
Rean memeluk hangat Reana yang tengah tertidur pulas, ia sengaja menunggu Adiknya agar tertidur dahulu sebelum memindahkannya ke kamar lelaki itu. Raina tak mau tidur sendiri sehingga ia merengek minta tidur dengan Reana, jadilah Reana yang malas berdebat memilih menuruti kemauan Adiknya dan tidur di kamar Raina.
Rean yang tak mendapati Reana di kamar gadis itu segera mencari Adiknya ke setiap sudut rumah, ia tak ingin diam-diam Reana kabur dan meninggalkannya begitu saja. Rean tak ingin Reana lepas dari semua siksaan yang ia berikan dan hidup bahagia di luar sana.
Rean mengeratkan pelukannya pada pinggang Reana, menenggelamkan wajah Adiknya pada dada bidang lelaki itu kala mengingat betapa Aldric menginginkan Reana.
Ia bersumpah tak akan memberikan Reana pada siapa pun karena gadis itu hanya miliknya. Rean mengecup lembut kening Reana, aroma Vanilla menguar dari tubuh gadis itu. Nyaman dan manis, Rean menyukainya.
"Ngh." Reana melenguh kala merasakan seseorang mengusik tidurnya, akan tetapi ia kembali tertidur pulas kala Rean menenangkannya dan juga mengelus rambutnya dengan lembut. Lelaki itu tersenyum kala melihat wajah damai sang Adik yang terbuai di alam mimpi.
***
Raina turun dari tangga dan segera menuju ke meja makan, sudah ada Reana dan Rean yang duduk dengan tenang menunggu gadis itu. Raina memeluk Rean dari belakang dengan sangat manja, ia juga mengecup kedua pipi Kakaknya dan di balas hal serupa oleh Rean.
Reana yang melihat adegan mesra itu merasa sedikit aneh pada dirinya. Terasa sesak di dada juga rasa tak suka yang tak ia mengerti karena apa, wajar bukan seorang Adik bermanja pada Kakaknya?
Hanya saja posisi 'Adik' di sini berbeda, Raina berperan sebagai seorang Adik yang sangat disayangi Rean. Sedangkan Reana hanya seorang yang tak berarti di mata Rean, layaknya samsak tinju yang akan Rean gunakan untuk melampiaskan kekesalannya meski kemarahan itu berasal dari orang lain.
Reana menunduk, ia malas melihat Rean yang bercengkrama bersama Raina dengan begitu akrab. seandainya saja ia bisa seakrab itu dengan sang Kakak.
Jangan bermimpi, Reana, Kakakmu tak menginginkanmu! Itu lah dewi batin yang mengoloknya.
"Aku berangkat," ucap Reana menjeda obrolan hangat Raina dan Rean. Lelaki itu melihat Reana yang sudah melenggang pergi begitu saja dengan santainya. Rean mendesah pelan, ia tak mengerti kenapa ada seorang gadis yang memiliki sifat begitu dingin dan tertutup seperti Reana.
Seandainya saja Reana bisa semanja Raina, sudah pasti lelaki itu akan lebih menyayangi dan memanjakan Reana lebih dari siapapun. Apakah sifat dingin Reana tercipta dari siksaannya pada gadis itu selama ini?
Ada rasa ingin membenci Reana di dalam pikiran Rean, namun semua itu tak sebanding dengan rasa aneh yang ada di hatinya yang seakan ingin memiliki dan menyayangi gadis itu lebih dari siapapun.
Apa yang harus ia lakukan?
Dan apa sebenarnya yang diinginkannya?
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Rean. Segera ia menyuruh Saga untuk mengantar Raina dan ia sendiri yang akan mengantar Reana ke sekolah.
***
Selama setengah jam perjalanan menuju sekolah, hanya keheningan yang mendominasi dalam mobil yang Rean kemudikan. Reana yang hanya diam sembari membaca sebuah novel dan Rean yang fokus pada jalanan di depannya.
"Apa kau bisa bersikap lebih baik pada Raina? Dia adalah Adikmu!" ucap Rean datar dan dingin. Reana menghentikan acara membacanya, tapi ia tak berniat menyahuti ucapan Kakaknya. Percuma, bagaimanapun ia menjawab Rean tak akan pernah mengerti akan dirinya.
"Jika kau tidak bersikap baik pada Raina dan terus membuatnya merasa tersisih seperti itu, kau akan menerima akibatnya." Rean berkata sedikit tajam, namun tak membentak.
