang emosinya sudah berada di ubun-ubun.



"Zefaro, tenanglah. Dia hanya gadis miskin yang bahkan tak level untuk kita berurusan dengannya, abaikan saja!" ucap Shawn, temannya yang berbadan tinggi gempal. Zafaro, lelaki tampan itu menatap Reana yang kini memilih duduk di kursi depan jendela besar dan hanya diam melihat pemandangan di luar sana.



Lelaki itu heran dengan sikap tenang Reana yang belum pernah ditemuinya pada gadis lain. Jangankan pada seorang gadis, bahkan guru pria pun tak berani menegur Zefaro jika lelaki itu menindas murid lain.



Ia mendecih kesal kemudian pergi dari ruangan itu meninggalkan mereka semua yang kini bisa bernapas lega. Padahal mereka awalnya sudah berpikir kalau Reana akan ditindas habis-habisan oleh Zefaro, si preman sekolah tersebut.



Mereka semua melihat ke arah Reana yang hanya duduk dengan tenang sembari menghafal dialog yang ada di tangannya. Tatapan gadis itu memang terlihat redup, tapi kenapa Reana yang terlihat lemah bisa dengan mudah mengalahkan Zefaro? Atau ini baru awal dari semuanya? Bisa saja kini kelompok preman itu tengah menyusun rencana untuk menindas Reana dengan cara yang lebih kejam dari mereka menindas murid lain, pikir mereka.




***




Reana tengah berjalan ke kantin seorang diri, sifatnya yang pendiam membuat gadis itu sulit mendapatkan teman. Mereka memilih menjauhi Reana karena dianggap aneh. Hanya Vanesha lah yang mau berteman dengan gadis itu, tapi sekarang Vanesha tengah sakit sehingga tak bisa masuk sekolah.



Reana menghentikan langkahnya, ia melihat segerombolan siswi tengah berkerumun dan mengelu-elukan nama seseorang. Zefaro, ketua preman yang congkak. Pikir Reana.



Dia terlalu malas jika harus menerobos melewati kerumunan orang yang dianggapnya kurang kerjaan, maka ia memutuskan untuk memutar balik langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk ke kantin.



Lebih baik menahan lapar daripada harus berdesakan di lorong sempit dengan gerombolan siswi ganjen seperti itu.

__ADS_1



"HEY, GADIS IDIOT!" Reana mendengar teriakan seseorang, suara seorang lelaki yang entah itu siapa. Gadis itu tak ambil pusing, ia tetap berjalan santai dengan earphone dan tangan yang dimasukkan pada saku blazernya. Dirinya terlalu malas berurusan dengan hal yang tak penting.



"HEY!" bentakan seorang pria sukses membuat Reana berhenti. Ia menoleh ke samping, lelaki ketua preman itu berdiri di sampingnya dengan seragam yang tak dikancingkan, juga blazer yang entah sudah pergi ke mana.



"Hm?" Reana hanya bergumam tak jelas, ia mengangkat satu alisnya dan tetap memasang wajah datar.



"Apa kau tuli? Aku memanggilmu tadi," ucap Zefaro kesal. Lelaki itu hendak melepas earphone Reana, tapi gadis itu cepat menangkis tangan Zefaro hingga pria itu terpaku dibuatnya.



"Jangan menggangguku! Aku tak suka diganggu siapapun!" ucap Reana datar. Gadis itu kembali berjalan meninggalkan Zefaro yang ternganga dibuatnya. Baru kali ini ada seseorang yang berani melawannya, dan lebih parahnya lagi seseorang itu adalah murid perempuan.



"Dasar kau, Gadis idiot!" Zefaro menyusul Reana. Lelaki itu menarik pergelangan tangan gadis itu dan membuatnya menghadap ke arah Zefaro.



Zefaro terdiam melihat teduhnya mata Reana, gadis itu terlihat tenang dan tak memiliki ketakutan sama sekali pada dirinya. Gadis yang dari luarnya terlihat lemah, tapi ternyata ia sungguh memiliki keberanian untuk melawan orang seperti Zefaro yang terkenal kejam.



