
Reana kini berada di kantin dengan Vanesha yang tengah sibuk mengunyah keripik kentang, selama Reana sakit Vanesha dan Jane yang selalu rajin menjenguk gadis itu.
Jane kini sudah berubah total dalam berpenampilan, ia menjadi duplikat dari Reana. Sedangkan Vanesha, ia masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Terkadang berisik tapi juga terkadang bisa pendiam, sosok yang tak menentu sifatnya.
Reana tengah meminum soda kesukaan gadis itu, ia sama sekali tak peduli dengan kedua temannya yang sedari tadi terus memperhatikan Reana.
"Kau seperti seorang Vampire dalam tokoh komik dan film," ucap Jane yang tak melepas pandangannya dari Reana. Jane menumpukan kepalanya pada meja, ia lebih nyaman dengan posisi seperti itu.
"Kenapa?" tanya Reana singkat. Ia sebetulnya tak peduli dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh temannya itu, ia hanya sekedar basa basi agar tak terlalu dikatai dingin. Begitu yang Saga ajarkan kemarin.
"Kau itu cantik, pendiam, dan terlihat misterius. Tapi ternyata kau peduli pada kami dan mau menolong kami kemarin, meskipun kau harus mengalami kejadian yang tak mengenakkan." Jane berkata lirih, ada penyesalan terkandung dalam ucapannya.
"Tak masalah. Aku sudah melupakannya," jawab Reana acuh. Ia terlalu sulit dalam memilih kata-kata yang pas untuk digunakan dalam berkomunikasi, jadilah ia selalu menjawab sekenanya saja.
"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak dan maaf kalau aku menyusahkanmu ... aku hanya ingin berteman denganmu saja, Reana." Jane berkata dengan bahu gemetar. Reana tau temannya itu tengah menangis, sedangkan Vanesha, ia memilih diam sembari melihat ke arah lain.
Reana merasa mungkin dirinya juga harus membuka diri pada mereka, ia sadar kalau manusia tak akan bisa hidup seorang diri tanpa bantuan dari orang lain.
Mungkin suatu saat ia juga akan membutuhkan bantuan mereka atau orang sekitarnya yang lain, yang jelas ada keinginan berubah pada diri Reana.
Ingin terlihat normal seperti teman-teman sekolahnya, yang mana mereka bisa tampak bebas dalam berekspresi, berbeda dengan dirinya yang tampak sangat kaku dan datar.
"Ayo kita berteman," ucap Reana sembari menyentuh punggung tangan Jane. Kedua gadis berbeda negara itu langsung menatap Reana dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini mereka melihat Reana tersenyum.
"Terimakasih, Reana," ucap Vanesha dan Jane berbarengan. Mereka menatap kagum pada Reana yang tengah tersenyum ke arah Jane dan Vanesha.
"Hm," gumam Reana singkat.
***
Rean memeluk pinggang ramping Reana kala Adiknya tengah sibuk mengotak-atik ponselnya di halaman depan rumah. Lelaki itu tersenyum kala mendapat elusan pada punggung tangannya yang kini berada di perut Reana, gadis itu membalikkan tubuhnya dan melihat wajah lelah sang Kakak. Reana tak menyadari Rean telah kembali dari kantor karena ia tengah sibuk membalas chat dari Vanesha.
"Kau terlalu sibuk," ucap Rean dengan nada sedikit merajuk. Lelaki itu mengecup pipi Adiknya sebelum mencium mesra bibir pink Reana.
"Kau bahkan tak menyadari aku sudah datang." Rean berucap di sela pagutannya.
"Aku sedang membalas pesan dari Vanesha. Masuklah, aku akan membuatkan teh hangat untukmu." Reana menggandeng tangan Rean memasuki mansionnya setelah mengambil alih tas dan jas kantor Rean. Terlihat lelaki itu merenggangkan dasi dan membuka kancing kemeja teratasnya.
"Kemarikan ponselmu! Aku tak ingin kau macam-macam di belakangku!" Reana menyerahkan ponselnya pada Rean.
"Mana mungkin aku melakukan itu padamu," ucap Reana merajuk. Rean terkekeh pelan, kemudian ia menarik gadis itu kepangkuannya dan memeluknya dengan hangat. Ia tak membutuhkan teh hangat dari Reana, ia hanya membutuhkan gadis itu sekarang.
"Aku tau," ucap Rean serak, lelaki itu mencium bibir Reana yang sudah menjadi candu untuknya. Mengabaikan tatapan para maid yang menatap mereka dengan pandangan sulit diartikan.
"Jangan begini, mereka nanti bisa salah paham." Reana mendorong dada Rean kala Kakanya akan melakukan hal yang lebih jauh lagi.
"Biarkan saja. Aku sangat lelah sekarang." Rean tak peduli dengan rontaan kecil Reana. Lelaki itu masih ingin bermain dengan Adiknya meski ia sadar gadis itu sedikit takut padanya sekarang.
__ADS_1
Terlihat dari matanya yang berkaca-kaca dan usaha kecilnya yang memberontak, tapi toh Rean tak perduli dengan hal itu.