Reana hanya diam dengan pandangan fokus ke depan. Lelaki itu menyuruh Reana bersikap baik pada Raina, sedangkan Rean sendiri bersikap sebegitu kejamnya pada Reana.
Bagaimana mungkin ada seseorang yang meminta keadilan untuk orang lain sedangkan dirinya sendiri bersikap semena-mena dan tak mengerti apa arti keadilan yang sesungguhnya?
Reana ingin rasanya terbahak mendengar ucapan Rean untuk Raina, gadis itu melempar pandangan ke luar jendela, kepalanya pusing sekarang. Ia memilih menyumbat telinganya dengan earphone dan memejamkan kedua matanya meresapi lagu instrumental yang terputar dari benda kecil berkabel itu.
__ADS_1
Hidupnya sendiri saja sudah sedemikian rumit dan menderita, dan ia tak ingin memikirkan apapun yang akan membuatnya pusing sendiri. Bukan hanya membuatnya bertambah kesal dengan sikap manja Raina, ia juga akan merasakan sesak pada dadanya kala melihat keakraban Rean dan Raina si depannya.
***
Reana membuka kedua kelopak matanya, iris kelabu redup mulai menyesuaikan cahaya di sekitarnya.
Lampu?
Kamar?
Reana sontak bangun dari tidurnya dan melihat ke sekeliling ruangan, ruangan itu serba putih dan berbau obat-obatan.
Tentu itu bukan kamarnya.
Di mana ia sekarang? Pertanyaan itulah yang ada di dalam benaknya.
"Kau sudah bangun?" suara berat seorang pria terdengar familiar di telinganya. Reana menoleh ke samping kanan kala melihat Rean yang berjalan ke arahnya, lelaki itu duduk di sisi ranjang yang digunakan Reana, menyentuh dahi gadis itu dengan lembut.
"kau sudah sadar?" tanya Rean yang membuat Reana menatap bingung.
"Apa?" tanya Reana singkat. Lalu ia menatap tangan kanannya yang tertusuk jarum infus, "eh?" kagetnya.
"Tiga hari yang lalu kau pingsan di dalam mobil."
"Tiga hari?" tanya Reana tak percaya, selama itu kah ia tertidur. Lalu kenapa ia harus terbangun lagi?
"Iya," jawab Rean datar.
"Kau ingin sesuatu?" tanya Rean pelan, ia mengelus puncak kepala Reana dengan lembut.
"Tidak," jawab Reana singkat. Ia tak suka bau obat-obatan. Ia memilih kembali masuk ke alam mimpi daripada terus menerus mencium aroma yang tak ia sukai.
***
Aldric menatap foto seorang gadis SMA yang tengah membaca buku di perpustakaan sekolah, foto yang ia ambil beberapa hari yang lalu, foto yang akan menjadi tambahan dari koleksinya yang lain.
"Reana ... kau sangat cantik. Dan aku bersumpah akan memilikimu suatu hari nanti. Cepat atau lambat," gumam Aldric sembari mencium dan mengendus-endus foto Reana seakan gambar tersebut memiliki aroma yang begitu harum untuknya.
"Kau sangat memabukkan, Reana ... tunggulah aku dan kita akan hidup bahagia selamanya." Aldric tertawa terbahak di akhir ucapannya. Lelaki itu menatap dinding kamarnya yang dipenuhi dengan foto Reana tanpa terselip gambar lain di sana.
***
2 hari kemudian....
Reana mengenalkan Raina pada teman-temannya yang lain, karena berbeda kelas dengan Jane dan Vanesha mereka tak mengenal Raina sebagai Adik Reana dan lagi wajah mereka memang tak mirip sebagai saudara kembar.
Sikap Raina yang manja dan sedikit cerewet membuat mereka mudah akrab dengan Adiknya tersebut. Hanya Zefaro saja yang sedari tadi menatap Raina dengan pandangan dingin. Sepertinya preman sekolah itu tak menyukai kehadiran Raina di sana.
__ADS_1
"Kau mau ke mana, Reana?" tanya Raina pada Kakaknya yang sudah akan beranjak pergi dari sana.
"Atap," jawab Reana singkat.
"Biarkan aku ikut!" seru Raina yang membuat Reana berdecak kesal. Ia terlalu malas jika harus terus ditempeli seseorang di mana pun ia berpijak.
"Kau tunggulah di sini, jangan cerewet dan terus merengek seperti bayi." Zefaro berkata pedas pada Raina yang membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal.