"Aku memanggilmu, kenapa kau hanya diam saja?" tanya pria itu kesal.



"Kau tidak memanggil namaku. Kau hanya menyebut 'gadis idiot' dan aku tak merasa idiot, maka dari itu aku tak menanggapimu." Reana menjawab dengan tenang.



"Kau ini!" geram Zefaro yang mana Reana bisa mematahkan kata-katanya dengan mudah, ia merasa selalu kalah telak dari Reana yang bahkan tingginya hanya sebatas bahunya saja. "Gadis pendek yang menyebalkan! Kau itu hanya gandis pendek yang memiliki sifat sombong."




"Maaf, aku tak suka melawan perempuan. Mereka bukan tandinganku!" Zefaro berusaha menutupi kekesalannya karena selalu kalah debat dengan Reana.



"Itu semua karena kau takut dikatai Banci jika kalah melawan seorang gadis pendek sepertiku, kan?" Reana melontarkan pertanyaan atau pernyataan pada Zefaro dengan santai.



"Awas kau!" geram Zefaro kala melihat Reana berlalu dari hadapannya dan berjalan santai menuju ruang kelas gadis itu. Ia baru tahu kalau Reana adalah Adik kelasnya.





***




Reana kembali ke mansionnya dan segera membaringkan diri pada sofa di depan televisi. Gadis itu merasa sangat lelah setelah seharian emosinya dikuras oleh lelaki bernama Zefaro itu. Ia tak mau berurusan dengannya lagi apapun alasannya.




SRET!

__ADS_1




"MINGGIR!" Reana kaget ketika seseorang dengan kasar menjambak rambutnya dan membentak dirinya dengan tiba-tiba. Lilian berdiri di depannya dengan bersidekap dada.



"Apa yang kau lakukan?" tanya Reana bingung. Ia sebenarnya kesal pada wanita itu, hanya saja ia selalu berusaha mengendalikan emosinya agar mahluk kesayangan Kakaknya itu tak terkena tamparan Reana.



Karena jika hal itu terjadi, entah sudah jadi apa Reana dihajar oleh Rean mungkin gadis itu hanya akan tinggal namanya saja.



"Apa yang aku lakukan? Cih, dasar gadis benalu! Seharusnya kau malu berada di rumah ini, Rean sama sekali tak menganggapmu seorang Adik lagi!" ucap Lilian mencoba menjatuhkan mental Reana.



Reana memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut, sepertinya hari ini ia memiliki beberapa nama panggilan baru, pikirnya.



"Kau mendengarku atau tidak?" bentak Lilian pada Reana yang hanya diam dan menatapnya datar.



"Aku hanya mendengar ucapanmu, tapi aku tak pernah memasukkan kata-kata tak penting itu ke dalam otakku. Berhentilah membual dan uruslah urusanmu sendiri!" Reana mengambil tasnya yang berada di meja dengan kasar. Ia melewati si manja Lilian, gadis itu sudah ingin berendam dalam bak mandinya yang dipenuhi dengan busa beraroma strawberry kesukaannya.



Tanpa diketahui oleh mereka, ternyata Rean mengawasi semua adegan itu dari pertama kali Reana dijambak oleh kekasihnya hingga sikap tenang Reana menghadapi Lilian yang selalu membuatnya pusing. Rean menyunggingkan senyumnya, ia tak menyangka Adik kecil yang selalu ia anggap lemah ternyata tak seperti dugaannya. Reana berbeda, ia tak manja seperti Lilian.




Rean tersenyum mengingat adegan Reana yang dengan mudah membungkam mulut pedas Lilian beberapa menit lalu. Kemudian lelaki itu berjalan memasuki ruang kerjanya untuk kembali berkutat dengan laptop juga beberapa lembaran kertas yang selalu menjadi teman setianya.






__________Tbc.







kakak, tolong kasih tau saya yang benar dalam penulisan kata 'daripada', itu seperti apa? karena saya bingung menulisnya



begini ...



1. Dari pada


2. Daripada


__ADS_1


mohon koreksinya kak, terimakasih



__ADS_2