Sadistic Brother

Sadistic Brother
23


__ADS_3

Reana memandangi foto kedua orangtuanya, kata-kata Jane beberapa saat lalu masih terngiang jelas di telinga gadis itu.


'Reana, aku merasa janggal dengan hubungan kalian berdua. Maksutku, hubungan persaudaraan yang terlihat tak semestinya.'


'aku--'


'Reana, Tuhan akan mengutuk dua pasang saudara yang terlibat hubungan sedarah. Bahkan orangtuamu pasti akan menangis di Surga menyaksikan kalian, karena secepatnya Tuhan akan melempar mereka ke dasar Neraka akibat dosa kalian berdua.'


'Mom ... Dad--'


'akhiri semuanya, Reana, dan biarkan Rean menikah denganku!'


'Aku tidak bisa! Aku mencintainya!'


'Jangan menjadi gila dan konyol hanya karena cinta. Kau akan menyesal di kemudian hari, Reana. Dosa kalian akan bertumpuk dan tak akan pernah terhapus.'


Percakapan Jane dan dirinya kembali terngiang di telinga gadis tersebut. Ia kini merasa ragu dengan jalan yang ia pilih.


Reana, gadis belia itu duduk bersimpuh di depan jendela besar kamar Rean yang berkelambu putih. Ia menangis sembari memeluk bingkai foto kedua orangtuanya.


Ia mencintai Rean meski ia tahu dirinya salah. Ia tak peduli jika nantinya dirinya akan dicemo'oh oleh orang lain atau bahkan dijauhi oleh mereka, ia tak akan ambil pusing dengan semua itu.


Namun, jika sudah menyangkut tentang kedua orangtuanya, maka ia tak bisa egois.


"Mom ... Dad ... maafkan aku, maafkan aku dan Kakak," isaknya menyayat hati.


Tanpa ia sadari Rean sudah berdiri di belakang Reana, lelaki itu menghampiri sang Adik perlahan. Berlutut di belakang Reana dan memeluknya dengan hangat.


Reana terkesiap kaget dengan pelukan Rean yang tiba-tiba ia dapatkan, padahal gadis itu tak merasa sang Kakak ada di sekitarnya tadi.


"Jangan mendengarkan siapapun. Ini hidup kita, pilihan kita, dan jalan kita. Orang lain tak berhak atas hidup kita. Biarkan mereka berbicara sesuka hati, dan yang kau lakukan cukup menutup kedua telingamu dari ucapan menyakitkan orang di sekitarmu." Rean menuntun kedua tangan Reana untuk menutup telinga gadis itu sendiri.


Reana menurut, ia melihat foto kedua orangtuanya yang tergeletak di pangkuan gadis itu.


"Bukan manusia yang berhak menghakimi dosa manusia lainnya. Surga dan Neraka adalah rahasia dari Tuhan, jangan dengarkan dia yang berusaha menjatuhkan mu. Tapi, dengarkan kata hatimu yang selalu menyuruhmu untuk terus bahagia," ucap Rean berbisik di telinga Adiknya, gadis itu memejamkan kedua matanya. Mendengarkan kata hatinya sendiri.


"Aku ... mencintaimu ... Kakak," ucap Reana dengan senyum dan air mata bahagia kala mengucapkan kalimat itu. Rean tersenyum, lelaki itu memeluk Reana dari belakang. Ia berjanji akan membuat Adiknya bahagia.


"Aku tak akan mengecewakanmu dan menyia-nyiakan rasa cintamu untukku. Terimakasih, Reana." Reana mengangguk pelan. Dan detik berikutnya mereka hanyut dalam ciuman hangat yang panjang.


***


Reana memakan sebuah permen lollipop di atap sekolah, Zefaro berdiri di sebelahnya. Lelaki itu nampak murung meski raut wajahnya masih di usahakan agar nampak datar.


Namun, Reana tak bisa dibohongi. Ia tahu dan bisa membaca wajah Zefaro yang memang tengah bersedih.


"Ceritakan saja padaku," ucap Reana yang langsung membuat Zefaro menoleh padanya. Ia sebetulnya bingung dengan Reana, gadis dingin yang cuek, tapi bisa dengan mudah membaca perasaan temannya. Patut diacungi jempol olehnya, pikir lelaki itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" kilah Zefaro yang membuat Reana mendengus meremehkan lelaki itu. Tampak lucu baginya.


"Arz?" tebak Reana dan lagi-lagi membuat Zefaro ingin mengacungkan jempolnya untuk kepekaan gadis itu. Giliran Zefaro yang berdecih. Menyebalkan, katanya dalam hati


"Dari mana kau tahu?"


"Benar, kan?"


"Ya ... dan aku bisa mengatasinya sendiri, kau tak perlu membantuku mengatasinya," ucap Zefaro menolak Reana. Sedangkan gadis itu hanya mengangkat bahunya acuh kemudian bersiap melangkah pergi dari sana.


"Memangnya kapan aku menawarkan bantuan padamu?" Zefaro rasanya ingin melempar Reana dari roof top detik ini juga. Ia hanya menggeram kesal memandangi punggung Reana yang kian menjauh dari pandangannya.


***


Raina tersenyum melihat Zefaro yang tengah bermain bola di lapangan bersama dengan teman sekelasnya. Gadis itu buru-buru berlari ke arahnya kala Zefaro ingin mengambil air mineral yang diletakkan di pinggir lapangan bersama dengan handuk putihnya.


Namun, ketika Zefaro ingin mengambil botol air tersebut, Raina segera merebutnya terlebih dulu.


Zefaro berdecak kesal, tanpa menunggu lebih lama ia segera menghampiri Reana dan mengambil botol minuman gadis itu.