"Kakak~" rengek Reana dengan suara bergetar, ia takut Kakaknya melakukan hal yang lebih jaun dari ini.
"Apa aku membuatmu takut?" tanya Rean berbisik. Reana mengangguk lemah. Rean melihat wajah Adiknya yang sudah merah padam, lelaki itu segera menghentikan aksinya dan menyuruh Reana membuatkan teh untuknya.
***
Reana berjalan menuju kantin, ia ingin mengisi perutnya yang sudah berbunyi sejak jam pelajaran pertama dimulai. Pagi tadi ia tak sempat sarapan karena terlambat bangun, alhasil ia pergi ke sekolah tanpa sarapan apapun. Sedangkan Rean, ia sudah pergi entah ke mana sebelum Reana membuka mata.
Gadis itu melangkah dengan santai, ia merasa seseorang tengah membuntutinya dari belakang. Reana menoleh ke samping dan melihat Zefaro berada di belakangnya dengan satu kantong plastik berwarna putih yang diduga berisi makanan ringan.
"Mau makan bersama?" tanya Zefaro. Ia mengangkat satu kantong plastik yang ada di tangan kanannya, Reana mendesah kasar, ia melangkah menjauh dari Zefaro ketika melihat lelaki berbaju hitam yang tak lain orang suruhan Rean.
"Hey ... bisakah kita makan ini di atap? Di sana sangat nyaman," ucap Zefaro dengan senyum riang di wajahnya. Reana berpikir sejenak, makan siang gratis tentu bukanlah hal yang buruk. Hanya saja akan menjadi sangat buruk jika Rean salah paham akan hal ini.
"Aku ingin membawa beberapa orang. Siapkan makan siang yang cukup banyak!" Zefaro hanya terdiam di tempat melihat Reana yang sudah mendahuluinya ke atap dengan kantong plastik yang direbut darinya.
Pemuda itu tersenyum senang, segera ia menyuruh dua orang temannya untuk membeli lebih banyak makanan ringan untuk dibawa ke atap. Ia tak menyangka Reana akan menanggapi ajakannya, untuk itulah Zefaro tak ingin membuat kesalahan sedikit pun.
***
Rean menatap layar laptopnya dengan ulasan senyum tipis di bibir lelaki itu, ia kini tengah melihat Reana menikmati makan siangnya di atap bersama beberapa murid laki-laki dan perempuan.
Tampak Adiknya tersenyum bahkan tertawa lepas kala seorang murid lelaki yang ia kenal sebagai pemalak di sekolah Reana membuat lelucon konyol yang mendapat umpatan dari beberapa teman lelakinya.
Reana♡
Ya, mereka semua teman baruku. Saga mengajariku untuk berbaur dengan mereka.
Rean tersenyum membaca pesan tersebut. Meski ia amat sangat tak rela Adiknya berdekatan dengan lelaki lain, akan tetapi ia tak ingin menjadi egois dan mengekang Reana. Benar apa yang dikatakan Saga dan Neil padanya, bahwa seseorang tak akan menjadi lebih dekat dengan kita, hanya karena kita mengikatnya dengan erat.
Rean menyentuh dadanya, ia tersenyum merasakan jantungnya berdebar kencang kala melihat wajah Reana pada layar di depannya kini.
"Ada apa denganku?" tanya Rean dengan pandangan terpusat pada Reana yang tengah duduk diam sambil mengamati beberapa temannya yang tengah berceloteh ria.
***
Karina Anzu Austin, seorang wanita tua yang selalu memikirkan nasib kedua cucunya yang kini tinggal berbeda negara dengannya. Entah sudah berapa kali wanita tersebut meminta Reana dari Rean agar ia yang merawat gadis itu, namun ditolak mentah-mentah oleh Rean.
Kini, ia mendapat kabar dari orang suruhannya yang mengatakan kalau Rean selalu menyiksa Reana dengan sadis. Bahkan salah satu maid suruhan Karina itu juga mengatakan, Rean bersikap tak sewajarnya seorang Kakak pada Reana yang terlihat polos tak mengetahui perbuatan tak wajar Rean pada dirinya.
Bahkan Karina juga melihat sendiri sebuah video yang memperlihatkan Rean tengah mencumbu panas Reana di kamar cucu lelakinya itu. Kekhawatiran jelas terpancar dari mata tuanya yang sayu, ia tak ingin kedua cucunya terjebak dalam pusaran kenikmatan terlarang yang hanya akan menenggelamkan mereka dalam lautan dosa yang tiada habisnya.
"Tuan William, benarkah Anda bersedia menikah dengan cucu perempuan saya?" tanya Karina memastikan.
Aldric Orlando William, seorang CEO berusia 29 tahun berparas tampan dan selalu manjadi perbincangan di kalangan kaum hawa yang terpikat oleh pesonanya.
__ADS_1
Hanya saja ia selalu kalah selangkah dari Rean dalam segala hal, bukan hanya dari segi fisik yang mana Rean jauh lebih sempurna dari padanya, juga dari dunia bisnis yang mana ia selalu tertinggal selangkah dari Rean.