Kemudian Zefaro menggandeng tangan Reana untuk mengajak gadis itu ke atap. Ia tahu bahwa kali ini Reana membutuhkan waktu untuk sendiri, dan ia hanya akan melihat Reana dari jauh juga tak akan mengusik waktu santai sahabatnya itu.
Mereka berjalan menuju atap sekolah, mengabaikan bel yang berdering dan Zefaro yang terus menggandeng tangan Reana. Gadis itu tak memprotes, ia hanya ingin mengikuti sahabatnya itu tanpa banyak berkomentar.
Zefaro adalah sosok lelaki yang ditakuti di sekolahnya, selain berasal dari keluarga konglomerat dan terpandang, ia juga terkenal sebagai murid berandal yang tak segan menghabisi lawannya dengan kejam.
Tak ada yang mau berteman dengannya, kebanyakan yang mengikuti Zefaro hanya lah orang yang takut ditindas dan rela menjadi pesuruh lelaki itu dari pada disiksa selama masa sekolah berlangsung.
Sedangkan Reana adalah sosok pendiam yang minim ekspresi, ia tak banyak berkomentar dan tak ada yang bisa menebak isi hatinya. Jika dikatakan baik, Reana juga tidak memiliki sifat baik seperti di dalam novel yang mengisahkan kebaikan hati si pemeran utama.
Jika dikatakan sebagai gadis jahat, Reana juga tak pernah menindas orang lain atau pun mengumpat mereka dengan kata-kata yang kasar. Semuanya masih menjadi pertanyaan bagi teman-teman di sekitar Reana.
Mereka hanya diam menikmati suasana hening di atap sekolah. Hanya semilir angin musim dingin yang berhembus sedikit membuat Reana menggigil karenanya. Gadis itu tak perduli, ia sudah mengenakan mantel cukup hangat yang bisa melindunginya dari dinginnya angin yang berhembus.
Zefaro menyalakan sebatang rokok, ia duduk santai di dinding beton pembatas setinggi pinggang tanpa rasa takut sedikit pun. Lelaki itu menghembuskan asap putih dan kemudian menatap langit yang mendung.
Mereka di sana dengan posisi yang sama tanpa sepatah kata pun yang keluar hingga bel pulang berdering. Zefaro yang melihat Reana menerima chat dari Rean untuk datang ke kantornya, berinisiatif untuk mengantar gadia itu ke tempat tujuan.
Reana menurut tanpa berniat menolak sedikit pun karena memang sejak awal ia keluar dari gerbang, gadis itu merasa ada seseorang yang diam-diam mengikutinya.
"Bersikaplah santai seolah tak tahu apapun!" gumam Zefaro yang berjalan santai di samping Reana. Lelaki itu berbicara tanpa menoleh pada lawan bicaranya, bahkan dengan bibir nyaris tak bergerak. Reana hanya bergumam seadanya.
***
Raina menatap guci yang tak sengaja ia pecahkan ketika tengah berlari mengejar Reana yang akan masuk ke kamarnya. Gadis itu berdiri di tempatnya dan wajahnya sudah pucat pasi karena ketakutan, itu adalah guci kesayangan Rean karena guci keramik itu adalah guci kesayangan mamanya.
Reana menyusul Raina ke bawah dan berdiri di samping gadis itu, hingga tak berapa lama Rean datang dan membuat keduanya berdiri kaku di tempat.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Rean tajam. Kilatan emosi terpancar dari matanya yang menatap mereka bergantian.
"Re-Reana, Kak." Reana melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan Raina. Ia tak menyangka bahwa kesalahan yang diperbuat oleh gadis itu akan dilimpahkan padanya.
Reana menggeleng keras, ia mulai ketakutan dan mundur perlahan kala Rean berjalan maju mendekatinya.
"Bu-bukan aku ka-kak ... hiks ... su-sungguh," kilah Reana ketakutan. Air matanya turun dengan cepat kala Rean mencengkram pergelangan tangannya.
"Raina, masuk ke kamar dan kunci pintunya ... jangan keluar apa pun yang terjadi!" ucap Rean yang langsung dituruti Raina. Gadis itu merasa tertolong dengan Reana yang bersedia menjadi tumbal untuknya.
Bukankah tugas seorang Kakak adalah melindungi Adiknya, kan? Pikir Raina. Ia memutuskan untuk membersihkan diri dan pergi tidur tanpa memikirkan nasip Reana selanjutnya.
__ADS_1
Ia yakin Kakak perempuannya itu akan baik-baik saja.
_________Tbc.