Raina menatap kesal ke arah Reana yang dianggap sebagai seorang Kakak pengganggu yang selalu merebut semua orang yang ia sayangi.


Sedangkan Reana sama sekali tak menyadari kehadiran Raina di sana lantaran gadis itu fokus pada ponsel dan earphonenya yang memutar lagu dengan volume sedang.


"Awas kau, Reana!" gumam Raina sembari menggenggam erat botol air mineral milik Zefaro tadi.


Gadis itu mengingat seseorang yang pasti bisa membantunya menyingkirkan Reana dari kehidupan Zefaro dan Rean. Sehingga ia bisa mendapatkan kasih sayang yang selama ini tak pernah ia dapatkan.


***


"Apa kau akan pulang?" tanya Arz menghentikan langkah Reana. Lelaki itu memegang lengan atas Reana, tapi segera dilepaskan ketika mendapat tatapan tak suka dari Reana pada tangannya.


"Menurutmu?" Reana kembali bertanya dengan nada dingin.


"Bagaimana kalau aku--"


"Tidak perlu, aku sudah menjemputnya." perkataan Arz segera dipotong oleh Saga yang tiba-tiba datang ke arah mereka. Arz hanya tersenyum menyambut Saga.


"Kita pergi!" ucap Reana dingin. Kemudian gadis itu melangkah pergi begitu saja diikuti Saga, meninggalkan Arz yang memandang Reana dengan senyum di bibirnya.


"Gadis yang menarik," ucap Arz kemudian mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari pria itu.


***


Reana mengendap-endap masuk ke ruangan kerja Rean, tampak lelaki itu tengah fokus memeriksa dokumen penting di sofa ruangan tersebut. Sesekali ia memijit pelipisnya kala rasa pening tiba-tiba menyerang kepalanya, ia sangat lelah hari ini.


Reana bermaksud mengagetkan sang Kakak, posisi Rean yang membelakangi pintu membuat Reana leluasa bergerak tanpa di ketahui lelaki tersebut.

__ADS_1


Tapi ...


"Aku tidak akan terkejut, Reana." seketika gadis itu mengubah posisi membungkuknya menjadi berdiri tegak dengan bahu turun ke bawah. Ia kecewa karena aksinya gagal.


"Dari mana Kakak tau aku di sini?" tanya Reana dengan nada kesal. Rean terkekeh pelan tanpa mengalihkan fokusnya pada kertas di tangannya.


"Siapa lagi yang beraroma Vanilla selain dirimu di mansion ini?" tanya Rean yang membuat Reana refleks mengendus dirinya sendiri.


Ya, memang dirinya beraroma Vanilla, dari parfum yang ia pakai.


"Kemarilah." Rean mengisyaratkan Reana untuk duduk di atas pangkuannya. Gadis itu menurut dan berjalan ke arah Rean, duduk tenang di atas pangkuannya dengan lengan yang melingkar di leher sang Kakak.


Rean mengusap punggung Reana, ia tahu bahwa gadis tersebut juga sama lelahnya seperti dirinya. Apalagi aktifitas sekolahnya juga semakin padat.


"Kau juga lelah?" tanya Rean. Reana tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan di ceruk leher Rean. Lelaki itu memijit lembut punggung Reana dan meletakkan dokumen pentingnya di meja.


"Aku tak apa, Kakak yang pasti lelah." Reana berkata dan menghentikan kegiatan Rean yang memijitnya. "Biarkan aku yang memijitmu," lanjutnya kemudian memijit lengan kekar Rean yang terasa keras untuknya.


Sesekali Reana memukul lengan atas Rean, dan hanya dibalas dengan tawa ringan dari lelaki itu. Konyol, pikirnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rean sembari mengacak puncak kepala Reana, membuat poni gadis itu berantakan.


"Tanganku terlalu kecil, jadi Kakak pasti tak akan merasakan apapun walau aku memijitnya sekuat tenaga." Reana menunjukkan telapak tangannya pada Rean dan langsung di genggam lelaki itu.


"Kecil sekali," ucap Rean membandingkan dengan telapak tangannya.


Terlintas bayangan kelam di masa lalu ketika ia dengan tega menyiksa Reana, seakan gadis itu adalah boneka tak bernyawa yang meski ia tusuk dengan samurai, ia tak akan memekik sakit.


Rasanya Rean menyesal. Hatinya bergetar nyeri kala mengingat sang adik yang seolah tak mengerti apapun mengapa ia begitu dibenci. Dan selalu bertanya 'apa salahku, Kakak?'


Rean menyesal, ia mengecup tangan kanan Reana. Sedangkan gadis itu hanya menatap bingung dengan ulah Kakaknya.


"Kakak?"


"Maafkan aku," ucap Rean yang tanpa di sadari telah meneteskan setetes air mata di pipinya.


Reana menghapus air mata itu, dan detik berikutnya Rean segera memeluk Reana dengan sangat erat, seolah gadis itu akan lenyap jika pelukan itu sedikit longgar saja.


Tanpa mereka sadari, sepasang tatapan tajam mengawasi gerak gerik mereka sedari tadi dengan darah yang mendidih.


Jane, tak terima jika Reana menjadi pengganggu antara hubungannya dengan Rean. Dan ia berjanji akan segera menyadarkan Rean bahwa hanya Jane lah yang pantas untuknya, bukan Reana atau gadis lain.


Adik tak tahu diri! Maki Jane dalam hati. Gadis itu memutuskan pergi dari sana meninggalkan Rean dan Reana yang tengah berciuman panjang.


____________Tbc.


jangan lupa like, sama komentar nya kak😁😀

__ADS_1


klik favorit juga ya:v


makasih😁😁


__ADS_2