"Tentu, Saya bersedia. Dan panggil saja Saya Aldric," ucapnya dengan seringai iblis yang tersembunyi di balik senyum menawannya.
Ia telah melihat foto Reana, seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut coklat dan kulit yang putih bersih. Wajah Reana yang begitu mirip dengan Rean membuat lelaki itu mengertakkan giginya. Ia bersumpah dalam hati akan membuat Rean hancur, sehancur hancurnya.
Karina tersenyum lega. Ia akan menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Rean esok hari, Karina yakin betul bahwa cucu temprament-nya tersebut akan marah besar bahkan mengamuk karena ulahnya yang secara tak langsung berniat mengambil Reana darinya.
Karina sudah mempersiapkan segala kemungkinan terburuk, ia hanya tak ingin kedua cucunya tersesat lebih jauh dari ini. Ia harus menghentikannya.
***
Reana mengeratkan pelukannya pada Rean, ia sungguh bahagia saat ini di mana Kakaknya itu sudah sedikit menerima dirinya. Hanya saja ada rasa aneh yang menggelitik ketika ia tengah bersama Rean atau tengah memikirkan Rean.
Jantungnya berdebar dengan sensasi aneh seperti kebahagiaan yang entah berasal dari mana. Debaran itu membuat Reana **** senyum, kini ia makin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Rean. Ia tak ingin melewatkan momen manis seperti ini bersama Kakaknya, ia berdoa pada Tuhan agar Rean selalu bersikap baik padanya.
Reana mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan Rean yang tengah tertidur dengan pulasnya. Sebuah pahatan Tuhan yang sempurna, Reana tersenyum mengaguminya.
Jantungnya kembali berpacu cepat, namun gadis itu menikmatinya. Ada sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Reana menyentuh rahang keras Rean, pandangan matanya dengan lancang menelisik setiap lekuk garis wajah sang Kakak.
Ia mengagumi Rean. Sedikit rasa sesak menyusup ketika ia tersadar akan status mereka yang tak akan bisa diubah, Reana menarik tangannya kembali. Ia memilih menyusupkan wajahnya pada dada Rean dari pada nantinya ia terisak oleh rasa sakit yang ia sendiri belum mengerti kenapa rasa sakit itu muncul ketika ia menyadari status mereka.
"Reana," gumam Rean yang mungkin sudah bangun karena ulah Reana. Lelaki itu tak melanjutkan ucapannya, ia hanya memeluk Reana lebih erat lagi seakan itu adalah pelukan terakhirnya.
"Berjanjilah padaku, bahwa kau akan terus berada di sisiku selamanya. Aku tak ingin kau dimiliki lelaki lain, kau hanya milikku, Reana." Rean menuntut jawaban Reana, ia juga ingin Adiknya itu mengklaim dirinya sebagai milik Reana, ia hanya ingin Reana tahu bahwa Rean akan marah dan membencinya jika Adiknya dimiliki lelaki lain suatu hari nanti.
"Ugh," lenguh Reana kala Rean mencengkram rahangnya dengan kuat. Gadis itu meringis merasakan sakit pada bagian wajahnya tersebut. Reana mendongak, kedua pasang iris kelabu mereka bertemu pandang. Dada Rean berdesir hingga membuat nafasnya memburu. Lelaki itu nampak gusar akan suatu hal yang masih menjadi tanda tanya di benak Rean.
"Katakan bahwa aku adalah milikmu, katakan bahwa kau juga tak ingin aku dimiliki wanita lain. Katakan, Reana!" Rean berucap menuntut. Ia tak ingin mendengar penolakan Adiknya. Rean terasa nyeri pada dadanya kala mengingat wanita di depannya kini adalah Adik kandungnya.
Lelaki itu segera meraup bibir Reana, ia ingin menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan pada Adiknya.
Rean menindih Reana yang terlihat memberontak dalam kungkungannya. Reana sadar ini salah, hanya saja ia terlalu takut menghentikan Rean.
Rean terus melumat bibir Adiknya dengan rakus meski si empunya sudah mengerang dengan air mata berlinang. Rean sangat membenci status mereka, lelaki itu berpikir mungkin ia terlalu banyak menyimpan dendam pada Reana hingga tak ingin menganggapnya sebagai Adik.
Rean berpikir bahwa kebenciannya juga sudah begitu dalam, hingga ia tak ingin melihat Reana bahagia dengan lelaki di luar sana.
Rean mengabaikan jeritan ketakutan Reana yang kuwalahan menghadapi perlakuan Rean padanya, bahkan gadis itu hanya bisa menangis akibat cekikan di leher disertai lumatan kasar Rean pada bibirnya.
Sebegitu bencikah Rean padanya?
Reana sudah lemas akibat ulah Rean yang begitu kejam padanya, ia kini sudah pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. Reana pingsan akibat ia yang kehabisan oksigen, hal itu membuat Rean menghentikan aksinya, ia turun dari atas tubuh Adiknya dan beralih memeluk Reana dengan posesif.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi dariku. Kau hanya milikku!" ucap Rean tajam.
__________Tbc.
__ADS_1